Protective Man

Protective Man
37. Sisi?


__ADS_3

Kenapa tatapan dia ngeri amat. awas aja kalo mau aneh-aneh ni anak. Pikirku yang traveling.


Seketika deringan handphone ku pun membuyarkan suasana seketika. Dengen cepat kuangkat panggilan itu dengan tangan kanan dan tangan kiriku tetap menahan pintu agar tak terbuka lebar.


" Halo. " jawab ku tanpa melihat siapa yang menelepon.


" Ra, rumah lo dimana nya ni? Gue baru aja sampe di tempat yang biasa kita pisah jalan pulang. Dari sini gue gatau lagi arahnya kemana. " ucap seseorang sembari membenarkan letak kacamatanya.


" Sisi?. " ucapku bingung sembari sedikit menegakkan badanku layaknya siap gerak.


Rendra yang mendengar pun mulai menurun kan tangannya dari pintu yang dari tadi ia pegang.


" Iya ini gue. Sisi unnie yang cantik kiyowo. " jawabnya narsis seperti biasa.


" Lo mau ke rumah gue? Jam segini?. " tanyaku heran sembari melihat ke arah jam dinding.


Hembusan nafas Sisi yang berat pun terdengar.


" Kalo gue cerita disini, takutnya ntar lagi gue kenak begal Ra. Lebih baik lo share loc rumah lo deh, soalnya taxi gue udah pasang raut asem banget ni. " jawab Sisi sedikit pelan di akhir kalimat.


" Oke-oke, ini gue share loc ya. Gue tunggu di depan rumah. Ati-ati, awas dimakan supirnya. " sambungku lalu kuakhiri panggilan itu dan langsung mengirimkan lokasi rumahku ke Sisi.


Saat aku tengah sibuk mengirim lokasi rumah ku ke Sisi, aku lupa akan satu hal. Rendra masih ada disini. Dirumahku.


Aku pun membayangkan apa yang akan terjadi kalau Sisi melihat Rendra di rumahku jam segini. Dan hanya ada kami berdua.


Sekolah akan riuh besoknya.


Dengan terburu-buru akupun mendorong Rendra untuk segera ke mobilnya.


" E-eh. Kenapa ni, ngapain dorong gue. " tanya heran Rendra yang terdorong keras menuju ke mobilnya.


" Kenapa? Lo nanya kenapa? Sisi bentar lagi sampe sini, kalo dia liat lo ada disini. Wuaah, bisa riuh dunia persekolahan. Udah balik sana buruan. " ocehku sambil terus mendorong nya untuk segera pergi.


Rendra yang terus didorong pun membalikkan badannya dan menghadap ku dengan sikap berdiri sempurna di dekat pintu mobil.


Aku yang masih mendorongnya pun menghentikan dorongan ku secepat mungkin tapi tak berhasil.


Alhasil, aku dan dia beradu pandang dengan posisi Rendra yang tersandar di pintu mobil dan tangan ku yang mendarat di sisi sebelah kirinya.


posisi apaan ni. kenapa keliatannya gue yang agresif disini.


Walaupun tinggi kami berbeda, tapi tatapannya lurus menatapku tanpa berkedip.

__ADS_1


" Emangnya kenapa kalo Sisi liat gue ada dirumah lo. " tanyanya datar.


Aku mengedipkan mataku cepat lalu berdeham kebingungan.


Lalu kuturunkan tanganku dan aku pun sedikit mundur kebelakang.


" Ya, aneh la. Seorang Rendra yang terkenal buas di sekolah ada di rumah gue jam segini. " jawabku kikuk.


Rendra menghembuskan nafas sembari menundukkan kepalanya sebentar.


" Emangnya Rendra yang disekolah itu gimana. " tanyanya lagi.


"Hah? Lo nanya gue giman lo disekolah?. " tanyaku heran.


Dia pun berdeham mengiyakan.


" Mmm. Ya sedenger gue dari anak-anak, lo itu sangar, suka buat onar, playboy, hobby ngebully, dan yang ga ketinggalan keluarga lo berpengaruh disekolah. Itu sih yang gue denger. " jawabku sambil menghitung menggunakan jari.


