Psycopat (Tamat)

Psycopat (Tamat)
tak akan berhenti


__ADS_3

"Er...


Terima kasih sudah hidup kembali,


Maaf, Sudah membuat hidupmu kacau,


Aku janji akan memperbaiki semuanya" Isi pesan Whatsapp dari Kenan.


"Maunya apa sih dia" Pikirku.


Aku hanya membacanya, tak membalas pesannya.


Aku mulai kembali pulih dan tak harus terapi lagi. Saraf-saraf dan otot-ototku sudah berfungsi dengan baik kembali. Aku bisa beraktivitas seperti biasa lagi seperti sebelum aku kecelakaan.


Setelah itu ku pikir aku tak perlu lagi bertemu dengan Kenan.


Tiba-tiba aku dapat telpon dari kampus tempatku mendaftar dulu. Pihak kampus bilang aku boleh langsung kuliah tahun ini, satu semester lewat tidak masalah, karena ada alasan yang masuk akal untuk di maklumi, ini sudah 7 bulan lewat dari hari pertama seharusnya aku kuliah. Tapi secara tiba-tiba pihak kampus mengatakan itu, dan aku tak tahu dari mana mereka tahu tentang kondisi ku yang sudah pulih.


Besoknya aku datang untuk memastikan kebenarannya, dan benar pihak kampus sudah memberikan aku peluang untuk masuk kampus tersebut.


Tapi aku datang bukan untuk masuk kuliah, aku datang untuk menolaknya. Aku tak mau melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan, kalaupun aku kuliah aku hanya ingin kuliah di waktu yang semestinya. Telat satu tahun bukan masalah buatku, apalagi ini hanya tinggal beberapa bulan untuk ajaran tahun berikutnya.


Aku tahu itu ulah Kenan, maka dari itu kuputuskan menemui Kenan.


"Lu dimana?" Tanyaku pada Kenan lewat telpon.


"Di rumah, kenapa?" balasnya kembali bertanya.


"Kita ketemu, bisa?" Tanyaku.


"Lu dateng aja ke rumah" Jawabnya.


Dia pun memberikan alamat rumahnya via whatsapp.


Keluar dari kampus ku menelusuri jalan menuju ke rumah Kenan dan seperti dalam mimpiku ketika koma, rumahnya sama dengan yang ada dalam mimpiku.


aku pencet bel rumahnya, ia membukakan pintu, menyuruhku masuk ke dalam. Lalu aku duduk di sofa ruang tamunya.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanyanya.


"Lu gak kuliah?" Tanyaku berbasa-basi.


Entah kenapa ku bertanya itu, mungkin hanya rasa penasaranku karena dia ada di rumah di siang hari yang bukan hari libur atau tanggal merah.


"Gue lagi gak enak badan" Jawabnya.


Aku tak tahu bagian mana yang tak enak dari badannya, karena ia terlihat baik-baik saja. Aku tak bertanya lebih lanjut, karena aku tak mau perhatian pada orang asing.


"Oke gue langsung aja, Elo kan yang bilang ke kampus soal kondisi gue,


Dan elo juga yang minta kampus biar gue bisa masuk kuliah dalam kondisi yang gak masuk akal?" Ungkapku.


"Iya!" Jawabnya singkat.


Aku tak menduga jawaban itu, kupikir dia akan mengelak atau mencari alasan.


"Oke makasih bantuannya, tapi sayangnya udah gue tolak dan elo gak usah lagi ikut campur dengan kehidupan gue, gue udah sehat. Cukup sampai disini tanggung jawab lu, gue gak pengen diganggu sama elo lagi" Ungkapku tegas.


"Kenapa lu tolak?" Tanyanya.


Gue gak masalah nunda satu tahun kuliah, toh tinggal beberapa bulan lagi. Dan kenapa juga gue harus ngejelasin semuanya ke elu, Ya udah deh gue pergi,


Gue kesini cuma mau ngomong itu" Balasku.


Aku beranjak dari kursi menuju pintu keluar rumahnya namun tiba-tiba terdengar suara kucing mengeong.


Kucari arah suaranya, itu tepat ada di sebelah kanan. arahku berjalan. Aku melihatnya, dan ternyata..


Kucing itu adalah kucing yang dulu ia pernah bawa ke rumahku sebagai hadiah untukku, namun aku menolaknya waktu itu.


Aku terkejut melihatnya, mengapa ia membawa kucing itu kerumahnya, aku jadi takut kejadian dalam mimpiku jadi kenyataan.


"Kenapa kucing itu ada di sini?" Tanyaku menahan syok.


"Lu nolak kucing itu, ya udah gue pelihara sendiri" Jawabnya.

__ADS_1


Aku tak tahu harus bagaimana, aku ingin menyelamatkan kucing itu, namun aku tak tahu cara yang tepat untuk membawa kucing itu keluar dari rumah ini. Ira tak mungkin bisa hidup dengan kucing, aku juga tak mungkin meminta kembali hadiah yang ku tolak.


Aku menyesal tak menerima kucing itu, karena jika ku Terima tempo hari, kucing itu akan lebih aman dengan kutitipkan di tempat temanku yang lebih bisa menyayangi kucing.


Aku coba menghilangkan rasa takutku, toh itu cuma mimpi, belum tentu terjadi. Ku redam ketakutanku. Aku tak seharusnya berpikir negatif tentang dia hanya karena mimpiku selama koma dulu.


Lalu aku pulang membiarkan kucing itu tetap ada di rumahnya, namun dalam perjalanan aku tak bisa berhenti memikirkan keselamatan kucing itu.


Aku menahan diri, kucoba untuk tetap tenang, kuputuskan untuk mencoba berpikir positif tentangnya.


Tiba di rumah, aku melanjutkan aktivitas ku.


"Ra, tau gak.. Kucing hadiah buat gue dulu dari Keiki sekarang dia pelihara sendiri, Gue pikir dia bakal kembaliin ke tempat asalnya" Ungkapku.


"Kenapa?


lu nyesel, nolak kucing itu dulu? Awas aja kalo lu minta balik kucingnya. Gue gak bisa hidup sama kucing!" Ungkapnya sedikit ngegas.


Aku diam tak menjawab apa-apa.


"Tapi darimana lu tau kucing itu dipelihara Kenan, Lu habis ketemu sama Kenan?" Tanyanya kaget.


"Setelah dari kampus gue mampir ke rumahnya buat nanyain soal penerimaan gue di kampus, lalu gak sengaja gue liat kucing itu di rumahnya" Jawabku.


"Terus gimana, beneran dia yang ngelakuin?" Tanya Ira.


Lalu aku menceritakan pembicaraanku dengan Kenan Ira.


Jujur aku tak tahu bagaimana caranya Kenan meminta pihak kampus agar bisa menerimaku dalam semester nanggung seperti itu, aku penasaran namun aku tak sempat bertanya padanya.


-


-


-


-

__ADS_1


-


TBC


__ADS_2