
Pria itu mengangkat wajah nya menatap begitu dalam mata coklat Zara.
Aska menoleh pada Zara yang menguap. Mereka baru saja memasuki speed bott mini. Tidak ada kamar atau kursi empuk untuk tidur. Hanya kursi tanpa sandaran yang muat untuk 5 orang .
"kemari!" ujar Aska akhirnya takutnya melihat gadis itu terantuk antuk karena gelombang dan menahan kantuk.
Zara menoleh sejenak lalu mendekat. Aska membawa gadis itu di pangkuan nya. Menyandar kan tubuh mungil itu ke dada nya. Benar saja, Zara langsung tertidur tanpa komentar.
Naik speed bott tak semulus naik mobil di jalan tol, berkali-kali mereka terhuyung huyung. Namun Zara tetap tenang dalam tidur nya.
"pak, gelombang agak kuat tolong peluk pacar nya agak kencang.!"
"apa akan basah?" tanya Aska waspada. mengingat pakaian Zara adalah dress selutut berwarna gading yang kalau kena air akan menampakkan dalam gadis nya.
"tidak pak, kan ada kaca penghalang?!" awak kapal itu heran dengan pertanyaan Aska yang jelas jelas mereka di kelilingi dinding kaca, dan atap kaca.
Aska mengangguk. Dalam hati ia merutuki kebodohan nya. Tak biasa nya ia bodoh seperti ini.
Selang beberapa menit supir dan 1 orang awak kapal nampak sibuk. Hanya Zara yang tenang.
Bruk...
Kapal menghantam gelombang. Tidak sampai karam, tapi Aska terhuyung cukup kuat kedepan, dan hampir membuat Zara terjatuh dari pangkuan nya.
Hampir saja keluh Aska menghembuskan nafas.
Namun ada keanehan. Tangan kiri nya menyentuh sesuatu yang kenyal dan lembut.
Mata Aska terbelalak, ia dengan cepat melepas tangan kiri nya, dan membiarkan tangan kanan nya memeluk perut Zara.
Aska menggerak kan jari jari tangan kiri milik nya, membayangkan apa itu tadi. Ia baru saja meremas salah satu buah dada gadis nya.
Bagaimana kalau ada yang lihat. Oh tidak . Bisa bisa tercoreng nama baik nya. Seorang Aska vin carney di beritakan berbuat mesum di tempat umum.
Tidak tidak Aska menggeleng kepala.
"pak sudah sampai!" ujar awak kapal, yang mirip kenek angkot.
Aska tersadar segera bangkit, mengendong Zara ke dermaga. Gadis itu masih tidur padahal posisi nya berdiri meski masih di peluk Aska.
"hey, bagun! Kita sudah sampai!" Aska membangunkan Zara. Heran dengan rasa kantuk Zara yang tak terganggu sama sekali dengan keadaan sekitar.
"sudah sampai ya?" gadis itu mengecek mata, mencoba berdiri sendiri. Sebelum gadis itu sadar sepenuhnya Aska melepaskan pelukan nya pada perut Zara.
Saat sadar, mata Zara menelusuri pasir pantai. Dan berhenti pada Aska. Seketika wajah Zara bersemu kemerahan merahan.
"ada apa?" tanya Aska heran.
Beberapa bulan terakhir wajah Zara sering bersemu. Zara sedang jatuh cinta? Batin Aska tak terima.
"ti-tidak, aku hanya senang. Terimakasih paman!". Sebuah kecupan mendarat di pipi Aska. Membuat si empunya menegang. Belum lagi Aska junior sudah menegang sejak awal merangkul Zara tadi.
"dasar rubah kecil licik!" geram Aska berjalan mengikuti Zara menuju Villa. Untung gadis itu berlari kearah yang benar sehingga Aska tak perlu berteriak.
Di Villa, Aska segera mengganti pakaiannya dan segera kedapur. Ia sudah berpesan pada pelayanan nya untuk membersihkan Villa dan menyiapkan pencake 2 porsi sebelum pukul 12 siang.
Aska membuka kulkas mendapati seperti keinginan nya. Segera dimasukkan kan kedalaman microwave untuk dipanas kan.