" Yang lo liat gimana?. " tanyanya dengan nada berbeda.


Rautku berbeda atas apa yang ia tanyakan.


" Semua orang punya hak untuk penilaian yang mereka buat. Gue ga butuh penilaian orang lain tentang gue." sambungnya sambil berdiri dari sandarannya.


Aku mulai menahan nafas atas apa yang ia tanyakan.


iya sih, gue tau rendra sebagian dari ucapan orang lain. gosip yang ada di sekolah tanpa gue tau dia tu orang nya gimana. walaupun pertemuan pertama ga enak tapi itu...??


Aku hanya diam tak menjawab apapun. Disaat yang sama deringan handphone ku pun kembali berbunyi. Ternyata Sisi yang menelfon kembali.


Aku melihat sekilas ke arah Rendra.


" Halo Si? Udah dimana. " tanyaku sedikit memalingkan wajah ke arah lain.


Ternyata Sisi sebentar lagi sampai dan kulihat Rendra yang masih tak berpaling.


Kuakhiri panggilan Sisi dengan menyuruhnya berhati-hati dan aku akan segera keluar menjemputnya.


Kumasukkan handphone ku ke dalam saku jas dan aku kembali berhadapan dengan Rendra.


" Mmm, Sisi bentar lagi nyampe. Lebih baik lo buruan balik, udah malem juga. " ucapku ke luar topik pembicaraan.


Rendra masih tetap menunggu jawaban nya.

__ADS_1


Aku kembali melihat ke mana arah pandangan nya.


Lalu ku palingkan kembali wajahku ke arah yang lain.


" Cukup orang lain yang panglingkan wajahnya dari gue, tapi jangan lo Ra. " ucapnya lirih.


Mendengar itu pun aku mulai memalingkan wajahku kembali ke arahnya dengan perlahan.


" Gue balik dulu, kalian berdua hati-hati dirumah. Jangan lupa kunci pintu. " setelah mengucapkan nya ia berbalik ke mobilnya dan segera masuk dan menyalakan mobilnya untuk segera pulang.


Namun, ia diam sebentar sebelum menancapkan gas nya untuk pergi.


Aku hanya berdiri tak berkutik disana. Setelah melihat sekilas ke arahku, ia pun menancapkan gas nya dan pergi dengan kecepatan tinggi.


Tak berselang lama, taxi yang Sisi tumpangi pu tiba di depan rumahku.


Aku yang masih melihat mobil Rendra pergi berlalu masih tak berkutik untuk segera masuk ke dalam rumah.


Sisi yang keluar taxi lalu menyapaku yang terdiam kaku tak berkutik.


Entah kenapa aku kepikiran apa yang ia katakan sebelum ijin untuk pulang.


siapa yang panglingkan wajahnya dari Rendra?


Lalu akupun tersadar oleh ayunan tangan Sisi yang melambai untuk memecah lamunanku.


Seketika aku baru sadar kalau Sisi sudah sampai di sini.


" E-eh, udah sampe?. " tanyaku bingung.


" Yaudah la, jadi yang di depan lo ini siapa? ." oceh Sisi.


Sisi memandang kearah mana yang kupandangi sejak tadi.


" Ra? Laura?." teriak Sisi untuk menyadarkan ku lagi.


" Lo kenapa sih? Ga seneng ya gue dateng. " wajah Sisi yang mulai asem untuk diliat.


" Apaan sih, enggak-enggak. Yaudah yuk masuk. " ajakku masuk sambil merangkul tangan Sisi.


Sisi pun menghentikan langkahku seketika lalu berkata, " Eh bentar-bentar. Lo kenapa masih pake seragam sekolah jam segini? Lo baru balik juga? Darimana? Sama siapa? Jam segini?. " tanyanya bak wawancara kerja.


" Hiya hiya, ntar di dalem gue ceritain dari A sampe Z. Udah yuk masuk dulu. " jawabku sambil terus berjalan ke dalam.

__ADS_1


Sisi yang terus mengoceh sampai masu ke dalam rumah pun tak lepas bertanya ada apa.


__ADS_2