Protective Man

Protective Man
8. Keluarga?


__ADS_3

Disisi lain kediaman keluarga Wicaksono.


Ya, keluarga Rendra.



Pelayan dirumah tersebut tampak sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Merapikan ruang tamu, memasak, membersihkan setiap inchi rumah, dan mendekor rumah layaknya akan ada tamu penting.


Sebuah mobil yang baru saja sampai berhenti dengan rapi nya di depan pintu masuk rumah. Abraham Wicaksono. Sengaja pulang lebih cepat untuk menyambut tamu yang akan datang hari ini.


" Jangan letakkan bunga warna merah ya, dia gasuka. " perintahnya dengan ramah. Tak lain ialah nyonya besar keluarga Wicaksono. Inggid Lestari Wicaksono. Yang sudah mulai mengatur rumah sedari pagi.


Dengan langkah kaki tegas dan berwibawa Abraham pun mulai bersuara sembari merapikan jasnya, " Masih di pesawat?. " tanyanya pada salah satu asisten disampingnya yang berjalan beriringan.


" Sudah sampai di bandara Pak. Saya sudah mengirim supir untuk menjemput tuan muda."


jawabnya cepat sembari mengikuti langkah pasti Abraham.


Abraham berdeham dan mendapati istrinya yang sedang menata vas bunga di ruang tamu utama.


" Kenapa dia yang menata semuanya. Dimana semua pelayan dirumah ini. " tanya tegas Abraham kepada asisten yang berada di sampingnya.


Dengan sedikit mendekati Abraham dia pun berkata.


" Maaf pak. Sejak pagi tadi nyonya besar sudah mulai menata rumah. Alasannya, beliau ingin menyambut kedatangan tuan muda dengan tangannya sendiri. " jelas asisten tersebut dengan sedikit memiringkan tablet yang selalu dibawanya.


Inggid pun tak menyadari bahwa suaminya datang dan memperhatikan dirinya dari kejauhan. Dia hanya fokus menata vas bunga agar terlihat cantik.


" Dimana Rendra?. Bukannya jam segini harusnya sudah pulang. " tanya kembali Abraham dengan alis yang sedikit terangkat.


" Mungkin tuan muda Rendra sedang berkumpul dengan teman-teman nya, seperti biasa pak. " jawab kembali asisten tersebut.


" Dia sudah terlalu dimanja dan pegangan ku kepadanya sudah mulai longgar. Mulai sekarang, tetap awasi kemanapun dia pergi jangan sampai ketahuan. Dengan begitu aku tahu apa saja yang sudah dilakukan anakku diluar sana. " titahnya kepada asisten tersebut dan langsung pergi meninggalkan mereka.


***--***


Rendra masih mengikuti bis yang didepannya tanpa kehilangan jejak sekalipun. Setelah mendapati bis tersebut berhenti di halte berikutnya dia pun melihat aku keluar dengan seksama.


Aku turun dari bis dan sedikit membenarkan tasku yang sedikit miring. Aku lanjut jalan untuk sampai kerumah. Ketika Rendra ingin mengikuti dari belakang seketika juga handphone nya berdering kembali.


Dia pun berhenti sejenak. Pak Narto. Asisten pribadi Papa. Inginnya tak mengangkat telepon ini, tapi dia tak bisa.


Rendra pun mengangkat telepon dengan malasnya.


" Kenapa?. " tanya nya jutek dan dengan nada kesal.


" Lupa hari ini hari apa?. " jawab suara di ujung telepon.


" Hari Rabu. Kenapa? "


" Dan di hari Rabu tanggal 4 ini ada apa? "


Rendra mulai kesal dengan teka-teki ini.


" Pak Narto, plis to the point aja. Kenapa.? "


" Tuan muda Radith hari ini pulang dari dinas kerja nya di Seoul. Lupa? " ucap Pak Narto.


Yang membuat mata Rendra terbelalak kaget atas apa yang didengar, dan langsung merespon dengan bulatan besar di mulut pertanda dia baru ingat.

__ADS_1


Pak Narto tersenyum disana. Dia sudah menduga Rendra tak ingat. Sudah biasa.


" Astagaaaaaa.. Pak. Kenapa baru telepon sekarang. Ini udah jam berapa. Waahhh, Pak Narto gimana sih. Kok ga ingetin aku. " ocehnya panjang lebar dan dengan rasa tak bersalah.


" Tuan muda Radith sedang dalam perjalanan dirumah. Dan kira-kira 15 menit lagi sampai. Saya harap tuan muda Rendra sudah ada di rumah sebelum beliau sampai. " jelas Pak Narto yang membuat Rendra langsung kalang kabut mengendarai mobilnya.


Tapi bagaimana Laura?


Apa dia gapapa jalan sendirian?


Pikirannya kacau. Tapi Rendra sudah tak melihat keberadaan ku lagi. Karna sudah berjalan cukup jauh.


Dia memilih memutar balik dan menginjak gas dengan kecepatan penuh untuk mengejar waktu.


***--***


Sebuah mobil hitam baru saja sampai di depan rumah dengan selamat.



Seorang pria dengan perawakan tinggi dan dengan menggunakan setelan jaket yang memakai kaos putih dan mengenakan celana jeans dengan sentuhan sneakers putih santai turun dari mobil dengan menenteng tas nya.


Para pelayan menyambutnya di pintu depan dengan barisan yang tersusun rapi dan sedikit membungkuk kan badannya pertanda memberi hormat kepada tuan muda.


