
Di tengah perjalanan pulang, Rendra berinisiatif untuk menelfon salah satu sohibnya. Rifan. Suara panggilan terhubung terdengar di dalam mobil yang terus melaju. Panggilan itu pun akhirnya diangkat pada deringan terakhir.
" Fan. Lo dimana?. " tanya Rendra yang masih tetap fokus mengendarai mobil.
" O-ooh, gue lagi di Cafe Bintang. Lo mau mampir?. " jawab spontan Rifan yang tengah asyik bersantai di cafe tersebut.
Dengan aura dinginnya, Rendra pun menjawab dengan singkat, " Gue otw. " ucap cepat lalu memutuskan panggilan tersebut.
" O-oke. (melihat panggilan telah diakhiri) Wuaah, singkat padat nyelekit. " protes kesal Rifan melihat kelakuan sohibnya tersebut.
Rifan yang kembali menyantap cemilan di depan sembari menunggu Rendra datang pun kembali santai.
Rendra dengan cepat menancap gas nya ke tempat tujuan.
Setelah memarkirkan mobilnya, Rendra pun dengan santainya berjalan ke dalam. Disetiap langkah nya tak luput dari pandangan para wanita yang terpanah melihat ketampanan Rendra walaupun memakai baju seragam.
Dengan menaiki tangga demi tangga untuk masuk ke dalam cafe, Rendra celingak-celinguk mencari keberadaan Rifan. Dan disaat ia menemukan keberadaan Rifan, dia juga menemukan bahwa Rifan tak sendirian disana.
" Woyy, Fal. Lama amat lo di toilet, udah dingin tuh makanan lo. " sahut Rifan yang terus mengunyah makanannya.
Naufal yang masih dengan sikap berdiri sempurna hanya membalas dengan dehaman.
Raut wajah Rendra kembali asam. Hari ini Naufal benar-benar membuat moodnya tak baik. Dengan segera Rendra memilih untuk berjalan keluar. Tapi, sebelum ia berhasil keluar.
Rifan menoleh kearah dimana Rendra tengah berdiri. Lalu dengan cepat ia pun memanggil Rendra tanpa ragu.
" Woy, Ren. Disini (diiringi lambaian tangan menandakan keberadaan nya). " terus melambai dan mengarahkan Rendra untuk segera duduk.
Dengan helaan nafas yang berat Rendra pun memalingkan badannya dan berjalan ke arah meja Rifan.
Naufal hanya melihat sekilas kedatangan Rendra dan langsung duduk kembali di kursinya.
Rendra pun tiba di meja Rifan dan duduk di sebelah nya, berhadapan dengan Naufal yang tengah menyeruput minuman nya.
" Lo mau mesen apa?." tanya ringan Rifan.
" Minum aja. " jawab ringkas Rendra sembari melepaskan jaketnya.
Dengan acungan jempol, Rifan pun memanggil kembali pelayan disana lalu memesan minuman untuk Rendra.
Sampai sekarang Rifan tak menyadari apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Rendra yang hanya menatap ke sembarangan arah dan Naufal yang fokus menyantap makanannya sembari membaca novel yang sedang ia pegang.
Rifan yang menyeruput minumannya kembali berpikir keras apa yang terjadi.
Dengan mengingat kembali apa yang terjadi hari ini, akhirnya dia pun ingat. Ditandai dengan mata yang melotot ke arah Rendra dan diiringi sedakan dikarenakan minuman nya.
Rendra yang menoleh sekilas tak terlalu menghiraukan reaksi Rifan. Naufak yang tetap dengan auto off.
bego, tadi di basecamp kan mereka hampir aja war. perkara nganterin Laura. ngapain lo dudukin mereka hadap-hadapan gini. Fan. Fan. lemot amaat
Dengan raut wajah menyesal membawa Rendra untuk ikut bergabung, Rifan pun bergegas menghabiskan makanan nya.
Tanpa disadari Naufal yang sedari tadi bungkam, akhirnya memulai percakapan yang tak diharapkan Rifan.
" Laura selamat sampe rumah kan." tanya datar Naufal.
Rifan yang mendengar nya pun tersedak atas apa yang Naufal ucapkan.
Rendra yang sedari tadi hanya diam, akhirnya mengalihkan pandangannya dengan penuh ke arah Naufal yang masih fokus membaca novel yang ia pegang.
