
Masa-masa kecil yang diimpikan setiap anak adalah berkumpul dengan keluarga sambil berbincang ringan dan melepas canda tawa bersama. Ibu dan ayah. Hanya duduk santai sambil menonton TV bersama saja sudah lebih dari cukup.
Tapi itu tidak berlaku untuk ku. Terkhusus untukku. Masa kecil adalah waktu yang ingin kulewati bahkan tak ingin kuingat aku pernah merasakan itu. Ingin ku skip dari hidupku, jika bisa.
" Salah aku apa? APAAAAA! Bukan aku yang buat masalah, tapi kenapa aku yang nerima semuanya. " tangisku pecah dan sambil teriak yang membuat dada ini sesak sampai tak tahu cara untuk bernafas.
Gudang penyimpanan barang-barang tak terpakai yang gelap dan dengan debu yang menggumpal hebat. Aku dikurung dengan pikiran tak tahu apa yang kuperbuat.
Kudengar suara pintu dikunci dari luar dengan cepat. Aku terus mendobrak pintu dengan keras. Tapi tetap tak membuahkan hasil. Pintu sudah terkunci rapat.
" BUKAA. BUKAAAAAAA!. Kenapa kakak ngelakuin ini, KENAPAAAA!. "ucapku keras sambil terus berusaha mengetuk pintu untuk segera dibuka.
Aku tak tahan dengan udara yang lembab dan dengan atmosfer yang tak seharusnya untuj ditempati. Aku benci gelap. Aku tak suka sendirian.
Setelah selesai mengunci pintu Shifa pun melempar kuncinya ke sembarang arah.
" Jangan panggil aku kakak. Aku tidak punya adik dalam hidupku. " ucap Shifa datar tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
Aku terdiam terpaku dan seketika berhenti mengetuk pintu untuk berusaha keluar. Aku menurunkan tanganku dari pintu. Seketika air mata jatuh tanpa aba-aba. Akupun tak punya tenaga lagi untuk menopang diriku agar tetap berdiri.
Terduduk lemas di dekat pintu sambil menetes kan air mata yang terus membasahi pipi. Kegelapan yang kubenci makin bertambah kuat dengan kata-kata yang baru saja kudengar. Dan sejak itu aku tak pernah mengenal kata keluarga dan apa arti dari keluarga.
Semua begitu menyesakkan dada ketika mendengar kata keluarga.
Dengan santainya Shifa langsung berjalan meninggalkan ku yang terkunci di gudang.
Aku teduduk meringkuk di bawah sambil terus memanggil ibu ibu dan ibu.
Disisi lain ibu sedang berusaha mencari keberadaan ku di setiap sudut rumah. Ibu berlari sekuat tenaga untuk mencari keberadaan ku yang tak kunjung terlihat.
" Lauraaaaaa. Lauraaaaaaaaa. Raaaaaaaaaaa. "teriak ibubyang terus berusaha mencari.
Sementara Shifa yang hanya memantau dari kejauhan sambil tersenyum tipis atas apa yang ia lihat.
Disatu sisi asisten keluarga kepercayaan Adiwiguna melihat perilaku Shifa yang seakan tak merasa bersalah atas apa yang ia lakukan.
Asisten itu pun menghembuskan nafas dengan berat.
******
__ADS_1
kenapa harus dia yang menghentikan ku disaat seperti ini. kenapa?
Kami pun memilih untuk duduk di tempat yang belum kutemui di sekolah ini.
Aku hanya memilih sikap diam seribu bahasa.
Rendra terus menatap kearahku tanpa mengucapkan satu kata pun.
Aku mulai melirik ke arahnya untuk melihat apakah dia masih ada disitu. Dan ternyata dia masih ada, kami pun beradu pandang.
Aku mengedipkan mata dengan cepat. Alu mengarahkan pandanganku kembali untuk menatap lurus ke depan.
Rendra menghembuskan nafas nya sambil sekilas menatap ke sembarang arah.
" Gue ga mau nanya hal yang pasti gaakan lo jawab. Tapi gue akan ada saat lo siap untuk cerita. " ucapan yakin darinya sambil memandang serius kearahku.
