Psycopat (Tamat)

Psycopat (Tamat)
(21)


__ADS_3

Aska membuka mata nya. Ia terawang awang di dalam air, pandangan nya memerah hingga sebuah titik cahaya terlihat. Aska berenang mencapai cahaya itu dan seketika iya melihat Zara yang tersenyum saat gadis itu merayakan ulang tahun nya ke 16. gadis itu tersenyum saat memeluk tangan seseorang. itu tangan nya. Batin Aska mengingat adegan itu.


Lalu adegan Zara berlari hingga Zara meringis kesakitan...


Zara berteriak kesakitan, Benar benar kesakitan. itu bukan adegan dimana Zara berdarah waktu itu lalu kapan?


Zara masih berteriak kesakitan... Cahaya itu menghilang dan menghilangkan bayang Zara. Namun suara itu terdengar jelas berteriak semakin jelas dan semakin jelas.


"paman..." sebuah panggilan kesakitan itu menyadarkan Aska.


Menarik cahaya di kesadaran Aska. Aska terbangun dari mimpi buruk nya. Benarkah mimpi?


Aska menoleh ke sebelah nya. Zara berteriak kesakitan sambil memegang perut nya sangat keras.


Mata Zara banjir air mata.


Ini adegan yang ada di mimpi Aska tadi. Persis sama.


"Zara !"pekik azka


"paman..." sebuah panggilan kesakitan itu menyadarkan Aska.


"Zara!"


Saat menoleh kesamping Aska di kejut kan dengan Zara yang merintih kesakitan. Jujur Aska sangat bingung lalu bergegas ,saat sampai ia langsung mengambil posisi duduk.


"hey, kau kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Aska menyentuh dengan lembut wajah Zara yang penuh dengan linangan air mata.


"Akhh... Paman... Sakit... Perut Zara... Sakithhh" ringis Zara mencengkram perut nya dengan kuat.


Tersadar akan sesuatu, Aska segera menyibak selimut yang menutupi Zara dan benar saja, darah merembes di sprei.


"Akhh paman..." pekik Zara menahan rasa sakit yang mendera nya.


Melihat wajah kesakitan Zara, Aska bergegas mengangkat tubuh mungil yang penuh darah itu menuju keluar rumah.


"asep siapkan mobil !" pekik Aska mengelegar membangun kan si supir dari tidur nya.


Aska melihat supir nya datang tergopoh gopoh sambil menarik resleting celana nya sambil berlari.


"mobil!" ucap Aska lagi


"baik tuan" balasnya lalu Sang supir pun bergegas menuju garasi.


Aska mematung di tempat dengan Zara yang terus menggerang kesakitan dalam gendongan nya. Gadis kecil nya kesakitan, dan ia bingung sebenarnya apa yang terjadi?


Saat mobil telah siap, Aska membawa Zara masuk ke dalam mobil. Tanpa perintah sang supir tau kemana tempat yang harus mereka tuju melihat kondisi nona muda nya berdarah dan kesakitan.


mereka menuju Rumah sakit.

__ADS_1


"bertahan lah!" ujar Aska menggenggam tangan Zara mencoba menyalurkan kekuatan.


"paman... Sakit... Ini sangat sakithhh... Akhhh" Zara masih mengerang dan menangis, sesekali ia memekik kesakitan saat terjadi kontrasi di perut nya.


"paman.. Anak kita...Akhhh" Zara semakin mencengkram kuat tangan Aska. Saat semakin kencang genggaman tangan Zara pada Aska menandakan semakin sakit pula gadis itu.


Sepanjang perjalanan Zara tak henti henti nya mencegkram tangan Aska dengan kuat, hingga membuat buku buku jari Aska memutih. Setibanya nya di rs mereka di sambut perawat yang sudah stand by menyiapkan bankar rumah sakit.


Aska berlari bersama tim medis yang mendorong pasien dengan tergesa gesa. Terasa Dejavu dengan situasi ini, ia merasa sedang berperan dalam salah satu serial drama sinetron indonesia yang lebay.


Aska bukan nya lebay, tangan nya terus di genggam oleh Zara. Sampai di ruangan oprasi pun Aska masuk karena tangan nya masih di genggam kuat.


Tim medis sudah bersiap siap dengan peralatan masing masing, lalu dengan sigap sang dokter menyuntik kan obat bius ke lengan Zara.


Beberapa menit kemudian, genggaman zara pada aska perlahan mengendur dan perlahan terlepas.


Zara sudah tertidur seutuh nya bersamaan dengan terlepasnya genggaman tangan gadis itu.


