Psycopat (Tamat)

Psycopat (Tamat)
(17)


__ADS_3

Sudah sekitar 4 hari Aska di rumah, dan selama itu Zara selalu melayani nya. Entah itu memasak atau sekedar melayani kebutuhan seksual yang tak pernah terpuaskan untuk nya.


Senyum Aska tak henti henti nya terbit, satu rencana nya sudah berhasil ia jalan kan. Tinggal menunggu ia bosan lalu akan ia campakkan Zara. Persis seperti yang di lakukan ayah nya dulu.


Tapi kapan Aska bosan?. Itu masih menjadi rahasia waktu, Aska sendiri selalu merasa bersemangat melihat Zara pasrah di bawah nya. Mendesah dan berkeringat di bawah kukungan lengan besar Aska. Meneriaki nama nya saat mencapai puncak.


Aska suka itu.


Tubuh itu menggeliat, kepala Zara menoleh kebelakang nya dimana Aska berada.


"paman sudah bangun?" tanya Zara menoleh pada jendela yang masih gelap.Hanya anggukan. Tangan kanan Aska bergerak menarik selimut hingga batas leher.


"tidurlah lagi!" perintah Aska tenang.


Zara mengguk, ia membalikkan tubuh nya menghadap Aska lalu memeluk sang paman.


"nanti jangan lupa ke apotek beli obat!" ujar Zara dengan mata terpejam.


Aska tak merespon. Dia hanya diam menatap Zara yang memeluk pinggang nya yang kini sedang dalam posisi duduk.


Kemarin Aska lupa membeli obat itu. Karena kepalang emosi melihat Zara rangkul rangkulan di toko buku.


"setelah ini permainan apa yang akan ku main kan bersama mu za!" ujar Aska mengelus kepala Zara seolah menina bobok kan Zara.


Lengan kokoh Aska terasa memberatkan perut Zara, pasal nya saat bangun ia merasakan dekapan dari arah belakang nya.


"sudah bangun hm? Kalau di fikir kau sangat senang karena tidur memunggugi ku!" sela Aska di ceruk leher Zara.


"a-aku tidak tau! Kan aku tidur memeluk mu tadi!" ujar


Zara membela diri. Kini kedua nya berhadapan saling menatap satu sama lain. Aska menatap mata coklat emas Zara. Jika dilihat sekilas gadis itu terlihat biasa saja masih murah senyum senang tertawa meski tidak terpingkal pingkal.


Namun Aska menyadari ada yang lain dari cahaya mata Zara.


"paman hari ini libur dulu ya, sakit itu Zara!" gumam nya malu.


Aska hanya diam. Tanpa kata pria itu bangkit dari tidur nya dengan wajah datar tak terbaca menuju kamar mandi.

__ADS_1


Saat keluar ia tak menemukan Zara di ranjang nya. Sepertinya Zara sudah kembali ke kamar nya.


"kau akan merasakan sakit bekali lipat di bandingkan dia!" gumam Aska segera meninggalkan rumah.


Tumpukan berkas menyita perhatian Aska, banyak berkas yang harus ia cek dan ia tanda tangani. Pekerjaan nya menggunung karena libur selama 4 hari. Dan ia harus membayar nya hari ini.


Sebuah ketukan menyadarkan Aska dari kesibukan. la mengangkat kepalanya dan terkejut saat menemukan sosok itu.


"siapa yang memberi mu izin kemari?" tanya Aska sarkas dan kejam ,yang di tanya hanya terdiam.


"aku ada keperluan di kantor departemen pendidikan tak jauh dari sini jadi sekalian membawakan paman makan siang!" jawab nya. Yang tak lain adalah Zara.


"tapi kalau paman tak mau, aku akan bawa pulang Lagi!" ujar Zara masih dengan wajah penuh senyum hangat.


Aska masih diam tak bergeming. Merasa di acuh kan Zara berbalik hendak keluar, tangan Zara meraih hendle pintu dan membuka pintu dengan gerakan pelan. Gerakan Zara terhenti saat sebuah tangan menutup pintu kembali. Lengan itu mengurung Zarab dan mata abu abu itu menatap nya tajam.


"taruh di meja!" ujar aska memberi perintah.


Zara mengangguk patuh.


