Psycopat (Tamat)

Psycopat (Tamat)
(33)


__ADS_3

Aska keluar dari kamar mandi, merapikan kemeja. Setelah pergulatan panas mereka, Aska dan Zara langsung mandi bersama di kamar mandi kecil yang tersedia.


"kau berjanji membawa ku pulang hari ini, maka tepati. Paman sudah mendapatkan 2 ronde pagi ini!"ujar Zara secara gamblang saat keluar kamar mandi menyusul Aska dengan langkah tertatih nya. Aska bukan meninggalkan nya sediri di kamar mandi, tapi ini keinginan Zara dia ingin berusaha agar aku lebih pantas berdiri di sebelah mu_begitu kata Zara saat menolak bantuan Aska yang ingin menuntun nya keluar kamar mandi.


"apa pun. Lagi pula si kembar pasti merindukan mama nya!" jawab Aska akhirnya tak tahan melihat Zara yang tertatih mengendong wanita itu menuju bankar.


"Aaron sudah urus semua nya dia akan kemari sebentar lagi!"ujar Aska.


Selang beberapa menit, Aaron datang sambil


mengetuk pintu perlahan.Aska bukan meninggalkan nya sediri di kamar mandi, tapi ini keinginan Zara dia ingin berusaha agar aku lebih pantas berdiri di sebelah mu_begitu kata Zara saat menolak bantuan Aska yang ingin menuntun nya keluar kamar mandi.


"apa pun. Lagi pula si kembar pasti merindukan mama nya!" jawab Aska akhirnya tak tahan melihat Zara yang tertatih mengendong wanita itu menuju bankar.


"Aaron sudah urus semua nya dia akan kemari sebentar lagi!"ujar Aska.


Selang beberapa menit, Aaron datang sambil mengetuk pintu perlahan.


"apakah sudah selesai?" tanya nya menyembulkan


kepala nya.


"kenapa lama sekali?" tanya Aska kesal.


"aku datang pukul 6 pagi dan melihat adegan" Aaron membuat tanda petik di udara.


Wajah Zara seketika memerah padam menahan malu.


"diam.." teriak Zara menahan malu nya.Mobil mewah berlogo kuda itu berhenti di depan rumah mewah, rumah utama milik keluarga carney.


Di balik kemudi ada Aska yang duduk menggenggam tangan Zara yang berkeringat dan bergetar dalam genggaman nya. Wanita itu terlihat ketakutan.


"kau takut?" tanya Aska meyakinkan kan Zara semua nya akan baik baik saja.


"sedikit!" jawab Zara mencicit.


"apa yang kau takut kan? Biasa nya kau sangat cerewet saat disini dulu!" ujar Aska mengangkat alis nya sebelah.


"dulu, saat aku didalah anak angkat mu, justru cucu angkat mereka mememberikan mereka sepasang cucu. Coba paman bayang kan apa yang harus aku katakan?" tanya Zara terlihat panik. la mulai menggigiti kuku jempol nya mencoba menenangkan kan diri nya.


"apa aku harus bilang bahwa aku meniduri mu tepat pukul 00 usia 17 tahun mu?" tanya Aska menggoda Zara. Ia bermaksud mencari kan suasana.


"tidak tidak itu buruk. Jangan sampai kakek tau... Dia


akan membunuh mu!" Zara semakin panik.


"heheh tapi dia sudah tahu!" balas Aska menggosok kepala nya yang tak gatal."tapi paman masih hidup!" ucap Zara sepontan.


Mata Aska menyipit tajam, ia mendekati Zara. Saat wajah mereka hampir tak berjarak, dan nafas Aska terasa jelas Menerpa wajah Zara, Aska berkata.


"kau berharap aku mati di tangan kakek mu?"


Zara menggeleng cepat.


"kau anak nakal!" kata Aska di akhiri dengan ******* hangat penuh cinta dari Aska.


Tak lama, Aska menarik wajah nya kembali. Mata mereka bertemu, saling menatap.


"sudah lebih tenang?" tanya Aska mengelus wajah


halus Zara yang tirus.


"ayo temui keluarga kita!" ucap Zara mendahului Aska turun dari mobil.


Aska tersenyum geli melihat wajah malu malu Zara, sudah sering padah mereka melakukan franckiss tapi selalu saja berakhir dengan Zara yang malu malu kucing.


