
Setelah bergulat dengan Martha and the geng, akupun memutuskan langsung pergi menuju lapangan basket. Bukan untuk cuci mata melainkan memberi ruang untuk paru-paru mendapat oksigen yang baik.
Aku duduk di tepi lapangan dan mengambil ikat rambut di saku jas, bergegas mengikat rambut. Aku mengambil nafas perlahan-lahan dan dengan mata tertutup. Agar lebih konsen. Melupakan apa yang baru saja terjadi.
Tak lama aku pergi pun Rendra juga pergi, meninggalkan teman-teman nya yang masih bergidik ngeri dengan sikapnya.
***-***
Berjalan menuju halaman sekolah dan tak sengaja melewati lapangan basket. Langkahku terhenti oleh seseorang yang tengah duduk di ujung sana. Laura.
Aku memilih sedikit melangkah maju dan menyandarkan badanku di dinding agar dapat melihat nya searah jarum jam. Kulipat kedua tanganku di depan dada dan terus menatapnya.
" Dia di depan mata, tapi kerasa jauh banget. " ucapnya sambil sedikit bergumam. Inginnya melangkah maju mendekati dan duduk disamping nya. Tapi dia tak punya alasan untuk mengobrol dengannya. Masih belum.
Semilir angin yang berhembus membuat rambut Laura diterbangkan olehnya. Tatapanku tak bisa dialihkan lagi. Pikirnya.
***-***
" Wuaaah, berasa di tengah sawah.Anginnya sepoi-sepoi banget. " ucapku sembari tersenyum.
Karna sudah cukup menghirup udara yang menyejukkan pikiran dan hati aku membuka mata perlahan. Dan betapa kagetnya orang pertama yang kulihat itu Rendra.
" Itu penunggu disini ato beneran si cowok tengil ya. " ucapku dengan kedipan mata yang cepat. Tanda tak percaya atas apa yang kulihat.
Tapi dia kok kalem banget kayak gitu. Ga ada ekspresi dan berdiri diam gitu doang. Agak cool ya.
Aku menepuk pipiku kuat. " Ya ampun Ra, istighfar. Inget asal muasal Rendra itu sikapnya gimana. Ya kali dia cool. " protesku dengan terus menyadarkan diri.
Kulihat lagi kearah nya. Dia tersenyum lembut.
" Senyumnya kok manis sih, kayak baby yang baru dibedakin. " ucapku lagi.
Setelah sadar atas apa yang kubilang aku kembali memukul pipi sebelah kiri. Sadar. sadar.
" Daripada halu disini mending gue balik ke kelas. " ucapku sambil berdiri dan melangkah cepat menuju kelas, tapi kupercepat sehingga terlihat seperti berlari kecil.
Rendra tersenyum sekilas atas apa yang dia lihat. Setelah melihatku pergi jauh, diapun berlalu pergi dengan sesekali melihat ke belakang.
Mengikuti kegiatan pembelajaran seperti biasa. Dan sampai di ujung pertemuan, jam pulang pun datang. Bel pulang berdering dan membuat keriuhan di kelas karna tansabar untuk segera keluar.
Aku mengambil handphone di tas dan melihat pesan yang dikirim Ibu.
Ra, ibu udah di luar ni. Gercep ya.
Pesan singkat dari Ibu.
" Ra, hari ini mau main sebentar ga temenin gue. " ucap Sisibyang sudah selesai memasukkan buku ke dalam tas.
Aku yang tinggal memasukkan tempat pensil pun menjawab, " Sorry Si. Gue udah dijemput. Bos besar udah stay cool di depan. " jawabku sambil memasukkan tempat pensil ke dalam tas dan bergegas berdiri.
Sisi terperangah dengan temannya. Sampe sekarang kami belum pernah hangout sekalipun.
" Daripada semua baju gue di open order sama Ibu, mending gue kluar sekarang. Sorry Si, next time gue janji deh ya.. Ntar gue kabarin okeh. " sambil mengacak sedikit poni Sisi akupun berbalik.
Tapi, langkahku terhenti tepat di hadapan Rendra yang sama-sama ingin keluar juga. Kami beradu pandang. Aku memandang nya kaget dan sedikit memundurkan badanku ke belakang yang sambil memegang tas.
Dia hanya tersenyum sekilas dan langsung bersuara. " Fal, gue tunggu di parkiran. " ucapnya yang tepat di hadapanku.
__ADS_1
Naufal hanya berdeham dan dia pun segera meninggalkan kelas.
Aku sedikit menarik nafas. Sisi berdiri dan bersuara. " Ra, buruan. Ntar baju lo udah ada yang mesen lagi. " goda Sisi sambil sedikit menoel tangan kiriku.
" O-oya, gue duluan ya. Baayyy. " jawabku cepat dan segera pergi keluar menemui Ibu.
Akhirnya aku mendapati Ibu yang berdiri di luar mobil sambil menunggu ku.
Ibu menarik perhatian murid yang lain. Ya, ibu aku itu ga seperti ibu-ibu pada umumnya. Yang berdaster, ga sering make up dan ga trendi. Bisa dibilang kalo aku jalan berdua bareng ibu orang disekitar bilang " lihat tu kakak-adik sama-sama cantik ya" itula perkataan orang disekitar yang melihat kami.
Dengan memakai baju kantor yang rapi dan dengan rambut yang diikat kebelakang. Fix, ibu seperti kakakku.
" Bu, kok cepat banget jemput Laura. Udah pulang ngantor? " tanyaku kepada ibu.
