Protective Man

Protective Man
26. Satu Langkah


__ADS_3

Rendra berdiri rapi di depan ku dengan masih menggunakan seragam sekolah. Aku yang tak bergeming sejak kedatangan nya, ingin membuka suara bertanya untuk apa dia kerumah. Tapi...


Ketika baru membuka suara, " Lo nga-......., " kataku terhenti karena dengan cepatnya Rendra melangkah maju dan langsung memelukku dengan eratnya.


Aku spontan kaget dengan mata terbelalak sejadi-jadinya. Rendra mengelus rambutku dengan lembut dan tangan yang lain memeluk pinggang ku dengan erat.


Aku terdiam kaku dengan apa yang ia lakukan padaku saat ini. Dengan tangan yang masih memegang handphone.


" Maaf. Gue minta maaf, " ucapnya saat itu. Dengan masih kondisi diam aku tak yakin apa yang ia bicarakan karna aku masih dalam kondisi shock atas apa yang lakukan saat ini.


Sembari terus mengelus lembut rambutku Rendra pun berkata, " Maaf udah ngebentak lo tadi, maaf. " jelasnya sambil mempererat pelukan nya.


Aku yang mulai memahami kondisinya masih belum bisa berekspresi. Pelukan Rendra? Ucapan maaf? Apakah ini wajar untuk seorang Rendra yang terkenal bringas.


Apakah dia Rendra?


Dia tetap tak bergeming untuk melepaskan pelukan nya saat itu. Dan ntah kenapa, akupun tak bisa melakukan apapun di kondisi ini. Sampai suara seseorang memecah suasana. Ibu?


" Ekheeem. Permisi, " suara yang pada akhirnya mengakhiri pelukan kami pada saat itu.


Setelah terdengar suara yang tak asing secara spontan aku mendorong Rendra agar segera melepaskan pelukannya dan mengarahkan dirinya kearah pintu layaknya orang terpental. Setelah Rendra terpental ke pintu aku melangkah maju dan mendapati Ibu sudah berdiri rapi dengan berkacak pinggang.


" I-ibu? Katanya ibu bakal pulang lama. " ucapku saat itu dengan suara sedikit gagu. Aku tak tahu kenapa aku berbicara gagu seperti itu.


Dengan memerkan senyumannya ibu pun menjawab, " Jadi ibu ga boleh pulang cepat ni ceritanya. " jawab ejek ibu sambil mengarahkan pandangannya ke arah Rendra yang salting disitu.


Rendra yang tak tahu kenapa tiba-tiba memegang bunga yang di pajang tampak salting (salah tingkah) kala itu. Aku memandang bingung.


Lalu ia pun bergegas menyapa ibu, " So-sore tante. " hanya kata itu yang bisa ia ucapkan.


" Kalau ibu ganggu, ibu balik lagi ni beli cemilan dulu. " ucap ibu sambil mengarahkan jarinya ke belakang tanda menunjuk mobil untuk segera pergi.


" Kalau boleh tante. " ucap spontan Rendra yang membuatku memandang nya aneh.


Segera kesenggol sedikit badannya dan membuat nya segera menutup mulutnya dengan kedua tangan.

__ADS_1


Ibu hanya bisa tertawa ringan. " Astagaaa, kalian sudah memiliki kemajuan yang besar ya. " ucap ibu sambil berjalan menuju mobil.


" Ibu mau kemana?." ucapku cepat.


Segera ibu berbalik dan menatapku lurus, " Ibu mau ngambil makanan yang ibu beli tadi, karna liat adegan tadi ibu sampe lupa kalo beli makanan. Kenapa, berharap ibu beneran pergi ni. "


" Ibu apaan sih. " ucapku sambil menunjukkan wajah serius.


Rendra kembali berdiri tegap saat itu.


Sambil menunggu ibu mengambil makanan di mobil, aku membuka suara.


" Gue butuh alasan yang logis kenapa lo peluk gue tadi. " ucapku pelan sambil terus menatap kearah ibu.


Rendra hanya melihat sekilas lalu berdeham. Dengan cepat Rendra berjalan kearah ibu mendahului ku untuk membantu membawa barang belanjaan ibu.


Ibu terlihat senang atas perlakuan Rendra.


