
Setelah terlepas dari jeratan petugas yang mematikan itu akhirnya kami diizinkan masuk. Setelah melewati lobby pun aku memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu.
" Emm, terimakasih pak atas pertolongan nya. " ucapku sedikit gugup karna berbicara langsung dengan bos besar di kantor ini.
Diapun berbalik dan menatapku langsung lalu tersenyum tipis.
" Iya, tapi kalian juga harus menaati peraturan di sini juga ya. Sekarang kalian harus langsung ke ruangan bu Titi, masih ingat ruangan nya dimana kan?. " tanya nya lagi.
Aku sejak tadi heran kenapa rekan kerja ibu panggil ibu dengan sebutan Titi, sebenarnya kan..
" Maaf pak direktur. Tadi seingat saya bapak bilang kalau kami teman adik bapak. Tapi kami tidak tau siapa adik bapak, jadi... " Sisi yang sejak tadi bungkam akhirnya mengeluarkan suara emasnya.
Akupun penasaran juga mau menanyakan hal yang sama.
" Emm sebelumnya kalian sekolah di SMA NUSANTARA kan?. " tanya nya sambil memasukkan tangan ke saku celana.
Kami pun menganggukkan kepala bersamaan.
" Adik saya juga sekolah disana, dan mungkin secara tidak langsung kalian sudah kenal dengan adik saya. " jawabnya santai.
Aku dan Sisi pun menatap satu sama lain, berharap salah satu diantara kami mengerti apa maksudnya.
Dirut itu pun menatap kami sambil tertawa ringan.
" Jangan terlalu dipikirkan. Nanti kalian juga tau dengan sendirinya, ohiyaa maaf saya harus duluan dulu ya. Jangan sampai tersesat lagi, mungkin saya ga ada di sana untuk bantu kalian. " jeasnya sambil berjalan berlalu meninggalkan kami yng masih kebingungan.
" Ra, btw dirut itu ganteng banget deh. Kayaknya ga cocok kita panggil pak deh, lebih cocok itu dipanggil oppa. " ucap Sisi sambil terus melihat kepergian dirut itu.
Aku menatap sekilas dan memundurkan badanku untuk menjauhi Sisi.
Sisi yang menyadari nya pun langsung merangkulku kembali dengan senyuman polosnya.
" Gue baru tau lo suka sama yang udah mateng gitu. " jawabku sambil menatap Sisi lekat-lekat.
Sisi tertawa ringan. " Apaan sih, kagak woy. Hatiku tetap untuk Park Jimin mochiku seorang, gaada yang bisa gantiin. " jawab Sisi sambil merangkul dan terus tersenyum.
Aku semakin ngeri melihat ke fangirl an temanku satu ini. Walaupun aku tak berhak untuk menghakimi apa yang dia suka dan tak suka.
__ADS_1
" Yaudah yuk ke ruangan ibu gue, ntar kita ketangkep petugas itu lagi. " ajakku untuk menghilangkan lamunan Sisi saat itu juga.
Aku dan Sisi segera ke ruangan ibu. Dan ketika sampai di ruangan ibu, ibu tengah menelepon.
" Ya ampun ra, kamu dari mana aja. Ibu udah nelpon berjuta kali ga di angkat-angkat. " ucap panik Ibu sambil menghampiri ku.
" Maaf bu, tadi Laura keluar jemput Sisi ehh tapi gadikasi masuk sama petugasnya. " jawabku sambil memegang ibu.
Wajah ibu mulai panik.
" Tapi untungnya ada orang yang bantuin kita bisa masuk lagi ke kantor. Dan yang paling untung, orang itu dirut disini dan ganteng plus Wibawa banget tante. " sambung Sisi dari arah belakang ku dan terus berbicara tanpa henti.
Ibu yang melihat kehadiran Sisi menatap bingung kearahku dan aku hanya membalas senyuman ibu.
" Kenalin bu, ini temen Laura. Namanya Sisi. " ucapku sambil membawa Sisi sedikit maju kedepan.
Sisi maju kedepan dengan senyuman canggung nya. Aku hanya bisa membantu Sisi sampai sini saja.
" Jadi kamu yang namanya Sisi?. " tanya ibu datar.
