Protective Man

Protective Man
18. Fokus


__ADS_3

Setelah selesai sarapan aku berpamitan sama ibu untuk pergi duluan. Sambil menunggu dihalte bus, akupun memilih membaca novel yang aku beli semalam. Sebenarnya sih aku ga terlalu suka novel, hanya novel tertentu yang aku suka.


Bus nya pun datang, setelah duduk dengan nyaman akupun kembali membaca novel yang masih di halaman awal. Kubuka jendela di sebelahku sehingga udara pagi berhembus melalui kaca jendela, diiringi dengan sinar yang pagi itu terasa lebih hangat.


Tak berlangsung lama, bus nya pun akhirnya berhenti teratur di depan sekolah. Aku turun dengan santainya. Tak lama aku turun seseorang menghampiri ku, dan membuat ku sedikit kaget karna kedatangan tiba-tiba nya.


Anak dari sekolah lain. Karna seragamnya berbeda denganku.


" Maaf, novel kamu ketinggalan. " ucapnya sambil mengembalikan novel ku nya ng ternyata tertinggal di bangku bus.


Aku yang baru sadar dengan cepat mengambil novelnya.


" Makasih ya, gasadar kalo ketinggalan ternyata. " balasku sambil sedikit tersenyum.


" Senyum kamu manis. " ucapnya lagi dengan nada percaya diri.


Aku yang mendengar nya sedikit kaget tak percaya.


" Ma-makasih. " jawbku singkat. Aku ingin segera pergi, pikirku.


" Maaf kalau buat kamu ga nyaman. Aku orangnya to the point banget ya. Sorry ya, " sambungnya dengan sedikit tersenyum sembari menggaruk kepala nya.


Aku hanya tersenyum tak menjawab.


" Emm, kalau gitu gue duluan ya. " ucapku sambil menunjuk ke arah gerbang sekolah.


" Oo iya-iya, sorry udah ngomong ga jelas. Kalau gitu gue duluan juga. Baayy, " ucapnya yang sedikit melambaikan tangan lalu berjalan pergi.


Aku juga berjalan menjauh dan segera menuju kelas. Meninggalkan pandangan mata yang menatap intens.


Sisi belum datang, aku sudah duduk di kursiku dan terus membaca novel yang masih kupegang. Tiba-tiba Rizky sang ketua kelas datang menghampiri.


" Ra, maaf gue ganggu. Ada yang mau gue tanya. " tanya Rizky yang masih berdiri di hadapanku.


Aku yang mendengar suara Eizky langsung mendongakkan kepala menatapnya.


" Ehh, Rizky. Ada apa, tumben. " jawabku sambil menutup novel yang sedang kubaca.


" Maaf ganggu, tapi kira-kira lo ada waktu ga pas istirahat nanti?. " tanya Rizky yang masih dalam posisi berdiri.

__ADS_1


" Ya ampun, ga usah sungkan begitu kali sama gue. Santai aja. Istirahat ntar ya? Emm, ada sih emang kenapa Ky?." tanyaku penasaran, karna baru ini Rizky memulai pembicaraan denganku.


Ketika Rizky mau menjawab dia pun terhenti ketika melihat kedatangan Rendra.


Rendrabyang berdiri di belakang ku dengan pastinya menatap Rizky sinis. Aku yang tak menyadari bahwa ada Rendra di belakang ku menatap Rizky bingung.


" E-em Ra. Pokoknya pas jam istirahat aku tunggu di perpustakaan ya. " ucap Rizky cepat dan kemudian pergi menjauh.


Aku yang bingung dengan Rizky pun memilih memasukkan novel ku ke dalam tas dan mengeluarkan buku pelajaran.


Disisi lain Rendra sudah duduk rapi di kursinya.


Jam istirahat pun datang, seperti yang diminta Rizky akupun datang ke perpustakaan dan mulai mencari keberadaan Rizky disana.


Kudapati Rizky yang sedang mengambil buku di salah satu rak buku bagian science.


" Ky, lagi nyari buku apa?. " tanyaku yang sedikit mengagetkan Rizky kala itu.