Baru saja selesai dengan kegiatan nya, ja melihat Zara menenteng baju renang berwarna cream.
__ADS_1
Aska menatap tak suka pada pakaian itu. baju renang yang di tunjuk kan Zara sama saja dengan telanjang. Kenapa tidak Telanjang sekalian di sini?_komentar Aska dalam hati.
Aska menolak. Setelah perdebatan kecil itu, kini kedua nya sudah di bibir pantai. Dengan Zara berlari kesana kemari dan Aska duduk sambil merekam dengan ponsel nya sesekali memotong gadis itu.
Aska menerawang jauh. la mulai bimbang. Ia merasa keberatan menyakiti gadis yang duduk di sebelah nya ini. la tengah menikmati semilir angin malam yang menghembus melewati rambut nya. Menampar wajah Aska.
Dulu, lilith juga polos seperti ini! . Tapi Zara tak tau menahu tentang itu. Dia tak bersalah.Tapi dia anak dari bajingan itu
Aska segera memalingkan wajah nya kearah lain dan langsung bangkit mengajak Zara pulang ke Villa.
la butuh penenang. Setelah makan malam Aska pergi ke sebuah bar. Ini memang pulau terpencil, namun salah satu destinasi wisata orang konglomerat karena mereka berlibur di petak petak pantai masing masing tanpa di gangguan.
Di pulau ini cukup komplit. Ada mini maret, bar, atm dan klinik 24 jam.
Di bar itu Aska mulai berfikir, apa yang dilakukan nya ini sudah benar?. Hanya karena demdam Aska melakukan sejauh ini. Hanya. Kata 'hanya' berputar putar di kepala Aska bersamaan dengan tegukan cocktail.
Harus kah aku berhenti?. Sia sia 12 tahun terakhir penantian.
Apa yang akan aku dapatkan setelah membalas dendam? Kepuasan? Kebahagiaan?. Apa aku benar benar akan bahagia?
Batin Aska berperang, entah gelas keberapa yang jelas kini minuman itu akan terus meluncur.
"pak, anda sudah mabuk!" sang bartender mengingatkan.
"berikan aku segelas lagi!" ujar Aska menyodorkan gelas nya.
"tapi"
"segelas lagi ku bilang!" bentak Aska menggenggam sloki nya.
Ini sudah kali ke 4 Aska bilang segelas lagi'.
Dan darah andrean mengalir di tubuh Zara!. Seperti andrean yang memperlakukan lilith seperti wanita sewaan.
Maka Zara harus merasakan nya juga! Aska bertekad sekuat hati.
Aska pulang ke villa nya. Dia mabuk? Sedikit. Dia sudah bisa mengendalikan diri nya. 3 butir aspirin melesat meluncur melewati kerongkogan.
Aska menoleh pada jam tangan nya. Sudah pukul 11:48. Itu arti nya 12 menit lagi sweet seven teen nya Zara. Pintu kamar Zara terbuka. Menampilkan sosok gadis kecil tertidur dalam keadaan terlentang. Senyum Aska mengembang, gadis itu solah mengundang untuk di naiki.
Perlahan Aska menaiki tempat tidur Zara, merangkak ke atas tubuh Zara. Begitu kepala mereka sejajar, Aska menaut kan bibir nya dengan lembut ke bibir Zara. Ciuman itu berubah lebih menuntut.
Zara bergerak gelisah saat merasakan beban menimpa tubuh nya, ditambahlagi gelenyar aneh. Dan bibir nya basah. Basah?!"
Aroma tubuh ini?. Zara merasa kenal, tersentak . Zara membuka paksa mata nya. Langsung saja mata nya bertemu dengan mata abu abu yang tengah ******* bibir nya.
"kau bangun?"
"paman? Kenapa kau_" .Zara menggerang saat tiba tiba Aska mengelus area sensitif Zara.
"paman jang_ "
"sttt.." Aska menutup bibir Zara lalu menciumnya lagi.