"paman aku pamit, aku harus mengurus beberapa hal di kantor departemen pendidikan!" pamit Zara menjelaskan. Lagi, Aska tak merespon hingga Zara memilih opsi keluar sebelum ia di telanjangi di ruangan itu.


Aska merasa melemah.la tak pernah tega saat melihat mata coklat emas itu menatap penuh harap.


"akgghh..." pekik Aska melempar kotak bekal itu ke dinding.


Aska sadar, harus nya ia lakukan ini tadi saat Zara masih di ruangan. Harus nya ia menghancurkan setitik harapan di depan mata gadis itu.


Dengan emosi yang meluap luap Aska meninggalkan ruangan sebelum nya menyuruh sekretaris nya memanggil ob untuk membereskan kekacauan dalam ruangan nya.


Kini Aska duduk di kursi malas nya. Menatap sosok wanita telanjang tergeletak di lantai bersimbah darah.


Aska memijit kepala nya yang terasa pening. Bukan karena telah menghabisi nyawa wanita murahan itu tapi karena hasrat nya tak terpuaskan.


Bayangan tubuh ringkih dan pucat itu melayang layang di kepala Aska. Ingin rasa nya ia segera pulang namun ego masih menahan kehendak nya. Sudah sekitar seminggu ia tak pulang. Selama seminggu pula ia hanya bolak balik dari kantor ke rumah bermain nya.


Aska sengaja tak pulang agar ia tetap pada pendirian nya untuk balas dendam. Tapi semakin ia menahan keinginan pulang semakin ia berhasrat untuk bercinta dengan Zara .Aska juga berencana ingin membuat Zara terluka akan kenyataan bahwa Aska tak menginginkan nya lebih dari pemuas nafsu.

__ADS_1


Bayangan akan Zara merasa jijik pada diri nya sendiri mulai tergambar. dan seringai penuh kemenangan itu tersungging menyayat hati.


Aska bangkit dari duduk nya berjalan menuju aquarium sambil menyeret tubuh tak berdaya itu. Malas mencincang tubuh, Aska langsung memasukkan tubuh itu bulat bulat kedalam aquarium yang di huni oleh 12 ekor ikan piranha yang kelaparan.


Tak ingin berlama lama, Aska meninggalkan aquarium dan segera menuju kantor untuk menyelesaikan tumpukan map di meja nya sebelum sang sultan, ayah nya datang dan mencerca nya dengan kalimat yang membuat gendang telinga nya berdenyut.


Belum lagi ocehan dari sang kanjeng ratu yang selalu menyakan kapan menikah.


Kapan ia menikah?


Entah lah pertanyaan itu terasa masih jauh di usia nya yang sudah 32 tahun. Sebenarnya apa yang Aska tunggu?. harus nya Aska menikah dan meninggalkan Zara agar ia tau bagaimana rasa nya lilith saat di tinggal menikah oleh andrean, ayah Zara.


Namun semuanya urung di lakukan nya, ia masih ingin bermain main lebih lama dengan putri semata wayang nya andrean.


Menikmati servis dan menyaksikan kepahitan itu menerpa Zara.


la sangat menatikan hari itu. Mata Zara menatap nanar kearah lautan luas, air mata nya bergulir melewati pipi nya, jatuh menimpa pasir halus yang kini diduduki nya.


Beberapa jam lalu saat usia nya berganti dari 16 tahun ke 17 tahun detik pertama sweet seventeen yang seharusnya penuh haru dan bahagia berubah menjadi tangis kepedihan. Ia kehilangan keperawanan nya di detik pertama usia 17 tahun nya.


Kenyataannya menampar Zara, orang yang selama ini ia anggap sebagai ayah yang akan melindungi justru menjadi orang yang pertama menyakiti. Bukan sekedar menyakiti, Aska juga menghancurkan harapan dan gambaran kebahagian yang satu persatu ia susun.


Perasaan Zara menjadi kusut dan berantakan, kini harapan yang tumbuh di hati lenyap tak terelak lan kan.


Zara mencoba berfikir positif bahwa malam tadi pria yang mengambil keperawanan nya yang tak lain adalah paman nya Aska, sedang dalam keadaan mabuk.


Senyum Zara terukir.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2