
Setelah kuakhiri panggilan telepon ku dengan Sisi akupun memilih untuk kembali ke dalam dan meminta Rendra untuk mengantar ku pulang. Karena sebentar lagi malam akan menunjukkan keberadaan nya.
Naufal yang melihat aku beranjak yang akan segera meninggalkan tempat itu pun dengan segera beralih ke tempat dimana aku tak bisa melihat keberadaan nya.
Aku pun berjalan masuk kembali ke dalam setelah meletakkan handphone ku ke saku jas.
Setelah melihat jarakku sudah jauh di depan sana, Naufal pun keluar dari tempat persembunyian nya.
kenapa gue sembunyi segala. Pikirnya.
Melihat gerak gerik Naufal yang aneh, Rendra pun pergi untuk menyusul ku dibawah.
Akupun mengambil tas ku yang diletakkan di salah satu sofa yang ada disana.
Rifan yang melihat keberadaan ku pun mulai bersuara.
" Ra, lo pulangnya dianter Naufal gapapa ya?. Tadi gue denger si Rendra disuru cepat balik ke rumah. Gue sama anak-anak masih mau disini, lo gapapa kan di anter Naufal. " ucap santai Rifan sambil meminum minuman kalengnya.
Aku mau mejawab tidak pun tak bisa, karena aku tak tau ini dimana. Dan bisa dipastikan bahwa disini tak ada angkutan umum. Mau tak mau aku terima siapapun yang bersedia mengantarku pulang.
Tak lama kemudian Naufal masuk bergabung dengan yang lainnya.
Dengan wajah datar akupun memandang kearahnya, begitupun Rifan.
Naufal yang sadar ada yang aneh pun mulai buka suara.
" Kenapa. " tanyanya datar.
Setelah meneguk minumannya Rifan pun menjawab.
" Lo yang nganter Laura ya. Si Rendra ada urusan mendadak, gue sama anak-anak masih mau disini. Ga mungkin juga Laura balik sendiri, takutnya dia nyasar sampe luar kota lagi karna salah naik angkutan. " jelas Rifan yang santai menyandar di kulkas.
Aku tetap tak bisa berkutik untuk menjawab tidak.
Naufal menggaruk kepalanya. Dan dia melihat kearahku untuk memastikan.
Rifan yang menyadari tak mungkin Naufal mau mengantar Laura pun kembali bersuara. " Ya kalo lo gamau biar supir gue aja yang nganter. Biar gue tel-.. " belum selesai Rifan berbicara Naufal langsung mengiyakan permintaan nya.
Rifan menatap bingung ke arah Naufal.
" Hahh?? Lo mau?. " tanya Rifan untuk sekedar memastikan.
Masih dalam mode dingin Naufal pun membalas, " Sekalian gue keluar. " jawabnya sambil berjalan mengambil tas dan memasukkan bukunya menandakan bersiap untuk pulang.
Rifan menganggukkan kepala nya.
tumben ni orang mau nganter orang yang belum dia kenal. Pikir Rifan sambil memiringkan kepalanya.
__ADS_1
Akupun pasrah diantar oleh manusia kutub ini. Yang penting aku bisa sampai ke rumah dengan cepat dan selamat.
Baru beberapa langkah berjalan menuju pintu untuk segera keluar langkah ku pun terhenti.
" Siapa yang nyuruh lo anter Laura. "ucap cepat Rendra yang dengan tiba-tiba nya ada disitu sambil berjalan dengan tatapan yang ingin ajak tawuran.
Akupun spontan terhenti tiba-tiba. Begitu juga dengan Naufal.
" Gue yang bawa dia kesini, gue juga yang harus nganter dia pulang. " ucap ketus Rendra sambil berjalan mendekat ke arah ku dan Naufal.
Rifan yang melihat kehadiran Rendra pun menghampiri nya dan mulai bersuara.
" Looh, tapi lo disuru balik cepat sama bokap lo Ren. Kan ta-.. " ucapan Rifan terhenti karena lirikan sangar Rendra.
Rifan mulai goyah dan memundurkan badannya.
" Gue yang nganter Laura. " ucapnya kearah Rifan lalu berjalan menuju tas nya dan segera mengambil kunci mobil dan tas nya secara bersamaan.
Rendra pun berjalan ketus sampai membuat Rifan ketakutan dan menyingkir ke samping selagi dia bisa menjauhi Rendra.
Naufal yang belum berbicara akhirnya pun mulai menjawab. " Gue searah sama rumah dia, sedangkan lo harus putar balik. Ga efisien. " jawab Naufal datar sambil memegang tasnya.
