Protective Man

Protective Man
25. Dia?


__ADS_3

Setelah aku mengingat semua janjiku kepada mamanya Rendra akupun memejamkan mata dan berkata dalam hati kenapa bilang bakalan main lagi kerumahnya dia? ya ampun ra, lo mikir apa coba sampe bisa ngomong kaya gitu. Lamunanku terhenti.


" Laura athifa?, " panggil seseorang yang tak jauh dari tempat aku dan Rendra berdiri. Dengan sigap kubuka kedua mata ku dan melihat dari mana asal suara itu. Dan kagetnya ternyata yg manggil itu. Dia?


Karena panggilan seseorang Rendra sedikit menghadapkan badannya ke belakang. Dan dia mendapati seorang laki-laki berjalan kearah dimana dia dan Laura sedang berbicara. siapa ni anak? Pikir Rendra kala itu. Diimbangi dengan tatapan memantau dari atas ke bawah.


Aku pun langsung membenarkan posisi berdiri ku, yang awalnya sedikit bersandar ke dinding menjadi berdiri sempurna.


Dia pun berdiri tepat di depanku, menghiraukan Rendra yang juga ada disitu.


" Laura? Kamu sekolah disini juga ," pertanyaan pertama yang ia lontarkan.


" Lo yang di bus itu ya, " jawabku sambil menunjuk ke arahnya.


Diapun tersenyum singkat.


Membuat Rendra senyum sembari menghembuskan nafas berat nya diiringi pandangan tak suka.


" Aku lagi ngurus berkas untuk pindah sekolah, dan aku ga nyangka kalau kamu ternyata sekolah disini juga. " ucap Bima sambil memegang tumpukan berkas.


" Pin-pindah sekolah? Kamu bakalan sekolah disini. Di SMA NUSANTARA?. " sambungku dengan nada mengoreksi.


" Iya, kayanya sih udah bisa mulai sekolah besok. Tinggal nganter berkas ini doang. " sambil mengangkat berkas yang ada di tangan kirinya.


Dengan cepat Rendra mengambil lembaran yang ada di depannya. Dan langsung melihat nama yang tertulis disitu.


" Bima Sanjaya. Dari SMA JAYA BANGSA. Catatan prestasi lo okeh juga, juara matematika, juara seni lukis, juara debat antar SMA, lo juga juara umum di sekolah. Bisa dibilang lo anak berprestasi di sekolah. Gaada tanda-tanda lo dikeluarin karna suatu masalah. Jadi, tujuan lo pindah kesini ngapain? ," ucap Rendra yang sedari tadi melihat Bima dengan tatapan ingin menendang nya sampai sejauh mungkin.


Bima yang melihat data dirinya dibaca dengan seenaknya oleh orang yang tak dikenal, menunjukkan raut wajah datar namun tetap dengan ekspresi yang tak nyaman.


Aku hanya diam sambil mendengarkan Rendra membaca lembaran itu.


Bima membalikkan badannya ke arah Rendra. Lalu ia berkata dengan santai, " Membaca privasi seseorang itu sungguh etika yang kurang bagus, apalagi diambil secara paksa. Ini suatu tindakan yang kurang menyenangkan. "


Rendra terdiam dan menurunkan berkasnya. Menatap lurus kedepan dengan tatapan yang berbeda. Ia pun menjawab, " Mengganggu pembicaraan orang lain juga prilaku yang kurang baik." Dengan tangan kiri dimasukkan ke dalam saku.


Aku melihat aura gelap disekeliling mereka. Kalau aku ikutan ngomong, mungkin seluruh aura gelap menghiasi satu lorong ini.

__ADS_1


Dengan cepat aku langsung berdiri di dekat Rendra dan memegang tangannya untuk menariknya pergi.


" Ren katanya mau kerumah lo, udah yukk. Keburu siang. Emm Bim...., " belum sempat aku berbicara tatapan mereka masih belum selesai.


Kuambil berkas nya dan kuberikan ke Bima.


" Bima, ini berkasnya. Maaf ya dia udah ngambil seenaknya, lo harus nyerahin berkas ini sebelum semua guru pulang. " ucapku sambil mengarahkan berkas ke Bima.


Akhirnya Bima sadar dan segera mengambil berkas itu. " Iya Ra. Kalau gitu aku duluan ya, sampai jumpa besok. " ucapnya sambil melihat kearahku.


Dengan cepat Rendra langsung menarikku pergi dengan berjalan cepat, dengan posisi tanganku yang merangkul lengannya. Mau tak mau aku juga ikut terseret mengikutinya.


