Psycopat (Tamat)

Psycopat (Tamat)
(19)


__ADS_3

...Boleh kah ia mencintai mahluk ini?_...


...sebuah kenyataan yang jauh di dalam hati Zara rasakan....


Sering ia mengatakan I love you namun tak pernah mendapatkan balasan. Bahkan tak jarang plototan yang didapat nya.


Zara tersenyum hangat melupakan kesedihan nya.


"teman ku tadi tidak memeluk ku. tadi aku terpeleset dan ada buku yang menimpa ku. Dia membantu ku bagun!" jelas Zara masih dengan senyum hangat nya.


Aska masih diam tak bergeming.


"ayo lanjutkan!" ajak Zara.


Pertama kali nya ia menawarkan diri nya untuk di gauli sang paman.Setelah sempat salah paham, akhirnya Zara dan Aska kembali seperti semula, kembali kepada percintaan mereka yang panas dan mengarah kan.


Tanpa Zara sadari ,di pagi hari Zara salah berucap. Ucapan yang sama sekali tak Zara ketahui dimana letak kesalahan nya.


"paman hari ini libur dulu ya, itu Zara sakit!" ujar Zara memandang sang paman penuh harap.


Wajah Aska tetap datar tak terbaca. Wajah itu tidak menunjukkan iya ataupun tidak.


Hati Zara mencelos saat Aska keluar dari kamarnya dan berlalu pergi tanpa kata, menyisakan Zara yang terduduk dengan wajah terluka. Sekuat ia menahan, sekuat itu pula cairan sebening kristal itu meluncur menciptakan aliran sungai di wajah nya, menyisakan bekas basah pada selimut yang ditetesi air mata.


Pertahanan Zara runtuh seruntuh nya, ia bergelung di balik selimut dengan mikey di pelukan nya.


"mikey, aku kenapa menagis?" tanya Zara menatap boneka mikey mouse.


la memeluk mikey dengan kuat, menyalurkan rasa sakit yang tak bisa ia gambar kan, lama, hingga ia jatuh terlelap. Esok nya Zara bangun, dan tak menemukan Aska di sudut mana pun rumah, lagi air mata nya jatuhberlomba tanpa biasa ia kendalikan.


Hari ini Zara berencana ke kantor departemen pendidikan mengurus angket kuliah. Dan kebetulan kantor departemen pendidikan itu sangat dekat dengan kantor Aska.


Dengan perasaan senag, Zara menenteng container bekal memasuki lift menuju ruangan sang paman. Setelah mengetuk pintu, dan mendapat izin masuk, Zara segera masuk dengan senyum hangat nya, menutupi hati nya yang gundah.


"siapa yang memberi mu izin kemari?" pertanyaan tajam itu menusuk langsung ke jantung Zara. Menyesal kan dada yang telah penuh air mata. Apa arti dari percintaan mereka selama ini? Apa hanya Zara yang menganggap nya spesial?.


"aku ada keperluan di kantor departemen pendidikan tak jauh dari sini jadi sekalian membawakan paman makan siang!" jawab Zara masih mempertahankan senyum nya yang terasa berat.


"tapi kalau paman tak mau, aku akan bawa pulang Lagi!" lanjutnya membalikkan badan nya, berusaha secepat mungkin meninggalkan ruangan itu, ia tak yakin bisa bertahan lebih lama.


Baru setengah pintu terbuka, pintu itu kembali di tutup oleh lengan kekar yang kini mengukung nya."taruh di meja!" perintah itu mengalun cepat.


Zara mengangguk segera menaruh bekal itu di atas meja dan bergegas keluar setelah sebelumnya berpamitan.


Zara mendengar teriakan frustrasi... Itu dari ruangan Aska. Zara yang masih berdiri di pintu mendengar teriakan kekesalan dan diiringi bantingan benda. Benda itu adalah bekal yang ia bawa.


Dada Zara berdenyut lirih. Dengan mata berlinang air mata ia segera pulang ke rumah.


Di mobil, sang supir hanya diam memerhatikan majikan nya menagis, supir kali ini hanya pria kira kira berusia 55 tahun. orang bisa yang di pekerja kan Aska.


Setelah kejadian itu hampir sebulan Aska tak pulang, hanya ada Zara.


Selama satu bulan ini Zara sibuk meyakinkan kan diri nya bahwa ia tidak mencintai Aska. Tentu Perjuangan nya untuk membunuh perasaan nya kepada Aska butuh tenaga ekstra, terbukti dari Zara yang sering tiba tiba tertidur dimanapun dan kapan pun.