Rendra sedikit menundukkan kepalanya dengan diiringi senyum yang tak bisa dikatakan itu adalah sebuah senyuman.
Rifan yang menatap ngeri ke arah Rendra yang duduk tepat disamping nya sedikit menjaga jarak untuk keamanan nya.
Dengan tatapan yang masih menatap ke arah Naufal, ia pun kembali bersuara. " Sejak kapan lo tertarik sama Laura. " ucapan Rendra sembari memajukan badannya ke depan dan melipat kedua tangannya di meja.
Naufal yang berhenti dari membacanya dan memilih menutup novel yang ia pegang. Lalu membalas tatapan Rendra.
" Gue ga bilang kalau sekarang gue tertarik. Tapi, kita lihat aja nanti. " jawaban tak terduga Naufal yang diiringi dengan senyum yang meyakinkan.
Rendra mengepalkan kedua tangannya sekuat tenaga.
Rifan yang melihat kejadian langka ini pun mulai mencerna apa yang sebenarnya sedang mereka berdua perdebatkan. Mulai sekarang gue gamau ngusulin mereka buat nganterin Laura kedepannya. Pikir Rifan.
*****
Aku yang sudah mandi dan mengenakan baju tidur pun menghampiri Sisi yang tengah duduk di balkon kamar sambil memegang segelas susu cokelat nya.
Aku menghampiri Sisi segera.
" Lo baik-baik aja Si? ." tanyaku sambil berdiri tepat di sampingnya.
__ADS_1
Sisi yang tengah melamun pun kembali ke mode on.
" Gue ok kok. " jawab ringan Sisi.
Akupun menghela nafas sembari tersenyum ringan.
" Lo kira gue beneran cuma tanya kaya tadi? Lo baik-baik aja? pertanyaan kaya gitu. Gue?. " ucapku sambil menatap serius ke arah Sisi.
Sisi yang tak mengerti pun hanya membalas tatapan ku seadanya.
Akupun tertawa ringan.
" Emang sih, kita baru aja kenal. Gue juga belum terlalu paham sama pribadi lo gimana. Tapi yang gue paham, kalau lo lagi dalam keadaan yang enggak baik sekarang. " jelasku.
Sisi menatap lirih ke arahku. Akupun memeluk Sisi. Sisi yang kaget atas apa yang kulakukan hanya membalas pelukanku dengan hangat.
" Kalau lo belum mau cerita sekarang, ga masalah kok. Tapi yang harus lo inget, gue bakalan ada disaat lo udah siao untuk cerita. Kapanpun.. " ucapku menenangkan.
Sisi hanya diam dan taj menjawab. Dia hanya membalas pelukan ku seakan kami akan pergi jauh. Akhirnya kami berpelukan untuk sementara waktu.
Dan suara demo dari perut lah yang memecah suasana.
Kami pun hanya tertawa atas apa yang kami dengar.
" Laper ya?. " tanyaku yang masih tertawa.
Sisi pun hanya mengangguk dan masih tetap tertawa.
Akhirnya kami pun beralih ke dapur untuk memasak menu sejuta umat.
Setelah selesai memasak pun kami memilih untuk makan di kamar, sambil menonton drakor yang sedang kami ikuti bersama. Kebetulan malam ini update episode terbarunya.
Malam itu aku dan Sisi berbagi kesenangan bersama layaknya murid Sma pada umumnya. Aku tak terlalu memaksakan Sisi untuk cerita atas masalah yang sedang ia alami. Tugasku hanya terus berada di samping nya dan selalu siap disaat ia sedang membutuhkan teman bercerita.
Kami pun terlelap dengan nyenyak malam itu.
Pagi pun akhirnya datang. Hari ini sekolah hanya setengah hari karena para guru rapat terakhir untuk bersiap menghadapi ujian tengah semester.
Aku dan Sisi pun memilih menghabiskan waktu di perpustakaan untuk belajar lebih lagi. Terkhusus untukku sih, karena aku murid pindahan dan hanya mengikuti pelajaran sebagian, jadinya aku harus belajar 3x lipat lebih giat dibanding yang lain. Karena dua hari ujian akan berlangsung. Aku harus fokus untuk mengejar ketertinggalan ku dalam belajar.
__ADS_1