
Hari senin pun tiba dengan tak diduga dan tak diinginkan bagi anak sekolahan. Ya, aku masih terjebak dengan rutinitas layaknya sudah tersusun dan selalu menjalani nya dsri waktu ke waktu.
Sambil berjalan menuruni anak tangga akupun sedikit membenarkan rambutku yang kukucir kuda. Karena perkiraan cuaca yang diprediksi akan sangat panas membahana.
" Ra, ni sarapan nya udah ready ya. Tolong ambilin jus jeruk di kulkas ya. " sahut ibu dsri arah dapur.
Selagi menyantap sarapan dengan damai suara handphone ibu pun memecah keheningan.
Drrtttt......Drrrtttt.... Drrrrtt.....
Setelah menggigit rotinya, ibu pun segera mengambil handphone yang diletak tak jauh dari meja makan.
"Hola sistaa. " sahutan ibu seperti biasa.
Aku hanya melihat sambil menyeruput jus jeruk favorit ku.
Raut wajah ibu berubah tegang. Lalu mengakhiri panggilan teleponnya tanpa membalas seperti biasa. Aku merasa pasti ada yang terjadi. Tapi aku hanya bersikap seperti biasanya.
"Ra. " panggil ibu yang masih memegang handphone nya didekat telinga.
Aku mendeham sambil memegang roti.
" Laura punya temen deket kan di kelas?. " pertanyaan tiba-tiba ibu.
Aku meletakkan rotiku di piring dan menghadapkan wajahku tepat memandang ibu yang masih membeku.
" Kenapa bu? Ada masalah ya. " tanyaku mulai khawatir atas sikap ibu pagi hari ini.
Ibu meletakkan handphone dan melipat kedua tangannya di dekat piring.
" Ini sungguh urgent yang sangat amat urgent ra. Mulai besok…." kata ibu terhenti karena tarikan nafas.
Aku kulai memajukan badanku tanda aku kulai larut dalam pembicaraan di pagi hari.
Ibu berhenti sejenak. Aku melotot. " Kenapa bu? Ibu mah suka banget tarik ulur gini. " protesku sambil mengendorkan badanku ke belakang.
" Sampai seminggu kedepan ibu ada dinas keluar kota, nemenin dirut check lapangan untuk proyek yang lagi diurus. Jadi ya mau ga mau ibu wajib ikut dirut pergi juga. "jelas ibu sambil balik ke mode awal dan santai meminum jus nya.
__ADS_1
Aku mulai kesal. " Ibu maaaaaaaaaaahhhhhhh. "teriakku kesal.
Ibu sedikit tersedak karena jus yang diminumnya.
Uhuuukkk. uhuuuukkk..
" Ya am-ampun ra. Gausa teriak juga kelees. Ibu serius ini. " sambil sedikit menyeka mulutnya dari sisa jus.
Aku kembali duduk tegak sambil mengambil roti yang kuabaikan tadi.
" Kalau ga kamu minta Sisi untuk nginep dirumah kita sehari dua hari, paling ga kamu ada temennya. Ibu ga tenang juga kalau ninggalin kamu sendirian Ra. " ucap ibu smbil memancarkan raut wajah mulai khawatir akan nasib ku seminggu tanpa ibu di rumah.
Aku menelan roti ku perlahan lalu meminum sisa jus di gelas. " Bu, Laura mah bukan anak kecil lagi yang ga berani ditinggal sendirian di rumah. Ibu mah tenang aja selama dinas, ntar Laura bakalan minta Sisi sering main ke rumah. Lagian mulai hari ini tuh udah mulai persiapan uts, jadi bakalan sering belajar bareng juga sama temen. So, sista tenang aja ya sis. I'll be okheey. " jelasku panjang lebar untuk meyakinkan ibu kalau aku akan baik-baik saja.
Akhirnya setelah penjelasan ku untuk meyakinkan ibu, akhirnya ibu packing dengan harp harap cemas. Di satu sisi harus profesional bekerja namun disisi lain kekhawatiran ibu dalam meninggalkan anak perempuan sendirian dirumah.
" Awww. Jalan liat-liat dong. " terdengar suara yang tak asing.
Karena keasikan mikirin nasibku seminggu kedepan gimana, aku berjalan sambil tak tentu arah.
