
Aska pov
Aku, aska. Seorang anak laki laki yang lahir dari keluarga sederhana namun berkecukupan. Ayah ku seorang peneliti.
Kehidupan ku sangat bahagia bersama mereka, namun tepat di ulang tahun ku yang kelima, mereka datang. 2 orang lelaki menggunakan sebo hitam menutupi wajah.
Aku di sembunyikan di dalam lemari oleh ibu ku tepat di saat mereka mendengar suara pintu di dobrak.
Dan di sini aku di dalam lemari mengawasi orang tua ku yang sedang di bentak oleh dua orang asing yang menggunakan pakaian serba hitam dengan pisau kecil sebagai senjata.
Dari celah lemari aku bisa melihat ayahku yang sedan beradu mulut, hingga sebuah tembakan terdengar mengaget kan ku. Peluru yang di tembakkan oleh orang asing itu mengenai perut ayah ku.
Berdarah. Aku mulai gemetar menyaksi kan ayah ku yang terduduk tak berdaya dengan darah kian mengalir. Belum lagi, pisau yang di todong di leher sang ibu. Aku semakin takut.Srak..
Mata ku terbelalak saat melihat pakain ibu ku di robek paksa, ibu ku di di telanjangi di depan mata ku. Tangan ku kian bergetar hendak melompat keluar, jika bukan mengingat janji nya pada sang ibu.
Jangan keluar apa pun yang terjadi.. Be good boy oke
Tapi, aku tak mungkin sanggup melihat penghianan lebig dari ini. Namun aku masih terpaku di tempat menyaksikan sang ibu yang di per***a oleh 2 preman di hadapan ayah dan ada anak yang bersembunyi di balik lemari.
Dor...dor...
Sekali lagi, aku tersetak kaget, air mata ku mengalir deras saat melihat orang tua ku terkapar dengan kepala berlubang. Tak puas kah mereka menghina orang tua ku, justru kini membunuh mereka?!.
Mereka masih belum selesai, mereka menginjak kepala orang tua ku hingga hancur dengan sepatu bot keras. mereka.
Cukup...
Aku butuh rencana. 2 orang itu nampak mencari cari, seperti nya mereka mencari ku.
Si pemegang pistol bergerak perlahan ke arah ku,lemari. Dengan pistol tertodong dan aku bisa melihat itu.
Tersisa beberapa cm saja aku melomoat keluar, tangan ku menancap kan pisau tetat di dada kiri nya hingga mati seketika.
"kurang ajar!" teriak pemegang pisau, dia orang yang pertama menyentuh ibu ku.
Si pemegang pisau berlari kearah ku, refleks aku mengelak namun masih kurang beruntung pisau masih mengenai lengan ku. Aku terjatuh tepat di sebelah mayat yang ku bunuh tadi.
Orang itu menatap ku dengan penuh kebencian yang membara, ia bergerak kearah ku. Di waktu yang bersamaan tangan ku menyentuh pistol milik orang yang kubunuh. Pistol itu dingin.
Srak...
Dor....
Gerakan serempak terjadi, tapat di saat pisau itu menancap di bahu ku pistol di tangan ku meledak menembus dada nya. Mata nya terbalalak kemudian ambruk di sebalah teman nya yang sudah mati lebih dulu.
Aku berdiri dengan kaki goyah, lalu berjalan terseok kearah orang tua ku yang sudah meninggal.Satu nama yang bisa ku ingat. Hamdan syuif. Orang asing yang membunuh orang tua ku tadi sempat menyebut nama itu.
Crass...
Pisau itu tercabut dari bahu ku.
"ayah, bunda... Aku janji akan balas rasa sakit ini lebih dari yang bisa di rasa kan oleh manusia!"
Kemudian aku meninggalkan rumah kami, berjalan tentu arah hingga saat akan menyerang jalan aku melihat sebuah cahaya menyilaukan daei jauh.
Aku sempat berfikir, seorti nya aku akan menyusul orang tua ku. Lalu cahaya itu hilang bersama kesadaran ku.
Kemudian aku teringat sesuatu di tengah kegelapan tak berujung, aku belum membalas kan dendam orang tua ku, aku belum boleh mati. Akhirnya mata ku kembali terbuka.
"dia siuman!" sura seorang wanita cantik paruh baya menyadarkan ku bahawa aku sudah tertidur cukup lama di ruangan putih ini.
Setalah pemeriksaan dari sang dokter, sepasang suami istri mulai bertanya pada ku. Mulai dari nama hingga detail tentang hal spele, namun aku hanya mengeleng seolah lupa ingatan. Kecuali satu hal,nama ku. Aku mengatakan siapa nama ku tanpa nama belakang.
Kemudain aku di adopsi oleh suami istri itu. Memberikan ku nama belakang hingga lahir lah nama aska vin carney.