" I-iya tante. Maaf ta-tante gara-gara saya samai jadi begini. " jawab kaku Sisi sambil dengan posisi siap sedia.
Aku hanya memantau dengan santainya. Dan sambil mengambil botol mineral di dekat sofa.
Ibu kembali tersenyum ramah. " Salam kenal juga. Saya ibu nya Laura, baru ini Laura ngenalin temannya ke ibu sejak dia pindah." jawab ramah ibu sambil memegang Sisi.
Kulihat ketegangan Sisi mulai surut. Lalu ia pun mulai tersenyum kembali.
" Saya mampir karna rumah saya juga di daerah sini tante, jadi nya saya langsung otw deh. " jawab santai Sisi.
Aku hanya tersenyum melihat keakraban temanku satu ini.
" Oiyaa, tadi kalian bilang dirut? Maksudnya gimana. " tanya bingung ibu sambil melihat kembali kearahku.
Disaat aku ingin menjawab, Sisi selangkah di depan dan langsung menjawab pertanyaan ibu.
" Iya tante, tadi dirut disini tuh yang nolongin kita masuk lagi ke kantor. Katanya sih kita temen satu sekolah adiknya, trus dia juga kenal sama tante jadinya diijinin masuk deh. " jawab singkat Sisi.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk pelan.
" Temen sekolah adiknya? Ibu gatau direktur punya adik. " ucap heran ibu sambil berjalan kearah meja kerjanya.
" Tapi bu, dari tadi Laura heran deh. " sambungku yang masih duduk di sofa. Sisi juga menghampiri ku untuk duduk di sebelah ku.
Ibu menjawab dengan dehaman sambil kembali ke meja dan mengatur berkas nya.
Aku duduk bersila lalu menatap ibu. " Rekan kerja ibu kenapa manggil ibu dengan sebutan Titi?. " tanyaku sambil memancarkan wajah misterius.
Sisi menatap bingung dan hanya menunggu jawaban dari ibu.
Ibu berhenti menyusun berkasnya lalu berbalik menatap kearahku yang menanti jawaban dengan senyum tipis.
" Ehm, itu ya? Emm, ibu gatau juga si kenapa mereka manggil ibu gitu. Tapi kedengarannya lumayan juga ra. Ibu juga seneng dipanggil gitu. Jadi ya, it's okay. " jawab ibu dengan senyum puas nya.
Aku membalas tertawa ringan. " Laura ga ngelarang juga bu. Lagian tadi Laura bingung aja kok dipanggil Titi. Tapi setelah di denger, panggilannya manis juga kok. Ga keliatan kalo ibu udah berumur. " godaku sambil merangkul Sisi dan sambil terkekeh singkat.
Sisi juga menimpali dengan tawa singkatnya.
Ibu tersenyum dan kembali menyusun berkasnya.
" Oiya, ini ibu mau rapat sebentar kamu sama Sisi jalan-jalan sendirian gakpapa ya, tapi jangan jauh-jauh. Nanti ketangkep petugas ibu gabisa nolongin. " jawab ibu sambil berjalan keluar ruangan.
Setelah ditinggal ibu, aku dan Sisi pun memilih berjalan keluar menuju taman di belakang kantor dan mencari tempat teduh untuk berbicara santai.
Setelah mendapat tempat teduh aku melihat Sisi seperti banyak beban yang ingin dia ceritakan.
" Si, lo belum bilang kenapa tiba-tiba mau jumpain gue. Ada apa?. " tanyaku sambil melihat ke arah Sisi yang masih diam tak ingin menjawab.
Sisi masih menatap lurus ke arah taman dan masih belum ingin bersuara.
Aku pun tak ingin memaksa dan memilih menatap ke arah lain sambil menikmati angin yang berhembus pelan.
" Gue berasa ga punya keluarga ra. Keluarga di kamus gue tuh kayak gaada maknanya. " jawab Sisi sambil terus menatap ke depan.
Aku kembali menatap Sisi dengan wajah serius. Baru ini aku melihat Sisi dengan raut wajah seperti ini. Aku masih belum kenal temanku dengan baik. Pikirku.
__ADS_1