Psycopat (Tamat)

Psycopat (Tamat)
(20)


__ADS_3

Sekarang Sudah hampir pukul 6 pagi.


Tadi ia pertama kali melihat darah di kasur sekitar pukul 4: 55 itu artinya mereka memakan waktu lebih dari 45 menit sampai ke rumah sakit.


2 jam lagi pesawat Aska akan berangkat. Namun di abaikan nya, ia ingin tau kondisi Zara. Mengingat darah berceceran di tempat tidur. Di tambahkan ia mengingat Zara pernah pingsan akibat anemia nya. Seketika ada rasa takut yang menyelinap sejenak.


Tak lama karena kehadiran dokter menyadarkan Aska dari lamunan.


"keluarga pasien?" tanya dokter pada Aska.


"iya dok"


"mari keruangan saya!" ajak dokter.


Setibanya di ruangan yang lebih kecil dari ruangan lain nya Aska terduduk di kursi yang terasa sedikit lebih empuk di bandingkan kursi tunggu.


"sebelum nya saya mau bertanya tuan siapa nya pasien? Ayah, kakak atau justru suami pasien?" tanya sang dokter.


"saya paman nya dok!" ujar Aska menjawab pertanyaan dari sang dokter.


Dokter mengangguk. la percaya dengan ucapan Aska. yah menurut sang dokter kata ayah atau paman dari pasien lebih cocok untuk pemuda di hadapan nya ini dibandingkan kata suami mengingat perbedaan raut wajah yang sangat terlihat beda generasi.


Benarkah?


Aska duduk berhadapa dengan sang dokter. Setelah dari ruangan UGD. Sang dokter menanyakan status nya dan Zara, spontan Aska menjawab paman tidak mungkin ayah karena wajah mereka tidak mirip. Tidak mungkin juga suami mengingat kesenjangan usia dan generasi begitu terlihat di antara mereka.


Aska tidak jelek dan tidak terlihat tua. Malahan ia terlihat sangat tampan di usia nya yang ke 33 tahun. Usia yang sangat matang untuk seorang pria. Masa dimana lelaki sedang dalam fase HOT nya. Tapi jika di bandingkan dengan Zara tentu terlihat sangat jauh. Usia Zara yang masih 18 tahun di tambah wajah baby face nya yang membuat nya terlihat seperti usia lebih muda.


Tentu saja Aska akan menjawab paman pasien ia tak mau jika menjawab suami ia akan di cap pedofil. Meski itu adalah kenyataan, ia sudah menyetubuhi Zara.


"pasien hamil!" ujar Dokter dengan tenang.


Duar..


Bagai di sambar petir di siang bolong Aska terkejut bukan main. Kata kata dokter benar benar membuat Aska terkejut,sangat.


"h-hamil?" tanya Aska ragu tak ingin mempercayai ucapan dokter.


"iya pak. Keponakan anda hamil. Dan mungkin keponakan anda tidak tau justru berhubungan badan dengan pacar nya tadi malam sehingga menimbulkan kontraksi pada rahim!" ujar dokter menjelaskan.


"sebenar berhubungan badan di saat hamil muda sangat rentan, ditambah usia pasien yang masih sangat belia bisa berdampak buruk pada kehamilan bahkan membahayakan nyawa calon ibu sendiri. Oleh karena itu saya sarankan agar membicarakan dengan pihak lelaki untuk bertanggung jawab dan membatasi gerak pasien terutama bekerja berat apalagi melakukan hubungan intim!" jelas sang dokter lagi dengan wajah serius.

__ADS_1


"baik dok, saya usahakan!"


Sang dokter mengangguk puas.


"terimakasih dok, apa Zara sudah boleh pulang?" tanya Aska memasukkan resep kedalam saku nya.


"belum, dia harus dirawat di sini selama satu minggu besok saya buat kan resep obat nya! Pasien akan di pindahkan ke ruangan rawat sebentar lagi setelah keadaan pasien di pastikan aman oleh perawat. Untuk itu silahkan melakukan registrasi"


Aska mengguk dan pamit pergi, bergegas menuju meja resepsionis untuk meminta ruangan VVIP untuk Zara.


"paman!" Zara menyentuh wajah Aska yang tertidur disebelah nya.


"kau bagun?" tanya Aska saat merasakan usapan ringan di wajah nya. Ternyata Aska tidak benar benar tidur. Tidak ia tidak bisa benar-benar tidur.


"aku kenapa?" tanya Zara menyadari ini bukan kamar nya dan ada infus di lengan kiri nya.


"aku panggil dokter dulu!" ujar Aska bergegas keluar memanggil dokter.


Beberapa menit dokter datang. Hanya dokter tak ada Aska. Aska memilih duduk di luar memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya karena Zara telah sadar dan dokter pasti akan memberitahukan bahawa Zara hamil.


akhirnya sebuah keputusan di ambil. la masuk saat melihat dokter keluar.