Langkah kaki Zara terhenti saat tiba di ruangan tengah, disana ada sepasang anak yang duduk di atas tikar yang di sebari bantal.

__ADS_1


Si sulung terlihat lebih cerewet dan aktif di bandingkan si bungsu yang lebih pendiam tak rewel.


"kalian sudah sampai?" suara berumur itu terdengar


menyentak kesadaran Zara yang terpaku menatap


sepasang malaikat yang bermain bersama pengasuh. "kami pulang!" ujar Aska merangkul bahu Zara


membawa wanita muda itu menuju ruang tengah.


Zara bergerak kaku, la malu pada nenek nya. Harus nya tak seperti ini, harus nya ia tak melakukan hal tak senonoh dengan sang paman.


"nenek maaf kan Zara!" teriak Zara berlari menghampiri wanita berumur yang duduk di sofa singgel.


Melihat Zara berlari, semua orang terkejut. Bukan hanya Aska, tapi semua orang yang di ruangan bahkan pengasuh ikut terkejut dan khawatir di saat yang bersamaan.


"kenapa berlari!" kesal Aska berjalan mendekati Zara dengan langkah kasar nya. Namun berhenti saat melihat telapak tangan ibu nya melayang di udara untuk menghentikan pergerakan Aska secara simbolis.


"apa yang kau laku sayang?" tanya wanita tua itu mengusap perlahan kepala Zara yang terbenam di pangkuan nya.


"nenek maaf kan Zara, ini salah nek... Nenek pastikecewa sama Zara.. Zara tak bisa menjadi cucu yang baik untuk nenek!" tangis Zara kian nyaring. Aska terlihat khawatir saat melihat tubuh Zara bergetar hebat.


"memang, Zara memang tak bisa menjadi cucu yang baik untuk ku!" wanita tua itu masih mengusap kepala Zara dengan sayang.


Aska dan ayah nya terperangah mendengar ucapan wanita yang menyandang status sebagai ibu Aska dan istri mr. Carney.


Tapi kedua laki laki itu tak dapat berkutik saat mendapat kan plototan dari sang wanita tua itu.


"Zara memang tak bisa jadi cucu ku lagi!" ucap wanita tua itu masih terdengar mengerikan di telinga semua orang. Bagaimana mungkin wanita itu berkata demikian sedangkan tangan nya mengusap lembut rambut korban ucapan nya.


"maaf kan Zara!" tangis nya Zara histeris.


"tapi kau pasti bisa menjadi menantu yang baik untuk ku!" lanjut wanita tua itu membuat seisi ruangan kian tercengang kecuali si kembar.


"ne-nek?" Zara tergugu mendengar ucapan sang wanita tua. la merasa telinga salah dengar.


Zara memeluk wanita tua itu lalu beralih pada lelaki


tua yang biasa di panggil nya kakek. "papa!" lelaki tua itu mengingatkan agar Zara tak salah


memanggilnya.


"tidak mau memeluk anak mu?" tanya Aska mengingat kan Zara.


Zara mengguk lalu duduk di hadapan sepasang bayi manis dan montok itu.


"hey sayang, mama pulang!" ucapan Zara merengkuh kedua bayi nya dalam pelukan nya. Tangan mungil itu terlihat kesulitan memeluk kedua bayi montok itu secara bersamaan.


"Nala Raka carney dan Natan Raka carney!" ucap Zara mengusap wajah kedua anak nya yang duduk di. Pangkuan nya.


2


"kau tau? Siapa memberi tau mu?!" tanya Aska meraih si sulung dan memangku nya di pangkuan nya.


"dari mu. Aku pernah mendengar kalimat itu samar samar di antara kegelapan!" jelas Zara mengusap rambut putra nya.


"Nala dan Natan... Hadiah kecil dari tuhan begitu bukan?!""hem!" Aska mengguk mengiyakan kalimat Zara.


"ehem.. Ngomong ngomong kapan kita bicarakan mengenai pernikahan kalian?" tanya mr.carney memecah interaksi antara Zara dan Aska yang terdengar seperti gumaman satu sama lain di telinga mr. Carney.


"menikah? Siapa yang akan menikah?" tanya Zara membeo.


