Protective Man

Protective Man
16. Dijemput


__ADS_3

Setelah mandi dan makan aku segera beranjak ke kamar dan mengambil buku untuk mengerjakan tugas besok. Baru menyelesaikan satu tugas aku mulai teringat dengan kejadian hari ini. Perkataan nya yang masih membingungkan dan membuat rasa penasaran inu memuncak. Inginku bertanya langsung, tapi itu tak mungkin.


Jam menunjukkan pukul 19.30 Wib. Aku membutuhkan udara segar, akupun berdiri dan berjalan menuju balkon yang ada di luar kamar. Aku memilih berdiri sebentar disana dan melihat keatas dengan mata tertutup untuk menghirup udara malam yang kusuka.


***-***


Deringan telepon membuat lamunanku buyar.


" Halo, tuan muda dimana. Jam segini kok belum pulang. " suara Pak Narto.


Langsung melihat jam tangan dan baru sadar sudah jam segini.


" Maaf pak, saya ada urusan di luar. Penting. Darurat. " jawab Rendra sambil melihat keluar kaca mobil.


" Tapi tuan muda tetap pulang kan?. " tanya Pak Narto lagi.


" Ya iyalah Pak. Masih ingat pulang kok. Bapak bisa lapor ke papa kalo saya masih hidup. " jawabnya cepat.


Pak Narto menghembuskan nafas berat.


" Yasudah, hati-hati di jalan ya. Saya tutup dulu. " ucap Pak Narto dan mengakhiri sambungan telepon.


Setelah meletakkan kembali handphone, Rendra pun tetap menatap jauh keluar.


Melihat gadis yang memakai baju tidur panda nya, berdiri dan memejamkan mata sembari mehirup udara malam. Laura.


Dia terus memperhatikan tanpa memalingkan wajah. Sejak sore tadi Rendra tak memutuskan untuk langsung pulang. Ia memarkir kan mobilnya diujung jalan agar tetap mengawasi ku yang sendirian dirumah. Dia tak tenang bila langsung pulang tanpa memastikan situasi dirumah aman.


***-***


Aku masih berdiri diluar dan enggan masuk. Aku tak tau pasti berapa lama aku diluar, tapi rasaku itu sudah cukup untuk membersihkan segala pikiran yang menumpuk dan kembali ke dalam untuj mengerjakan tugas.


Aku sedikit melirik ke arah jalanan, kudapati mobil terparkir disana. Baru itu aku melihat mobil di parkir disana. Karna lampu jalan yang rusak, aku jadi tak terlalu melihat jelas mobilnya. Akupun mengangkat kedua bahu dengan cepat dan langsung beranjak masuk.


Tepat pukul 21.45 semua tugas sudah selesai. Dan aku membereskan buku-buku untuk pelajaran besok. Kudapati buku sejarah yang masih belum kukembalikan ke pemiliknya. Karna aku sudah mengambil semua buku di perpus jadinya buku sejarah ku ada 2 sekarang. Aku baru teringat belum kukembalikan. Besok harus dibalikin. Pikirku.


Aku beranjak ke tempat tidur dan mematikan lampu lalu menarik selimut. Belum menutup mata sebentar aku pun segera menghidupkan kembali lampu dan duduk di pinggir tempat tidur.


" Masih kepikiran ceramah tu anak. Nge cek jendela sama pintu. " keluhku.


Aku segera berjalan keluar kamar dan mengecek semua sudah tertutup rapat. Mulai dari pintu depan dan belakang, jendela semua sudah kucek. Aman. Pikirku. Aku terdiam di ruang tamu.


" Kenapa gue ngikutin apa kata dia. " ucapku pada diri sendiri.


Sedikit mengacak rambut akupun kembali kemar dan kembali mematikan lampu lalu segera tidur.

__ADS_1


Rendra yang melihat lampu kamar sudah mati menandakan bahwa aku sudah tidur.


" Udah tidur. Anak baik. " ucapnya.


Lalu menyalakan mobil untuk segera pulang. Lega. Pikirnya.


Alarm pun berbunyi dengan nyaringnya. Aku segera meraba dimana keberadaan nya dan segera mematikan. Segera bangkit dan berusaha membuka mata dan membereskan tempat tidur.


Setelah selesai mandi dan mengambil roti selai aku beranjak keluar rumah dan tak lupa mengunci pintu. Aku terkaget bukan main dan akhirnya roti yang kupegang pun mendarat dengan pasti di lantai. Aku menjatuhkan roti ku yang berharga.


Rendra sudah berdiri denga santainya di teras rumah sambil memegang bungkusan di tangan kanannya.


Aku masih tak bergeming atas apa yang kulihat sekarang.


" Nga-ngapain lo disini. " ucapku gagu.


