
Rasa itu kian membuncah tanpa sadar Aska masukberhasil tanpa memegang tralis.
Rasa itu kian membuncah tanpa sadar Aska masuk meminta perawat untuk mundur perlahan dan di gantian oleh diri nya berdiri di belakang Zara.
"bi-sa... Se-puluh lang_" zaea kehilangan keseimbangan saat langkah ke sepuluh nya. Dengan sigap Aska menagkap pinggang Zara memeluk Zara dari arah belakang.
Zara tersadar, ini bukan tangan perawat yang biasa
menjaga nya, tangan yang memeluk nya sangat keras dan kokoh. Ada cincin perak yang berupa sama di jari manis nya dan orang yang meluk.
"hati hati... Takperlu terburu buru!"Aska mengingatkan
dengan sedikit bisikan menggoda di telinga Zara.
"pam-man?" Zara berbalik dan mendapati orang yang di rindukan ny.
"maaf aku melanggar janji ku... Tapi aku sudah tak tahan... Tolong jangan membenci ku... Aku_" Aska di bungkam oleh ciuman hangat dari Zara. Bibir yang sudah lama terasa begitu dingin kini terasa hangat di bibir Aska.
"aku tidak membenci mu!""aku tidak membenci mu!" suara pelan dan lambat itu mengalun di telinga Aska. Hampir 2 tahun ia merindukan suara itu dan kini suara itu terdengar jelas dengan sosok yang nyata di hadapan nya.
Aska tak terlalu menghirau kan ucapan Zara, dalam sekali raupan ia membawa wanita muda itu kedalam pelukan nya.
Basah, sesuatu mengalir di pundak Zara, tepat dimana Aska menyembunyikan wajah nya. Ada perasaan hangat yang menyelinap di hati Zara, setidak nya kata cinta yang selalu di dengar nya saat tidur panjang itu bukan kebohongan. Dan ia bersyukur di beri kesempatan untuk menemani pria tua di pelukan nya ini.
Tangan mungil itu mengusap punggung lebar Aska yang mengukung nya dalam pelukan. Sebuah pelukan yang menyampaikan pesan betapa rindu sosok lelaki ini pada kekasih nya.
"ayo kembali ke kamar!" ajak Zara menepuk pundak Aska pelan.
Sesuatu mengejutkan Zara, Aska tak merespon sama sekali, Zara yang duduk menyandar pada tiang tralis mulai panik.
"paman..." panggil nya khawatir. Namun kekhawatiran itu sirna sesaat ia medengar dengkuran halus di telinga nya. Aska tertidur.Mata Zara menjelajahi seisi ruangan tak ada siapa pun disana, pertukaran jadwal terapy masih 10 menit lagi namun ruangan sudah kosong. Senyum Zara tersungging teringat akan lelaki yang tidur di pundak nya, mungkin ini ulah Aska yang menyuruh orang orang keluar lebih awal.
"dasar!" Zara merba saku celana Aska, mencari ponsel milik pria itu.
la terdiam saat melihat layar ponsel yang hitam polos, jujur ia sedikit kecewa, ia tak bisa menafik kan bahwa ia ingin ada wajah nya di wallpaper hp Aska. Jari jempol Zara mengusap layar, malah menemukan layar terkunci.
"kata sandi nya apa ya?!" Zara menekan angka secara acak, namun gagal. Ia menekan tanggal lahir Aska lali gagal. Tersisa 1 kali kesempatan meski ragu ragu akhirnya jari jari lentik itu menekan angka tanggal lahir nya, terbuka.
Senyum Zara kembali terbit, terlebih saat menemukan wajah nya menjadi wallpaper beranda hp Aska.
"halo ron?! lya ini aku... bisakah kau keruangan terapy sekarang?" Zara mengangguk lalu mematikan ponsel menunggu Aaron datang.
"kenapa malah tidur sih?" keluh Zara mengusap kepala Aska."kan Zara rindu!" adu Zara mengusap wajah nya di rambut Aska, menghirup wangi yang sudah lama ia rindukan.
