
Pagi hari di tanggal 10 Oktober 2018 aku melakukan rutinitas ku, lari pagi. Aku melakukannya dua atau tiga kali dalam seminggu, entah di hari biasa atau di hari libur tergantung keinginan diri. Kadang Ira menemaniku olahraga bersama lari keliling kompleks.
Namun hari itu aku olahraga sendirian berlari sekitaran kompleks. Dan seperti biasa selalu ada kucing liar yang datang di sekitar taman yang ada di kompleks rumahku. Setelah 30 menit berlari aku istirahat sejenak di taman itu dan bermain dengan kucing liar itu.
Situasi terasa aneh, seperti ada yang memperhatikanku. Sebenarnya sejak semalam aku merasa ada orang yang mengikutiku dan mengawasiku. tapi ketika aku melirik kanan kiri depan belakang, aku tak menemukan orang yang mencurigakan. akhirnya aku hanya mengabaikan. Sampai pagi ini akhirnya aku lengah. Seseorang tiba-tiba membekapku dari belakang. Saputangan yang diolesi obat bius ditempelkan orang itu dengan tangannya ke hidungku hingga aku tak sadarkan diri.
Tiba-tiba aku tersadar di tempat yang berbeda. Di sebuah ruangan yang minim cahaya. Dalam kondisi tangan dan kakiku diikat tali dan mulutku dibekap lakban. Samar-samar kulihat ada seorang laki-laki berada di depanku. la bicara padaku.
"Kau sudah bangun? " Tanyanya.
Suara itu tak asing bagiku, aku seperti pernah mendengar suara dari laki-laki itu.
Perlahan mataku melihatnya dengan jelas. Dia benar-benar orang yang aku kenal.
Aku tak tahu siapa dia, aku hanya pernah melihatnya sekali di rumah Kenan. Pria paruh baya itu, entah siapa dan untuk apa dia menculikku seperti ini.
"Kau pasti bingung kenapa tiba-tiba kau ada di sini." Ucapnya.
"Itu salahmu karena membuatku kesal "Lanjutnya.
Entah kenapa orang itu kesal padaku, padahal kami tak mengenal satu sama lain. Aku juga tak pernah bertemu atau bertegur sapa dengannya selain ketika di rumah Kenan. Itupun kami tak saling bicara, hanya sempat saling menganggukkan kepala.
Dia membuka lakban yang di tempel dimulutku.
"Kamu siapa?
Kenapa kamu membawaku ke tempat seperti ini?" Tanyaku.
"Ini nih yang bikin gue nambah kesal,
__ADS_1
Lu ngambil duit istri gue, Tapi lu bahkan gatau siapa gue? Gatau Terima kasih lu" Ucapnya emosi.
Aku teringat sesuatu tentang peristiwa setelah kematian kedua orangtuaku sewaktu kecil dulu. Seorang wanita seumuran ibuku datang ke rumahku dan meminta maaf padaku juga pada keluarga orang tuaku. Wanita itu adalah istri dari seorang psikopat yang telah membunuh Ayah dan Ibuku.
Psikopat itu pembunuh berantai yang telah membunuh 9 nyawa. 2 korbannya adalah ayah dan ibuku. Aku selamat saat itu, karena aku tak bersama mereka saat terjadi peristiwa pembunuhan itu.
Waktu itu aku tak terlalu mengerti dengan apa yang terjadi, namun kini ku sudah paham yang terjadi.
Selama ini aku dapat kiriman uang dari istri pembunuh itu setiap bulannya untuk mencukupi kebutuhan hidupku melalui saham yang ia berikan padaku. Dan ia juga melakukannya pada semua korban-korban suaminya. Sehingga hidupku tak kesulitan dari segi materi. Meski begitu aku tetap harus kehilangan kasih sayang dari orang tuaku. Karena psikopat itu telah merampas nyawa dari kedua orang tuaku.
Dan saat ini psikopat itu ada di depan mataku. Aku disekap olehnya, entah apa tujuannya menyekapku. Apa ia juga ingin membunuhku. Dan bagaimana bisa Kenan mengenal orang itu. Apa Kenan juga salah satu anak dari korban psikopat itu.
Aku teringat emosinya Kenan yang tak terkendali akhir-akhir ini, apakah mungkin ini pengaruh dari orang yang saat ini menyekapku.
Kau ingin membunuhku juga, Setelah kau membunuh kedua orang tuaku?" Ungkapku emosi.
"Akhirnya lu ingat siapa gue, Anak pintar" ucapnya mempermainkanku. "Tenang masih ada waktu lu buat bernafas, Siap-siap 30 menit lagi....
"Gue pengen lu mati" Ucapku kesal.
Apa benar sisa usiaku saat ini hanya 30 menit seperti apa yang dikatakan psikopat itu. Kenapa aku harus mati ditangan psikopat yang membunuh ayah dan ibuku. Apa tak ada cara agar aku bisa selamat darinya.
"Bagaimana ini, Permintaanmu yang satu ini tak bisa ku kabulkan. Coba pikirkan baik-baik apa yang benar-benar kamu inginkan di detik-detik terakhirmu" ucapnya.
Aku diam tak menjawab. Aku berpikir dan mencari jalan agar aku bisa melarikan diri darinya.
"Aku ingin sekoteng, nasi rendang, kue balok" Ucapku
sembarangan.
__ADS_1
Aku berusaha membuatnya pergi dari hadapanku dan mencari celah agar bisa kabur darinya disaat dia meninggalkan ruangan ini ketika ia mencari makanan yang kukatakan.
Namun dia tak pergi, ia menyajikan apa yang ingin ia sajikan padaku dan memintaku menganggap apa yang disajikan sebagai sekoteng, nasi rendang dan kue balok.
Dia mencoba menyuapiku, namun aku menolak menerima makanan darinya.
'Tenang, ini bukan racun. Terlalu mudah mati dengan racun, itu tak menyenangkan "Ucapnya.
Meski ia mengatakan itu, aku tetap tak memakannya. la tak memaksaku dan membiarkan makanan tetap berada ditempatnya. Sendokpun kembali ia taruh setelah tak berhasil menyuapiku.
Tiba-tiba seseorang datang memukul punggung psikopat itu. Dia ternyata Kenan.
Mereka baku hantam saling memukul dan saling membalas ucapan.
"Jangan ganggu milikku, cari mainanmu sendiri " Ungkap Kenan.
"Sejak awal ini mainanku, kau yang menggangguku" Jawab psikopat paruh baya itu.
"Aku yang lebih dulu menemukannya" Balas Kenan.
-
-
-
-
-
__ADS_1
TBC