Psycopat (Tamat)

Psycopat (Tamat)
(18)


__ADS_3

Saat harapan mulai meruncingkan jarum nya, bekerja menyulam takdir bersama kesalah pahaman yang ingin ia perbaiki.


Dan kenyataan menohok kesadaran Zara.


Aska kembali melakukan nya dalam keadaan sadar tanpa pengaruh alkohol seperti malam itu, setelah lebih seminggu kejadian itu berhasil Zara abaikan.


Zara terduduk menagis dalam kondisi tubuh Telanjang di balik selimut. Tak jauh dari nya ada Aska yang tertidur pulas dalam keadaan yang sama sama telanjang, begitu lelap setelah menggagahi Zara hingga pukul 1 pagi.


Tiba tiba Zara teringat ucapan seseorang, yaitu medita, teman Zara.


"kamu yakin bakal nikah muda?" tanya Zara menatap medita khawatir.


"yakin dong!" jawab medita meyakinkan.


"Dengar za, sebaik baik lelaki, dia masih manusia. Dan seorang lelaki pasti punya hasrat dan kebutuhan. Semakin meningkat usia seseorang maka kebutuhan nya semakin tak tertahan. Itu salah satu guna nya nikah!walaupun mereka bisa cari jajanan di luar, tapi gue gak rela orang yang gue sayang mencari kenikmatan sana sini!" jelas medita panjang lebar.


"kamu yakin baget!" kekeh Zara.


"Meskipun kita belum menikah, gue bakal nyerahin diri aku kedia karena gue tau dia punya kebutuhan yang harus di salukan. Dan kalau di tahan bakal menyiksa baget. Gue ngak mau orang yang gue cintatersiksa menahan hasrat nya!"


Ucapan medita waktu itu benar benar menyadarkan Zara akan kesalahan nya. Aska adalah pria dewasa yang memiliki sebuah kebutuhan yang harus di saluran kan. Mengingat selama ini Aska belum menikah dan tak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun pasti tersiksa menahan nafsu nya.


Mungkin paman sudah menahan nafsu nya sejak lama?. Jadi paman tersiksa sejak lama?_sebuah pikiran mengelayuti Zara beriringan dengan tangis kebingungan nya.


Zara berhenti menagis saat merasakan pergerakan di belakang nya. langsung saja ia menoleh dan mendapati Aska dengan wajah datar nya.


"pa_man!" cicit Zara.


Jantung Zara berdetak kencang, ia merasa campur aduk saat ini antara sedih malu dan tekat.


"maaf aku hilang kendali!" sebuah ucapan maaf terdengar menyentuh lembut gendang telinga Zara.


Hati Zara menghagat, benar kata medita, setiap pria punya kebutuhan. Begitu juga paman Aska nya.


"paman" panggil Zara mantap.


Kali ini diiringi tubuh nya yang menghadap Aska dengan tangan mencengkram erat agar tidak lepas dari tubuh nya yang telanjang. Ia sangat malu.


Meski sudah bertekad, tapi Zara masih meragu dengan kepala menunduk. "ada apa?" suara itu terdengar mendesak tak sabar melihat tingkah lelet Zara mungkin.


anu, itu paman... Aku, bukan paman eh maksud ku.... Zara terlihat kagok.


"cepat katakan atau aku akan pergi!" Aska mengancam.


Zara terlihat khawatir dan segera menyahut.


"ah ,iya, begini, Zara tau paman punya kebutuhan yang harus di tuntaskan, tapi paman tak bisa memaksa ku. Maksud Zara paman tak perlu memaksa!"

__ADS_1


Kepala Zara masih menunduk, dan semakin dalam. Lalu sebuah telapak tangan menyentuh daging Zara, mengangkat wajah Zara agar bertatapan. Mata coklat Zara menatap langsunh ke mata abu abu Aska.


"lalu?" Aska memberi pertanyaan yang Zara yakin pria itu sudah tau maksud Zara.


"kau bisa meminta nya!" cicit Zara mengalihkan pandangan nya. Memutuskan kontak dengan mata Aska.


"maksud mu?" .Zara merasa frustrasi dengan sikap pura pura bodoh Aska. la kesal, sangat.


"maksud Zara, kalau paman butuh seperti tadi malam, paman bisa meminta tanpa harus memaksa ku. Maka akan aku berikan apa yang paman mau. Yah, akan ku anggap sebagai jasa dari kebaikan paman karena merawat ku!" jelas Zara dengan wajah cemberut bercampur kesal.


