
Aku Melihat Kier lagi setelah beberapa bulan tak bertemu. Aku datang ke rumah Kenan setelah beberapa kali ku menolak ajakannya dengan berbagai alasan.
Ajakan Kenan kali ini aku terima. Sepulang kuliah aku bersama Kenan menemui Kier. Aku semobil dengannya, dia menyetir dengan tenang.
Tiba di rumah, Kenan membuka pintu rumahnya. Saat membuka pintu, Kier ada dibalik pintu rumahnya seolah menyambut Kenan pulang. Kier awalnya sedang bermain, namun ketika terdengar suara ketikan pasword rumah yang dipencet Kenan, Kier segera menghampiri pintu rumah, untuk melihat seseorang yang datang.
Kier tampak sehat, aku lega melihatnya. Aku menyapa Kier, menyentuh Kier lalu mengelus bulunya yang lembut.
Aku bermain dengan Kier sementara Kenan masuk kedalam kamarnya untuk menyimpan tas dan mengganti baju. Tak lama iapun keluar dari kamarnya dan duduk di sofa lalu melihatku yang sedang asyik bermain dengan Kier.
"Ternyata benar.. Kamu memang suka kucing" Ucap Kenan.
Mendengar ucapan Kenan aku reflek melihatnya. Namun aku tak merespon, kami hanya saling menatap.
Aku masih takut dengan mimpiku, takut hal buruk yang ada dalam mimpiku menjadi kenyataan.
"Kenapa kamu tak kembalikan kucing itu pada penjual, malah kamu rawat sendiri?" Tanyaku.
"Karena aku tahu kamu menginginkannya, aku hanya menunda memberikannya padamu" Jawabnya.
Jawabannya selalu diluar ekspektasiku. Dan entah kenapa kami jadi saling memanggil "aku dan kamu" Bukan "elu, gue" Seperti sebelumnya.
"Kapan aku bilang aku menginginkannya?" Tanyaku.
"Kamu tidak bilang.. Kamu hanya menginginkannya" Jawabnya.
"Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu?" Tanyaku lagi.
"Jadi kamu gak mau?" Tanyanya.
"Jika aku menginginkannya, apa kamu akan berikan?" Tanyaku.
"Kamu menginginkannya?
Tapi bagaimana ya..
Kier bukan kado untukmu lagi,
dia sekarang sudah jadi milikku,
Aku takkan memberikannya padamu" Ungkapnya.
'Tadi kamu bilang kamu hanya menunda memberikannya padaku?" Balasku.
"Iya aku menundanya,
Tapi kamu bilang Ira alergi kucing, jadi biar aku yang sandera Kier" Ucapnya. "Sandera?" Tanyaku cukup kaget.
"Iya ..
Karena kamu menginginkannya, jadi aku sandera dia" Jawabnya dingin. "Elu apa-apaan sih..
Gue..."
__ADS_1
Aku tak menyelesaikan perkataanku karena Kenan memotong perkataanku.
"Bercanda, Jangan terlalu serius.. " Ucapnya.
Aku lega mendengarnya.
"Sekarang.. Semua tak seru lagi, lebih baik kamu pulang dari rumahku" Ucapnya.
Dia terlihat datar, tak ada senyuman diwajahnya. la bahkan seolah ingin mengusirku keluar dari rumahnya.
"Elu undang gue, terus elu ngusir gue. Apa ini caranya memperlakukan tamu?" Ungkapku kesal.
Kenan diam tak merespon.
"Ya udah gue pergi" Ucapku.
Akupun berjalan pergi ke arah pintu untuk pulang, namun tangan Kenan menggapai lenganku, aku menoleh..
"Mau gue anter?" Tanyanya.
"Gak usah!" Jawabku ketus.
Kenan tak melepaskan tanganku.
"Gue pengen anter lu, boleh?" Tanyanya lembut.
Kenapa sikapnya begitu mudah berubah, terkadang dingin terkadang lembut, dia jadi susah di tebak.
Mau..?" Lanjutnya.
"Gak usah bawa Kier, dia mungkin capek jalan-jalan terus dalam mobil" Ungkapku.
Sebelumnya Kenan bilang kemarin dia habis pergi jalan-jalan keluar kota bersama Kier, takut Kier kelelahan maka dari itu aku menolak Kier untuk ikut mengantarku pulang.
"Ya udah " Jawabnya lembut lagi.
Aku luluh begitu saja menerima tawarannya untuk mengantarkanku pulang.
Kenan pun mengambil kunci mobil dan segera menyiapkan mobil untuk dipakai, aku menunggunya di depan pintu rumahnya saat ia sedang mengeluarkan mobil dari garasi.
Setelah keluar dari garasi, akupun masuk ke dalam mobil, dan mobil keluar dari rumah Kenan.
Pagar pintu rumahnya otomatis, bisa terbuka dan tertutup sendiri dan terkunci, tentunya menggunakan alat yang sedang di pegang Kenan.
"Ken...
Lu punya mobil berapa?" Tanyaku.
"Kenapa emang?" Ungkapnya balik bertanya.
"Kecelakaan waktu itu gak bikin mobil lu rusak?
Body mobil ini begitu mulus, Tak ada tampak terlihat hasil modifikasi atau bekas kecelakaan,
__ADS_1
Mobilku rusak parah. Sampai saat ini masih di bengkel" Ungkapku.
"Bukan mobil yang ini, Aku beli mobil baru" Jawabnya.
Aku bicara dengannya terkadang "gue, elu" Terkadang "aku, kamu" Benar-benar tidak konsisten.
"Mobilmu rusak juga?" Tanyaku.
"Mobil sudah kuperbaiki dan aku menjualnya" Jawabnya.
"Gak separah punyaku?" Tanyaku.
"Iya" Jawabnya.
"Apa kamu ada luka juga waktu itu?" Tanyaku.
"Kepalaku berdarah" Jawabnya.
"Hari itu kamu bisa masuk kuliah?" Tanyaku.
"Enggak, aku ke rumah sakit sama kamu. Aku hubungi kampus untuk izin tidak masuk, sama Izin buat kamu juga,
Lalu besoknya aku kuliah, Tapi kamu gak datang-datang kuliah karena koma,
Karena itu akhirnya kamu gak bisa kuliah di sana" Jawabnya.
"Kenapa kamu pindah kampus untuk kuliah,
tahun lalu kamu mendaftar di sana, kenapa sekarang malah ke Universitas Segitiga." Tanyanya.
Alasanku ganti Kampus karena merasa dari awal kampus itu bukan pilihan utamaku, tapi karena tak mau mengulang mendaftar di tahun depan akhirnya memutuskan untuk mengambil pilihan kedua yang sudah jelas di terima di sana, namun rupanya aku tak berjodoh dengan kampus itu, karena aku koma. Meskipun sebelumnya aku sempat di tawari untuk masuk di sana lagi atas usulan Kenan ke Kampus tersebut, namun pada akhirnya aku menolaknya, karena tawaran itu agak kurang masuk akal bagiku. Oleh karena itu, Tahun ini aku kembali mendaftar di Kampus tujuanku, dan kali ini aku lolos.
Kenan bertanya alasanku, namun aku tak memberitahunya, aku ingin dia yang memberitahuku lebih dulu alasan dia pindah kampus.
"Kamu sendiri kenapa pindah?
Jangan bilang ganti suasana, itu alasan konyol" Ungkapku.
"Aku mengikutimu." Jawabnya.
Apa apaan dengan ucapannya itu (Ucapku dalam hati )
-
-
-
-
-
TBC
__ADS_1