Mendengar perkataan Naufal membuat Rendra menghentikan langkahnya dan memalingkan wajahnya ke arah Naufal.
Lalu menatapnya sinis dan dingin.
Rifan yang melihat kejadian itupun meminum minumannya sampai habis tak tersisa.
Aku bingung harus bertindak seperti apa.
Tatapan dingin diantara kedua nya seakan memancarkan aliran listrik bertegangan tinggi
" Gue ga minta pendapat lo untuk buat ini jadi efisien ataupun gak. Dan gue ga butuh. " jawab ketus Rendra yang masih dalam tatapan penuh sinis tak terbendung.
Naufal tetap pada ekspresi datarnya.
Rendra pergi kearahku dan dengan cepat mengambil tas yang kupegang untuk segera pergi mengikutinya.
Rendra pergi dengan langkah kaki yang tak bisa kuikuti dan masih dengan tatapa dingin.
" Hehh. Hobby banget sih ambil tas gue, disitu gaada emasnya. Woy. " ocehku kesal.
Dan tetap mengejarnya keluar.
Rendra pun masuk ke mobilnya dan meletakkan tas ku disamping tempat duduknya.
Akupun membuka pintu mobil dengan cepat dan masuk ke dalam mobil sambil memakai seat belt segera. Karena ia telah menyalakan mobil tanda akan segera berjalan.
__ADS_1
Rendra meninggalkan kebingungan diantara Rifan dan Naufal yang ada disana. Dengan sikap nya yang membingungkan.
Naufal menatap kepergian Rendra dan memilih menyusul keluar untuk segera pulang.
Melihat kepergian Rendra dan Naufal akhirnya Rifan bisa bernafas kembali.
Uhuuukk. Uhuuukkk. Batuk Rifan pun terdengar.
" Wuaahh, apa-apaan ni. Mereka kenapa lagi, sampe rebutan nganter Laura. Kayak rebutan harta warisan aja. Jadi dingin auranya perasaan. " komen Rifan atas apa yang ia lihat barusan. Ia pun berjalan menuju temannya yang lain.
Di dalam mobil Rendra hanya fokus menyetir tanpa mengeluarkan suara seperti biasanya.
Aku sedikit melirik untuk melihat ekpresinya yang tak pernah kulihat sebelumnya.
kenapa ni anak, serius amat. Yang tadi juga kenapa perkara anter gue aja sampe adu mulut sama Naufal. Napa sih. Pikir ku yang masih mencerna keadaan.
Akupun memiringkan kepala tanda kebingungan menghampiri.
Akhirnya sampai di depan rumah. Dengan cepat kubuka seat belt nya dan hendak keluar. Tapi, sebelum keluar akupun mengalihkan pandanganku ke arah Rendra sejenak.
" Makasih udah nganterin. " akupun membuka pintu mobil dan mengeluarkan satu kaki dan hendak keluar.
Tapi Rendra hanya diam dan tak membalas.
Aku kembali memandangnya.
Masih datar.
Dengan tangan kanan yang masih stay di setir kemudi, dia pun tak membalas ucapanku seperti biasa.
" Dan, makasih juga udah bawa gue ke basecamp lo. " ucapku sedikit kaku.
" Makasih udah jadi orang pertama yang berentiin gue untuk lari ga tentu arah. Hati-hati di jalan. " kuakhiri ucapan ku lalu keluar dari mobilnya dan berjalan untuk segera masuk ke rumah.
Mendengar ucapan ku barusan menyadarkan satu hal di diri Rendra.
Pertama?
Rendra mengedipkan matanya dengan cepat. Dan mengalihkan pandangannya kearah ku yang sedang membuka pintu rumah untuk segera masuk.
Dengan cepat Rendra membuka seat belt nya dan keluar dari mobil sesegera mungkin. Berjalan cepat kearahku dengan tatapan tak ingin pergi menjauh.
Akupun sudah membuka pintu rumah dan hendak masuk namun langkahku terhenti oleh kedatangan Rendra tiba-tiba.
Dengan cepat Rendra memeluk ku dari belakang secara tiba-tiba. Membuat aku terkaget bukan main dan dengan tatapan kaget bercampur bingung.
Tanganku yang masih memegang gagang pintu pun tak bisa berkutik untuk melepaskannya.
__ADS_1
Kudengar hembusan nafas Rendra yang sangat cepat, berbeda dari yang biasanya.
Pelukannya semakin erat dan seakan tak mau di lepas.