
Hari itu ku melihat Kenan jalan dengan seorang perempuan yang tak ku kenal. Ku tak sengaja melihat saat sedang jalan-jalan sendirian di mall. aKu mengikuti dia diam-diam.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, tertawa bersama. Perempuan itu berbelanja banyak barang, Kenan membayar semua untuknya.
Aku menelpon Ken dan bertanya tentang keberadaannya dimana. Dia tak berbohong dia memang sedang shopping. Kutanya dengan siapa, dia bilang dia pergi dengan temannya.
"Perempuan?" Tanyaku.
"Iya" Jawabnya.
la memang tak pernah berbohong padaku, ia selalu mengatakan semuanya dengan mudah. Ketika tak ingin menjawab atau butuh waktu untuk menceritakan semuanya dia hanya tersenyum. Dan aku mengerti itu, aku hanya menunggu sampai dia siap untuk bercerita.
Tiga jam aku mengikuti mereka, dari shopping hingga makan malam.
Saat makan Perempuan itu menyuapi Ken. Dia juga meminta agar ken menyuapinya.
Aku mengikutinya sampai Kenan mengantarkan perempuan itu pulang ke rumahnya. Mereka terlihat mesra. Bahkan saat pamitan masuk ke dalam rumah, perempuan itu mencium pipi Ken. seperti biasa kenan terlihat tak risih dengan itu.
Aku menelponnya lagi saat dia masuk ke dalam mobil. usai mengantar perempuan itu pulang.
"Ken.. Lagi ngapain?" Tanyaku.
"Aku lagi di jalan, mau pulang ke rumah" Jawabnya.
"Udah selesai belanjanya? Kamu nganterin temen kamu pulang?" Tanyaku.
"Iya" Jawabnya santai.
Aku mengakhiri percakapan di telpon dan mengatakan untuk hati-hati dalam perjalanan menuju ke rumah.
Aku masih mengikutinya dan dia memang pulang ke rumah.
Setelah memastikan ia masuk rumah, akupun pulang.
...#####...
Keesokan harinya aku jalan bersama Kenan, aku ingin menanyakan banyak hal padanya. Tapi aku tak tahu harus mulai dari mana.
Aku nongkrong di cafe, ngopi-ngopi cantik. Meski aku tak suka kopi aku tetap nongkrong di sana, tentunya membeli menu selain kopi.
Aku mulai bicara padanya
__ADS_1
"Ken.. Menurut kamu kalo cowok sama cewek jalan bareng, makan, terus bayarin belanjaan dia, apa itu termasuk ngedate?" tanyaku
"Tergantung situasi atau sejauh apa hubungan mereka. Bisa aja tuh cowok punya hutang Atau apapun itu, Gak ada yang tau. Lagian kamu bahas siapa sih? Kok tumben nanya beginian" Tanyanya.
"Iseng aja" Jawabku.
"Mereka sampai ciuman gak?" Tanyanya tiba-tiba. "Kalau ciuman sudah pasti pacaran?" Tanyaku.
"Siapa yang nyium duluan? Dipipi, kening atau bibir? Atau leher, atau bawahnya leher?" Tanyanya.
"Udah ah, kita bahas hal lain aja!" Balasku.
"Mau ciuman?" Tanyanya mengejutkanku.
Aku tak merespon. Aku masih memikirkan tentang hubungan Keiki dengan perempuan itu. Tapi aku takut untuk bertanya lebih jauh padanya.
"Kita pulang aja yuk! " Ajakku.
"Gak asik ah, diajak ciuman nolaknya begitu" Ungkapnya.
Dia mencoba bersikap biasa, seolah tak terjadi apa-apa. Obrolan kami memang sudah terasa hambar sejak awal pertemuan ini. Dia mencoba mencairkan suasana dengan candaan, tapi tak berhasil menghangatkan situasi. Kami tak saling membicarakan apa yang ingin kami bicarakan. Kami hanya pulang dengan hambar.
...#####...
"Er, kamu inget yang waktu kita hangout bareng,
sudah itu kita ditinggalin sama Rasya dan Syarief, terus aku anter kamu pulang, yang sabuk pengaman nyangkut itu?" Tanya Rega.
"Iya, kenapa?" Tanyaku.
"Kayaknya pas aku pulang, aku liat Kenan dekat rumah kamu deh" Jawabnya.
"Serius kamu?" Tanyaku terkejut.
"Iya" Jawab Rega.
"Kenapa baru cerita sekarang?" Tanyaku.
"Aku lupa, selain itu aku pikir bukan hal yang terlalu penting untuk dikatakan, tapi ternyata pemikiranku salah" Ungkap Rega.
"Karena?" Tanyaku.
__ADS_1
"Karena kejadian sabuk nyangkut itu kalian jadi berantem" Jawab Rega.
"Aku gak berantem sama Kenan kok, hubungan kami baik-baik aja" Jawabku.
"Yakin? Soalnya Ira bilang dua hari setelah kejadian itu, pipi dan bibir kamu lebam. Kamu gak cerita sama Ira, tapi Ira menduga kalau kenan KDRT sama kamu Dan penyebabnya aku. Sumpah aku ngerasa gak enak banget, karena kejadian itu kalian jadi berantem" Ungkap Rega.
"Ira ngasal kayaknya, aku waktu itu lebam karena kesandung, Aku beneran gak berantem sama Kenan. Dia gak ada KDRT" Jawabku.
"Beneran?" Tanya Rega ragu pada jawabanku.
"Iya" Jawabku mencoba membuat dia yakin.
"Syukur deh kalo gak berantem, Soalnya waktu aku ngebenerin sabuk pengaman yang kamu pake, posisi kita cukup aneh, Apalagi kalo diliat dari luar. Dan aku ngebenerin nya lama juga.
Posisinya kayak orang lagi ciuman dan mesra-mesraan di mobil gak sih, Takut aja kalau kenan ngeliat itu salah paham terus marah sama kamu.
Ternyata enggak ya?" Ungkap Rega.
"Enggak kok, kita baik-baik aja. Barusan aku habis ngedate sama dia" Jawabku.
"Syukur deh kalo gitu, Baik-baik ya kamu disana, Udah dulu ya Bye" Ucap Rega mengakhiri percakapan.
Mendengar ucapan Rega membuatku mengingat kejadian saat Kenan mabuk.
Kenan begitu marah saat itu, apa karena aku penyebabnya?
Apa semua kata umpatan dan tamparan itu benar-benar ditujukan padaku, bukan karena dia mabuk dan salah mengira aku sebagai orang lain.
Ingin kutanyakan semua itu padanya, tapi dia sudah melupakan kejadian di waktu itu, ia bahkan tak ingat dia marah-marah dan menamparku.
Disaat aku memikirkan itu, Ken menelpon dan mengatakan bahwa ia sudah sampai di rumah dengan selamat setelah mengantarku pulang tadi.
Malam itu kami hanya ngobrol singkat di telpon, tak sebanyak yang biasa kami lakukan seperti di hari-hari sebelumnya. Karena suasana hati kami sama-sama kurang enak, ada yang mengganjal namun belum siap untuk terbuka. Untuk itu kami hanya pendam dan mengistirahatkan pikiran dan hati kami masing-masing.
Tak lama setelah itu akupun tidur.
-
-
-
__ADS_1
TBC