" Haduuh, makasi nak Rendra. " ucap ibu lalu berjalan masuk ke dalam.


Ibu yang mendengar langsung membalikkan badannya. " Ra, kamu udah pernah ke rumah Rendra?. " tanya penasaran ibu sambil memegang sayuran di tangannya.


Aku menghentikan aktivitas ku dan segera menutup mata lalu menyumpahi diriku sendiri, kenapa bilang ke ibu kalo aku pernah kerumah Rendra. Bahan baru ini mah ceritanya.


Dengan santainya Rendra menjawab karna melihatku hanya diam membisu, " Iya tante. Laura pernah kerumah saya, udah kenal juga sama orang rumah. " jawabnya santainya sambil menarik kursi untuk duduk di sebelahku.


Aku hanya bisa menatap tajam kearahnya, kenapa dia bilang nya dengan santai. Pasti ibu punya pemikiran lain ni.


Aku langsung mengarah kan pandangan ke ibu untuk meluruskan apa yang ia katakan.


Ibu menutup mulutnya dengan kedua tangan nya yang penuh dengan sayuran.


Aku menatap bingung. " Ini ga seperti apa yang ibu pikir bu. Salah paham, salah banget. Bu ini tuh--....." kataku terhenti sesaat setelah ibu meletakkan sayuran dengan cepatnya.


" Rendra harus makan disini. Ibu akan masakin makanan yang endess punya untuk anggota baru kita. " ucap ibu dengan semangat 45 nya.

__ADS_1


Aku terbelalak mendengar kan apa yang ibu ucapkan barusan. anggota baru? Apaan ini.


Rendra kaget atas ucapan ibu juga namun hanya bisa tersenyum lucu.


" Anggota baru? Apaan sih bu, emangnya ini ekstrakurikuler apa ada penerimaan anggota segala. Bu, sadar atuh bu. " ucapku sambil melambaikan tangan ke arah ibu yang masih jauh di atas kayangan sana.


Dengan segera ibu berjalan ke arahku dan langsung mengangkat badanku untuk segera berdiri begitu juga dengan Rendra.


"Udah, sekarang kalian santai aja dulu duduk di luar atau di balkon juga boleh. Biar ibu yang masak, nanti kalau udah selesai ibu panggil. Udah udah sana, " ucap ibu sambil mengusir kami untuk segera meninggalkan dapur saat itu juga.


Aku hanya terus didorong menjauh oleh ibu. Uda ga bener ni. Pikirku.


Akhirnya kamipun pergi ke samping rumah ku dan hanya duduk santai disana, sesuai titah ibu.


Setelah sesampainya kami disana, Rendra langsung duduk denga damainya.


Aku terus berdiri dan menunggu penjelasan nya atas kejadian tadi. Tapi dia tetap tak berkata sedikitpun sejak sampainya disini.


Akhirnya akupun tak kuasa menahan semuanya, " Wuaah, gue udah ga tahan. Lo masih mau diem aja ni?. " pancingku padanya untuk segera meminta penjelasan.


Dia tetap tak bergeming juga.


Ni anak udah lupa cara ngomong apa.


Akupun dengan sigap duduk disampingnya.


" Hello, permisi. Gue lagi nanya ini. " kulambaikan tanganku kearahnya.


Dengan cepat dia meraih tanganku saat itu. Lambaian ku terhenti total. Dia menatap ku juga. Dengan tangan yang masih memegang pun dia bersuara.


" Gue minta maaf untuk kejadian tadi. " ucapnya.


" Kejadian yang mana ni, soalnya hari ini banyak kejadian yang terjadi. " jawabku cepat.


Dengan masih memegang tanganku, ia pun menurunkan tangannya ke bawah. Tanganku masih ia genggam dengan rapi, dan sekarang mendarat santai di paha nya Rendra. Apaan ni? Aku melihat apa yang ia lakukan.

__ADS_1


Dengan sedikit menghembuskan nafas nya, ia pun kembali berbicara. " Maaf udah ngebentak lo gara-gara hal sepele doang. Tadi gue liat lo kaget banget soalnya, gue minta maaf. " jelasnya dengan nada rendah dan dengan tatapan tulus.


__ADS_2