
Aku sangat menyukai kucing, dan sangat ingin memelihara kucing. Namun Ira alergi kucing membuatku tak bisa memelihara kucing di rumah.
Meski aku tak memelihara kucing, aku selalu menyiapkan stok makanan kucing, untuk kubagikan kepada kucing-kucing liar di sekitar rumah, kampus, atau tempat manapun yang kulalui. Aku juga menyimpan makanan kucing di dalam tas yang ku bawa kala bepergian.
Kenan kerap cemburu saat melihatku lebih perhatian dan asyik bermain dengan kucing-kucing liar itu.
"Aku juga mau makan!" Ungkap Kenan saat aku memberi makanan pada kucing.
"Ini? " Ucapku sambil bercanda menyodorkan makanan kucing kepadanya.
Kenan hanya cemberut dengan candaanku.
Setelah itu aku pergi makan dengannya.
...#####...
Hal aneh terjadi, tiap kali aku selesai bermain atau memberi makan kucing saat bersama Kenan, besoknya kucing itu tak datang lagi, menghilang entah kemana.
Padahal jika aku melakukan itu tanpa Kenan, setiap hari kucing-kucing selalu mampir mengunjungi lokasi-lokasi tertentu tempat dimana mereka biasanya aku beri makan.
Sampai pada suatu ketika secara tak sengaja ku melihat Kenan membawa kucing liar yang ku beri makan kemarin ke tempat sepi belakang kampus kami. Di tempat itu banyak pepohonan rindang seperti di hutan.
AKu penasaran apa yang ingin ia lakukan, aku ikuti dia. Aku senang ternyata dia diam-diam memberi makan kucing-kucing liar itu di sana.
Saat ingin ku hampiri dia, ada hal aneh terjadi. Setelah Kenan memberi makan, kucing-kucing itu satu persatu terkapar di tanah. Melihat itu Kenan justru malah tersenyum. Aku bingung apa yang sebenarnya terjadi. Dan ternyata kucing-kucing itu mati.
Kenan memberikan racun pada makanan kucing yang ia berikan pada kucing-kucing liar itu.
Aku begitu shock melihat kejadian itu, bagaimana bisa orang seperti Kenan melakukan hal sekejam itu pada binatang.
Aku segera datang menghampiri Kenan.
"Ken, apa yang kamu lakukan?" Tanyaku kesal.
Kenan begitu tenang, tak ada raut penyesalan diwajahnya. Bahkan setelah ia tahu aku melihat semuanya dia bersikap santai.
"Aku gak suka kamu lebih memperhatikan kucing-kucing itu daripada aku" Jawabnya datar.
Aku lebih terkejut dengan jawaban dia yang menurutku begitu tidak masuk akal. Hanya karena aku memberi makan dan bermain dengan kucing-kucing itu ia begitu marah sampai membunuh mereka.
__ADS_1
"Apa itu masuk akal? Bagaimana kamu tega.... " Aku tak selesai bicara, aku tak bisa menahan tangisku melihat kucing-kucing itu mati karena aku.
Aku mau jongkok ingin menyentuh kucing itu, tapi sebelum itu Kenan menahan tanganku agar aku tetap berdiri.
"Ayo kita pulang! "Ungkapnya sambil menyeretku.
Aku berontak meminta dia melepaskanku.
"Aku mau mengubur kucing-kucing itu dulu" Ungkapku.
"Kamu masuk mobil, biar aku yang kubur semua kucing itu" Jawab Kenan.
"Kamu gak pantes ngubur mereka, Aku yang akan kubur mereka semua. Kamu lebih baik pulang duluan ,Aku akan pulang naik taksi"
Ungkapku kesal juga menahan kesedihan.
Saat itu aku berdiri dekat pintu kemudi mobil, Kenan kesal ia lalu membuka pintu mobil agar ia bisa masuk ke dalam. pintu mobil itu mengenaiku, ia melakukannya dengan sengaja agar aku terdorong oleh pintu mobil itu, hal itu membuatku terjatuh ke tanah.
Dia mengabaikanku, padahal di dalam mobil ia melihatku terjatuh. Dengan dingin ia pergi meninggalkanku.
Kakiku terluka, sedikit pincang ku tetap pergi ke tempat kucing-kucing tadi. Lalu mengubur mereka sambil menangis.
Selesai mengubur aku pulang naik taksi.
AKu membuang makanan kucing sambil menangis.
Ira melihat dengan bingung.
"Lu kenapa Er, kenapa lu tiba-tiba buang makanan-makanan kucing itu" Tanya Ira.
Aku tak menjawab. Lalu masuk kamar, mengunci pintu dan menangis.
Ira menelpon Kenan, karena sebelumnya Kenan menelpon Ira jika aku pulang, Ken meminta Ira untuk menelponnya.
"Ken, Erata udah pulang, tapi kok aneh?" Ungkap Ira saat menelpon Ken.
"Aneh kenapa?" Tanya Ken.
Ira menceritakan apa yang kulakukan di rumah pada Kenan, ia berbicara juga tentang aku yang membuang makanan kucing.
__ADS_1
"Tadi gue berantem sama Erata, gue ngasih makan kucing liar, tapi Erata malah marah ke gue" Jawab Keiki.
"Marah kenapa?" Tanya Ira.
"Gatau, lu tanya sendiri" Jawab Kenan datar.
Selesai telpon dengan Ira, Kenan tersenyum lalu berkata.
"Misi selesai"
Besoknya seolah tak terjadi apa-apa, ia datang ke rumah menjemputku untuk ke kampus bersama. la datang dengan senyuman dan aku mengabaikannya.
"Ayo masuk mobil, nanti telat" Ungkap Kenan.
"Aku sudah pesan gojek" Jawabku.
"Kamu masih marah karena kejadian kemarin?Kucing...." Ungkap Kenan tak selesai.
Aku memotong perkataannya tak ingin sampai Ira mendengar pembicaraan kami, terlebih tentang hal buruk yang telah ia lakukan pada kucing-kucing liar itu.
Karena aku tak ingin berdebat di depan rumah, pada akhirnya aku masuk mobil Kenan dan membatalkan pesanan gojek.
Di dalam mobil aku hanya diam.
"Lutut kamu luka karena aku?" Tanya Kenan saat Dia melihat lututku di perban.
Aku diam tak menjawab. Tapi tiba-tiba Dia mendadak menghentikan mobil.
"Kenapa berhenti?" Tanyaku.
aKu melihat air mata jatuh di pipinya.
Dia diam tak menjawab. Dia kembali menyetir.
Dalam perjalanan hanya hening tak saling bicara,lalu kami berpisah ke kelas masing-masing tanpa berpamitan hangat.
-
-
__ADS_1
-
TBC