Rendra melangkah maju dan memberikan bungkusan itu padaku. Aku menerima dengan bingung karna langsung diberikan tanpa menungguku mengulurkan tangan.


" Ini pengganti roti lo yang udah tidur di lantai. Ayok. " ucapnya santai.


Aku masih belum mengerti situasinya.


" Tu-tunggu dulu. Gue tanya lo ngapain disini. " tanyaku lagi.


" Nyokap lo minta tolong untuk jemput lo hari ini. Udah ayok, ntar telat. " jawabnya singkat lalu berlalu pergi memasuki mobil.


Aku masih terdiam hanya bisa bingung dengan situasi ini tanpa bisa berkutik.


Setelah di dalam mobil pun dia masih belum mau menjelaskan.


" Lo sarapan dulu. Itu roti lapis. " ucapnya santai sambil menyetir.


Aku melihat isi bungkusan yang ia berikan.


" Itu gaada racunnya kok, tadi gue juga makan. Inget kata nyokap lo, jangan lupa makan. " perintah nya singkat


Setelah mendengar nya akupun langsung membuka bungkusan itu dan mengambil roti lapisnya lalu memakan dengan pelan.


Rendra melirik sekilas dan kembali menyetir dengan senyuman khas nya.


" Lo masih belum jelasin kenapa bisa jemput gue. " tanyaku dengan mulut yang masih mengunyah.


" Makan dulu baru ngomong. Kaya anak paud aja yang makan sambil ngomong. " jawabnya sambil tetap menatap kedepan.


Aku mendelikkan mata tanda kesal. Setelah kuhabiskan roti lapisnya. Dia pun dengan cepat memberikan botol air minum kepadaku.

__ADS_1


" Tangan gue pegel nih, ambil. " ucapnya sambil menyodorkan air minum.


Aku langsung mengambil dn meminum seteguk.


" Oke gue udah kelar makan, jelasin sekarang. " tanyaku lagi untuk yang kesekian kalinya.


Mobil terparkir rapi di parkiran sekolah. Diapun mematikan mesin mobil dan mengambil tas nya.


" Lo makan lama juga ya, padahal cuma roti lapis doang. Tapi butuh 10 menit buat habisin. Udah sampe sekolah, turun. " jawabnya dengan langsung membuka pintu dan keluar.


Aku melihat sekeliling dan benar, kami sudah samai di sekolah. Akupun turun dari mobil dan mendatanginya dengan berlari kecil.


Masih ingin bertanya lagi, kudapati sekeliling ku melihat dengan tatapan intens dan semua orang yang sedang berbisik ria.


" Ehh liat tuh, Laura dateng bareng Rendra. Wuaahh, baru ini gue liat cewek naik mobilnya Rendra. " ucap salah satu murid.


Dan omongan lainnya Tapi dengan tujuan yang sama. Aku yang menyadari tatapan itupun mulai menyadarkan diriku kembali.


Aku sedikit menjauh dan membuat Rendra yang bersandar di depan mobil nya pun bingung.


" Thanks, udah nganterin. Gue duluan. " aku hendak berjalan menjauh. Tapi tanganku dihentikan olehnya.


Membuat orang yang di sekitar semakin menggila atas apa yang mereka lihat.


Aku menatap tajam kearahnya. " Apa lagi, gue mau masuk. Lepasin. " ucapku sambil berusaha melepaskan pegangan nya.


Rendra pun berdiri dari sandarannya.


" Jangan lupa ntar pulang bareng gue. " ucapnya sambil tetap memegang tanganku yang membuat pandangan disekitar makin memanas.


Aku melepaskan pegangan nya, " Kalo mau bilang itu ga perlu megang tangan gue juga. Gue duluan. " jawabku cepat dan langsung berjalan menjauh meninggalkan nya.


Dari posisi yang lain Rifan dan Naufal melihat kearah darimana keriuhan berlangsung.


" Ren. Lo bareng Laura?. " tanya Rifan sambil meminum minuman kaleng nya dengan santai. Sementara Naufal hanya diam menunggu jawaban Rendra yang masih menatap kearah dimana Laura berjalan menjauh.


Rendra tersenyum sekilas.


" Yaudah yuk. " jawabnya singkat sambil mengambil minuman Rifan dan berjalan menjauh


" Ehh.. Minum gue wooy. " ucap kesl Rifan sambil menyusul Rendra yang ada di depannya.


Naufal masih berdiri di tempat tanpa beranjak menjauh.


" Dia cewek pertama yang lo anter-jemput dan cewek pertama yang bisa naik mobil kesayangan lo. " ucap Naufal sambil melihat ke mobil Rendra yang terparkir rapi.

__ADS_1


__ADS_2