Psycopat (Tamat)

Psycopat (Tamat)
(22)


__ADS_3

Terkadang dokter anggara terlihat seperti memiliki kepribadian ganda. Di satu sisi ia terlihat humoris dan di satu sisi saat ia serius ia akan terlihat sangat tegas dan dingin.


"aku yang memberikan nya!" jawab Aska lemah dan tak berdaya.


"kau ingin membunuhnya?" Sebuah gebrakan dari angga tak membuat Aska tersulut emosi. Ia sadar, bersalah dan ia pantas di salahkan.


"aku tak pernah berfikir untuk membunuh Zara, hanya saja aku tak yakin dengan anak yang ada di perut nya!" jawab Aska menatap anggara.


"dokter sebelumnya pasti mengatakan resiko jika Zara keguguran? Apa kau masih ingat?"


"aku sempat lupa" jawab Aska lemah. Tak pernah sekalipun anggara melihat sisi lemah Aska. Ini kali pertama.


"dia sempat kritis dan hampir saja kehilangan nyawa jika saja pasien tidak berjuang lebih keras. Kedepannya jangan sembarangan mengambil keputusan, kau akan terguncang jika kehilangan dia!" suara anggara melembut.


"cukup, seperti ini saja aku hampir gila!" ucap Aska.


"dia akan sadar setelah beberapa jam, kau bisa menjenguk nya jam 4 sore! Dan kau pingsan cukup lama!"


"Terimakasih" jawab Aska menatap anggara. ucapan Aska tulus dan berlalu keluar.


Sekali lagi ia di buat terperangah oleh sikap Aska. Ucapan terimakasih yang tulus itu, sudah berapa lama tak keluar dari mulut pedas Aska?


Angga sangat tabjub dengan kehadiran Zara yang mengubah seluk buruk Aska.


Semoga mereka baik baik saja. Harap anggara


Zara menyentuh kepala nya, rasa sakit itu masih mendera kepala nya. Tapi tidak dengan perut nya.


Perut?. Zara sontak menatap perut rata nya, lalu mengusap nya dengan gerakan pelan. Seketika air mata nya jatuh entah kenapa. Mungkin insting seorang ibu yang tak lagi merasakan kehangatan di dalam perut nya.


"kau bagun?" Zara mengankat kepalanya, menoleh pada asal suara.


Disana Aska duduk pada kursi singgel berwarna kream. Terlihat menyatu dan serasi dengan gaya Aska menggunakan kaus turtel neck hitam dan celana hitam.


"pa_Man?..." panggil Zara dengan suara serak dan lemah, ia kembali menatap perut nya yang tak tertutupi oleh baju karena di singkap oleh nya.


"apa dia sudah tidak ada? Anak kita!" ucap Zara melirih, tak berdaya. Seakan tak yakin dengan perasaan kosong nya itu.


Aska spontan memeluk Zara. Dan bagi Zara, pelukan itu cukup menjadi jawaban dari pertanyaan nya.


"aku ibu yang buruk... Bahkan aku tak bisa menjaga nya sebelum di lahir kan!" ruang Zara dalam dekapan Aska.


"aku ibu yang buruk !" Pelukan Aska semakin mengencang, ia tak sanggup mendengar tangisan pilu dari Zara.


"sttt... Jagan menyalahkan diri mu sendiri... Ini adalah takdir.. Setidak nya kau selamat, itu sudah cukup bagiku." bisik Aska di puncak kepala Zara menghirup aroma Zara dalam dalam.


Tangan Aska bergerak, menyentuh pundak Zara, menarik kan tubuh mereka hingga kini mereka saling bertatap muka.


"nanti kita bikin lagi ya?!" goda Aska mencoba menghilangkan luka gadis itu.


"paman!" Zara berucap kesal dengan suara serak nya.


"aku akan panggil dokter dulu, tutup perut mu, aku tak rela dia melihat perut mu!" ujar Aska menuju pintu.


Setelah pemeriksaan, Zara kembali di beri obat tidur agar bisa istirahat dengan cukup. Zara harus menggunakan obat tidur karena ia tidak bisa tidur meski jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.

__ADS_1


Aska senantiasa duduk di kursi singgel samping tempat tidur Zara, menatap dalam ke arah Zara yang tertidur lelap akibat obat tidur.


Aska tau, Zara tak bisa tidur karena kepikiran kehamilan nya yang gagal. Meski Zara berkata dia baik baik saja dan tidak mempermasalah kan, Aska tau Zaratidak sedang baik baik saja.


Aska merasa bersalah, sangat. la masih belum memberitahu kan perihal penyebab Zara keguguran tidak, Aska takyakin pernah siap memberi tahunan kebenaran nya, menghadapi Zara yang akan membeci nya,atau Zara yang memilih meninggalkan nya, Aska tak kuasa menahan nya.


Aska bersandar pada kursi nya, melipat tangan nya didada. Ia bersedekap dengan mata tetap mengawasi Zara tanpa beralih sedikit pun. Seolah Zara akan hilang jika ia mengalihkan pandangan nya barang sejenak.


"dia tetap akan di sana meski kau tertidur!" sebuah suara mengintrupsi Aska dari arah pintu.


apa maksud mu?" tanya Aska tak senang, masih tak mengalihkan pandangan nya dari Zara.