"tentu saja kau dan Aska. memang nya kalian mau


tinggal tanpa status? Kamu tidak takut Aska di kaet anak muda?" goda mr.carney pada Zara. Wajah Zara memerah. Ia menggeleng dengan sedikit


malu malu.

__ADS_1


"ayo kita bicarakan di ruangan kerja!" ajak Aska memindahkan anak nya ke pangkuan pengasuh, berikut dengan Zara yang melakukan hal yang sama.


"pertama tama kita harus mengeluarkan Zara dari kk mu terlebih dahulu!" jelas sang ayah.


"jika tidak kalian tidak mendaftarkan diri di pencatatan sipil!" jelas sang ayah melanjutkan ucapan nya yang tanggung.


Aska yang memang sudah paham mangut mangut


sendiri lalu memperhatikan ra yang terlihat ragu."kau tak mau keluar dari kk ku? Kau ingin selalu jadi anak angkat yang bercinta dengan ayah angkat nya?" bisik Aska bertanya dengan sedikit menggoda Zara.


"dari awal aku tak pernah menyebut mu ayah angkat ku! Aku selalu memanggil mu dengan sebutan wali pada orang orang!" balas Zara berbisik.


"kau anak durhaka!"


"biarin!"


"apa yang kalian bisik bisik kan?!" tanya sang ayah menatap curiga kedua anak nya. Ya sebentar lagi ia akn punya dua anak, tepat setelah Zara dan Aska menikah. 2 anak dan 2 cucu.


"paman menggoda ku!" jawab Zara mengadu.


"kenapa masih memanggil Aska paman?"tanya sang ibu yang bernama asli sofia.


"itu panggilan sayang nya, biarkan saja aku suka mendengarkan nya!" balas Aska.


"tidak baik, nanti anak kalian bingung!" tegur sang ibu.


"baik lah, kau dengar sayang kau hanya boleh memanggil ku begitu saat di ranjang!" ucap Aska


gamblang sehingga membuat wa Zara kianmemerah.


"paman!" Zara memperingati.


"sudah sudah, kita harus mencari orang tua angkat baru untuk Zara, setelah itu kita mendaftar kalian ke pencatatan sipil untuk pengurusan pernikahan kalian. Pertanyaan nya kapan kalian akan menyelenggarakan nya?" tanya sang ayah memberikan kalender beserta sepidol.


"katakan kau ingin kapan kita menikah?" tanya Aska langsung.


"kapan pun yang penting jangan terburu buru!" jawab


Zara lembut seraya mengusap tangan Aska.


"sudah dewasa rupanya Zara ku. Pas untuk di panggil mama!" goda Aska mengedipkan mata nya sebelah.


"kita mulai dengan pertunangan kalian akan di umumkan tanggal 27 terhitung 2 minggu dari sekarang!" sofi selaku mrs. Carney alias ibu dari pasangan yang akan menikah memberikan saran.


"kita tidak mengadakan pertunangan ma, kita akan langsung menikah!" balas Aska tak terima.


"hanya pengumuman bahwa kau sudah bertunagan, jika kau langsung menikahi Zara maka akan menjadi buah bibir. Agar orang orang bisa bersiap siap munduragar menantu ku tidak perlu cemburu!" balas sama ibu tak Mau kalah.


"itu tak akan terjadi ma!"


"kau tidak tau bagaimana cemburu nya aku saat 2 minggu sebelum pernikahan aku dan ayah mu ada yang mengaku tunangan ayah mu. Dan aku tak mau itu terjadi pada Zara.!" jelas sang ibu akhir nya menjelaskan kekhawatiran nya.


"baiklah terserah... Sayang kau mau kapan mengadakan pernikahan?" tanya Aska memeluk Zara dengan tangan kiri nya.


"bagaimana kalau 1 bulan setelah pengumuman


pertunangan kita?" Zara memberi saran dengan wajah


blushing malu malu kucing.


"hem... Bagaimana kalau tahun baru? Selisih 34 hari dari pengumuman pertunangan kita?"


"bagus! Aku suka" jawab Zara akhir nya memeluk Aska.


"oke pernikahan kalian akan di langsungkan tahun depan tanggal 1 januari" sangat ayah memutuskan mencatat pada agenda.


"aku sudah mencari keluarga angkat untuk mu, besok kita melakukan pemisahan nama!"

__ADS_1


Mereka hanya mendengar kan dengan seksampenuturan sang ayah.


__ADS_2