Aku tidak menikmati masa kecil ku, karena tak sedikit pun minat ku pada hal demikian aku mati rasa bahkan tidak pernah tertawa dengan tulus. Tawa ku hanya dalam bentuk formalitas.
Aku tumbuh sebagai lelaki cerdas yang menduduki bangku perkuliahan di usia 14 tahun. Dia antara segala hal, ada sesuatu yang menarik perhatiam ku sejak usia 10 tahun.
Dia anak dari adik ayah angkat ku, nama nya lilith, 2 tahu lebih tua dari ku. Kamu memasuki bangku perkuliahan diwaktu yang bersaan.
__ADS_1
Meski menarik perhatian ku, namun tak membawa hal berarti besar untuk ku. Kemudian aku tau di jatuh cinta pada andrean, ia mengejar nya sampai ke london. Namun naas ia pulang dalam keadaan kecewa. Satu satu nya kemungkinan adalah di tolak oleh andrean.
Aku menghibur nya, membujuk nya bicara. Apa yang bisa di lakukan bocag usia 15 tahun seprti ku saaf ini selain membujuk nya dengan bujukan klise.
Hingga di berkata."aku ingin ke club. aku butuh alkohol!" ujar nya pasti di suatu sore.
Aku sempat menolak, namun setelah mendengar dia berjanji tidak akan bersedih aku menyetujui keinginan nya.
Kami pun tiba di club pukul 8 malam, terlalu sore untuk sebuah klub.
Tapi tanpa kami sadari, kami mabuk dan hilang keaadaran.
Dan saat bangun kami dalam keadaan tak memakai apa pun. Aku tak tau apa yang terjadi, yang pasti kami di jebak.
Kami kembali kerumah setelah memakai pakain, dan kami berjanji untuk melupakan kejadian itu karena menurut kami tak ada apa pun yang terjadi selain tidur.3 hari setelah hari itu lilit pergi entah kemana hingga keesokan hari nya ia pulang. Mata sembab, baju kusut entah apa yang terjadi.
2 bulan kemudian aku menyadari, tubuh lilih lebih berisi, selalu terlambat saat sarapan dan terlebih belakangan dia menolak meminum susu coklat favorit nya, Malah memilih susu original.
Saat hanya kami berdua akhir nya dia mengakui bahwa ia hamil, namun saat di tanya itu anak siapa dia tak menjawab hingga aku mencari tau sendiri kemana terakhir kali ia. Dan ternyata terakhir ia bertemu dengan andrean di sebuah hotel mereka memesan sebuah kamar.
Beberapa bulan setelah nya lilith melahirkan, aku sempat melihat anak nya, aku yang pertama nyambut nya setelah tim medis.
"cantik seprti tuan putri!" puji ku waktu itu.
Bayi itu berhenti menangis saat di pelukan ku. Sejak hari itu aku selaly mengunjungi lilith dan anak nya yang ku panggil tuan putri.
Anak nya tak memiki nama hingga usia 3 bulan, dia menolak semua nama yang di beri kan, tapi juga tidak menerima tuan putri untuk du jadi kan nama sang anak.
Hingga suau hari lilith hilang bersama bayi nya selamaberhari Hari kemudian di temukan tewas si sungai tanpa ada nya sang bayi dan di duga terpisah atau tenggelam atau lebih buruk nya di makan binatang air. Itu informasi waktu itu.
Setelah itu ambisi membunuh ku membesar, hingga aku kerap di panggil psychopath oleh beberapa orang yang mengenal ku cukup dekat seprti dokter angga dan aaron.
Setelah hari itu juga aku menaruh dendam terhadap andrean, kini bertambah 1 dendam ku.
Beberapa bulan setelah kematian lilith kabar kematian misterius hamdan suyuif, tentu saja ulah ku. Tersisa 1 dendam yaitu pada antrean, tapi siapa sangka 3 tahun kemudian terdengar informasi andrean bunuh diri. Tak lam setelah nya sorang wanita melamar pekerjaan sebabagai sekretaris. Miris nya selama 2 tahun aku tidak tahu itu istri nya andrean.
Aku tau saat ada informan mengatakan wanita bernama zoya itu korupsi, hingga aku mencari tahu dan mendapati kenyataan bahwa ia adalah istri dari andrean.
Taklama setelah info itu aku ketahui dia izin cuti setengah hari namun ahir nya meminta full satu hari. Tentu saja aku memberikan nya.
Setelah itu, malam hari nya aku berkunjung kerumah zoya, mengakhiri hidup zoya dengan sedikit siksaan dengan mencongkel mata nya. Lalu membiarkan dial menikmati rasa sakit.
Aku menikmati wajah kesakitan nya hingga dia tak merespon lagi. Saat akab meninggalkan zoya aku melihat sekelbat bayangan, dan segera melesat ke lantai dua untuk menghabisi saksi mata.
Namun siapa sangka yang di temukan mya hanya gadis kecil.