Akupun melambaikan tangan tanda sambil berjalan menjauh. Meninggalkan Bima yang masih berdiri rapi di tempatnya.


Sepanjang jalan aku melihat langkah kaki Rendra menandakan dia sedang dalam kondisi yang kurang baik. Sebelum sampai parkiran akupun melepaskan rangkulan ku dan berjalan seperti biasa.


Rendra menyadarinya dan berkata, " Kenapa dilepas? Lo mau ngerangkul tu anak baru. Sana, sebelum jauh. " ucap ketusnya.


Aku yang melihat tindakannya kala itu menggeleng bingung. Dia uring-uringan bnget sih.


Rendra pun menatap penuh kearahku. " Jadi lo setuju sama dia?, " tanyanya dengan wajah datar.


Aku menatap bingung dan hanya mengangguk pelan.


" Wuaaaaaaahhh. Okeeeeeeee. Okeeeeeeee. " ucapnya sedikit keras lalu pergi meninggalkan ku begitu saja.


Aku sedikit kaget karna hentakan suara nya. Aku sedikit menganga atas kelakukan absurd nya.


ni anak lagi pms yaa.?


***-***


Di dalam mobilnya dia pun melemparkan tas nya ke sembarang arah. Sungguh kesal rasanya, dia ga tau kenapa bisa sekesal ini.


Dengan tangan di setir mobil dia pun menundukkan kepalanya sebentar, lalu mengangkat nya kembali.


" Sial. Gara-gara tu anak baru gue jadi ngebentak Laura kaya tadi. " ucap kesalnya.

__ADS_1


" Bodoh banget lo Ren. Karna cowok asing lo ngebentak Laura. Wajah dia jadi kaget banget lagi, dasaaaar. " ucap kesalnya sambil memukul setir mobilnya dengan keras.


***-***


Akhirnya perut ini bisa damai kembali. Aku duduk santai di sofa sambil menonton TV dengan santai. Tapi memori otak ini sedikit me rewind apa yang terjadi tadi.


" Bima pindah sekolah ke SMA NUSANTARA, padahal dia murid berprestasi di sekolahnya. Rendra yang tiba-tiba ngebentak ga jelas. Absurd banget sih hari ini astaga. " ucapku sambil sedikit mengacak rambut lalu mengambil bantal untuk alas toples keripik kentang ku.


Masih jam 3 sore. Aku bingung mau ngapain di rumah, dan lebih memilih sedikit bersantai. Tadi ibu nge-chat kalo bakal pulang agak lama. Aku kasian liat ibu yang belakangan ini sering pulang lama, apalagi jarak ke kantor lumayan jauh. Pasti ibu capek banget.


Tiba-tiba handphone ku pun bergetar. Panggilan masuk dari Sisi.


Langsung kuangkat sambil tetap memakan kripik kentang kesayangan.


" Aloha. Dengan Laura disini, " ucapku dengan mulut yang penuh dengan kripik kentang.


Hembusan nafas di sana. " Ya ampun ra, lo awas keselek, hobi banget makan kripik kentang. " ejek Sisi sambil mengatur posisi tiduran untuk lebih santai menelepon.


Dengan sambil makan aku pun membalas,


" Lo tau aja gue lagi ngemil ini. Lo mata-mata in gue ya. " jawabku sedikit tersenyum. Yang dibalas dengan candaan Sisi seperti biasa. Tanpa sadar kami pun terus mengobrol santai seperti biasa. Sebelum aku mendengar ketukan pintu di luar.


" Si, kaya nya ada orang deh di depan, gue cek dulu ya sebentar. " ucapku sambil meletakkan kripik kentang di meja lalu berdiri untuk berjalan menuju pintu depan.


" Hati-hati Ra. Lo jangan lupa bawa senjata, siapa tau perlu. " ejeknya sambil sedikit cekikikan.


Akupun membuka pintu dengan santainya. Dan betapa kagetnya orang yang didepanku ini.. Dia...


" Lo-loe.... ," ucapku gagu yang masih menempel kan handphone ku di kuping.


Sisi yang mendengar saat itu panik.


" Ra, itu siapa ra? Lo gakpapa kan? Penjahat yaa? Lauraaaaa. " ucapnya khawatir.


Aku masih tak percaya apa yang kulihat lalu menjawab Sisi dengan tenang, " Gue masih hidup, udah ya nanti gue hubungin lagi. " ucapku lalu segera mengakhiri obrolan ku dengan Sisi.


ngapain dia disini? Rendra?

__ADS_1


__ADS_2