Martha?
Martha mengibaskana rambutnya dan tersenyum bengis.
" Lo udah ga bisa liat lagi ya. Atau yang ada di penglihatan lo tuh cuma cowok ganteng doang sampe ga liat yang lain. " ejeknya sambil tertawa cekikikan.
Aku menarik nafas dalam lalu kutatap si cewek gaje ini. " Kalo iya kenapa? Kalo gak juga kenapa? Emang sesuatu yang gue liat harus gue laporin ke lo, enggak kan. So, shut up your mouth. " jelasku nada jengkel.
Matanya terbelalak. Begitupun antek-antek nya.
" Ehh, disini tu yang salah lo. Kenapa lo yang sewot. Ga pernah diajarin adab sama ortu lo ya? atau jangan-jangan ortu lo juga ga beradab. " balasnya sambil diiringi cekikikan para anteknya.
Mataku semakin menjadi lebih besar dengan apa yang ia katakan. Aku mulai mengangkat kepalaku dan sedikit memunculkan senyum smirk ku.
" Apa? lo barusan, ngomong apa. " ku akhiri kataku sambil menatap sinis kearahnya.
Martha mulai memancing dengan sedikit maju ke depan dan menyilangkan kedua tangannya layaknya menantang untuk gulat bersama.
" Ternyata bukan cuma ga bisa liat, lo juga ga bisa denger ya. " singkatnya tanpa merasa bersalah.
__ADS_1
Karena kami berhenti di koridor sekolah, murid lain yang baru datang so pasti melihat atraksi yang sedang berlangsung.
Dari arah kejauhan Naufal dkk baru datang dan hendak ke ruang kelas. Namun langkah mereka terhenti atas apa yang ia lihat.
" Ehh bro. Itu si Laura kan? tu si madam Martha beraksi lagi kayaknya. " sahut Jon yang sambil mendengarkan lagu di earphone nya.
Aku dan Martha yang masih bertatapan menciptakan aura yang tak sedap dipandang.
Di satu sisi Naufal melihat ke arah kami sambil tetap menelaah apa yang akan terjadi.
" Adab? Tau apa lo tentang adab, sementara diri lo aja ga ber adab." balasku dengan nada yang berbeda dari biasanya.
Untuk yang satu ini, dia ga bisa di tolerir.
Mata Martha membesar dan respon para anteknya juga ternganga atas apa yang aku katakn.
" Apa? Lo barusan ngomong apa. " ucap kesalnya.
Aku menyilangkan kedua tangan, " Ternyata lo juga ga bisa denger kayak gue ya. Lo GAK BERADAB. " ucapku dengan nada yang mulai menguat.
Martha menurunkan kedua tangannya dan mengepal sekuat tenaga.
" Ibu gue pernah bilang, jangan hanya menerima apa yang orang lain berikan. Setidaknya, kita juga membalas apa yang ia berikan dengan layak. Dan mulai saat ini (berjalan maju kearahnya) gue akan membalas apa yang lo berikan ke gue saat ini dengan harga yang layak. See you soon. " jelasku sambil meninggalkan nya dengan percaya diri.
Aku berjalan dengan percaya diri meninggalkan Martha dan semua tatapan intens terhadap ku saat itu.
Aku masih mengepalkan kedua tangan dan berjalan maju.
" Aarrrrrgggghhhhh. Gue benci sama cewek itu. GUE BEEENNNCCCIIIIIIII. " teriak Martha sejadi-jadinya yang membuat tatapan di sekitarnya memandangnya kasihan.
Teman-teman nya mencoba menenangkan namun ditangkis oleh Martha.
" Gue ga akan biarin lo nge hina gue lebih dari ini, gue ga akan biarin. Gue bakal bikin lo menderita di sekolah ini. Pasti. " ucapnya sambil mengepalkan kedua tangan tanda kesal yang tiada tara.
" Wuaaaaahh, baru pertama ada orang yang Martha histeris kayak gitu. Laura emang unik. " ucap Agus sambil meletakkan handphone nya di saku celana.
" Dia memang unik. " timpal Naufal sambil memasukkan tangan kanannya ke dalam saku.
Jon dan Agus melihat reaksi aneh sohibnya.
__ADS_1