
Dia melihat semuanya, tentang apa yang kulakukan, setiap gerak-gerik langkahku dia melihatku.
Saat itu aku tak tahu ada CCTV di rumahnya. Aku dengan pedenya berusaha membawa kabur Kier dari rumahnya, walaupun pada akhirnya gagal.
Dia sengaja diam-diam memperhatikanku melalui CCTV untuk mencari tahu tujuanku datang ke rumahnya.
Sejak awal masuk ke rumahnya dia sudah melihatku. Dia bersembunyi di dalam mobil depan rumahnya menungguku datang, lalu dia melihatku dan terus memperhatikanku melalui CCTV.
Dia tahu aku tak ketinggalan barang apapun di rumahnya. Karena ia tahu setiap detail barang yang ada didalam rumahnya. Si perfeksionis yang selalu menjaga kerapihan dan kebersihan. Ia bahkan tahu ketika ada barang miliknya yang bergeser atau berpindah tempat oleh orang lain, walaupun bergeser cuma satu sentimeter.
Dia juga sengaja masuk kedalam rumah tepat disaat aku keluar rumahnya untuk memergokiku mencuri Kier Untuk melihat reaksiku saat ketahuan olehnya.
Dia pura-pura tak tahu apapun, di depanku dia tersenyum seolah tak melihat aku telah dengan sengaja berniat membawa Kier keluar dari rumahnya.
Aku baru tahu itu setelah aku datang kesekian kalinya ke rumahnya lagi.
Aku tak pernah menduga akan datang ke rumahnya berkali-kali seperti saat ini. Kupikir saat itu terakhir kalinya aku datang ke rumahnya. Namun rupanya aku salah, aku malah jadi sering datang ke rumahnya.
"Ken, sejak kapan kamu pasang CCTV di rumah?" Tanyaku.
"Sejak awal aku tinggal di sini" Jawabnya.
"Jadi... Kamu juga melihat apa yang kulakukan saat pertama kali datang kerumahmu sendirian?" Tanyaku tegang.
KenN mengangguk.
Aku tak mencari alasan, aku meminta maaf atas semua kejadian itu padanya.
Dia hanya santai, dengan mudahnya memberi maaf padaku.
"Lalu kenapa saat itu kamu menolak Kier?" Tanyanya.
"Ira alergi kucing" Jawabku.
"Bukan karena kamu tahu kondisiku?" Tanyanya.
"Itu juga" Jawabku.
"Sejak kapan kamu tahu?" Tanyanya.
"Yang tahu secara pasti, ketika kak Renita menghubungiku" Jawabku.
"Bukankah ada kode etik pasien. Bagaimana bisa dia memberi tahu hal sepenting itu tentang pasiennya apalagi pada orang asing" Tanyanya.
"Kau bisa tanyakan padanya, Aku tak paham soal itu" Jawabku sederhana.
Kenan masih menyelidikiku, karena pernyataanku masih mengambang.
"Tunggu..
Maksudmu tahu pasti...
Jadi sebelum renita memberitahu, kamu sudah tahu?" Tanyanya.
__ADS_1
"Mungkin" Jawabku.
Kenan menatapku, dia seolah bertanya maksud dari jawabanku. Aku kembali memberinya penjelasan.
"Kalau aku ceritakan, apa kau akan percaya?" Tanyaku.
"Tergantung" Jawabnya.
Dia tak menjawab pasti, tapi aku memutuskan untuk menceritakan padanya.
"Saat aku koma...
Aku bermimpi,
Mimpi yang begitu panjang,
Sampai mungkin bisa dijadikan sebuah novel. Dan yang paling penting dalam mimpi panjangku itu .. Ada kamu yang bahkan sebelumnya aku tak mengenalmu" Jawabku.
"Mimpi?" Ungkapnya.
"Iya.. Mungkin memang terlihat tidak masuk akal, Tapi banyak hal dalam mimpiku yang jadi kenyataan, Seperti rumah dan pasword rumahmu,
Hubungan kita saat ini, Dan kamu yang seorang psikopat "jawabku.
Kenan diam menatapku.
"masih banyak hal lainnya dan mungkin sesuatu dalam mimpiku bisa terjadi lagi dalam dunia nyata" Lanjutku.
"Maksudnya?" Tanyaku.
"Kamu seperti bak sampah buatku"jawabnya.
Aku kesal mendengar jawabannya, bagaimana bisa dia menyamakanku dengan bak sampah.
"Saat kamu koma, aku cerita banyak hal ke kamu,
Tentang hidupku, masalaluku, hal yang terjadi saat itu,
Dan masa depan yang ingin kujalani.
Hal remeh, Semua kekesalanku,
Hal yang membuatku senang, Aku ceritakan semua ke kamu.
Aku gak tau kenapa, Setiap aku menemanimu saat koma dulu, aku selalu ingin cerita banyak hal ke kamu.
Dan mungkin alam bawa sadarmu mengingat semua ceritaku" Jawabnya.
Ternyata saat itu aku jadi tempat curhat nya.
"Harus banget bak sampah, Gak ada yang lebih manis apa?" Ucapku.
Kenan tersenyum melihatku kesal.
__ADS_1
"Bak sampah berguna loh, Berguna banget malah buat aku yang super higienis" Jawabnya.
"Tapi kan kotor" Balasku.
"Sekarang sudah berubah, Kamu bukan lagi bak sampah buatku" Ungkapnya.
"Terus apa dong?" Tanyaku.
"Kamu kamar buatku" Jawabnya.
"Kamar?" Tanyaku.
"Iya..
Tempat ternyaman untukku" Jawabnya.
Aku tersenyum mendengar ucapannya.
Obrolan ini terjadi ketika ku telah jadi kekasihnya.
Hal yang dulu ku hindari, namun justru malah mendekat.
Aku tak tahu kenapa aku memilih keputusan ini. Menjadi kekasih dari seorang psikopat.
Aku jelas tahu dari awal dia seorang psikopat, orang yang seharusnya kuhindari, orang yang menakutkan, dia bisa saja melakukan hal buruk padaku, memanipulasi, berakting, bahkan tak peduli tentang empati dan rasa sakit orang lain.
Aku juga tak tahu tentang perasaannya padaku, bisakah seorang psikopat benar-benar jatuh cinta.
Sebelumnya aku mencoba dan membuat Kier lepas dari Kenan, tapi justru aku yang masuk dalam perangkapnya.
Hal tergila dalam hidupku adalah menjadi kekasih dari seorang psikopat.
Aku tak tahu tentang masa depan ku dengannya. Yang terpenting sekarang aku bahagia dengannya.
"Kenapa kamu mau jadi kekasihku, padahal kamu tahu siapa aku" Tanyanya.
"Aku.. jatuh cinta padamu" Jawabku.
Saat ini aku hanyalah seorang wanita yang jatuh cinta pada seorang lelaki. Hanya saja lelaki itu kebetulan seorang psikopat. Yang punya cara berpikir berbeda dariku dan orang-orang pada umumnya.
Selama ia tak membunuh orang atau mahkluk hidup lainnya sebisa mungkin ku akan mempertahankannya. Dia juga sudah dan masih melakukan pengobatan sejak ia terdeteksi punya gangguan mental itu.
-
-
-
-
-
TBC
__ADS_1