Protective Man

Protective Man
11. Waspada


__ADS_3

Saat jam istirahat Rendra pergi bersama teman-teman nya ke kantin dan ya, ini request dari salah satu temannya yang merasa dikhianati.


" Susah banget hubungin lo Ren. Udah kayak mau hubungin Pejabat aja. " ucap kesal Jonas. Yang lebih akrab di panggil Jon.


Rendra yang berjalan didepannya mengganggapi santai.


" Radith kemaren pulang, jadi ya gue dikurung dirumah. " jawab Rendra sembari terus berjalan menuju kantin.


" Bang Radith? Lah, udah pulang. Wuaa, berapa tahun ya gue ga jumpa. " sambung teman yang lainnya sambil memainkan game di smartphone.


" Jadi lo ngerti kan kenapa gue mulai jarang ngumpul. Gue keluar kamar aja ada yang ngawasin, kayaknya gue sekolah juga ada yang ngikutin. " jawab Rendra lagi


" Tapi gue masih bingung deh. Kenapa bang Radith lama banget disana, palingan kalo dinas ga sampe 3 bulan udah balik. Ini bertahun-tahun. Betah amat. " tanya penasaran Rifan.


Rendra hanya memandang sekilas dan tak menjawab. Sejujurnya pun ia tak tahu apa jawaban pastinya.


" Gue ga update urusan bisnis. Tapi gue ada update terbaru tentang sekolah kita. " suara yang baru muncul karna sejak tadi selalu melirik kearah murid perempuan untuk tebar pesona. Dialah Agus.


" Lo udah kayak emak-emak dipasar aja, kalo sekalinya ketemu langsung ngegosip. Lo lakik jadi-jadian gue rasa. " goda Jon yang selalu jahilin Agus, kapanpun dan dimanapun.


Agus membalas dengan memukul bahu Jon yang tepat disampingnya.


" Ini dari kelas lo bedua( menunjuk Rendra dan Naufal) Lo masa gatau. Ga update banget. " jawab Agus.


Rendra melirik kebingungan sementara Naufal merasa acuh tak acuh.


" Kejadian semalam di kantin. Judulnya 'gadis nakal' sub judulnya ngegodain guru supaya dapet nilai bagus, buat onar, sok polos, centil, 3 kali drop out, penyakitan, pemake, dan yang paling parah murahan. " jelas Agus sambil menghitung sebutannya dengan menggunakan jari.


Rendra spontan berhenti di tengah jalan dan membuat yang lain heran bercampur bingung.


Matanya terbelalak atas apa yang baru saja ia dengar.


Dengan cepat ia menarik kerah baju Agus dan mendorongnya ke dinding. Reaksi Naufal, Jon, dan Rifan kaget atas apa yang Rendra lakukan.


" Apa yang lo bilang? Coba ulangi. Ulangi. " tanya keras Rendra dengan teriakan amarah yang tak terbendung. Dengan mencengkeram erat kerah baju Agus sehingga membuatnya sulit bernafas.


" Eh Ren lo kenapa. Gue cu-cuma bilang doang. " tanya gagu Agus atas tindakan Rendra.


Sementara yang lain berusaha memisahkan mereka berdua dengan sekuat tenaga.


" Siapa yang berani nyebarin gosip ini. SIAPA!. " teriak Rendra.


" Gu-gue denger di kelas gue. Si Mar-martha sama temen-temen nya. " jawab Agus dengan nafas sedikit terengah-engah karna sulit menerima udara masuk.

__ADS_1


Setelah mendengar jawabannya, Rendra pun melepaskan cengkramannya terhadap Agus.


Agus terlihat sulit bernafas dan dibantu berdiri oleh Jon yang berada disampingnya.


Naufal berdiri menatap respon Rendra yang berbeda dan dengan raut wajah yang memancarkan aura menakutkan. Pikirnya.


Rifan dan Jon membantu memegangi Agus sementara Rendra pergi dengan cepat meninggalkan mereka yang masih bingung atas sikapnya.


***-***


Sambil memegang kaca dan sedikit merapikan rambutnya Martha pun mulai bersuara.


" Harusnya semalam kita bawa kamera untuk dokumentasiin reaksinya Laura. Trus kita jadiin film dengan judul Gadis Nakal Kena Karma. " tawa Martha puas atas kejadian semalam.


Disambung gelak tawa teman-teman nya yang duduk saling berhadapan. Temannya menyambung cerita.


" Asal lo tau ya, ada yang bilang mungkin dia kena penyakit kronis karna keseringan godain guru supaya nilainya ga turun. " sambung temannya sembari membenarkan poni.


Martha tersenyum bahagia.


" Akhirnya dia tau dimana posisi dia sebenarnya. Dia gaakan pernah menang ngelawan Martha. " dengan senyuman penuh kepuasan.