Dan di malam itu, Aska pulang. Dan pagi itu darah di mana mana.Satu bulan tanpa Aska, bukan waktu sebentar bagi Zara. Tidak sebelum Aska merenggut semua nya. Tidak sebelum mereka menghabiskan malam malam panas penuh keringat mereka. Dulu ia tak pernah mempermasalah kan Aska yang bahkan tidak pulang berbulan bulan.tidak pernah. Kini berbeda, mereka pernah saling memuaskan, saling memuja saling berpelukan bahkan banyak hal hal yang terjadi lainnya.


Mengingat Aska yang selalu ketergantungan dengan nya. Selalu meminta jatah hampir setiap hari membuat Zara gelisah. Satu bulan di luar sana tanpa menyentuh nya? Apa itu artinya Aska sudah bosan dan mencari yang baru?. Zara mulai merasa cemburu. Cemburu yang tak bisa di jelas kan. Apa hak nya mengatakan cemburu? Bukan kah waktu itu Zara yang menyerahkan diri kepada Aska dengan suka rela?. Bukan itu artinya Zara siap ketika Aska menemukan pengganti nya yang jauh lebih menarik? Benarkah?.

__ADS_1


Benak nya kini di penuhi kata kata yang tak bisa di jelaskan nya. Penuh dengan firasat yang membuat perut nya bergejolak, perut nya perih. ia baru ingat, ia belum makan malam dan ia tak ingin, saat ini yang Zara inginkan hanya tidur.


Tidur lelap, begitu lah yang Zara rasakan hingga kenyamanan tidur nya terganggu oleh ucapan di kepala nya, lembut dan penuh kasih sayang. perlahan mata coklat keemasan Zara terbuka, menemukan sosok yang sangat di rindukan nya belakang ini."paman?" Zara terlihat tersenyum senang.


Aska mengangguk. Zara merasakan bibir dingin aska menempel di bibir nya dengan lembut. Menciumnya dengan perlahan hingga Zara ikut membalas ciuman itu. Meninggalkan jejak basah dan hangat di bibir Zara,


Zara membalas ciuman sang paman, menyampaikan rindu yang sudah sejak lama ia tahan, rindu yang tak kan pernah tersampaikan lewat kata - kata.


"Boleh kah?" tanya Aska mengelus paha Zara dari balik celana tidur.


Zara tersenyum mengangguk. Pertama kalinya Aska meminta izin sebelum menggauli nya dan tentu itu menjadi kebahagian tersendiri bagi Zara.


Mendapat lampu hijau dari Zara, Aska segera melepas pakaian nya dan Zara. Zara hanya pasrah di bawah kukungan Aska yang penuh kendali.


Kejantanan Aska mengesek kewanitaa. Zara dengan tergesa, namun tidak langsung masuk ia tau Aska melakukan pemanasan. Tak berselang lama Aska menenggelamkan dirinya jauh kedalam Zara, menghentak hentakan kan bagian tubuh nya dengan cepat dan bersemangat.


Entahlah, Zara merasa ada rindu yang di sampai kan lewat percintaan mereka kali ini.


Zara menatap mata abu abu sang paman yang juga menatap nya dalam, jauh tenggelam bersama percintaan mereka yang semakin panas dan penuh keringat.


Setengah jam kemudian Zara kembali merasakan pelepasan, di susul Aska yang juga mendapat kan pelepasan nya.


Kepala Zara menoleh pada weker bentuk katak yang ada di nakas. Ternyata sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.


"sudah?" tanya Zara pada Aska yang terbaring di sebelah kasur nya yang kosong.


Jika di ingat ingat, mereka tak pernah bercinta di kamar Zara, selalu di kamar Aska atau di sofa. untuk pertama kalinya mereka bercinta di tempat tidur Zara dengan mikey sebagai saksi percintaan mereka malam ini.


"belum!" jawab Aska menatap tepat pada manik Zara.


"besok bagai mana?" Zara coba bernego. Zara tau berapakali pun mereka bercinta melam hari nya, Aska pasti akan meminta jatah nya saat bagun tidur. Dan belakangan ini Zara sangat lelah padahal tidak melakukan aktifitas apa pun.


"kenapa?" tanya Zara mengurut kan kening nya.


"aku akan keluar negri beberapa hari besok pagi berangkat." Zara terdiam.


"kau terlihat kurus dan lebih pucat! Apa makan mu tidak teratur?" tanya Aska tiba tiba.


Mendapatkan perhatian kecil dari Aska spontan saja blushing tak terhindarkan. Lagi lagi, untuk pertamakalinya Aska menanyakan keadaan nya. Mungkin karena telah lama tak bertemu.


"aku sering ketiduran, dan lupa makan kadang!" jawab Zara sedikit meringis malu.


"apa akan lama?" tanya Zara tak berani menatap mata Aska malah beralih menatap dada Aska dengan jari nya membentuk pola lingkaran yang abstrak.


