
Setibanya aku di kelas langsung duduk dengan cepat dan mengambil air minum Sisi yang baru dia buka. Lalu kuminum dengan cepat tanpa melihat cegahan Sisi.
Dahagaku terpenuhi. " Lo abis lari marathon ra? Haus banget perasaan. " ucap Sisi sambil melihat botol air mineral nya hampir setengah kosong.
Aku mengelap sedikit mulutku dan kembali mengatur nafas.
" Lebih parah dari itu. " ucapku sambil melepaskan tas ku dan meletakkan di sisi meja sebelah kanan.
Kulihat seseorang yang baru masuk dan itu adalah Rendra. Aku menatap kaget. Kami tak sengaja beradu pandang. Dengan cepat aku membalikkan badanku ke arah depan, dan tak ingin menatapnya lebih lama.
Rendra tersenyum singkat lalu duduk dengan santainya di kursinya.
Aku melihat Sisi yang sadar akan ketegangan ku semakin kuat.
" Ra lo kenapa, tegang amat. Dikejar apaan lo. " tanya penasaran Sisi.
Membuat Rendra melihat ke arah ku setelah mendengar ucapan Sisi. Aku melihat sedikit kearah Rendra dan masih mendapati nya terus memperhatikan. Ssssttt. Kukode Sisi untuk diam.
" Wajahlo kok merah? Lo sakit?. " tanya Sisi lagi.
Rendra melihat lagi dan memamerkan senyum manisnya sambil tertawa ringan. Setelah tertawa ringan dia pun menatap serius ke arahku yang memang benar-benar tegang dan kaku.
Aku menundukkan kepala ku meja dan melambaikan tangan ke arah Sisi untuk kembali duduk di mejanya.
Dengan cepat aku mengangkat kepala dan memberanikan diri untuk melihat ke arah Rendra.
" Gue kaya gini bukan gara-gara yang lo omongin tadi ya. Gue cuma kepanasan aja. " bela ku sambil berbicara ke arah Rendra.
Rendra kembali memancarkan senyum manisnya.
" Gue gaada nuduh lo gitu, lo sendiri yang ngomong. " jawab enteng nya.
Aku menundukkan pandanganku ke bawah dan setelah dipikirkan benar juga. Untuk apa konfirmasi keadaan ku padanya. Dasar Laura. Ya ampun lo sesuatu banget ra. Pukulku singkat ke kepala. Ketika pukulan kedua tiba-tiba tangan Rendra menghentikan arahan tanganku ke kepala.
" Jangan mukul kepala, sakit. " ucapnya dengan nada rendah.
Lembut banget sih dia ngomong. pikirku singkat.
Aku langsung menggelengkan kepala dan mendapati tanganku di pegang olehnya. Lalu melepaskan dengan cepat pegangan tangannya. Dia mengatur posisi duduk dengan tangan diletakkan di paha nya dan dengan pose layaknya model yang siap untuk di potret.
Aku duduk dengan posisi tegap.
__ADS_1
" Kata-kata gue yang tadi bukan sekedar kata-kata. Itu akan gue buktiin. " ucapnya dengan jelas dan dengan raut wajah yang sama seperti yang dia tunjukkan tadi.
Aku hanya bisa menatap. Sisi membalikkan badan ke arah ku dan mendapati aku sedang bertatapan dengan Rendra. Dia ternganga sekejap atas apa yang dia lihat. Dan kembali menatap ke arah depan agar tak mengganggu pembicaraan kami. Pikirnya.
" Kita ga sedekat itu. " jawabku ringan.
" Ga dekat sekarang bukan berarti kedepannya gabisa dekat kan?. " jawab Rendra dengan pastinya.
Aku hanya bisa mengedipkan mata dengan cepat tiba-tiba kata-kata ku habis untuk menjawabnya.
Bel masuk pun berbunyi. Tak lama kemudian guru pun memasuki kelas. Guru itu pun melihat ke arah belakang dan mendapati aku dan Rendra masih bertatapan.
" Sepertinya ada kontes tatap-tatapan yaa. Sampai saya masuk aja ga diperhatiin. " ucap guru yang berdiri di depan. Lalu Sisi membalikkan badannya kemudian mengetuk meja ku dengan pelan. Ketukan ketiga aku baru mendengar nya.