Dengan senyum semringah diapun mulai melangkah untuk masuk.


Tapi suara mobil dengan kecepatan tinggi baru saja berhenti tepat di depan mobilnya dan membuat dirinya tertawa ringan.


" Dia lupa lagi. " ucapnya santai.


Seseorang pun keluar dari dalam mobil dan itu ialah Rendra. Dia melempar kan senyuman sejak ia turun dari mobil.


Dia berjalan santai kearah Radith yang memegang tasnya.


" Kenapa?. Selama 3 tahun ga ketemu jadi lupa wajah abangnya. " ejek Radith kepada Rendra yang sejak tadi masih menatapnya.


Rendra mengedipkan cepat matanya pertanda ia tak percaya.


" Gue kira lo bakal lupa alamat rumah. " jawabnya santai sambil meletakkan tangannya di dalam saku jaket.


" Sejauh-jauhnya gue pergi, ujung-ujungnya gue bakal balik lagi kerumah. " jawab santai Radith sambil menghampiri Rendra dan memelukknya sekilas.


Rendra membalas pelukan abangnya yang sudah lama tak ia jumpai.


" Sorry gue telat. ( sembari melepaskan pelukannya) Keadaan disana masih belum seimbang, jadi butuh waktu lebih lama untuk balikinnya seperti semula. " ucap Radith dengan nada yang Rendra rindukan.


Dari kejauhan seorang perempuan datang menghampiri kami berdua.


" Radith, selamat datang kembali kerumah. " ucapnya dengan wajah ceria.


Radith yang mendengar asal suara langsung memalingkan wajah dengan cepat. Dia mendapati orang yang sangat ia rindukan. Ia langsung berjalan memeluknya dengan erat.


" Maaf Radith terlalu lama pulang nya Ma. Maaf. " kata-kata Radith saat memeluk Mamanya dengan erat.


Rendra yang menatap memilih sedikit memalingkan wajahnya ke arah lain.


Dengan menepuk pelan bahu Radith, Inggid pun berbicara.


" Gaada yang perlu minta maaf. Mama senang bisa lihat kamu sampai dirumah dengan selamat. Itu udah cukup buat Mama. " mengakhiri perkataan nya dan melepas pelukan putranya denga pelan.

__ADS_1


Sembari mengelus waja Radith dengan pelan.


" Hayuk masuk. Mama udah siapin makanan kesukaan kamu. " merangkul Radith untuk mengajak masuk.


Langkahnya pun terhenti.


Rendra?


Melihat kearah Rendra yang berdiri dengan tangan diletak ke dalam saku celana.


" Rendra. Hayuk masuk, kamu belum makan siang kan? Mama udah masak udang sambal favorit kamu. " dengan senyuman hangat mengajak untuk masuk.


Rendra yang mendengar ajakan pun mulai berjalan kedepan.


" Saya ganti baju dulu. " menjawab singkat dan memilih untuk masuk dengan langkah cepatnya.


Senyum Inggid mulai memudar dan sedikit merenggangkan pegangannya ke Radith.


Radith yang menyadari nya pun mulai merangkul dengan erat dan berkata.


" Rendra bakal nyusul untuk makan bareng. Pasti. " ucap Radith dengan senyum menenangkan.


Inggid hanya membalas senyum dan memilih untuk berjalan kearah ruang makan dengan Radith yang merangkul nya dengan erat.


Masih sama kayak dulu. Pikir Radith.


Dalam perjalanan ke kamar, Rendra ketemu dengan Abraham yang berjalan menuju ruang makan.


Mendapati putranya baru sampai Abraham pun bersuara.


" Baru pulang? Dari mana aja?. "tanya tegas Abraham.


" Iya. " jawab singkat Rendra yang berhenti sejenak.


" Mau kemana. Radith udah sampai, ayo makan dulu. "


" Ganti baju dulu. "


" Jangan terlalu lama. Setidaknya semua keluarga harus kumpul di meja makan. " ucap Abraham.


" Keluarga? Wuaahh, aku baru denger kata-kata itu hari ini. Wuaahhh. " jawab Rendra dengan nada tak percaya atas apa yang ia dengar dan dengan badan sedikit mengarah ke Abraham.


Abraham yang mendengar jawaban putranya pun membalikkan badannya dengan perlahan.


Dia menatap wajah putranya dengan datar.


" Jangan mengacau untuk hari ini. Setidaknya kau makan dan diam saja itu sudah cukup. " jawab Abraham dengan nada yang sedikit terprovokasi.


Rendra mulai menuruni sedikit demi sedikit anak tangga.


" Jadi, cuma ingin aku hanya sebagai pajangan di meja makan. Ngelakuin apa yang harus dilakukan dan apa yang enggak. Begitu?. " ucap Rendra dengan serius dan tak lupa menatap tajam kearah Abraham yang berdiri tak jauh dari dirinya.


" Iya. Hanya itu. " perkataan singkat Abraham.


Dan seketika langsung meninggalkan Rendra yang terdiam.


Rendra terpaku dan hanya bisa diam. Dia sedikit membuat senyuman rasa tak percaya atas apa yang ia dengar.


Dia menatap tajam kedepan.

__ADS_1


Dan mendapati punggung papa nya yang berjalan menjauh.


Dia langsung berjalan ke kamar dengan membuka jaketnya dengan kasar.


__ADS_2