
Mendengar ucapannya aku langsung memegang keningnya dengan cepat dan berkata, " Lo sehat? Kok melow amat. " ucapku lalu cepat melepaskan genggaman nya saat itu.
" Tchh, heran gue lo jadi melow gini. " ucapku sambil menggeser badanku agar sedikit menjauh darinya. Ga mau ketularan melow nya.
Rendra hanya tersenyum singkat lalu menatap ke depan sambil melipat kedua tangannya.
Sambil menghembuskan nafas nya ia pun menutup mata lalu bersuara kembali, " Gue udah lama ga sesantai ini. " ucapnya dengan mata terpejam dan dengan raut wajah santai. Aku melihatnya memang sedikit santai daripada di sekolah tadi.
" Lo ada masalah?. " ucapku santai.
Dia hanya menggeleng pelan. " gue liat lo ada banyak beban banget kayanya. " sambungku yang masih memperhatikan nya.
Ia pun membuka matanya perlahan lalu menatap kearah samping. " Gue hanya mau share kebahagiaan sama lo, selebihnya gue yang tanggung. " ucapnya santai.
Aku hanya menatap heran atas perkataan nya.
Aku mengarahkan pandangan ku kembali ke depan.
" Beban itu kalau ditanggung sendiri bakalan berat, tapi kalau ditanggung bersama bakalan ga kerasa dan lebih mudah ngelewatin nya. Menurut gue gitu. " jawabku sambil menatap nya singkat.
Rendra hanya terdiam atas apa yang ia dengar. Lalu ia duduk dengan tegak dan meluruskan kedua tangannya kembali.
" Gue ngerasa gue bisa nanggung semuanya sendiri. Dan gue harus bisa, walaupun gue punya temen yang udah lama sama gue, tetep gue gabisa ngasi beban gue ke mereka. Makanya gue hanya punya satu pilihan, dengan nanggung beban itu sendiri. " jawabnya sambil menatap lurus.
Aku yang mendengar itu sedikit tertawa geli.
" Lo ketawa?. " tanyanya jengkel.
" Sorry sorry. Gue lucu aja. Lo punya keluarga punya temen yang kemana-mana tuh bareng. Tapi lo masih belum percaya sama mereka untuk bisa sekedar ngerti lo itu gimana. Apa yang lo rasain, apa yang buat lo ngerasa slalu kosong. Lo masih belum percaya sama mereka. " jawabku serius.
" Gue percaya sama mereka. " jawabnya cepat.
Aku mengarahkan badanku penuh ke arahnya. " Itu bukan percaya namanya, itu keraguan. Lo masih ragu sama mereka, apa mereka bisa nerima sisi lain dari Rendra yang mereka kenal. Rendra yang juga punya masalah seperti orang lain. Mereka ngenal lo hanya Rendra yang bertindak seenaknya, dan tingkah lo yang menurut mereka ga mungkin punya masalah dalam hidup. Jadi mereka buat kesimpulan lo selalu baik-baik aja. Karna lo yang buat diri lo begitu. " ucapku sambil menatap kearahnya.
Dia menatap sangat dalam dan masih belum bereaksi. Setelah kupikir, untuk apa aku kepo sama hidup Rendra yang tengil ini. gue kenapa coba.
__ADS_1
Dengan segera aku memilih untuk berbalik dan berdiri untuk meninggalkan nya, tapi langkahku terhenti oleh pegangannya.
Aku membalikkan badan ku kearahnya. Raut wajah yang tak pernah kulihat sebelumnya.
" Gue takut. " ucapnya saat itu. Sambil terus memegang tanganku dan belum berani menatap kearahku.
Aku kembali duduk dan menatapnya.
" Ketakutan itu ada karna lo yang bikin dia ada. Tapi jika lo sendiri yang berpikiran dia gaada, pastinya dia juga gaada. Simpelnya gitu. " jelasku padanya.
Rendra masih menatapku dan tak bersuara.
" Gue butuh bantuan lo untuk ngilangin semua ketakutan gue. " ucapnya sambil terus memegang erat tanganku.
Gue sebenarnya kaget atas apa yang ia katakan. Sesungguhnya aku ingin menolak, tapi tatapan nya memang seperti punya masalah yang dia sendiri gabisa nyelesain itu.
Walaupun awalnya gue gasuka sama sifatnya, tapi kalau gue slalu berpikiran buruk pasti gaakan ada baiknya juga.