" Eh, Ra udah dateng. Aku lagi nyari buku ipa sih ni. Ooya, duduk yuk. " ucapnya sudah sedikit santai.


Kamipun duduk berhadapan.


" Btw, ada apa minta gue ke perpustakaan?. " tanyaku penasaran.


Aku yang menatap buku Rizky pun mulai bersuara.


" Seorang juara kelas ga paham pelajaran? Kok gue rada ga yakin ya. Setau gue yang dikasih tau Sisi kalau lo itu salah satu juara umum di sekolah sejak kelas 10. Masa iyasih ada pelajaran yang ga lo paham banget. " tanyaku heran.


Rizky mulai membenarkan letak kacamatanya.


" Bukan berarti gue juara umum semua pelajaran bisa gue kuasain kan. Untuk yang ini gue beneran ga paham. " jawabnya.


Aku menatap nya tajam.


" Sisi juga pernah bilang, kalau lo itu juga pernah ikut lomba matematika pas kelas 10 dan lo jadi juara 1. Jadi gue heran aja lo nanya pelajaran yang sebenarnya lo udah kuasain. " tanyaku menelaah.


Rizky mulai tak tenang.


" Jujur aja deh sama gue. Sebenarnya lo minta bantuan apa ke gue?. " tanyaku sambil melipat tangan di meja.

__ADS_1


Disisi lain seseorang mengintip dari balik rak buku. Tak lain dan tak bukan itu Rendra.


Murid lain yang melihat kelakuan Rendra pun tertawa cekikikan. Dia mengkode yang lain untuk diam. Merekapun menurut dan diam seketika.


" Sebenarnya gue mau minta tolong sama lo soal-----. " ucap Rizky yang sedikit terbata-bata.


" Minta tolong soal?. " tanyaku dengan nada penasaran.


" Sebenarnya gu-gue suka sama Sisi. Tapi gue bingung ngedeketin Sisi gimana. Dan gue liat lo sama Sisi sekarang makin deket. Jadi.. " ucap Rizky sambil menundukkan kepala.


Akupun dengan cepat menjawab heboh kegirangan dan melompat dengan spontan. Membuat seisi perpustakaan merespon untuk segera diam.


Melihat itu Rendra pun menatap sinis orang yang sudah mengkritik Laura.


Rendra menutup wajahnya dengan buku yang ada di depannya.


Akupun kembali duduk setelah meminta maaf karena sudah berisik di dalam perpustakaan.


" Ya ampun Ky, gue kira apaan. Jadi selama ini lo suka sama Sisi? Seriusan. " tanyaku lagi.


Rizky menjawab dengan anggukan kepala.


Aku kembali tersenyum dan Rizky pun menjadi sedikit malu.


Melihat itu Rendra mulai beruap, seakan ia ingin menghampiri mereka.


" Walaupun gue baru kenal sama Sisi, tapi gue akan bantu sebisa gue ya. Gue gamau terlalu dorong lo buat deket sama Sisi sampe bikin dia sendiri ga nyaman. Tapi gue bakal bantu sebisa gue. " jelasku pada Rizky yang mendengar kan dengan seksama.


Aku memegang sekilas tangan Rizky dan memberinya semangat.


Mata Rendra mendelik melihatnya dan membuat buku yang ia pegang dihempas kan dengan cepat ke bawah.


Membuat seisi perpustakaan kembali mengkritik. Tapi mereka terhenti karena mengetahui bahwa itu adalah Rendra.


Aku dan Rizky masih senyum atas pembicaraan yang kami lakukan kala itu.


Sisi yang terobsesi dengan poni rapi dan penyuka garis keras anime ada yang sukain juga. Rizky lagi orangnya. Aku masih senyum tak percaya.


Akupun kembali ke kelas meninggalkan Rizky yang masih ingin berada di perpustakaan.

__ADS_1


Sepanjang aku berjalan menuju kelas aku melihat kearah lapangan, mereka bermain dengan santainya dan dengan canda tawa yang terukir di wajahnya.


Aku tersenyum melihat pandangan yang kulihat sekarang. Berasa akupun ikut bahagia melihatnya.


__ADS_2