"ada apa?" aron datang menatap heran Aska berpelukan dengan Zara di lantai.
"paman tidur, bantu Zara bawa ke kamar!" pinta Zara.
Aaron mengguk, ia keluar memanggil perawat dan menyuruh membawa kursi roda. Bukan untuk Zara tapi untuk Aska.
__ADS_1
Selama proses pemindahan, Aska hanya bergerak gelisah sedikit. Namun tak terbangun barang sejenak hingga ia di pindahkan di bankar tidur milik Zara.
"dia terlihat sangat lelah!" adu Zara pada Aaron yang masih berdiri di dalam kamar.
"dia tak pernah benar benar tidur sejak kau koma, dia harus di bius dengan obat tidur untuk mencukupi tidur nya!" jelas Aaron memberikan senyum seolah berkata. Dia tak pernah seperti ini sebelumnya.
2
"terutama setelah kau sadar, aku rasa dia hanya tidur beberapa jam dalam sebulan ini."
"sungguh?" tanya Zara terlihat sedih dan kecewa karena keputusan nya untuk menjaga jarak dengan Aska sebulan ini malah membawa dampak buruk kepada Aska nya."pagi pagi sekali dia bermain bersama anak mu, sambil mengawasi mu lewat cctv. diantara padat nya jadwal kerja nya dia masih sempat datang kesini menjenguk mu setiap hari!" Aaron berbalik hendak meninggalkan pasangan baru itu.
"kapan?" tanya Zara terkejut tak menyangka selama ini Aska selalu mengunjungi nya.
Aaron meraih hendel pintu, membuka nya. Sejenak ia menoleh kepada Zara yang menatap harap pada diri nya.
"tengah malam, 4 jam setelah kau tidur maka dia akan di sini hingga pukul 4 dini hari.!" jawab Aaron hilang di balik pintu yang tertutup rapat.
"4 jam setelah aku tidur itu artinya sekitar pukul 1 malam? Kenapa menyakiti diri mu sendiri?!" sedih sarah menggenggam tangan Aska. ia menyesal harus nya ia tak menjaga jarak hingga hal tersebut terjadi.
"maaf kan Zara paman, Zara nakal!" keluh nya.
Kepala Zara terbaring di bankar dengan tangan Aska menjadi bantal nya, Tak perlu waktu lama ia terlelap.
Zara terusik dari tidur nya saat merasakan ucapan dan kecupan lembut melayang di kepala nya. la hendak duduk namun tak bisa, ia merasa tubuh nya terikatkuat. Kenapa ia terikat?.
Mata Zara terbuka, ia terkejut saat mendapati diri nya dalam kukungan sebuah tubuh besar dan keras. Aroma menenangkan menusuk hidung nya, ia kenal pemilik aroma musk ini.
"sttt.. Biar kan seperti ini sebentar saja, aku tak akn
meminta lagi!" ucap Aska frustrasi.
"tidak!" teriak Zara balas memeluk Aska tak kalah kencang.
"tidak boleh, tidak boleh sebentar, tidak boleh tidak
meminta lagi!" rengek Zara memeluk Aska semakin
kencang.
Aska yang mendengar pernyataan Zara tercengang. la melepaskan pelukan nya, mendongkak kan wajah Zara agar menatap nya.
"apa maksud ucapan mu?" tanya Aska mencoba mencari kebenaran, ia takut salah dengar malah berakhir kecewa.
"kau tidak boleh memeluk ku sebentar saja, kau harus memeluk ku selama nya... Dan harus memeluk ku setiap hari!" omel Zara menantang Aska dengan wajah sangar.Wajah serius Aska melunak, ia mengusap wajah garang Zara dan berakhir dengan mencium bibir Zara penuh kahangatan. Hanya ciuman lembut penuh kasih sayang tanpa ada paksaan atau pun nafsu yang menyelinap di antara Merek.