Aku yang mendengar nya pun mulai tak fokus atas apa yang kulihat di depan. Akupun memilih sedikit memiringkan kepala ku kearahnya.
Kudapati wajah serius Rendra yang belum pernah kulihat sepanjang aku mengenalnya.
Hembusan angin yang mengiringi ucapan Rendra.
Setelah melewati berbagai kejadian yang random, bel pulang sekolah yang ditunggu pun akhirnya berbunyi.
Dengan cepat akupun merapikan segala buku dan peralatan yang tertinggal di laci.
Ketika aku sudah selesai merapikan semuanya dan saat ingin memakai tas untuk segera pulang. Dengan sigap Rendra sudah berdiri dengan rapi di samping sambil mengambil tas ku dengan santuynya.
Aku bingung atas apa yang ia lakukan saat itu.
" Ayo. " ucapnya singkat sambil berjalan pergi tanpa menjelaskan apapun.
Aku yang belum mengerti apa yang terjadi begitu juga dengan Sisi yang melihat kejadian tadi.
Lalu aku pun segera berdiri menyusul Rendra yang sudah berada jauh di depan.
Naufal yang juga ada disitu dan melihat apa yang dilakukan Rendra hanya bisa memantau tanpa menunjukkan reaksi yang berarti.
Aku berlari kecil untuk mengejar nya yang sudah berdiri rapi di samping mobilnya dengan damai.
__ADS_1
Aku menghampiri nya sambil sedikit ngos-ngosan.
" Lo.. Lo ngapain ngambil tas gue, balikin. " ucapku sambil memegang lututku karena. sedikit lelah mengejarnya.
Rendra yang memegang tas ku pun tersenyum tak berdosa.
" Ikut gue. "sambil memasukkan tas ku kedalam mobil nya tanpa memberikan kesempatan ku untuk mencerna apa yang terjadi.
Setelah melempar kan tas ku ke dalam mobil, dia pun berjalan untuk masuk ke dalam mobil dan segera menghidupkan mesin mobil agar segera pergi.
Aku yang kebingungan karena tak tahu bagaimana cara mengambil tas ku dengan damai pun akhirnya memilih membuka pintu mobil kemudian mengambil tas ku untuk segera keluar. Kubiarkan pintunya untuk tetap terbuka agar setelah mengambil tas akupun bisa pergi dengan cepat.
Tanpa kusadari ternyata Rendra mempunyai antek-antek yang membantu jalannya operasi saat ini.
Seketika pintu mobil pun tertutup dan akhirnya aku terperangkap di mobil Rendra saat itu.
Tak lain dan tak bukan yang membantu jalannya rencana ini ialah Jon dan Agus bersaudara.
Dengan bangganya mereka berhasil memasukkan ku ke dalam perangkap mereka hari ini.
Mereka pun mengakhiri dengan saling tos dan diiringi senyum yang layaknya memenangkan juara pertama perlombaan.
Aku pasrah. Tak mungin aku memaksa keluar mobil dengan cara melompat. Aku bukan kucing yang punya cadangan nyawa yang banyak.
Akhirnya dengan berat hati dan berat langkah, akupun terpaksa ikut dengan Rendra.
" Curang. Lo main pake tim, la gue sendirian. Udah pasti gue k.o. " protes ku sambil melihatnya dengan tatapan sinis.
Rendra yang tetap santai menyetir tanpa merasa berdosa pun menanggapi dengan senyuman ngejeknya.
" Butuh banyak tenaga untuk sekedar ngajak lo buat semobil bareng gue. " jawabnya yang sambil menyetir terus ke depan.
Akupun kesal tak tentu arah. Melihat dia terus mengemudikan mobilnya ke arah yang sama sekali bagiku tak familiar.
Aku melihat ke arah jendela dan mendapati suasana yang baru, tempat apa ini?
Rendra pun memasuki gerbang yang besarnya lebih besar dari gerbang sekolah.
Setelah melewati jalan yang panjang untuk sekedar masuk ke dalam, akhirnya kami sampai di salah satu bangunan yang sejak masuk tadi aku menganga atas apa yang kulihat.
__ADS_1
Dimana ini?