
"pak ini dokumen yang bapak minta!" sang sekretaris menaruh tumpukan map yang ada di tangan nya ,lalu menaruhnya di atas meja setelah mendapatkan anggukan dari Aska.
"wajah bapak cerah sekali hari ini!" ujar wanita itu sambil tersenyum.
Aska hanya diam. Memberi isyarat agar sekretaris nya keluar.
Sekretaris Aska itu adalah wanita tua yang tinggal di sebuah panti sebagai kepala pengurus atau ibu besar. Semua gaji nya ia jadi kan biaya untuk panti. Tak heran Aska tidak menaruh rasa was was. lagi pula Aska sudah memperkenalkan kedua sisi dari diri nya. Dan jika saja ada kecurangan sedikit saja maka nyawa anak panti taruhan nya.
Imbalan kesetiaan wanita itu besar. Gaji nya 2 kali lipat dari sekretaris sebelumnya.
Kembali ke Aska yang sibuk dengan pikiran tak jelas yang membuat nya tak fokus pada dokumen nya.
Bukan karena Zara yang menjadi pelayan nafsu nya dan juga bukan Karena sekretaris nya yang sering mengeluh sakit.
Aska tak mengerti. Sejak ia bertemu dengan luciver ada sesuatu yang menarik.
Sudut bibir Aska terangkat. sebuah senyuman merekah, ia merasa tertarik untuk bekerja sama dengan luciver, di balik rasa tertarik nya ia sedikit heran, pasar penjualan perusahaan luciver sangat bagus.
Jika pasar penjualannya baik dan bagus, kenapa harus bekerja sama dengan perusahaan nya yang sama sama punya nilai saing?. Kenapa menaruh Harga tinggi agar bisa lolos kerjasama?.
Aska mulai curiga, jangan-jangan luciver adalah agen mata mata yang ingin menangkap Aska?
Dia berusaha masuk keruangan lingkup Aska, mengorek informasi lebih dalam hingga didapat informasi rahasia sosok lain di balik wajah tegas dan tak berdosa Aska.
"mari kita ikuti alur permainan kalian!" kekeh Aska tersenyum meremehkan.
Sebulan ini Aska sudah 3 kali pulang ke rumah Zara dengan alasan meminta untuk di layani.
Bulan bulan berikutnya ia semakin sering meminta, bahkan lebih dari 1 kali satu minggu.
Zara dengan patuh nya menuruti keinginan Aska seperti sore ini. Awalnya Aska berjanji mengajak nya ke mall untuk beli beberapa perlengkapan kuliah yang harus di lengkapi , juga beberapa buku penting sebagai acuan belajar.
Ketika ekspetasi tak sesuai harapan, Zara hanya mendesah kecewa saat mendapati Aska tertidur pulas .Zara menyentuh wajah Aska dengan lembut, mengelus rahang tegas dan kokoh itu.
Aska terusik dari tidur nya, membuka mata nya langsung menemukan Zara yang tengah mengelus wajah nya.
"mau tambah lagi?" tanya Aska ambigu.
"tambah? Tambah apa?" tanya Zara dengan polos nya.
"hehe, kau menggoda ku?"
"t-tidak... Mungkin kau lupa, kau sudah janji mengajak ku ke mall untuk belanja kebutuhan.!" jelas Zara merenggut kesal.
Aska duduk. Meraih gelas dan sebutir obat. Lalu menyerahkan pada Zara untuk di minum.
"obat kontrasepsi mu juga sudah habis!" ujar Aska menaruh gelas yang kosong oleh Zara.
__ADS_1
Zara mengguk tanda ia paham. Dengan segera ia menarik selimut dan meneliliti diri nya yang masih telanjang, berlari menuju kamar nya.
Aska terkekeh melihat gadis itu yang masih malu malu untuk bertelanjang di hadapan nya. Padahal 4 bulan terakhir ini sudah mereka habis kan untuk bercinta. Meski tidak setiap hari.
Aska menoleh pada sang adek yang agak tegang.
"kau sudah di puaskan oleh Zara selama 4 jam dan kau masih Minta?" Aska bertanya pada organ tubuh nya sendiri.
la heran dengan kejantanan nya yang tak sejalan dengan fikiran nya.