Zara meronta saat merasa kan sesuatu menggesek daerah kewanitaannya. Zara tidak bodoh, ia tau situasi saat ini namun tak berdaya.Iya tak tau kapan ia di Telanjangi sang paman, dan entah sejak kapan paman nya ada di atas nya.
Ting...
Suara jam tangan Aska di atas nakas berbunyi. Memberi isyarat bahwa kini tepat pukul 12:00.
__ADS_1
"HAPPY BIRTHDAY, ZARA EMERELDA!" ucap Aska bersamaan dengan kejantanan nya menerobos masuk ke inti Zara, merobek keperawanan yang sudah Zara dan Aska jaga selama ini.
"sakit paman." rengek Zara merintih kesakitan.
Aska diam sejenak, menikmati batang nya diremas kuat oleh kewanitaan perawan yang baru saja di tembus nya. Satu kata " nikmat ".
Aska mulai menggerak kan pinggul nya perlahan, menumbuk Zara dengan tempo pelan.
Zara yang merasa di perkosa oleh paman nya hanya pasrah, percuma melawan karena Aska akan menyakiti nya.
Meski di tahan, semua nya masih jelas terasa sakit. Di mulai dari perobekan selaput darah yang menjadi puncak rasa sakit, dan saat Aska mulai mengeluar masuk kan kejantanan nya dari dalam tubuh Zara.
Seiring permainan, Aska semakin cepat dan liar. Sedangkan Zara yang awal nya merintih kesakitan menjadi rintihan penuh kenikmatan. Meski nikmat Zara tak henti henti nya menagis. Merasa terhina oleh perbuatan paman nya.
Dan sepanjang malam hanya terdengar sura gerakan dan tangisan menyelingi malam penuh keringat itu. Malam yang menjadi awal.
Awal rasa.
Entah sakit ,benci atau cinta. Bukan kah mereka hanya terpisah oleh seutas benar tipis sebagai pembatas diantara kedua nya.
Tipis, namun sangat sulit di lewati. Sangat sulit mencintai yang di benci. Maka akan sulit membenci yang di cintai.
Aska menoleh pada Zara yang terlelap di sebelah nya. Gadis itu masih sesegukan di dalam tidur nya. Ada senyum tertoreh di wajah tampan Aska. Gadis itu merasakan awal dari rasa sakit yang lilith rasakan.
Sekitar pukul 4 dini hari kedua nya terlelap dalam mimpi dan pikiran masing-masing.Pagi hari, Aska terbangun. Suara deburan ombak dan angin yang bertiup kencang dari balik tirai jendela mau pun balkon mengusik ketenangan Aska.
Siapa yang membuka jendela pagi pagi?!_ maki Aska dalam hati.
Dengan terpaksa ia membuka mata nya. Saat membuka mata Aska terkejut karena tak menemukan. Zara di samping nya.
"Zara?" panggil Aska.
Namun tak ada sahutan dari dalam kamar mandi atau pun sekitar kamar. Segera Aska meraih bathrobe untuk melindungi ketelanjangan nya. Berlari menuruni tangga.
"Zara?!" panggil Aska mencari.
Lalu telinga Aska menangkap sebuah suara dari arah dapur. Suara air mendidih. Segera, Aska kedapur untuk memastikan.
"Zara?" ucap Aska lega saat menemukan Zara sedang berkutat dengan spatula dan roti goreng nya.
"ah, paman selamat pagi!" ucap Zara tersenyum. Aska merasa janggal. Entah lah, mungkin perasaan Aska saja karena Zara terlihat baik baik saja padahal tadi malam Aska memperkosa Zara.
"paman kenapa bengong? Segera lah mandi dan sarapan. Kita harus cepat, aku harus mengambil formulir pendaftaran kampus ku hari ini!" ujar Zara mendesak Aska yang masih bengong di ambang pintu.
Tersadar, Aska segera melahap sarapan nya bergegas menuju kamar nya untuk bersih bersih.
Mereka tiba di rumah sekitar pukul 12 siang. Sepanjang perjalanan kedua nya hening, tak ada yang bicara atau mencoba memulai nya.
.
.
.
.
.
TBC
__ADS_1
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπ»π»π»π»π»π»π»