
Ibu yang tengah menyiapkan sarapan pun mulai sibuk menuangkan segelas susu cokelat. Aku sudah siap berangkat.
" Ra, sarapan dulu. Ibu udah siapin roti panggang ni. Jangan lupa susunya diminum. " perintah ibu yang membaca berkas sambil meminum teh nya.
Akupun duduk dan mengambil roti yang ibu siapkan, tak lupa meminum segelas susu cokelat hangat favorit ku sejak dulu.
" Bu, hari ini Laura berangkat naik bus aja ya. Ibu langsung ke kantor aja. " ucapku dengan mulut yang penuh dengan roti.
" Iya, ibu liat kamu juga udah sehat dan bisa berangkat sendiri. Tapi ibu masih terus perhatiin kamu loh ya. " jawab ibu sambil mengarahkan lembaran berkasnya ke arahku.
Aku menelan roti dengan cepat lalu kuhabiskan susu cokelat ku dan beranjak berdiri.
" Iya, iya. Yaudah Laura pamit ya. " smbungku sambil mencium pipi ibu lalu beranjak pergi.
Sesampainya di halte bus, syukurnya bus sudah datang dan aku masih sempat untuk naik. Lalu akupun duduk dimana ada tempat kosong. " Eh, ketemu lagi. Selamat pagi. " ucap seseorang yang duduk di sampingku.
Aku melihat ke sebelah dan mendapati orang yang semalam ngembaliin novelku sewaktu tertinggal di dalam bus.
" E-eh iya. " jawabku gagu. Aku memilih untuk menatap ke depan saja.
" Lo ga nyaman ya ngobrol sama gue?. " tanya nya yang membuatku terperanjat.
" Bu-bukan gitu. Gue cuma--. " sebelum aku menyelesaikan perkataan ku dia kembali menyambung.
" Ya mungkin bisa dibilang gue sksd sih(sok kenal sok dekat) tapi gue mau ngobrol sama lo karna gue liat selera novel lo sama kayak gue. " jelasnya sambil menatap lurus ke depan.
" Owh gitu toh. Sorry ya gue kira lo mau ngajak join MLM . " jawabku garing dan tak lupa dengan senyuman kaku.
Diapun tersenyum sekilas sembari terkekeh.
" Jangan garing gitu kali, siapa tau kita bisa temenan. Punya temen yang hobinya sama kan seru juga. " jawabnya sambil terkekeh kecil.
Aku pun tersenyum terpaksa sambil melirik ke arah yang berlawanan.
" Btw, nama gue Bima. Bima Sanjaya. " sambil mengulurkan tangannya mengajak berkenalan.
Akupun melihat sebentar uluran tangannya dan menyambut tangannya dengan bersalaman.
" Gue Laura Athifa. Panggil aja Laura. " jawabku sambil membalas uluran tangannya.
__ADS_1
Kami bertatapan sejenak lalu aku melepaskan pegangan tangan kami.
" Akhirnya gue tau nama lo juga. Semoga kita bisa akur ya, dan ga garing lagi kalo ketemu. " ucap santai Bima.
Aku hanya mengangguk perlahan, tanda setuju.
Bus nya pun berhenti tepat di depan sekolah dan akupun segera berdiri untuk turun.
" Gue duluan ya. " ucapku untuk sekedar berpamitan.
" Iya, hati-hati. " jawabnya singkat. Sedikit melambaikan tangan ke arahku tanda perpisahan.
Aku turun dengan langkah cepat dan melihat bus itu pergi dengan tenang. Aku menghembuskan nafas. Kalo ada bus lain yang arah ke sekolah, mending naik itu aja. Pikirku.
Aku lihat Sisi yang baru saja melewati gerbang sekolah. Kukejar dengan lari kecil untuk menghampiri nya.
" Hey, morning. " sahutku padanya.
" Hey, morning too. " jawabnya dengan senyum ceria.
" Kok keliatannya ceria banget sih neng. "
Aku tersenyum melihat Sisi yang semangat 45' hari ini.
***-***
Disisi lain dari kehidupan damai Laura.
