Protective Man

Protective Man
23. Peluk


__ADS_3

Akhirnya sampai di rumah tepat sebelum jam makan malam. Sesampainya dirumah aku langsung naik ke atas menuju kamar dan meninggalkan ibu yang baru saja meletakkan tas nya di sofa ruang tamu.


Kuletakkan tas ku di meja belajar dan akupun langsung merebahkan badan di atas kasur. Kutatap langit-langit kamarku sambil mengingat pembicaraan dengan Sisi.


***-***


Aku menatap Sisi sesaat ia berbicara seperti itu. Sisi melihat ku sekilas lalu tersenyum tipis.


" Kita emang belum berteman lama ra, tapi gue udah nyaman sama lo. Karna cuma lo yang mau temenan sama gue, yang mau jalan-jalan, yang sabar kalo gue udah cerita tentang k-pop. Pokoknya gue udah nyaman bertemen sama lo ra. " ucap Sisi sambil menatap ku dengan tatapan tulusnya.


Aku menatap Sisi masih tak bergeming. Aku hanya ingin Sisi meluapkan apa yang ada di dalam hatinya saat ini.


Sisi kembali mengatur kacamata nya dan sedikit menghembuskan nafas berat.


" Keluarga gue tuh gila kerja, nyokap udah jadi wanita karir sebelum nikah dan sesudah nikah dan punya anak juga tetap mau jadi wanita karir. Dia lebih milih ga dirumah pas weekend untuk tetap sty di kantor buat beresin semua kerjaan nya. Sampe lupa sama ultah anaknya sendiri. " tawa miris Sisi sambil menundukkan kepalanya sebentar.


" Kalo bokap gue ga jauh beda sama nyokap. Sering dinas kerja ke luar kota, dalam sebulan gue bisa ngitung berapa hari ada dirumah. Jadi kalo gue ga dirumah pun mereka gabakalan nyadar yang nyadar malah mbak-mbak yang kerja di rumah. Makanya gue lebih milih jumpain lo sekarang ra. Gue rasa udah penuh banget dan gue sampe ga tahan buat nanggung nya sendiri. Gue butuh temen yang bisa dengerin gue. Dan gue langsung mikir lo ra. " jawab Sisi sambil menatapku.


Akupun langsung memeluk erat Sisi saat itu. Kupeluk erat sambil menepuk pelan pundak Sisi untuk menguatkan dan menyadarkan nya bahwa aku akan selalu ada untuknya.


Tanpa sadar Sisi menetes kan air matanya sambil memelukku erat.


" Maaf gue ga terlalu peka sama lo si. Lo selalu siap sedia dengerin curhatan gue dan ga pernah ninggalin gue sendiri. Gue terlalu fokus sama diri gue sendiri tanpa ngeliat lo yang sebenarnya juga ada masalah. Maaf si. " ucapku sambil memeluk Sisi semakin erat.


Sisi hanya membalas pelukanku dan terus meneteskan airmata nya. Mata ku pun mulai berkaca-kaca seakan mau tumpah.


Kami melalui setengah hari dengan curhatan dan tangisan yang sebenarnya semakin mendekatkan kami. Aku bersyukur mendapat sahabat yang bisa saling berbagi tawa dan duka. Dan aku akan selalu menjaga sahabat ku.


***-***


Hari-hari di sekolah baru sudah semakin menjadi hal yang biasa. Sudah bisa beraktivitas layaknya anak sekolah pada umumnya, sebentar lagi akan ada ujian tengah semester. Aku dan Sisi pun mulai sering belajar sehabis pulang sekolah.


Rendra yang berjalan menuju kelas tiba-tiba berhenti di koridor sekolah. Laura?


Aku berhenti di depan mading dan melihat dokumentasi lomba yang dimenangkan murid dari SMA NUSANTARA. Aku tersenyum melihatnya, seakan flashback pada saat aku ada di posisi itu. Rendra mendatangiku dengan langkah pastinya.


Tanpa sadar dia sudah berdiri rapi di sampingku.


" Ternyata kemenangan bisa membuat senyum seindah itu ya. " ucapku tiba-tiba.


Rendra kaget saat menyadari aku tiba-tiba bertanya. Kok dia tau ada orang di sampingnya sih? Pikir Rendra.

__ADS_1


Rendra kembali menata gaya berdirinya.


" Semua itu karena jerih payah mereka sampai akhirnya senyuman itu ada di wajah mereka. " jawab Rendra.


Aku menghembuskan nafas sekilas. Rendra menatap. " Kenapa?. " tanyanya spontan.


" Aku iri. " jawabku singkat.


Rendra membalikkan badannya menjadi sepenuhnya berhadapan denganku.


" Hal yang udah aku usahain dari kecil sampai sekarang tapi masih belum bisa menghasilkan senyum seindah itu. Aku iri. " jawabku sambil menatap ke arah Rendra.