"berani memarahi paman mu?" tanya Aska menggoda Zara dengan wajah tengil yang tak pernah di temukan Zara sebelum nya.
"kenapa tidak? Paman berani meniduri ku, kenapa aku
__ADS_1
tidak berani marah?" sewot Zara membuang muka.
"hehhe.. Aku merindukan mu sayang, bisa jelaskan kenapa menjauhi ku sebulan ini?" tanya Aska mengusap lembut wajah Zara penuh sayang.
"aku malu!" jawab Zara kepala nya kian menunduk
semakin dalam.
"malu?"
"kau tidak lihat wajah ku sangat jelek saat bagun? Bibir ku serong muka ku kaku. Aku sangat jelek!" tangis Zara memeluk Aska menyalurkan emosi nya.
"Dengar, aku sudah pernah melihat sisi terburuk mu, bahkan saat kau telanjang!" jelas Aska yang mendapatkan plototan dari Zara. Zara hendak berkomentar namun mulut nya di tahan oleh jari Aska.
"kau boleh punya luka di sekujur tubuh mu, sepertiapa pun bentuk mu, selama itu kau itu sudah cukup aku tak mau lebih!" jelas Aska mengenai tepat jantung hati terdalam nya.
4
Namun ia wanita biasa, ia tak bisa menafikan kenyataan bahwa ia malu saat melihat wajah nya serong terutama di bagian bibir akibat selang makanan dan oksigen. Namun penjelasan gamblang Aska meluluhkan Zara, hanya sebuah kalimat yang mampu menghangatkan dari Pucuk kepala hingga ujung kaki.
"kau meggombal ku bukan karna horny kan?!" tanya Zara menatap Aska curiga. Tiba tiba mata nya terbelalak besar, ia menyadari sesuatu.
"ada apa?" tanya Aska saat menyadari perubahan
wajah Zara.
"aku hampir 2 tahun koma, itu artinya aku tidak memberikan mu "itu" "ujar Zara menyampaikan apa yang ada di pikiran nya.
"apa paman..." suara Zara terdengar sedih dan penuh harap di saat yang bersamaan.
"tidak, aku puasa sela kau koma hingga hari ini!" jawab Aska cepat membantah pikiran Zara yang mulai melalang buana.
"tidak mungkin, paman kau selalu..." kalimat Zara terhenti, seketika wajah nya memerah membayangkan masa masa dimana ia menghabiskan waktu berduaandalam pergulatan panas mereka.
"aku kenapa hem..." Aska mengangkat kepala Zara menggoda gadis itu.
"apakah aku sangat liar dan selalu meminta jatah pada mu setiap malam? Apakah aku selalu bersemangat menggagahi anak angkat ku sendiri? Apa itu yang kau pikir kan?" tanya Aska menggoda Zara dengan kalimat vulgar nya.
"paman..." cicit gadis itu menahan malu, hampir semua yang di katakan Aska benar. Bukan hampir namun benar semua.
"bagaimana aku bercinta dengan anak angkat ku, menghabis kan malam yang panjang dengan saling memuas kan. apa itu yang ada di kepala kecil mu ini?!" Aska kian gencar menggoda Zara.
"paman... Henti kan..!" cicit Zara menahan malu.
Seluruh tubuh nya memerah, bukan hanya wajah.
"kau malu mengakui pikiran kotor mu terhadap ayah angkat mu?" goda Aska menaik naik kan alis nya.
"oke oke berhenti menggoda ku, ceritakan tentang anak kita!" Zara mengalihkan pembicaraan mencoba meraih peruntungan.
__ADS_1
"boleh saja tapi setelah 1 ronde, ingat sayang kamu yang memancingku!" goda Aska ******* bibir Zarasambil melepas satu persatu pakaian mereka. Tak menunggu lama, mereka menyatu, bergerak dengan irama lembut menyampaikan rindu lewat percintaan mereka dipagi hari yang masih gelap gulita di luar sana.