"tak akan ada yang berani masuk kekamar ini untuk menculik Zara, atau pun Zara kabur. Mengingat kau meletakkan 2 penjaga di pintu dan 2 di balkon! Istirahat lah kau belum tidur sejak kemarin, sejak Zara sadar kau selalu mengawasi nya.!" ujar aron menepuk pundak Aska. Namun urung mendapatkan respon.


"sudah pukul 5 pagi. Tidur lah setidak nya 30 menit, jangan membuat Zara sedih. Bukan nya dia sudah bisa pulang nanti siang? Istirahat lah dulu!" aron mulai tak sabar dengan teman nya ini.Aaron masih tak mendapat kan respon. Mata nya yang semula menatap Zara beralih pada Aska.


"tertidur?" Aaron tersenyum sinis melihat betapa polos nya sosok Aska yang tertidur.


Aron tak mengganggu Aska, memilih duduk di sofa dan menyibukkan diri nya dengan laptop nya. la ingin memberikan sesuatu untuk Aska.


Zara bergerak lemah, mata nya bergerak terbuka menelusuri ruangan serba putih itu. Ternyata ia masih di tempat yang sama.


"paman?" lirih Zara saat mendapati Aska tertidur


dengan posisi terduduk.


"sttt.... Dia baru saja tertidur 3 jam lalu, dia sudah tidak tidur selama 3 hari sejak kau bangun." bisik aaron.


"kenapa?" balas Zara ikut berbisik.


"kenapa?" tanya Zara dengan mata melebar ingin tau.


"di memikirkan mu. Dia berfikir bagaimana cara membahagiakan mu tanpa melihat air mata mu dan_"


"apa yang kau ajar kan pada nya?"Kalimat aron terhenti mendengar suara lirih yang mengancam dari arah samping kiri Zara, dari Aska.


"tidak, ah.. Aku akn mengurus administrasi kepulangan mu!" ujar aron mengusap tangan kanan Zara meninggalkan 2 lembar kertas secara diam diam.


Zara yang paham langsung menyembunyikan kertas yang di berikan.


"aku dengar paman tidak tidur selama tiga Hari!" Zara menatap Aska yang membereskan beberapa barang kedalam tas.


"jangan dengarkan, dia berbohong! Apa pun yang dibilang nya itu tidak benar!" ujar Aska tak menoleh.


"permisi.. Saya akan membuka kan infus nona!" ujar sang suster sopan dan di selingi rasa takut. Karena saat masuk keruangan itu ia di periksa lebih dulu oleh bodyguard.


"silah kan!" ujar Zara tersenyum ramah.


"paman kenapa kau tidak keluar?" tanya Zara malu malu.


"kenapa?"


"a-aku akan mengganti baju, keluar lah sebentar!"


"aku sudah sering melihat nya bukan?"goda Aska di

__ADS_1


telinga Zara, meninggalk gelenyar aneh.


Aska mengangkat kepala nya sedikit, dan berakhir dengan mengecup singkat bibir Zara.


"panggil aku jika selesai!" Aska tersenyum seraya mengusap kepala Zara dengan sayang, lalu keluar.


Setelah Aska hilang dari pandangan nya, Zara menoleh pada suster yang berdiri kaku dengan wajah memerah. la tau itu karena Aska mencium nya di hadapan sang suster ditambah lagi Aska tersenyum mengakibatkan ketampanan Aska berlipat berkali-kali kali.


Atau karena panggilan paman?


Zara menoleh kembali pada sang suster yang terlihat gerogi.


"dia suami ku, aku memanggil nya paman karena sudah terbiasa dari kecil bersama nya. Dia teman ibu ku!" bohong.


Zara terpaksa berbohong ia tak ingin di anggap menyimpang.


Sang suster mengguk tersenyum lega. Wajah kaku nya tanpa melunak. Ternyata tembakan Zara benar, suster itu salah paham.


Salah paham?


Bukan kah semua nya memang sallah? Tak seharusnya nya mereka melakukan itu meski tak terikat darah. Tidak seharusnya.


Namun Zara tak punya pilihan, Aska menginginkan nya untuk memuaskan kebutuhan nya, dan ia harus berikan sebagai ucapan terimakasih. Bukan kah itu tidak terlalu buruk? Entah lah ia pun mulai tak mengerti.


"sudah selesai nona!" ujar sang suster membereskan beberapa kain kotor.


Zara masih senantiasa terduduk di bankar tanpa ada niat bergerak. la meraih kertas yang di berikan aaron tadi.


Tiket liburan ke bali


Zara tersenyum senang segera memasukkan tiket kesakitan baju nya saat melihat ganggang pintu bergerak.


"kenapa lama sekali?" sunggut Aska berjalan kearah Zara.


"sa_saya permisi!" sang suster terlihat gerogi terhadap Aska.


Sang suster berlalu pergi meski tak ada jawaban. la tak mau menjadi obat nyamuk pasangan romantis itu."ayo!" Aska memberi kan punggungnya kepada Zara. Isyarat bahwa ia akan mengendong gadis itu.


"paman aku bisa jalan!" tolak Zara malu. Padahal dihati ia sangat ingin di gendong.


"kau koma selama 2 hari dan baru siuman selama 3 hari. Beruntung kau bisa pulang lebih awal,jadi jangan banyak tingkah dan cepat naik!" Aska mengomel kesal.


baik!" jawab Zara memeluk leher Aska dan menaiki punggung Aska.


Mereka berjalan keluar menuju parkiran dengan pikiran masing masing. Aska yang cuek sedang kan Zara yang meringis malu di gendong di tempat umum.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2