Kami pun bertatapan satu sama lain.


" Kalau gitu, aku yang akan buat senyum itu jadi kenyataan. " ucap Rendra sambil menatap serius.


Aku mengedipkan mata dengan cepat. Aku baru sadar kalau orang yang kuajak bicara itu adalah Rendra. Aku sedikit memundurkan badanku ke belakang tapi dengan cepat Rendra menarik tanganku untuk tak menjauh darinya. Akhirnya jarak kami pun menjadi semakin dekat.


Aku tepat menatap ke arah Rendra. Kulihat wajah nya dari dekat dan tetap dalam raut wajah seriusnya.


" Seseorang harus berani mengambil satu langkah untuk menjadi lebih dekat. Dan itu yang akan aku lakukan. " ucap Rendra sambil melangkah lebih dekat kearahku.


Ada apa dengan anak ini? Kenapa jadi begini?


Karena kami di koridor sekolah dan itu tempat lalu lalang murid, jadinya tak bisa dielakkan tatapan semua orang saat melihat kami kala itu.


" Mak-maksud lo apaan sih. Lepasin. " ucap ku sambil berusaha melepaskan pegangan tangannya.


Dia tak bergeming. Masih dengan raut wajah seriusnya.


" Cukup sekali aku lepasin kamu, dan gaakan ada yang kedua kalinya. " jawabnya santai.


Apaan sih bahasanya jadi baku banget. Aku Kamu. Biasa lo gue jugak.


Tiba-tiba Jon dan Agus pun datang menghampiri kami.


" Eyaaakk. Masih pagi hati gue udah bergetar melihat keromantisan dua sejoli ini. Gue ga tahan gus. Help me. " ejek Jon sambil berakting layaknya orang pingsn ke arah Agus.


Agus terkekeh singkat lalu menangkap temannya itu, " Gini amat ya nasib para zomblo. Sarapan pagi liat yang beginian. Tolong baim ya allah. " sambung Agus.


Aku dengan cepat melepaskan pegangan Rendra dan memundurkan badanku untuk menjauh darinya. Rendra pun hanya meringis melihat temannya datang di waktu yang tak tepat.

__ADS_1


" Apaan sih. Romantis apaan. " jawabku kesal.


Setelah menjawab ejekan mereka pun aku berjalan meninggalkan mereka dengan cepat. Dan tanpa melihat ke belakang pastinya.


Rendra menatap kedua temannya dengn tatapan tajam layaknya ingin menerkam.


Kedua temannya itu pun melihat kearah Rendra seakan mereka siap untuk dimangsa.


" E-eeh udah mau bel ni, ke kelas buruan yuk. " ajak cepat Agus kepada Jon yang masih belum sadar.


Sambil menepuk badan Jon yang masih belum sadar sepenuhnya Agus pun menatap Rendra dengan tatapan memohon pertolongan. Dan memancarkan senyuman tak berdosanya.


Agus melihat Jon masih belum sadar kembali memukul Jon dengan sekuat tenaga sampai Jon kesakitan.


" Sakit woyy, apaan siih. " ringis Jon sambil melihat Agus mengode nya untuk melihat ke arah depan.


Jon pun melihat Rendra dengan tatapan buasnya. Merasa kehadiran mereka disaat yang tak tepat.


Jon pun mulai cengengesan layaknya anak kecil yang ketauan makan ice cream disaat sedang flu.


Agus dan Jon saling beradu pandang satu sama lain. Mereka pun dengan jurus seribu bayangan pergi meninggalkan Rendra dengan cepat sebelum mereka diterkam olehnya.


Rendra menatap kepergian temannya sambil mengerutkan keningnya.


Setidaknya gue udah ngucapin niatan untuk lebih dekat dengannya.


Rendra menghembuskan nafas lega. Lalu berjalan menuju kelas.


Tanpa sadar sedari Rendra dan Laura berbicara intens, Naufal sudah melihat mereka dari kejauhan. Sampai mereka pergi pun Naufal masih tetap memperhatikan mereka.


" Gue liat kayaknya lo perhatian banget sama hubungan mereka. " ucap seseorang dari belakang Naufal.


Martha?


Naufal hanya melihat sekilas kearah Martha tanpa menjawabnya.


" Kalau lo suka ya harus kejar dong. Masa lo betah sih selalu jadi yang kedua setelah Rendra. Ga bosen apa?. " ucap Martha sekali lagi.


" Jangan pernah ganggu orang lain kalau lo gamau diganggu, bukannya itu hal dasar yang harus seseorang pahami. " jawab tegas Naufal tanpa melihat ke arah Martha. Lalu pergi meninggalkan Martha sendiri.


dasar es batu. Pikir Martha

__ADS_1


__ADS_2