Psycopat (Tamat)

Psycopat (Tamat)
(13)


__ADS_3

Hari berganti.


Seminggu setelah kejadian di Villa itu terjadi. Semua nya masih sama, hanya saja tak ada lagi tingkah manja Zara yang selalu bicara ambigu dan selalu tertawa terbahak bahak. Semua nya tpak berbeda. Tak terlihat namun bisa dirasakan oleh Aska.


Tak ada yang terlihat berbeda, semua nya masih terlihat sama. Seperti pagi ini, Zara masih terlihat menyiapkan sarapan dengan senyum nya. Namun senyum itu nampak beda.


Aska yang biasa nya pulang sekali satu atau dua bulan ,kini pulang setiap minggu nya. Entah untuk apa.


"paman aku berangkat!" ujar Zara menyadarkan Aska dari pikiran panjang nya.


Aska hanya mengangguk.


Sisi lain aska mengatakan ia tidak senang karena Zara tidak terlihat sangat menderita atau seperti orang yang mencoba bunuh diri atau pun depresi berat.


Tapi ada sesuatu yang berbeda terasa di dada Aska. Entah apa ia pun tak tau.


Semenjak kejadian hari itu juga,Aska sudah melenyapkan setidaknya lebih dari 2 nyawa dalam minggu ini.


"ada apa?" Sebuah suara terdengar dari balik meja hitam besar dan penuh akan dokumen.


"jadwal bapak hari ini hanya tersisa rapat dengan Mr. luciver jam 4 sore" ujar wanita bersetelan rapi dan sudah berumur yang menjabat sebagai sekretaris


Yang diajak bicara hanya mengguk kecil. Rupa nya sekretaris itu sudah faham dengan sikap atasan nya dan segera keluar.


Tersisa 2 jam sebelum pertemuan itu. Direktur yang tak lain dan tak bukan adalah Aska itu segera menyelesaikan dokumen nya dan bergegas pergi ke sebuah restoran elit.


Aska bersama sekretaris nya kini sudah duduk berhadapan dengan luciver.


Kerja sama itu tidak berlangsung lama, luciver tidak banyak menuntut juga murah senyum. Mata coklat emas itu meneduhkan.


Entah Kenapa Aska tak ingin berlama lama dengan orang itu, bukan merasa terintimidasi. Hanya saja ada perasaan was was terhadap luciver.


Di depan restoran mata Aska tak sengaja menemukan sosok mungil yang ia kenal, Zara.


Zara terlihat tertawa bersama ke 3 teman nya, 2 diantaranya adalah laki laki.


Mereka double date?_ Batin Aska tak terima.


Tadi pagi Zara izin ke kampus untuk mengantarkan formulir pendaftaran. Ternyata malah berkencan.


Aska tak ingin merusak image nya dengan menyeret paksa Zara, hingga terduduk lah Aska kini di depan meja bartender dengan gelas sloki di tangan.


Lihat saja rubah kecil... Aku sudah berbaik hati untuk tidak menyentuh mu... Hah, buah jatuh tak jauh dari pohon nya, sekali lahir dari keluarga penghianat maka ia akan berhianat...


Hehehe...


sialan!


Aska terus memaki saat gelas ke 3 memasuki kerongkongan nya.


Aska tak ingin mabuk, segera meninggalkan pub .Sebelum mencapai pintu sepasang tangan lembut dan halus melingkari tangan kanan Aska. Dia mengantar nyawa.


Aska tersenyum devil terhadap wanita itu. Hingga kedua nya berakhir di sofa rumah bermain Aska dengan terengah engah.


Aska menggeram, bukan karena nikmat, namun ia tak terpuaskan oleh wanita murahan yang sudah longgar itu.


Geram Aska menyeret wanita yang sudah tak berdaya karena berkali-kali kali orgasme. Dengan tak berpersaan Aska mengikat kaki wanita itu dengan tali yang panjang dan leher wanita itu dengan batu ukuran setengah kepala.


Byur..


