
Amara Mahreen
Baru beberapa minggu aku mulai merasa sedikit demi sedikit tuhan memberiku kebahagiaan.
Tempat tinggal yang cukup nyaman, Pekerjaan yang sesuai dan kawan-kawan yang baik dan pengertian.
Aku hampir sedikit melupakan masa laluku yang kelam.
Tapi ketika lamaran itu datang, aku jadi mengingat masa-masa terburukku lagi.
Aku sadar, Aku masih berbeda.
Aku belum bisa memantaskan diri,
Aku belum bisa menjadi normal...
Aku takut..
Sangat takut..
Pelukan ibu, menguatkanku.
Ibu bilang, Aku harus kembali normal.
Aku harus sembuh dari kegilaan ini...
Aku harus MENIKAH.....
***
Amara bergegas ke kantor karena sedikit terlambat.
ia lupa jika hari ini ada rapat. awalnya ia tidak ingin bekerja tapi ia harus menyibukkan dirinya untuk sedikit melupakan rencana pernikahannya beberapa hari lagi.
Walau ia tahu, pasti akan bertemu dengan calon suaminya.
Amara melihat Zain dan yang lain sedang menunggunya. Amara melirik keruangan CEO.
" Dia belum datang..syukurlah.. huuuft.." gumamnya perlahan.
" Siapa yang belum datang?" Tanya Zain
" Eemm.. Tidak.."
" Pak CEO sudah menunggu di ruang rapat sekarang. kita tinggal nungguin lo ajah.. Siap-siap dapat teguran.."
__ADS_1
Amara dan Zain memasuki ruang rapat.
" Rapat ditunda dan Amara, Kamu ikut saya sekarang !!!!" Raka beranjak pergi.
" Ah...Baik.." Amara menunduk.
" Zain... Please, Help me..." Bisik Amara.
" Hihihi.. Rasain!!" Goda Zain.
Setibanya di Lobi perusahaan, Amara mematung. kakinya rasanya berat dipakai untuk berjalan.
" Amara... "
" I.. Iya.. Saya."
" Aku ambil mobil dulu, kamu tunggu di sini ! "
" Saya tunggu di pinggir jalan saja Tuan..."
Tak lama...
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnn!!!!!!
Suara klakson mobil yang nyaris saja menabrak Amara.
" Ra, kamu baik-baik ajah kan?"
Raka melepas dekapannya pada Amara . Tangannya menyentuh wajah Amara.
" Apa ada yang terluka?" tanyanya lagi.
'wajah nya sangat dekat
Aku dengar deru nafasnya
Suara nafas itu...
Arrgghhh
Aku tak bisa mengendalikan diriku
aku harus segera menjauh
Dia tidak boleh melihatku seperti ini.'
__ADS_1
Ingatan saat tragedi buruk itu berputar kembali di otaknya.
Tiba- tiba tubuh Amara mulai gemetar. Dadanya terasa sesak. Ingatan-ingatan buruk itu memenuhi kepalanya.
Brukkkkkkkkkkk
Amara pingsan.
Raka panik dan segera membawanya ke rumah sakit.
Raka mulai menyadari Amara mengidap Androphobia.. tadi karena hendak menyelamatkan Amara ia telah memeluk Amara bahkan menyentuh wajahnya.
" Bodoh, kenapa aku menyentuhnya..."
Raka meracau sendiri.
Di Rumah sakit Amara langsung mendapat penanganan.
Setelah sadar, dokter yang biasa menangani Amara segera menenangkannya.
" Keluarga Amara.."Panggil dokter.
" Saya, saya calon suaminya dok... " kata Raka.
" Calon suami? Apa anda tahu Amara mengidap Androphobia?" Tanyanya
" Ya, saya tahu. Tadi Amara hampir tertabrak mobil, lalu saya menyelamatkannya dan tanpa sadar saya memeluk dan menyentuh wajahnya .. " jelas Raka.
" beberapa minggu ini, Amara memang mengalami kemajuan dalam kondisinya. Ia bilang, tidak lagi gemetar ataupun cemas saat berjabat tangan dengan laki-laki. Kenapa sekarang tiba-tiba... "
" Apa karena pernikahan dok?" Ujar Raka.
" Ya.. bisa jadi.. Hali ini menambah beban pikirannya. Apa pernikahannya terpaksa? Atau... maaf kalau saya terpaksa tanya soal ini"
" iya dok, ini mendadak dan mungkin ia merasa terpaksa... Apa pernikahan ini harus di undur sampai kondisinya stabil?" Raka sendu. Ia menyalahkan dirinya karena nekat ingin menikahi Amara.
Dokter menggeleng. " Pernikahan merupakan salah satu terapi yang ia butuhkan. Harus ada pria yang membuatnya merasa aman, sehingga rasa takut dan cemasnya terhadap sentuhan dari lawan jenis bisa sedikit demi sedikit berkurang.".
Dokter menjelaskan apa saja yang nantinya harus dilakukan Raka ketika menghadapi hal seperti ini lagi.
Raka menanggapinya dengan serius.
Kejadian ini membuat Raka semakin yakin untuk selalu berada disisi Amara.
__ADS_1
" Aku ingin Amara sembuh..."