"sungguh?" paman menggoda Zara dengan tatapan agak jail. Tatapan asing yang tak pernah Zara liat sebelumnya.


Zara menggangguk pasti saat merasakan telapak tangan Aska menagkup wajah nya.


"kalau begitu aku mau sekarang. berikan!" ujar Aska menatap manik Zara.


Zara terkejut bukan main pasal nya Aska meminta Zara melayani nafsu buas sang paman lagi.


"se-sekarang? Bukan nya t-tadi malam sudah?" tanya Zara dengan wajah memerah padam. la benar benar malu.


Wajah cantik Zara tak henti nya tersenyum, Aska menepati janji nya untuk ke mall. Dan di sinilah mereka berhenti di sebuah toko buku terbesar di mall ini.


"wah...terimakasih paman!" Zara memasuki kan buku hasil debat mereka ke dalam troly.


Dengan gerakan secepat kilat Zara mengecup pipi Aska.


" i love you" ucap Zara cepat segera meninggalkan Aska sebelum Aska menyeret nya pulang untuk bercinta.


Mata Zara membulat sempurna melihat tumpukan buku yang sangat banyak, perlahan ia mulai mengambil satu persatu buku yang ia ingin kan.


Zara terjatuh saat berusaha meraih buku yang tinggi. Buku itu ia dapatkan namun 1 buku lain terjatuh menimpa Zara.


"awhh.." ringis Zara mengusap kepalanya yang tertimpa buku.


"butuh bantuan?" Sebuah suara terdengar mengintrupsi Zara agar mengangkat wajah nya.


"dion?" panggil Zara dengan wajah cerah tersenyum.


"mantan?" dion berlagak kaget dengan peryataan mantan,


mantan enak aja.. Ngak mau ya aku sama kamu. Kamu jelek!" ejek Zara menjulurkan lidah.


"sembarangan, orang ganteng gini!" kesal dion menghampiri Zara mengulurkan tangan.


"jelek!"


Dion terkekeh lalu merangkul Zara, dan membantunya untuk berdiri.

__ADS_1


"ngak perlu di rangkul, emang nya aku patah kaki!" sewot Zara berseloroh.


"heheh anggap aja modus!" balas dion yang di akhiri dengan tawa kedua nya.


Mata Zara menangkap sosok berdiri tak jauh di depan nya berdiri. Dengan cepat Zara melepas kan rangkulan si dion.


paman kenalkan ini dion teman smp ku!" ujar Zara tiba tiba dan juga menghenti kan tawa dion.


"your uncle?" tanya dion sedikit berbisik.


Zara mengangguk.


Inisiatif, dion mengulurkan tangan memperkenalkan diri nya."dion om!"


Lama tangan dion menggantung di udara, merasa tak mendapat balasan, dion menarik tangan nya dengan canggung.


"ayo pulang sekarang!" suara itu terdengar serak dan menahan amarah.


Paman marah? pikiran Zara melayang pada tangan ngan nya yang di cengram kuat oleh Aska menuju parkiran.


Mereka tak jadi belanja selain buku. Padahal banyak yang ingin Zara beli.


Keduanya hening di dalam mobil, sama sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Zara tau apa yang membuat Aska marah dan ia harus jelas kan itu nanti saat Aska sudah mulai tenang.


Zara terseok mengikuti langkah Aska menaiki tangga. Zara tau tujuan Aska. Bercinta.


Zara pasrah saat tubuh nya kembali di masuki sang paman, pasrah menerima hentakan demi hentakan yang terasa kasar dan menyakitkan.


Tak lama, Aska pun keluar. Menyemburkan ****** di dalam, seperti biasa. Tangan Zara terulur menyentuh wajah berkeringat


Aska dengan lembut. Di iringi se um lembut."sudah lebih tenang?" tanya Zara dengan nada suara hangat.


Jauh di dalam hati, Zara memuji bentuk ciptaan tuhan dalam tangkapan tangan nya. Sempurna. Mata abu abu tajam yang di lingkar bulu mata lebat dan panjang di tambah hidung mancung. Jangan lupakan bibir tebal dan penuh yang di lengkapi dengan rahang tegas dan terlihat kokoh.


.


.


.


.


.


TBC


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2