"paman buku mana yang bagus?" tanya Zara menunjukkan 2 buah buku dengan tema yang sama namun judul berbeda.
"yang putih!"
"aku rasa yang hitam deh karya hsyina kuro, tapi paman benar juga yang putih bagus karya kenan tapi..."
"ambil kedua nya za!" ujar Aska mengakhiri pertanyaan sekaligus pernyataan yang tak jelas itu.
"wah.. Terimakasih paman" Zara memasukkan buku kedalam troly.
Cup...
Sebuah kecupan mendarat di pipi Aska.
"terimakasih, I love you!" ucap Zara segera mendorong troly ke rak rak lain.Kelakuan Zara ini bukan yang pertama kali namun sudah berlalu kali dan selalu mendapat plototan dari Aska dan berakhir dengan kekehan kegelian Zara.
"paman kenal kan ini dion, teman smp ku!" ujar Zara.
"dion om!" pria bernama dion itu mengulurkan tangan. Namun urung di sambut Aska. "ayo pulang sekarang!" Aska terdengar menahan amarah.
Setibanya nya di rumah Zara di banting ke tempat tidur.
"katakan siapa lelaki tadi?" tanya Aska degan sorot marah. Pasal nya Aska melihat pria itu merangkul pundak Zara.
"aku sudah bilang kan teman smp!" jawab Zara takut takut.
"lalu kenapa peluk pelukan?" murka Aska langsung menelanjangi Zara.
Zara hanya pasrah kembali di gauli oleh sang paman yang menurut nya sedang salah paham.
Setengah jam kemudian Aska keluar, menyemburkan ****** nya dengan semangat.
Keduanya terengah. Aska cepat mendapatkan orgasme nya karena dalam keadaan marah.
Tangan lembut Zara meraih wajah berkeringat Aska. Lalu Zara tersenyum lembut.
"sudah lebih tenang?" tanya Zara lembut.
__ADS_1
Aska hanya diam. Tidak meng iya kan atau pun meng tidak kan pertanyaan Zara.
"teman ku tadi tidak memeluk ku. Kau tau aku terpeleset dan ada buku jatuh menimpa ku. Dia membantu ku bangun.!" jelas Zara dengan lembut.
Bicara dengan Aska yang sedang emosi tak ada gunanya, Zara harus menunggu Aska tenang atau lelah menggauli nya. Disitu adalah kesempatan Zara menjelaskan.
Aska masih diam menunggu Zara mengatakan sesuatu yang terlihat menggantung di milik wajah nya.
"ayo lanjutkan!"
Akhirnya kalimat yang di tunggu keluar juga, berakhirlah malam mereka penuh dengan percintaan panjang dan penuh keringat.
Pagi hari, Zara harus memberikan jatah pagi untuk sang paman. saat Aska di rumah Zara melayani Zara seperti minum obat 3 /2 kali sehari.
"pamaan Cepat selesai kan.." gerang Zara memohon.
Jarak dari rumah ke kampus hampir 45 menit dan sekarang tersisa 2 jam sebelum jam kampus. Sedangkan Zara belum mandi.
Selang beberapa menit Zara langsung melepaskan diri dari Aska. Ia tak peduli dengan tubuh nya yang Telanjang berlari meninggalkan kamar sang paman.
la tak sempat menarik selimut atau apapun. Di pikirkan nya sekarang hanya segera mandi dan ke kampus.
"aku antar!" ujar Aska sudah berdiri di pintu garasi.
Zara mengangguk melempar kunci mobil mini kuper milik nya ke sofa dan berlalu kedalam mobil lamborgini milik Aska.
Mobil melesat membelah jalan. Hingga keduanya berhenti di depan kampus.
Setengah jam sebelum jadwal akhirnya Zara sampai."aku akan menjemput mu!"
Zara mengguk faham. Mengecup pipi Aska.
"aku berangkat. Love you paman!" ucap Zara berlari memasuki pagar kampus.
.
.
.
.
.
TBC
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπ»π»π»π»π»π»π»
__ADS_1