Wanita itu di lemparkan kedalaman kolam renang. Terasa rontaan lemah ,dan berakhir diam. 10 menit kemudian. Aska menarik keluar wanita itu dan memberi makan ternak ternak nya.

__ADS_1


Sedang bersantai di kursi malas bertemankan tungku perapian yang mengguar kan aroma favorit nya, sebuah bayangan wajah tertawa melintas.


Wajah penuh senyum Aska berubah menjadi masam. Aska langsung meraih kunci mobil dan bergegas pulang. Buku buku jari Aska nampak mengeras menggenggam stir. Rencana demi rencana mulai berseliweran membuat senyum Aska mengembang penuh kebahagiaan.


Mobil hitam legam itu berhenti digarasi rumah dengan langkah pasti Aska masuk kedalaman rumah dan mendapati Zara sedang menonton tv.


"paman tumben pul_" kalimat Zara terhenti karena kini ia sudah di seret kedalaman kamar Aska.


"sakit paman!"rintih Zara merasa kan pergelangan tangan nya di cengram kuat.


"diam!" hardik Aska.


Dengan tak berpersaan Aska membanting Zara keatas tempat tidur nya, dan langsung mengukung tubuh mungil itu.


Zara tak sempat mengelak atau merespon. Semua nya terlalu cepat dan kasar, seperti ciuman Aska kali ini terkesan memaksa dan terburu buru.


Zara meronta saat merasakan pakaian nya di buka paksa. Kepala Zara berusaha menggeleng dan akhir nya air mata Zara luruh saat ia benar benar melihat dirinya Telanjang.


Aska tersenyum penuh kemenangan, melihat airmata Zara yang mengalir. ia merasa sangat bahagia .Belum berakhir penderitaan Zara, dengan paksaan Aska melolos kan kejantanan nya kedalaman inti Zara yang masih kering.


Tanpa pemanasan.


Zara merintih kesakitan merasakan dorongan demi dorongan yang di berikan Aska.


Mendengar rintih kesakitan Zara, Aska semakin bersemangat memompa gadis itu.


Gadis? Zara bukan gadis lagi, gelar itu sudah di lepaskan sejak pukul 00 ulang tahun nya.


Ucapan pertama dan hadiah pertama di berikan secara langsung oleh sang paman dalam bentuk luka dalam yang menyakitkan.


Pukul 1 dini hari, Aska usai dengan kegiatan nya. Zara sudah tertidur. setelah ronde pertama yang di penuhi dengan tangisan, ronde kedua dan ketiga justru di penuhi dengan ******* kenikmatan Zara.


Karena lelah, Aska membiarkan saja dan berakhir dengan tidur dalam keadaan berpelukan.


Aska mengucek mata nya saat mendengar sura rintihtangisan. Ia membuka mata perlahan dan menemukan sosok Zara yang terduduk membelakangi Aska dengan punggung polos.


Melihat punggung polos terekspose itu membangkitkan gairah Aska. Ditambah lagi beberapa kiss mark hasil karya nya di beberapa tempat. Ini adalah kali kedua setelah malam perengutan itu. la hilang kendali saat melihat Zara pulang dari pantai dalam keadaan basah, Itu arti nya Aska sudah bercinta dengan Zara sebanyak 3 kali.


Aska duduk menyandar pada dasboard tempat tidur.


Merasa ada pergerakan, Zara menoleh kebelakang dan menemukan Aska dengan wajah datar.


"pa_man!" cicit Zara.


"maaf aku hilang kendali!" ujar Aska.


Aska mengutuk mulut nya yang bicara asal. Ingin rasa nya ia membuang mulut nya ke dalam sumur. Tentu ia tak akan terlihat tampan tanpa mulut seksi nya.


"paman," panggil Zara.


Kali ini Zara memutar tubuh nya, dengan tangan tetap menjaga selimut tetap melindungi tubuh bagian depan nya.


Kepala Zara menunduk, ia terlihat ragu sekaligus takut dan malu di waktu bersamaan."ada apa?" desak Aska saat Zara tak kunjung membuka suara.


