
Aku tak bisa berhenti memikirkan kucing itu, aku ingin mengamankan kucing itu dari Kenan terlepas mimpi itu benar ataupun tidak.
Kucari cara untuk mengambil kucing itu diam-diam dari rumahnya.
"Ken, lu dimana?" Tanyaku via chat whatsapp.
"Kampus" Jawabnya.
Aku pikir ini waktu yang tepat untuk membawa kucing itu selagi ia tidak ada di rumah.
"Gue kayaknya ketinggalan barang di rumah lu deh. Bisa lu cariin gak? Atau engga, lu kan lagi di kampus, Gue cari sendiri boleh gak,
Itupun kalo lu gak keberatan" Ungkapku.
"120618" Balasnya.
"Apaan tuh?" Tanyaku.
"Pasword rumah gue" Jawabnya.
"Jadi boleh gue cari sendiri?" Tanyaku memastikan.
"Boleh" Balasnya.
Password yang sama dengan apa yang ada dalam mimpiku, jika dalam mimpiku itu tanggal jadian kami, lalu dalam kenyataan tanggal apa itu?
Aku belum tahu apa arti dari tanggal itu baginya.
Aku juga tak mengerti dengan sikapnya yang begitu mudahnya memberikan password rumahnya pada orang asing sepertiku,
Jika aku jadi dia aku takkan membiarkan orang asing masuk rumah tanpa kawalan sang pemilik rumah dan aku yakin kebanyakan orang punya pendapat yang sama denganku. Namun aku tak memperdulikan itu karena bagiku yang terpenting saat ini adalah mengeluarkan kucing dari rumah Kenan.
Aku bergegas pergi menuju ke rumah Kenan, aku bahkan meminta supir taksi untuk mengebut. Supir taksi menolak jika harus melebihi batas kecepatan, karena ia tak mau membahayakan dirinya dan penumpang. Kumencoba lebih sabar.
Waktu dalam perjalanan menuju rumah kenan terasa berjalan begitu lambat, karena aku begitu ingin cepat-cepat tiba di rumah Kenan dan mengeluarkan kucing itu. Macet memperburuk rasa gugupku.
Hingga akhirnya tibalah di tempat tujuan. Aku berada di depan pintu rumahnya. Segera ku pencet tombol angka untuk mengetik password rumah yang diberikan Keiki padaku.
__ADS_1
Pintu terbuka, segera ku masuk kedalam mencari kucing yang ingin kulepaskan dari Kenan.
Tak pernah sebelumnya ku masuk ke rumah orang asing sembarangan seperti ini. Namun demi menyelamatkan kucing, ku rela melakukan itu.
Kucari ke setiap sudut rumah, belum juga terlihat. 10 menit kumencari barulah terdengar suara kucing mengeong, ku berjalan ke arah suara kucing itu. Akhirnya kumenemukannya.
Aku lega, karena kucing itu masih hidup dan bisa ku temukan. Ku elus-elus kucing itu, lalu segera kugendong dan bawa keluar dari rumah Kenan.
Sepertinya usahaku gagal hari ini.
Kenan datang tepat di saat ku membuka pintu keluar rumahnya. Ia melihatku menggendong kucing miliknya.
"Udah ketemu barangnya?" Tanya Kenan.
"Udah" Jawabku gugup.
"Kier menggemaskan kan? " Ucapnya sambil. tersenyum dan mengelus kucing yang sedang kugendong.
"Kier?" Tanyaku bingung.
"Kucing ini kuberi nama Kier, gabungan nama kita keinan dan ERata" Jawabnya.
Kenan menyuruhku masuk untuk sekedar minum, aku menolaknya dan ingin pulang saja tapi Kenan tak membiarkanku. Hingga akhirnya akupun kembali masuk ke dalam rumahnya masih sambil menggendong kucing yang kini ku tahu namanya KiEr.
Dia menyodorkan ku minuman dalam botol yang ia keluarkan dalam kulkas rumahnya. Kuterima dan ku taruh di meja dekat sofa tempatku duduk.
"Lu nyesel menolak Kier tempo hari kan?
Tapi gimana ya, Kier sekarang sudah jadi milik gue, Gue gak akan ngasih ke elo" Ungkapnya dingin.
Raut wajahnya, sikapnya berbeda dengan Kenan yang selama ini ku kenal setelah ku terbangun dari kecelakaan. Dia begitu dingin, tak sehangat biasanya. bahkan senyumnya membuatku takut.
Pikiran tentang psikopat itu kembali muncul dalam benakku. Membuatku ingin segera keluar dari rumahnya.
"Ken, Kayaknya gue pulang dulu deh gue ada janji lain" Ungkapku.
"Oke" Jawabanya singkat.
__ADS_1
"Er...
Btw lu nemuin bross itu dimana?" Tanyanya saatku pergi menuju ke pintu untuk keluar dari rumahnya.
"Di bawah Sofa ruang tamu lu" Jawabku.
Aku memang sengaja membawa bross untuk berjaga-jaga jika Kenan bertanya tentang barangku yang tertinggal. Namun aku tak menduga Kenan akan tiba di rumah saat aku di rumahnya. Karena itu siang hari jam-jam kuliah, seharusnya dia ada di Kampus.
Kali ini aku tak bisa membawa Kier untuk keluar dari rumah Kenan, entah kapan aku punya kesempatan lagi untuk bisa mengeluarkannya dari rumah itu.
"Lu mau gue anter pulang?" Tanyanya.
"Gak usah" Jawabku.
Aku pergi dari rumah Kenan, menyesali kecerobohanku. Aku menyesal dulu tak menerima Kier.
Dalam perjalanan pulang di taksi aku melamun, sampai tak terasa sudah tiba depan rumah.
Aku turun dari taksi, masuk ke dalam rumah dan
duduk di sofa. Aku menghela nafas.
Aku bingung untuk apa aku melakukan semua ini.
Rasa takut yang kusebabkan sendiri karena mimpi panjang selama koma itu. Hal yang belum tentu terjadi. Selama sebulan terakhir kucing itu baik-baik saja di rumah Kenan. Tak terlihat ada bekas luka atau tindak kekerasan pada Kier. Dia tampak sehat dan di rawat dengan baik.
Aku mencoba menyadarkan diri, untuk tak terlalu larut dalam mimpi panjangku yang belum pasti terjadi.
Aku tak mungkin ada kesempatan lagi untuk datang ke rumahnya. Dia dan aku hanya orang asing.
-
-
-
-
__ADS_1
-
TBC