" Belum, ini ibu sengaja jemput kamu dulu abis itu langsung balik ke kantor karna ada rapat sama Direktur yang baru balik dari dinas. " jawab ibu sambil melirik kesana-kemari.
Aku melihat sekeliling seperti ibu.
" Ibu nyari apaan? Nyari cogan? Bu, disini masih anak di bawah umur. " ejekku kepada ibu.
" Eiitss, apaan sih Ra. Bukan, ibu daritadi ngeliatin siapa tau ketemu sama orang yang udah bantuin ibu kemarin. " ucap ibu yang masih melirik sana-sini.
Aku berpikir sebentar. " Oww, bantuin mobil ibu yang mogok. " jawabku sambil merapikan rambut yang tergerai.
" Ini parkiran satu-satunya kan, kok ibu ga liat mobilnya ya? Apa dia ga sekolah. " tanya penasaran ibu yang ternyata dari tadi sudah menjelajah parkiran untuk menemui mobil yang membantunya kemarin.
" Ya, Laura mana tau bu. Orangnya yang mana aja gatau, apalagi mobilnya. Yaudah yuk, katanya ibu buru-buru. " ucapku sedikit protes.
Ibu terdiam lalu kembali bersuara.
" Ooo, itu dia. Ra, itu dia Ra. " teriak ibu yang seketika membuatku kaget.
Aku membalikkan badan kearah dimana yang ibu tunjuk.
Aku lebih kaget atas apa yang aku lihat sekarang daripada teriakan ibu barusan. Aku terdiam.
" Itu dia yang nolongin ibu kemarin. Akhirnya ketemu juga, ibu belum sempet bilang terimakasih. " ucap ibu yang sambil tersenyum lega karna akhirnya menemukan orang yang dia cari.
Aku hanya terdiam membisu tanpa respon. Ibu melihat ku sekilas.
" Ra, kenapa? Ga enak badan, kesambet? Kok tiba-tiba diem. " tanya heran ibu.
" I-itu yang nolongin ibu kemarin. " tanyaku sedikit gagu.
" Iya, itu. Yang pake jaket trus yang berdiri ditengah. " sambil menunjuk kedepan.
" Rendra?. " ucapku pelan.
"Haa? Kamu bilang apa?." tanya bingung ibu.
" Namanya Rendra. " jawabku singkat dengan nada pelan.
" Kamu kenal dia? Wuah, teman kamu ya. " jawab senang ibu.
Seketika ibu berteriak dan menyebut nama Rendra dengan kencang.
" Nak Rendraaaaaa. Rendraaaaaaaa. " teriak ibu yang menghentikan lamunanku seketika.
__ADS_1
" Bu apaan sih teriak-teriak. ini bukan tempat karaokean. Udah yuk balik aja. " ucapku kaget dan menginginkan pergi secepatnya.
Tapi tarikanku tak sekuat ibu. Ibu melangkah ke depan sedikit. Aku hanya tertunduk lemas dan bersandar di mobil.
Mati gue.
Rendra yang mendengar teriakan namanya, mendapati ibu-ibu modis yang memanggil nya.
Teman-teman nya pun menoleh bersamaan.
" Oop, Ren. Siapa tu?. " tanya penasaran Agus yang sambil memakan keripik kentang nya.
Rendra hanya berdiri dan masih belum ingat.
Jarakku dan rombongan Rendra tak terlalu jauh. Ibu melangkah kedepan dan menghampiri Rendra.
" Masih ingat ibu?. " tanya Ibu yang membuatku memukul kepalaku pelan ke mobil.
" Kenapa ibu gue gini amat yak. " gumamku pelan.
" Maaf, siapa ya. " jawab singkat Rendra.
" Kamu yang nolongin ibu kemarin. Yang mobil mogok, dan kamu juga yang anterin ibu ke rumah. " jelas ibu yang masih sambil tersenyum.
Rendra sedikit berpikir keras untuk mengingat.
" Oow, astaga. Saya baru ingat, maaf bu. Mobil ibu gimana. Udah aman kan. " ucap nya dengan sedikit melirik ke arah mobil ibu.
Dengan senyum lega ibu pun menjawab.
" Syukurnya udah gakpapa. Untung ada kamu yang nolongin ibu kemarin, kalau gaada kamu mungkin ibu nyampe rumahnya malem. " sambung ibu.
Rendra tersenyum sekilas dan sedikit menundukkan wajahnya.
" Gantengnya. Baik lagi. " ucap ibu spontan karna melihat senyuman Rendra.
Agus yang sedang memakan keripik kentang nya pun tersedak atas apa yang ia dengar.
" Uhuuk. Uhuuuk. Wuaa, to the point banget. " ucap Agus pelan yang masih dalam keadaan tersedak.
Rendra menatap bingung kearah ibu. Dan ibu membalas dengan senyuman hangat.
Akupun yang mendengar langsung berbalik dan mengajak ibu segera pergi.
" Bu. Katanya buru-buru mau balik ke kantor lagi, jadi ayok pergi sekarang yuuk. " pintaku sambil merangkul tangan kiri ibu.
" Laura?. " ucap Rendra cepat.
Aku lupa kalau aku harus sembunyi dari nya. Karna ucapan ibu ni jadi lupa.
Aku sedikit sembunyi di belakang ibu.
Ibu melirik kearahku dan menarikku kedepan dan tepat di depan Rendra.
" Ini anak ibu. Baru pindahan disini, namanya--. " belum sempat ibu selesaikan perkataan nya Rendra pun menyambung.
" Laura. Namanya Laura. " ucap Rendra sembari tersenyum lembut kearahku.
__ADS_1
Aku hanya menatap nya kaku, mataku berkedip secepat kilat.