
Semenjak aku gagal membawa Kier dia tak menghubungiku lagi. Aku yang jadi bingung sendiri bagaimana caranya agar aku bisa membawa pergi Kier keluar dari rumahnya. Aku tak punya senjata alasan untuk menemuinya lagi. Apalagi aku selalu dingin padanya. Dimulai dari aku terbangun dari koma, aku tak bersahabat padanya. Bahkan aku kerap mengabaikanya. kutolak juga semua pemberiannya. Jika tiba-tiba aku datang padanya, dia akan merasa aku sebagai orang yang aneh.
"Sya.. Menurut lu, aneh gak kalo misalnya cewek awalnya jutekin orang terus-terusan, terus tiba-tiba si cewek itu ngajak ketemuan?" Tanyaku pada temanku.
"Hah, lu jatuh cinta sama siapa?" Tanya rasya.
"Ih ini bukan soal cinta, ini bukan tentang gue juga. Misalnya nih tujuannya si cewek itu ngedeketin cowok itu buat ngambil sesuatu yang awalnya memang hadiah buat dia, tapi dia tolak.
Terus tiba-tiba berubah pikiran, si cewek jadi mau hadiah itu karena alasan yang darurat,
Aneh gak menurut lu?" Ungkapku menjelaskan.
"Aneh lah,
Plin-plan banget tuh cewek, Kalo mau ya bilang aja mau, Ngapain gengsi sok so an nolak,
Nyeselkan jadinya" Jawab Rasya.
"Gue bukan plin-plan atau gengsi ya
Itu semua demi.... " Aku tak melanjutkan ucapanku.
"Demi..?
Demi apa?" Tanya rasya.
"Ah udahlah ngomong sama lu jadi bikin tambah pusing" Ungkapku kesal.
"Lah kok ngegas" Ucap rasya.
"Lu ngomongin apaan sih, bingung gue jadi nya,
Eh btw tadi lu bilang bukan tentang lu.. Kok... " Tanya rasya tak selesai bicara. Aku pergi meninggalkan rasya.
"Eh lu mau kemana?" Tanyanya lagi.
"Toilet" Jawabku singkat sembari berjalan ke arah toilet.
Aku tak mungkin mengatakan hal yang kupikirkan sebenarnya, karena aku tak mau rasya berpikir aneh tentang Kenan, terlebih itu hanya prasangka ku semata.
"Nih anak kemana sih.. kok lama amat di toilet" Ucap Rasya bergumam sendirian.
"Gue pulang duluan" Tulisku di whatsapp, Ku kirimkan pada Rasya temanku. Dia pasti kesal
karena aku meninggalkannya di Restoran, terlebih aku belum membayar makananku.
__ADS_1
Aku sedang tidak punya tenaga untuk berlama-lama menghabiskan waktu dengan teman-temanku.
Setelah kepergianku Rasya tak pulang, ia menunggu teman kami yang telat datang. Selang beberapa menit orang yang ditunggupun datang.
"Dari mana aja lu baru dateng?" Omel Rasya.
"Sorry" Jawab Geka Dia tak menjelaskan alasan dia terlambat.
"Btw Erata juga belum datang?" Tanya Geka.
"Udah pulang duluan" Jawab Rasya.
"Jadi.. Lu nungguin gue?
Makasih loh" Balas Geka sambil tersenyum.
Rasya diam tak merespon.
Geka melihat dan memilih menu yang akan dia pesan. Setelah memilih, pelayan Restoranpun mencatat dan segera pergi dari meja kami untuk menyampaikan pesanan kepada koki.
Sembari menunggu Mereka ngobrol banyak hal, mereka juga membicarakanku yang sedang kurang bagus perasaannya.
Tak lama makanan tiba, Gekapun memakan makanan yang ia pesan. Setelah makanan tinggal setengah, Rasya pamit pulang.
"Karena lu telat, lu yang bayar ya! " Ucap Rasya.
Rasya pun pergi meninggalkan Geka.
"Apa-apaan nih.. Jadi dia nungguin gue cuma buat agar gue bayar makanan mereka" Gumam Geka sambil geleng-geleng kepala.
Aku mencoba menghilangkan prasangka ku, ku putuskan untuk menjalani hari-hariku seperti ketika saat aku belum mengenal Kenan ataupun Kier. Ku mengabaikan ingatan dalam mimpi-mimpiku kemarin.
Sampai tiba waktunya tahun pelajaran baru, aku kembali mendaftar kuliah. Aku diterima di Universitas Segitiga, tempat berbeda dari sebelumnya ku mendaftar kuliah di tahun lalu.
Tak ku duga, di sana aku bertemu lagi dengan Kenan. Bukan sebagai senior junior, tapi kita satu angkatan.
"Lu bukannya tahun lalu udah kuliah di kampus lain ya. Kok tiba-tiba kuliah di sini, dan kita jadi seangkatan?" Tanyaku.
Sebelum bertanya itu kami berbasa-basi terlebih dahulu menanyakan kabar dan sebagainya.
"Nyari suasana baru" Jawab Kenan.
"Hah" Ucapku bingung.
Jawaban yang membuatku bingung, terlebih dia tetap mengambil Jurusan yang sama seperti di kampus sebelumnya.
__ADS_1
Hal itu kembali membuatku teringat tentang mimpiku, kami kuliah di Universitas Segitiga dan kami satu angkatan.
"Kier merindukanmu, kapan-kapan kunjungi dia! Ungkap Keiki.
Dia mengatakan itu seolah aku sering bermain dengan Kier dan sudah lama tak bertemu. Padahal iapun tahu aku hanya pernah bertemu dua kali dengan Kier. Pertemuan pertama ketika dia menjadikan Kier kado untukku namun kutolak, pertemuan kedua ketika ku datang ke rumahnya dan berpura-pura mengambil barang yang ketinggalan. Dan pertemuan keduapun aku hanya bermain sebentar dengan Kier, bagaimana mungkin Kier merindukanku.
"Lu masih merawatnya?" Tanyaku keceplosan.
Tak seharusnya ku katakan itu pada orang yang memelihara binatang. Apalagi ia baru merawatnya hanya beberapa bulan.
"Iya. Dia masih sehat, tanpa luka" Jawabnya.
Dia memberikan jawaban yang kui nginkan, tapi tak seharusnya orang normal mengatakan itu. Jika aku jadi dia pasti aku kesal mendengar perkataanku sendiri dan memberikan jawaban bernada sinis seperti
"Maksud lu gue gak mampu rawat dia?
Atau hal-hal mengenai aku yang selalu berpikir negatif tentang dia"
Tapi dia tidak melakukan itu, karena dia bukan aku. Dia begitu tenang. Seolah dia tahu tentang kecurigaan ku bahwa dia seorang psikopat.
"Kapan gue bisa menemui Kier?" Tanyaku.
"Sore ini pulang kuliah, mau?" Tanyanya.
Jawaban yang tak terduga lagi.
"Gue gak bisa sore ini,, next time kali ya" Jawabku.
"Mau kemana?" Tanyanya.
"Ada janji sama temen" Jawabku berbohong.
Sebenarnya aku tidak ada janji apapun dengan siapapun, aku hanya belum siap datang bertamu ke rumah Kenan lagi. Aku hanya terkejut karena dia terlalu mendadak memintaku menemui Kier.
Sore sepulang kuliah aku hanya pulang ke rumah, tak kelayapan kemana-mana.
-
-
-
-
-
__ADS_1
TBC