Kulihat semua perhatian kelas tertuju pada aku dan Rendra begitu juga dengan guru yang ternyata sudah masuk. Aku gelagapan. Lalu kubalikkan badanku seenuh untuk menghadap ke depan. Meninggalkan Rendra yang balik menatap ke depan dengan sendirinya.
Akhirnya pelajaran benar-benar dimulai.
Setelah melewati hari dengan beberapa kali debaran yang membuat jantung berpacu hebat, akhirnya bel pulang pun terdengar. Berasa hari ini tuh berlangsung lebih lama.
Sisi pun berbalik setelah melihat kepergian Rendra.
" Lo lagi deket sama Rendra ya ra?. " tanya Sisi dengan kecepatan kilat. Yang membuat aku kaget sampai buku yang kupegang pun melayang dengan santainya.
" Si, hari ini tuh jantung gue kerja 3x lebih cepat dari biasanya. Jangan ditambahin lagi pliisss. " mohonku pada Sisi.
Sisi kembali antusias dan memandang ke arah ku dengan lekat-lekat.
Aku menatap ngeri oleh tatapan Sisi.
" Rendra buat jantung lo deg-degan ra?. " ucap polos Sisi yang membuat beberapa murid di kelas bisa mendengar nya dan hanya tersenyum ringan.
Aku menutup cepat mulut Sisi agar berhenti mengucapkan hal-hal yang makin memperkeruh suasana.
Sssstttt... Kode ku ke Sisi.
" Udah bel pulang ni, yuk keluar. " ajakku sambil berdiri dan berjalan keluar kelas.
Baru selangkah keluar dari kelas kudapati Rendra berdiri rapi di samping pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Akupun mengerem mendadak dan membuat Sisi juga berhenti mendadak di belakang ku yang mendorongku sedikit maju sehingga jarakku dengan Rendra semakin dekat.
__ADS_1
Sepertinya hari ini aku dan Rendra sering beradu pandang.
" Sekarang gantian lo yang selangkah maju ke depan untuk jadi lebih dekat. " ucap Rendra sambil tersenyum singkat.
Aku menatap bingung. Lalu aku pun memundurkan badanku ke belakang sehingga menabrak Sisi sedikit.
" Mau pulang bareng? Kaya kemaren. " ucap santai nya.
Sisi mendelikkan matanya tanda tak percaya. Lalu ia pun pamit untuk pergi duluan, akhirnya meninggalkan ku berdua dengan Rendra.
" Si-sisi, tungguin. " teriakku sambil melihat Sisi pergi menjauh.
Rendra masih menatap dengan posisinya. Entah kenapa aku tak bisa lari kala itu.
" Nyokap gue kirim salam, katanya nagih janji ke lo. " ucapnya.
Aku menatapnya bingung.
" Jangan bilang lo lupa sama janji lo. " ucap Rendra sedikit tak percaya.
Aku menunjukkan wajah bingung.
" Wuaahh, lo beneran lupa nih. Beneran? Gue aduin ke nyokap kalo lo lupa sama nyokap gue(sambil merogoh saku jas nya dan mengambil handphone nya)." jawab Rendra seakan benar-benar ingin menelepon mamanya, yang hampir tak pernah ia panggil mama.
Dengan cepat aku meraih tangan nya untuk menghentikan ia menelepon.
Rendra berhenti dan menatap kearah tangan nya yang kupegang.
" Apaan sih tukang ngadu banget, gue beneran lupa. " jawabku sambil tetap memegang tangannya.
" Akhirnya lo pegang tangan gue duluan. " ucapnya sambil menatap kearahku.
Akupun baru sadar masih memegang tangannya.
Lalu kulepaskan pegangannya dan menghadirkan senyum ringan di wajahnya. Aku berlagak membenarkan rambut yang sebenarnya tak kusut.
Lalu Rendra meletakkan handphone nya kembali ke dalam saku jas.
" Waktu lo ke rumah gue, lo kan ada janji untuk mampir lagi dan makan siang di rumah gue. Lo bilang ke nyokap gue, udah inget?. " jelas Rendra.
Aku mulai bisa mengingat nya.
__ADS_1
" Ooo, yang itu ya. Astaga gue baru inget. " jawabku yang berhasil mengingat nya.
Rendra tersenyum singkat.