Protective Man

Protective Man
7. Keras Kepala


__ADS_3

Kira-kira sudah 10 menit aku bersandar dibahu cowok belagu ini. Kepalaku sudah mulai membaik dan tak terlalu pusing lagi. Aku mengangkat perlahan kepalaku dan memegang keningku dengan pasti.


Rendra mencegah, " Udah ga pusing? Gue anter lo pulang ya. " ucapnya dengan nada cemas. Dan jujur buatku tak nyaman.


Aku menatapnya intens. " Kenapa lo daritadi diem aja?. " tanyaku perlahan. Karna tenagaku masih diisi ulang, belum benar-benar pulih.


Rendra bingung, " Haa?. " jawabnya spontan.


Aku mulai membenarkan posisi dudukku agar berhadapan lurus dengannya.


"Kenapa lo ga penasaran tentang kondisi gue skarang. Kenapa gue bisa kayak gini. Kenapa lo diem aja. " jelasku dengan wajah serius.


Rendra balik menatap ku dalam-dalam.


" Gue milih ga nanya. "jawabnya cepat.


Aku menunjukkan wajah bingung. Sebelum aku kembali bersuara dia pun menjawab lagi.


" Gue gamau nanya duluan ke lo, sebelum lo sendiri yang jelasin ke gue. Dengan kemauan sendiri. " ucapnya dengan raut wajah yang baru kulihat. Pemikiran yang jauh berbeda dari apa yang kupikirkan.


Aku menghembuskan nafas berat. Aku mengambil jas ku dan langsung kukenakan lagi. Tak lupa membenarkan dasi yang tak berbentuk lagi.


Berdiri perlahan. Rendra spontan membantu ku berdiri namun aku menarik tanganku dengan cepat. Dia terdiam.


"Gue gamau pulang. Kalo gue pulang sekarang, itu berarti mereka anggap semua gosip diluar sana benar. Dan gue gamau itu terjadi. " ocehku sembari merapikan rambut.


Rendra memasukkan tangannya ke saku celana.


" Dasar, keras kepala. " ucapnya dengan santai.


Membuatku terpaku dan kembali bersuara, " Haa? Lo bilang apa. " tanyaku kesal.


Dia mengeluarkan kembali tangannya dari saku celana dan menjawab.


" Bukan berarti dengan lo pulang semua gosip menyebar keseluruh negeri kan. Dan lo lebih mikirin mereka yang gosipin lo ketimbang kesehatan lo sendiri. Bukannya itu keras kepala. " jelasnya sembari mengayunkan tangan untuk menjelaskan.


Aku menatap lurus tak merespon.


" Kesan pertama saat ketemu sama seseorang itu sangat penting. Dan kesan pertama gue ketemu sama lo itu, saat dimana lo ga ngehargain perasaan seseorang dan jadiin itu bahan candaan. Itu kesan pertama gue ke lo, dan ga akan berubah. " omonganku yang membuat nya kaku.


Aku melihat jam tanganku, sudah 10 menit bel berdering. Aku berjalan menjauh.


" Gue akan buat kesan pertama lo berubah. Gue pastiin itu terjadi. " ucap Rendra yang tak jauh dariku.


Aku berhenti sejenak namun tak menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


Aku memilih berjalan menjauh.


Sesampainya di kelas, aku lewat pintu yang satunya. Aku mengetuk perlahan membuat seisi kelas menatap ke pintu dengan spontan.


Sisi memancarkan wajah sangat khawatir. Dia ingin berdiri dan menghampiri ku tapi guru sudah berdiri tegak di depan kelas.


" Maaf bu saya terlambat. " ucapku dengan nada pelan.


Guru melihatku dengan seksama dan mulai merespon, " Laura, apa ga sebaiknya kamu ke UKS aja. " kata yang diucapkan guru sembari meletakkan spidol di depan dada.


" Gausah buk. Dia lebih kuat dari kuda. " jawab seseorang dengan cepat dari belakang dan kudapati itu Rendra.


Setelah berbicara ia pun duduk di mejanya.


" Maksud kamu apa Ren. " tanya bingung bu guru dengan ucapan Rendra.


Aku berdiri di mejaku dan menatap Rendra sebentar.