***-***


Aku mendengar semua obrolan Martha and the geng nya. Ya, aku ada di kantin. Aku segera menyusul Sisi ke kantin karna dia lupa bawa dompetnya. Dompet nya tertinggal di meja dan aku segera mengejarnya. Aku tak mendapati Sisi, tapi aku mendapati dalang dari semua ini. Kuletakkan dompet Sisi di saku jasku.


Sambil bertepuk tangan akupun berjalan menghampiri mereka yang menatapku sinis. Dan tatapan murid lain yang memenuhi kantin.


" Judulnya udah keren, tapi alangkah baiknya kalo pemain utamanya di ganti aja gimana. " ucapku santai.


Martha menatap sinis. Dan teman-teman nya pun begitu.


" Lo masih ada muka di sekolah ini, kalo gue jadi lo sih gue pindah sekolah. Upss, bukannya itu hobi lo ya bolak-balik pindah. " jawaban Martha yang diselingi dengan cekikikan gelinya.


Aku tersenyum.


" Orang yang ga salah gaakan pernah lari dari apapun. Karna dia ga salah. Dan orang itu adalah gue. " jawabku sinis.


Rombongan Rendra baru sampai di kantin dan Rendra pun spontan berhenti setelah mendapatiku juga ada disana. Teman-teman nya pun ikut berhenti.


Martha menatap bengis. Seakan aku umpan yang akan lepas. Diapun berdiri dan menatapku tajam.


" Udah gue bilang, lo gaakan pernah menang ngelawan gue. Dan sekarang gue yang menang. " ucapnya sembari melipat kedua tangannya didada.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum dan sedikit menunjukkan tawa kecil.


" Gue juga udah pernah bilang, gue gaada niatan sedikitpun untuk ngadain pertandingan sama lo. Tapi kalo lo udah mulai gini, gue juga harus nyambut dengan tangan terbuka. Karna lo yang mulai duluan. " ucapku dengan senyuman mengejek.


Martha terbelalak menatapku, anggota girlband nya pun ternganga atas ucapan ku.


Aku maju selangkah dan bicara dengan suara lantang.


" Sekarang lo bisa senyum dan ketawa sepuasnya, tapi gaada yang tau akhirnya gimana. Karna ini masih permulaan. Ronde pertama lo bisa menang, tapi gue jamin di ronde berikutnya senyum itu akan hilang. Dan gue yang bakal bikin senyum itu hilang. " balasku sinis.


Seisi kantin yang sedari tadi melihat kearah kami pun tak percaya atas apa yang barusan terjadi. Seseorang melawan Martha.


Teman-teman Martha pun terdiam tak percaya atas sikapku terhadap ketua geng mereka.


Aku beralih menatap kearah teman-teman nya yang duduk membeku.


" Kalau mau nilai tinggi, gue ga perlu ngegodain guru seperti yang kalian bilang. Dan untuk ngebuktiin itu semua, kalian cukup liat nilai rata-rata rapot gue dari SD sampe SMA. Karna dari dulu gue emang pinter. " ucapku pada murid-murid yang menyebar gosip ke penjuru sekolah.


Aku menatap tajam dan mendekatkan wajahku, membuat mereka sedikit memundurkan badan.


" Tapi kalo itu kalian sih, mungkin berlaku. " sambungku sinis.


Aku berdiri tegak kembali dan menatap sekilas Martha yang terdiam tak berkutik.


Rendra menatap dari kejauhan. Dia tersenyum sekilas dan sedikit menundukkan wajahnya bentuk tak percaya atas yang lihat. Teman-teman nya bergidik ngeri atas perlakuan Rendra.


" Kayaknya baru beberapa menit yang lalu dia nyekek gue deh, eh ini udah senyum tanpa dosa gitu. Kepribadian ganda ni anak. " ucap Agus yang masih memegang lehernya dan sedikit merapikan kerah bajunya yang berantakan.


Jon ikut menimpali, " Gue rasa dia udah tertekan banget dirumah makanya jadi eror ginih." sambung Jon yang sedikit bergeser ke arah Agus karna ngerih berada di dekat Rendra yang terlihat aneh.


" Untung gue sama bokap cs kental, jadi ga terkekang kayak ni anak. " ucap lega Rifan sambil mengelus dada.


Seperti biasa, Naufal diam dan tak memberikan respon yang berarti. Dia menatap kemana mata Rendra tertuju.


Laura.


Gadis unik. Pikir Rendra dan Naufal secara bersamaan.


Aku berjalan menjauh dengan langkah kaki pasti. Martha and the geng nya menatap kepergianku dengan tajam.


Sementara Sisi menyusulku dan berhenti sekejap dihadapan mereka.


Memeragakan untuk waspada dengan kedua jari yang mencolok mata dan mengarahkan kearah mereka dengan wajah sangarnya. Walaupun, sebenarnya Sisi adalah gadis yang paling lembut.

__ADS_1


Sisi mengikutiku dari belakang. Aku berjalan menjauh kearah lapangan basket yang tak jauh dari kantin. Aku butuh udara, pikirku.


.


__ADS_2