"kenapa meminta maaf hm?" tanya Aska mengusap kepala Zara dengan sayang.


Mendapatkan perlakuan manis dari Aska, spontan air mata Zara keluar dengan deras.


"paman maaf kan aku... Aku hamil.. Kau pasti ma_""sttt... Sudahlah... Aku tidak marah. Bukan kah di juga anak ku? Kenapa aku harus marah? Bukan kita membuat nya bersama? Itu artinya tanggung jawab kita"jelas Aska lembut. Tak pernah Zara melihat sisi selembut ini dari Aska.


"kau dengar ayah mu menerima mu!" batin Zara mengusap perut nya yang datar dengan senyum merekah.


"maaf kan aku!" kalimat itu keluar dari mulut Aska berupa guman yang tak terlalu terdengar jelas dan Zara memilih mengabaikan.


Zara meraih tangan Aska menaruh nya di perut nya.


"aku dengar, saat usia kandungan menginjak 5 atu 6 bulan kau bisa merasakan nya menendang! Aku tak sabar menanti nya!" ujar Zara mengengam hangat tangan Aska.


Aska hanya mengangguk dengan senyum kecil yang terpaksa. Kini ia tau kenapa Zara bilang sering tertidur dan berakhir dengan melupakan makanan nya. Itu karena Zara hamil.


Seminggu di rawat di rumah sakit, Zara di hujani perhatian dari Aska membuat nya selalu tersenyum dan tertawa.


Zara senang kehadiran anak di perut nya mendekatkan nya dengan sang paman. Ayah dari anak nya.Soal status, Zara tak mau menuntut banyak. Aska sudah menerima anak nya saja sudah cukup. Masalah status dan pernikahan itu bisa di bahas belakangan. Saat ini yang terpenting bagi Zara adalah Aska tetap bersama nya selama nya. Meski tanpa ikatan sekali pun.

__ADS_1


"aku tidak boleh menyentuh mu sebelum kandungan mu kuat!dan kau tau aku tak pernah bisa menahan diri ku." jawab Aska saat Zara bertanya kenapa Aska agak menjaga jarak.


Zara senang saat tau paman nya mengkhawatirkan janin nya.


"aku mencintai mu paman!" ucap Zara memeluk Aska yang tidur miring di bankar rumah-sakit yang seharusnya hanya di tempat satu orang.


"tidur." sebuah perintah yang tak terelakkan.


Sudah 3 hari Zara di rumah. Dan Aska selalu di dekat nya.lelaki itu akan pergi sebentar kekantor jam 8 pagi dan pulang jam 3 sore. Bahkan Aska menelepon nya saat jam makan siang untuk menanyakan apakah Zara sudah makan atau belum.


Obat yang tidak boleh di berikan kepada ibu hamil.Aska mencari di lahan Google. Dan ia menemukan beberapa yang tak boleh di berikan salah satunya obat yang biasa nya ada di kotak P3K. misoprostol. Sejenis obat untuk mengatasi mag.


Aska bersandar di kursi nya merilekskan punggungnya yang penat sejenak. Dan beranjak keluar ruangan nya untuk pulang lebih cepat hari ini.


Aska menoleh pada seorang wanita hamil. Telanjang dengan darah mengalir dari beberapa tempat. Wanita itu berdiri dengan posisi memunggugi. Ada seperti luka garesan di sekujur tubuh wanita itu dan mengeluarkan darah yang terus menetes kedalam air yang ada di kaki wanita itu merubah air yang semula nya biru menjadi merah seperti darah.


Aska mengenal wanita itu.


"Zara" panggil Aska.


la kenal betul tubuh itu, tubuh ringkih dengan kulit berwarna putih pucat. Itu Zara dan Aska sangat yakin.


Aska terkejut saat melihat tubuh itu berbalik menatap nya. Bukan ketelanjangan wanita itu yang membuat Aska terkejut bukan juga kenyataan wanita itu adalah Zara bukan. Wanita di sana memang Zara Zara yang berdiri sambil menagis darah.Kenapa Aska menyentuh dada nya yang perih. Sangat sakit saat melihat Zara menagis bukan air yang merembes keluar dari mata Zara melainkan darah.


Darah itu mengalir di pipi Zara, menumpuk sejenak di ragu dan menetes jatuh. tetesan air mata darah itu jatuh menyentuh lantai putih bak porselen. Bukan nya tadi ada air?


Sedetik air mata darah itu menyentuh lantai putih, tercipta rian gelombang. Lantai itu berubah menjadi air yang bergelombang yang perlahan bergerak naik semakin tinggi menutupi Zara.


Aska terpaku di tempat saat gelombang air berwarna merah itu menghantam nya. Aska tenggelam kedalam lautan darah.


.


.


.


.


TBC


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2