"anu, itu paman.. Aku, bukan paman eh.. Maksud ku..." Zara terlihat kagok.


"cepat katakan atau aku akan pergi!" ancaman Aska. Memang Aska ingin pergi kekamar mandi menuntaskan kegiatan pagi nya. kegiatan adek kecilnya


Kenapa harus sendiri ? jika pemuas nya sudah ada di depan mata, dalam keadaan telanjang lagi!.


"ah, iya, begini, Zara tau paman punya kebutuhan yang harus di tuntas kan, tapi paman tidak bisa memaksa ku, maksud Zara tidak perlu memaksa!" ujar Zara masih dengan kepala menunduk.

__ADS_1


"lalu?" tanya Aska mengangkat wajah tertunduk Zara lalu menatap manik coklat itu.


"K-kau bisa meminta nya!" cicit Zara mengalihkan pandangan nya.


"maksud mu?" Aska masih belum mengerti apa yang di maksud oleh zara.


"maksud Zara, kalau paman butuh seperti tadi malam, paman bisa minta tanpa harus memaksa ku. Maka akan aku berikan apa yang paman mau, yah akan ku anggap sebagai jasa dari kebaikan paman karena sudah merawat ku!" jelas Zara dengan wajah memerah,


Aska tampak sedikit terkejut, hanya sedikit. la mengendalikan ekspresi nya sedatar mungkin. Tapi semua nya di luar perkiraan Aska, ia tak mengira Zara akan menyerahkan dirinya dengan suka rela meski sudah di perlakukan dengan tidak manusiawi oleh nya.


Mendadak Aska merasa hangat. Dan terbesit ide untuk menggoda Zara.


"sungguh?" tanya Aska menagkup pipi Zara.


Zara mengangguk pasti.


"kalau begitu aku mau sekarang, berikan!" ujar Aska menatap manik mata Zara.


"se-sekarang? Bukan nya t-tadi malam sudah?" tanya Zara dengan wajah memerah padam.


"hehhe kau ragu pada paman mu ini?" tanya Aska meraih tangan Zara menuju ************ nya yang sudah menegang dari tadi.


Mata Zara terbelalak, saat merasakan sesuatu yang keras dan tegang hebat.


Aska terkekeh geli melihat wajah shock Zara. Wajah Zara semakin merah.


Dan yang membuat Aska terkejut adalah Zara mengguk kan kepala nya. "kau yakin?" tanya Aska mencoba memastikan.


"cepat lah, aku malu!" ujar Zara memeluk Aska dengan tubuh masih berbalutkan selimut.


Zara bernafas di leher Aska, membuat sang paman menggerang, la takjub pada Zara yang bisa memancing nya hanya dengan tindakan kecil tak di sengaja gadis itu.


Bibir tebal nan seksi Aska kini menempel pada bahu Zara, menghisap kulit itu dan meninggalkan bekas ruam kemerahan sebagai tanda bukti kepemilikan.


"youre my mine" bisik Aska di telinga Zara dengan nada sensual.


"Im yours!" ******* Zara saat selimut di lolos kan dari tubuh nya.


Kini keduanya Telanjang.


"karna kau adalah rubah kecil ku, maka jauhi pria manapun aku tak suka berbagi!" ucap Aska bersamaan dengan melesatnya batang keperkasaan Aska ke inti Zara.


Zara menggerang. Mengangguk sebagai respon perintah Aska.


Zara mencoba menikmati percintaan mereka. Percintaan? Bahkan mereka tidak saling mencintai. Mereka hanya berhubungan intim tanpa ada cinta di dalam nya. Atau belum.


Setelah beberapa kali pelepasan, Zara kembali tidur dan Aska pergi ke kantor nya.


Wajah Aska jauh lebih segar dan terkesan bahagia, entah karena apa. Mungkin karena Zara menyerahkan dirinya sebagai mainannya nya. Mungkin.


.


.


.


.


TBC


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2