
Tuan Ratmadja telah menyiapkan pesawat pribadi. Perjalanan yang biasa ditempuh belasan jam lewat jalur darat, hanya memakan waktu 1 jam untuk sampai ke sana.
" Mas, Kenapa perasaanku jadi tidak tenang. Apa terjadi sesuatu yang buruk disana?"
Raka menggeleng.
" Persiapkan dirimu. Mungkin akan sedikit menguras air matamu. "
" Mas.. Jangan menakutiku..."
" Air mata kebahagiaan sayang, Ingat setelah kejutan ini, kamu harus penuhi semua keinginanku."
Di pikiran Amara, suaminya akan memperkenalkan istri barunya di depan keluarga Atmadja.
" Kenapa cemberut? Mas menyiapkan kejutan. Kamu nya malah melamun." Raka mengetuk dahi Amara.
" Apa Mas akan memperkenalkan istri baru?"
" Ya Tuhan, Sayang.... Kenapa pikiranmu traveling kesana? Istri Mas itu cuma kamu. "
" Di Foto itu..."Amara tidak melanjutkan kata-katanya. Ia ingat betul. Dirinya yang mengatakan akan menunggu Raka menjelaskan semuanya.
Raka tersenyum puas.
" Cemburu bilang bos.." bisik Raka
di telinga istrinya yang sejak tadi wajahnya memerah entah karena marah atau malu.
***
" Oliv..." Panggil Amara.
" Kakak... " Oliv memeluk Amara.
" Gak kangen sama Abang?" Tanya Raka.
Oliv beralih melompat ke pelukan Raka.
" Abang.. Oliv kangen..."
Amara dan Raka masuk ke kediaman Ratmadja. Mereka mendapati Arga sudah berada di sana.
" Pak Arga? Bagaimana anda ada disini?" Tanya Amara.
Arga hanya tersenyum.
__ADS_1
" Mereka sudah menunggu di dalam. "
" Bagus. Apa Pak Wijaya sudah sampai?"
" Belum Tuan. Mungkin sebentar lagi."
" Sudah ada laporan dari sana?"
" Penyamaran berhasil, Tuan Adyaksa tidak akan curiga kalau dua tawanannya sudah menghilang."
Amara hanya terdiam mendengar obrolan Raka dan Arga.
***
Semua berkumpul di ruang keluarga.
" Bu.. "
" Kau pergilah ke kamar dulu untuk istirahat.. Ibu tahu kau banyak masalah.. Ibu sudah lihat berita itu. Ibu akan tanyakan langsung pada suamimu perihal kebenarannya.. "
" Bu, Aku yakin Mas Raka tidak akan mengecewakanku. Berita ini juga tidak..."
" Ibu hanya akan memastikannya.." Bu Rima tersenyum mengusap wajah putrinya dan berlalu.
" Iya bu... "
" Berita pernikahanmu ramai diperbincangkan. Apa foto itu benar?" Tanya Bu Rima.
Raka terdiam, sorot matanya menatap lekat wajah Amara yang tertunduk.
" Jawab Nak...?"
" Benar bu, Foto itu diambil saat ijab kabul beberapa hari yang lalu."
Bu Rima memejamkan matanya disusul air mata tanda kekecewaan begitu juga Amara. Olivia mendekati Raka kemudian memberikan satu tamparan untuk Raka.
" Abang keterlaluan!!! Abang udah nyakitin Kak Amara dengan menikah lagi."
" Liv.. Kamu gak ngerti apa-apa, kembali ke kamar sekarang!!" Perintah Raka. Ia tidak marah menerima tamparan dari Olivia.
Olivia tidak menggubris ucapan Raka. Ia memeluk Amara yang terisak.
" Oliv.. Kamu dengar abangmu. kembalilah ke kamar." Pinta Amara.
Olivia masuk ke kamarnya. Sementara Tuan dan Nyonya Ratmadja hanya diam melihatnya.
__ADS_1
" Aku hanya mengulang akad nikahku dengan Amara bu. " Raka mulai menjelaskan.
" Apa maksudmu? Kenapa harus di ulang? "
" Agar lebih sempurna. Bukankah Ibu sendiri yang bilang padaku, Amara ingin ayahnya yang menjadi wali nikahnya? Jadi aku msngulang ijab kabulnya."
Plakkkkk!!!!
Satu tamparan lagi mendarat di pipi Raka. Kali ini Amara yang melakukannya.
" Mas.. Apa kamu sadar yang kamu ucapkan?!!!" Amara berteriak.
" Ayah sudah lama meninggal. Mas jangan main-main dengan hal seperti ini. Sama sekali gak lucu."
" Jelas ini tidak lucu sayang... Siapa yang bermain-main soal kematian."
' Ah.. kenapa jadi kacau begini sih...' Batin Raka.
" Arga, Bawa mereka kesini."
Semua tertegun melihat sosok Hardi.
" Hardi... Putraku, Kau masih hidup Nak?" Nyonya Ratmadja menangis.
" Iya Mah, ini Hardi, Hardi Masih hidup. " Suara Pak Hardi memecah perhatian. Pak Hardi memeluk dan bersimpuh pada kaki Mamanya yang sudah renta. Beralih memeluk Papanya.
Dan berbalik menatap anak dan istrinya.
Bu Rima mematung. Seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
" Ayah..." Amara menghambur kepelukan Ayahnya.
" Putriku, Ayah kembali Nak..." Pak Hardi mengecup puncak kepala putrinya.
Bu Rima masih terdiam membisu. Pak Hardi mendekati tubuh istrinya yang kini nampak berbeda dari saat ia terakhir melihatnya dulu.
" Bu.. Maafkan Ayah...." Hardi memeluk istrinya.
Bu Rima masih tak bergeming. Ia begitu menikmati kebungkamannya. Hatinya merasa kecewa seolah dipermainkan oleh Takdir.
Bagaimana bisa lelaki yang dicintainya yang ia saksikan sendiri kematiannya kini tengah mendekapnya erat.
" Jangan salahkan Raka, Aku yang memintanya mengulang akad nikah. Aku ingin menjadi wali nikah untuk putriku sendiri."
Bu Rima memejamkan matanya lama. Berharap saat ia membuka mata ini semua nyata dan bukanlah mimpi semata.
__ADS_1