Setelah berpikir sejenak akupun menganggukkan kepala tanda setuju, dengan sedikit senyum menyeimbanginya.
Ketika aku dan Rendra sudah duduk rapi di kursi, ibu pun menghidangkan satu per satu makanan di meja.
Aku menganga atas apa yang kulihat sekarang. " Udah lama sejak meja makan penuh kaya gini." ucapku sambil mengambil sendok dan garpu.
Dengan sigap ibu memukul pelan tanganku saat itu sembari tersenyum. " Ibu kan kerja, jadi jarang masakin Laura menu komplit kaya gini. Jadi ibu tebus hari ini, " bela ibu sambil mengambilkan aku nasi.
Rendra hanya bisa tersenyum atas interaksi Laura dengan ibunya.
Dengan cepat ibu mengambil kan nasi untuk Rendra juga. Rendra menerima piring penuh nasi dengan sopan.
Rendra melihat sayur kangkung yang penuh dengan udang. Melihat Rendra menatap kearah piring itu, ibu pun bersuara.
" Maaf ya udangnya kebanyakan. Soalnya Laura suka banget sama udang, segala jenis udang dia suka, makanya ibu banyakin udangnya. " ucap ibu sambil melihat ke arah Rendra.
__ADS_1
Dengan sigap Rendra menjawab, " Gakpapa tante, saya juga suka udang. Makanan favorit saya udang, udah lama saya ga makan udang. " jawabnya sambil menyendok sayur kangkung tanpa ragu. Tak ketinggalan udang nya juga.
Aku melihat Rendra yang lahap makan dan raut wajah bahagia ibu melihat makanan nya dipuji terus menerus.
***-***
Sambil menyantap makanan nya, Rendra melihat ke arah Laura dan melihat ibu Laura dengan penuh kebahagiaan. Sudah lama dia tak makan di meja makan dan dengan suasana nyaman seperti ini. Sejak saat itu, sudah tak pernah merasakan nya lagi.
Semua terulang karna Laura. Ya. Laura.
***-***
Setelah selesai makan, Rendra pun bangkit dan berjalan menuju wastafel untuk mencuci piringnya.
Ibu menghentikan nya. " Ehh, udah biar Laura aja yang nyuci, hobi dia tuh nyuci piring. " cegah ibu dengan membawa-bawa namaku.
Aku mengumpulkan piring kotor lalu berjalan ke arah wastafel.
" Udah biar gue aja, hobi gue emang nyuci piring. " balasku sambil melirik ke arah ibu.
" Saya udah makan disini, ga mungkin saya duduk aja tante. Hobi saya juga nyuci piring tante. " jawab Rendra yang diakhiri dengan senyumannya yang ibu sukai.
" Uwwaa, sweet banget sih kamu nak Rendra. Yaudah, ibu ga bisa ngelarang juga. Dikerjain berdua emang lebih cepat selesainya. " penekanan di kata berdua. Setelah itu ibu memilih untuk pergi membereskan kerjaan nya di kamar.
Gue dan Rendra pun mencuci piring dengan pembagian tugas, dia yang nyuci dan gue bagian membilas dan menyusun piringnya.
" Gue gatau kalau tuan muda kaya lo itu bisa nyuci piring juga. " ucapku sambil menata piring di tempatnya.
Rendra tersenyum tipis. " Kenapa senyum?. " tanyaku karna melihat senyumnya saat itu.
Sambil terus mencuci piring dia pun menjawab, " Gue bukan anak manja yang sekedar nyuci piring aja gabisa. Dan perlu lo tau, gue dari kecil udah diajarin mandiri. Ya walaupun keliatannya gue enak-enak tinggal dirumah. Lo bisa tanya ke pelayan dirumah kalau gue masih suka cuci baju gue sendiri. " jawabnya bangga.
Aku hanya memandang remeh.
Melihat reaksi ku dia pun bertanya kesal, " Lo ga percaya sama gue? Gue paling ga suka kalo barang kesukaan gue tuh disentuh orang lain. Termasuk baju juga. " bela nya dengan tangan yang penuh sabun.
__ADS_1
Setelah meletakkan piring aku pun menjawab sambil sedkit tertawa, " Bukannya gue ga percaya, gue heran aja ada orang yang bangga bisa nyuci piring sama nyuci baju sendiri. Heran aja. " jawabku yang masih cekikikan.