"paman kenapa bibik dan bunda tidur di lantai?"
"mereka mati!" jawab ku sarkas.
"kenapa? Apakah ada pembunuh? Paman selamat kan aku!" gadis kecil itu memohon.
Flash back off
"Saat itu yang terlimtas hanya membalas dendam melintas. Aku berencana menjadi kan mu objek balas dendam selanjutnya, menyiksa mu!" jelas aska mengusap wajah zara yang kini menghadap nya dengan air mata terus mengalir sejak awal bercerita.
"saat aku berhasil memerawani mu waktu itu aku sudah selangkah untuk berhasil ternyata aku salah,aku sama sekali tak bisa mengabaikan mu terutama setelah kau menyerah kan diri akhhh... Kau membuat ku gila sayang!" kesal aska seketika menguecup singkat bibir zara.
"lalu?" tanya zara mengusap mata wajah nya menghapus air mata. ia ingun tau kelanjutan yang jelas jelas ia tau.
"lalu aku jatuh cinta pada mu tamat!" akhri aska malas melanjutkan cerita yang menurut nya tak penting intu dari 28 tahun yang lalu sudah ia cerita kan.
"ih... Kok langsung tamat!" zara memkul dada aska.
"ahahaha.... Ampuni aku nyonya aska!" seloroh aska melindungi diri nya. Zara setengah berdiri hendak memukul kepala aska, tanpa sadar memamer kan tubuh bagian atas nya.
Aska terdiam menatap dada zara, bukan payudara yang menjadi titik beku nya, melainkan sebuah tanda yang hampir memisahkan nya dengan zara.
"apa yang paman lihat!" teriak zara menenggelam kan kembali tubuhnya dari balik bathub yang di penuhi biuh melimpah.
"aku melihat ini!" aska mengusap dada kiri zara, tepat di atas payudara zara. Luka bekas tembakan.
__ADS_1
"ini bukti bahwa aku pernah hampir kehilangan mu!"jelas aska sendu.
"itu tak masalah... Aku sama sekali tidak menyesal!"
"kenapa?"
"karena dengan tertembak nya aku waktu itu kau bisa keluar dari jerat gangguan psychologi mu!"
Cup...
Sebuah kecupan lagi lagi mendarat di bibir aska. Tentu saja untuk menyenangkan aska.
"ah... Aku ingat sesuatu!"
"apa?"
"ayah angkat mu masih hidup, dia di tahan selama ini oleh sepupu ibu mu yang menjadi saingan ibu mu sendri.!"
"sungguh? Diaman dia sekarang?" tanya zaea antusias.
"hey hey... Nyonya muda, jaga sikap mu, suami mu ini seorang yang mudah cemburu!"
"apaan sih... Zara serius. Bagaimana kabarnya? Apa paman berbuat sesuatu yang buruk padanya?"
"aku tidak melaku kan hal buruk pada nya"
"kenapa?""karena aku rasa dendam tak akan pernah berakhir! Dan aku tak ingin kehilangan mu!"
"hemmm... You so sweet..." lagi lagi dan lagi zara mengecup bibir aska.
"lalau di mana dia sekarang?"
"kau mau tau?"
" ya!" jawab zara antusias.
"kau harus tidur kan dia dahulu!" ucap aska ambigu.
"dia?"
"junior ku, kau menduduki nya apa kau tidak
merasakan dia bangun?!" aska menggoda zara.
Zara memeutar mata nya malas sekaligus kesal melihat tingkah aska yang meminta jatah tak tau tempat, tapi tak masalah zara juga sedanf ingin.
Hampir 1 jam kemudian mereka keluar dalam balutan bathrobe masing masing dengan warna yang sama. Ungu gelap.
"apa paman tau arti nama ku?" tanya zara yang sedang memakai pakain nya dengan posisis membelakangi aska. Berbeda denagn aska yang justru menghadap
zara.
"hem... Apa?""arti nama ku adalah tuan putri, entah bahasa apa aku lupa, yang pasti artinya itu!" jawab zara berbalik menghadap aska yang sudah selesai memakai baju kaos hitam lengan pendek di padu celana kain donker.
"waw... Sungguh?" tanya aska menarik pinggang zara hingga tubuh mereka menempel.
"sure, setelah mendengar cerita mu, seprti nya mama memberi ku nama zara karean diri mu. Zara, tuan putri. Seprti yang kau gunanakan untuk memanggilku waktu kecil.!" jelas zara.
"aku mencintaimu!" ucap aska kelain arah.
"aku juga!"
"ayo lanjut kan yang
Tok tok tokk
"zara, aska, kalian kenapa belum keluar? Si kembar udah nangis tu!" terdengar suara sofi memanggil dari luar kamar.
"mampus!" zara mendorong tubuh aska menjauh namun gagal.
"one kiss!"
__ADS_1
"oke!"
Mereka berciuman sebentar lalu keluar menuju