" Jangan menggoda ku!" Aska mencengkram tangan Zara yang bermain di dadanya. Zara mendongkak menatap Aska kembali menuntut jawaban.


"sekitar 2 minggu!" jawab Aska pelan.


Air muka Zara langsung berubah sedih meski tidak kentara namun Aska tau Zara terlihat kecewa."aku kan segera pulang!" Aska merutuki dirinya yang berusaha membujuk Zara agar tak kecewa.


Zara mengangguk lemah.


"boleh aku meminta jatah ronde ke dua ku?" tanya Aska mengecup Telinga Zara. Lalu berpindah ke pipi, mata, hidung dan berakhir di bibir mungil nan penuh milik Zara itu.


"kenapa menagis hm?" Aska mengusap mata berair Zara.


"aku masih merindukanmu paman jelek!" kesal Zara merengek seperti anak kecil.

__ADS_1


Aska sendiri heran dengan sikap Zara dan fisik Zara yang terlihat berubah dalam waktu kurun 1 bulan ini.


"aku usahakan cepat pulang!" Pujuk Aska kali ini berhasil mendapat anggukan dan senyuman.


Sudah hampir 1 jam mereka berbincang selepas percintaan pertama mereka. Zara yang menangis karena akan di tinggal lagi oleh Aska berakhir dengan Aska membujuk Zara agar tidak menangis lagi.


"boleh aku lanjut kan?"tanya Aska dengan suara frustrasi yang kentara. Melihat mood Zara yang aneh tidak seperti biasa nya.


Zara mengangguk.


Segera Aska memposisikan dirinya Diatas Zara siap mengisi Zara untuk ronde ke 2 nya.


Tiba tiba Zara mencengkram lengan Aska, Aska bingung padahal ia belum memasuki kan milik nya. la mendongkak mendapati dari Zara berkerut dengan ekspresi menahan sakit.


"ada apa?" tanya Aska heran dengan Zara malam ini.


"sak-khit paman... Perut Zara...sakit.." rengek Zara diiringi ringisan kesakitan. Tangan Zara yang semula mencengkram lengan Aska kini berpindah ke perut nya sendiri. Mencengram kuat perut nya.


"paman..." panggil Zara dengan isak tangis tak tertahan kan.


"kau kenapa?" tanya Aska bingung masih di posisi nya.


"tidak tau... Tapi sakit sekali..."


Segera Aska bangkit dari posisi nya, menyibak selimut memastikan apa yang terjadi. Matanya terbelalak saat melihat darah menodai sprei. Darah itu cukup banyak terlihat.


"Zara kau berdarah?!" ucap Aska terlihat panik dan shoke bersamaan.


"sakit paman!.." teriak Zara benar benar frustrasi dengan rasa sakit yang menghantam perut nya."a-aku kerumah sakit!" panik Aska hendak mengangkat Zara.


"paman kita telanjang!" lirih Zara disela rasa sakit nya.


Aska merutuki diri nya, meraih kemeja dan celana kain nya memakai dengan gerakan gesit. Aska hanya memakai kaus dalam berwarna putih dan celana kain nya, sedangkan kemeja ia pasangan pada Zara. Ia yakin kemeja saja cukup untuk menutupi ketelanjangan Zara. Dan benar saja, kemeja nya menelan Zara hingga batas lutut.


Aska terburu buru menuruni tangga dengan Zara di tangan nya, ia menaruh Zara di kursi belakang dan segera mengeluarkan mobil Menuju pagar.


"asep, bawa mobil!" ujar Aska keluar dari mobil dan pindah di kemudi belakang tempat Zara berada.


Dengan gesit pula sang satpam sekaligus supir pribadi itu memasuki mobil, mengerti kemana arah yang akan di tuju melihat kondisi nona muda nya yang kesakitan.


Sebenarnya asep sedikit bingung dengan hubungan majikan nya ini. Ia bukan Semarangan ngejudge majikan nya ini. Tapi asep pernah melihat nona muda bercinta di ruang tamu dengan majikan besar nya. Meski hanya sekilas dan samar samar tapi asep tau kegiatan apa yang di lakukan majikan nya. Yang membuat nya bingung adalah bukan nya Zara adalah keponakan Aska? Asep kembali fokus kejalan tak ingin terjadi sesuatu karena pikiran nya terbelah.


Mobil berhenti di rumah-sakit swasta bagasra medica Aska langsung mengendong Zara menuju bankar yang disiapkan oleh perawat yang menyadari kedatangan mobil tepat di depan pintu masuk di jam dini hari pastilah sebuah keadaan darurat. Itu sebabnya saat Aska akan memasuki rumah sakit sudah ada bankar dan para perawat yang siap siaga.


Zara sudah pingsan beberapa saat yang lalu. Oleh karena itu tak ada tangis kesakitan dari Zara.


Pukul 5:55.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2