Sang perawat meminta Aska untuk keluar.


Di luar Aska menatap telapak tangannya bekasgenggaman tangan Zara, ada rasa kehilangan di sana. Rasa kehilangan yang tak bisa ia jelas kan oleh Aska itu sendiri.


Apa Zara keguguran?_ Aska teringat obat misoprostol yang ia berikan kemarin. Sudah dua kali Zara menelan obat itu apa mungkin Zara keguguran karena obat itu.


Darah, darah yang Aska lihat sangat banyak bahkan ikut menodai kaus putih yang kini Aska kenakan. la menoleh pada sang supir.


"beli kan saya pakaian!" ujar Aska menyerahkan uang tukar merah sebanyak 3 lembar.


Mata Aska kembali terpaku pada tangan nya yang terdapat bekas darah Zara dan hangat nya genggaman tangan gadis itu.


Air mata Aska menetes tanpa peringatan. Ia tak tau kenapa ia menangis yang jelas hatinya kesakitan saat membayangkan Zara nya pergi.


Bagai mana kalau dokter gagal? Bagaimana kalau Zara tak sanggup berjuang lebih lama? Apa Aska sanggup menanggung kepedihan sendiri?.


Kini Aska menyadari betapa pentingnya peran gadis itu dalam hidup nya, betapa berpengaruh nya Zara terhadap suasana hati dan pikiran Aska.


Sesak, airmata nya mengalir lebih deras.


la menyesal telah melakukan nya, ia menyesal telah memberikan obat itu pada Zara sehingga membuat gadis itu kesakitan.


"sebenarnya berhubungan **** saat hamil muda sangat rentan, di tambah usia pasien yang sangat belia, bisa berdampak buruk pada kehamilan bahkan membahayakan nyawa calon ibu sendiri." Ucapan sang dokter waktu itu menjadi pukulan telak yang menyakitkan.


Kata membahayakan nyawa terus terlintas di kepala Aska ,ia tak pernah merasa kan sakit lebih dari ini. tak pernah.


Ia tak pernah merasa bersalah setelah membunuh nyawa namun tak pernah merasa se bersalah ini, apa karena anak itu berasal dari Aska sendiri ?.


Pikiran Aska berputar putar tentang kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Hingga semuanya gelap.


Aska pingsan

__ADS_1


Mata Aska menelusuri ruangan serba putih itu, baju nya sudah berganti dengan kaus lengan pendek. Tubuh nya juga sudah bersih. Aska melihat sekeliling dan menyadari bahwa ia sedang di dalam ruang inap.


"Zara !" pekik nya


Aska segera bangkit dari tempat tidur nya berlari kearah ruang UGD. Lampu sudah padam.


"suster dimana pasien yang keguguran tadi?" tanya Aska pada resepsionis.


"oh pasien yang masuk tadi pagi ya? Sudah di pindahkan ke ruangan icu. Apa bapak keluarga nya?"


"ya, saya suami nya!" jawab Aska spontan.


"dokter anggara menunggu anda di ruangan nya. Di lantai 3 paling ujung" jelas resepsionis dengan lembut.


Aska mengangguk segera menuju ruangan yang dimaksud. Aska berhenti sejenak di depan pintu kayu.


Dengan langkah pasti, Aska memasuki ruangan itu dan mendapati seorang pria berjas putih tengah menyandar.


"yo, teman lama lama tak berjumpa!" suara itu terdengar bersemangat.


"kenapa kau?" tanya Aska sinis.


"slow man kebetulan aku yang berjaga malam ini. Lagi pula apa maksud mu kenapa kau !oh Man apa kau lupa aku pemilik rumah sakit ini?" celoteh sang dokter yang tak lain adalah teman lama Aska.


Dan bodoh nya Aska tak mengenal nama anggara yang di sebutkan oleh resepsionis. Mungkin karena terlalu khawatir


"katakan apa yang terjadi pada Zara?"


"kau menikahi gadis kecil?" anggara malah balik bertanya.


"jangan mengalihkan pembicaraan!" sergah Aska mulai geram


"yah... Kau mudah sekali emosi!" anggara berdecak sebal. Lalu perlahan wajah humoris itu berubah serius.


"kau tau bahwa Zara hamil?" tanya anggara mulai dengan sikap dingin nya. Aska mengangguk.


"aku menemukan indikasi misoprostol pada saluran kantung plasenta. Apa kau tau Zara mengkonsumsi misoprostol atau justru kau yang memberikan nya?" tanya sang dokter sangat serius.


.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2