" Saya bener gakpapa buk. Saya bisa ikut kelas ibuk?. " ucapku untuk mengalihkan fokus mereka ke Rendra yang baru datang.


Bu guru kembali serius. " Yasudah kalau Laura sendiri yang bilang gakpapa berarti bener-bener gakpapa. Kamu bisa duduk. " sambung bu guru dengan nada teratur.


Aku pun duduk perlahan, kulihat Sisi masih menatapku dengan tatapan khawatirnya. Aku membalasnya dengan senyuman menandakan aku tak apa-apa.


" Tapi, ada satu hal lagi." ucap bu guru yang memecah keheningan sekejap. Aku terdiam. Apa aku kena masalah.


Rendra terpaku. Dia mulai salah tingkah.


" Ta-tadi saya ketiduran di perpus. " jawabnya spontan dan dengan nada kaku.


Sisi pun merespon cepat. " Lah, bukannya tadi lo ngejar Laura yaa. " jawab polos Sisi dan membuat mataku terbelalak kearahnya.


Naufal mulai mengalihkan pandangannya kearahku.


"Ngapain gue ngejar dia. Kurang kerjaan banget, " bela Rendra dengan rasa percaya diri bahwa apa yang dikatakan nya benar.


Walaupun sejujurnya dia menutupi kebenaran nya.


Sisi ingin menjawab lagi, namun aku dengan cepat mencubit tangannya dan memberi kode gelengan kepala menandakan untuk berhenti bicara.


Sisi menerima kodeku. " Ooo, iya buk. Saya salah lihat. " jawab Sisi dengan terus memandang kearahku.


Aku mengangguk.


Bu guru bingung dengan apa yang terjadi dan lebih memilih membiarkan aku dan Rendra mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung.

__ADS_1


Aku mengambil buku di tas dan aku masih mendapati pandangan sekeliling yang menghakimi tanpa tau apa yang sebenarnya.


Setelah semua pelajaran hari ini selesai aku memilih untuk pulang dengan cepat dan meninggalkan Sisi dengan sejuta kekhawatiran dengan kondisi ku.


" Gue bakal crita ke lo, tapi ga sekarang ya. Gue capek banget gue mau balik dulu. " ucapku ke Sisi sambil memasukkan semua buku ke dalam tas.


Sisi berjongkok di mejaku dan menatap ku,


" Gue anter aja gimana. Gue khawatir banget lo di jalan ntar pingsan atau lo nanti....., " perkataan nya terpotong dengan pegangan tanganku.


" Sisi, gue beneran gakpapa. Lagian arah rumah kita kan beda, yang ada setelah lo nganter gue ke rumah, malah gantian gue yang khawatir lo pulangnya ntar gimana. Jadi gue pulang sendiri aja, Oke?." jawabku dengan nada meyakinkan. Kuharap Sisi percaya.


Sisi pun mengangguk pertanda ia percaya.


Rendra berdiri cepat dan keluar dengan menenteng tasnya.


Tak lama akupun keluar kelas.


Aku berjalan menuju halte bus dan duduk untuk menunggu bus datang.


Mobil sport hitam terparkir rapi diseberang jalan. Aku menatap segan.


Wuaahh, nomor favorit ku. Pikirku menilai mobil kepemilikan orang lain di seberang jalan.



Akhirnya busnya pun datang juga. Aku menaiki bus dengan langkah pasti. Badanku sudah tak selemas tadi. Aku duduk di dekat kaca dan membuka sedikit kaca nya agar udara leluasa masuk.


Sungguh hari yang luar biasa.


Sementara di sisi lain. Mobil sport hitam dengan nomor 05 melaju pelan mengikuti bus di depannya.


Handphone nya pun berdering.


"Eehhh, Ren. Lo kemana, kok gaada di basecamp. Gue nyariin lo daritadi. " terdengar suara di ujung telepon.


Dengan memasang earphone, dia pun menjawab.


" Gue ada urusan. Ntar gue hubungin lagi. " jawabnya singkat dan dengan cepat melepas earphone nya.


Pemilik mobil yang di seberang jalan itu pemiliknya tak lain ialah Rendra.


Mobil Rendra melaju beriringan dengan bus di sebelahnya.


Dasar keras kepala.

__ADS_1


Buat rasa khawatir orang memuncak di ujung kepala. Pikirnya selama di mobil.


__ADS_2