Gadis yang memakai seragam sekolah elit pun turun dari lantai 2 rumahnya. Menuju dapur untuk sarapan pagi.
" Selamat pagi ma. " ucapnya pada sang mama yang tengah duduk rapi di meja makan.
" Selamat pagi sayang. Kamu semalam pulang jam berapa, kok mama gatau. " jawab mama nya sambil mengoleskan selai ke rotinya.
" Maafin Shifa ma, soalnya semalam keasikan hangout sama temen yang baru pulang dari London jadinya lupa waktu deh. " jawab santainya sambil mengambil segelas jus jeruk.
" Kamu hanya tau jalan-jalan ga penting sama temen kamu, fokus belajar dan perbaikin nilai kamu yang terus merosot itu. " sahut Papa nya yang ternyata sudah hadir di sana.
Mamanya langsung meletakkan roti di piring dan dengan posisi tegap dan Shifa pun begitu. Segera meletakkan jus nya di meja
__ADS_1
" Sarapan dulu pa?. " pinta istrinya halus.
" Manajer Lee siapkan mobil, kita pergi sekarang. " perintah papanya pada sang manajer.
Seketika istrinya pun berdiri dengan cepat dan menyusul kepergian papa yang belum jauh.
" Ini sudah disiapin untuk makan di kantor. " sambil memberikan kotak makan yang sudah disiapkan.
" Aku bukan anak-anak yang butuh bekal makan. Seharusnya kamu lebih tegas sama anakmu, bukan waktunya dia main lagi sekarang ini. Dari dulu sampai sekarang ga bisa diandalkan, lebih baik adiknya daripada dia. " jawab ketus sang papa.
Shifa hanya terdiam kaku mendengar kritikan sang papa, sementara mamanya tak bisa menjawab apapun.
Bekal yang sudah disiapkan tak dibawa oleh sang suami dan hanya bisa ia pegang dengan eratnya.
" Aku gapunya adik. Dan gaakan pernah punya adik. " ucap Shifa sambil meremas tangannya.
Mamanya pun meletakkan bekal makan di meja dan menghampiri Shifa lalu memegang kedua bahunya.
" Omongan papa jangan dimasukin hati ya. Mungkin papa bilang gitu supaya kamu bia lebih rajin belajarnya. " ucap lembut sang mama.
Shifa melirik ke arah bekal makanan di sampingnya.
" Sejak saat itu, papa ga pernah makan bareng kita, ga pernah perhatian ke mama walaupun mama udah berusaha mati-matian buat papa ngeliat kalo mama ada. Kalo aku ada. Tapi kenapa papa selalu inget merek yang bahkan gaada di rumah ini. Apa kurang cukup kita buat mereka sengsara. " ucap kesl Shifa.
" Sst, Shifa ga boleh ngomong gitu kalo papa kamu dengar gimana. " jawab mama.
" TAPI PAPA GA PERNAH DENGAR KAN, PAPA GA PERNAH ANGGAP KITA ADA!!!. " bentak Shifa sambil berdiri.
Sang mama pun tak bisa melakukan apapun untuk menenangkan sang anak yang masih emosi.
" Kenapa sulit nerima kita ma. Yang seharusnya gaada tuh mereka, mereka yang udah ngancurin keluarga kita. Tapi kenapa mereka yang papa peduliin lebih dari apapun. " isak tangis Shifa mulai pecah.
Mama langsung memeluk Shifa dengan eratnya.
" Mama gabisa liat kamu nangis sayanga, mama gabisa. Setelah waktu itu, mama gatau dimana keberadaan mereka sekarang. Tapi akan mama usahakan untuk cari tahu dimana mereka. Dan mama akan kasih 'hadiah' ke mereka. Kamu sabar ya. " bujuk sang mama agar Shifa berhenti menangis.
Dalam pelukan sang mama Shifa masih dalam kondisi menangis sejadi-jadinya. Tapi di dalam tangisnya terlukis senyum jahat yang dia torehkan saat itu. Senyuman yang tak bisa disebut senyuman.
Mama akan ngelakuin apapun agar Shifa bahagia. Apapun.
__ADS_1