
Di perjalanan menuju kediaman keluarga Amara, Pak Rahmat kelihatan lelah. Raka berinisiatif menggantikan Pak Rahmat menyetir, sementara pak Rahmat beristirahat. Amara meminta Raka singgah di rest area untuk makan.
Amara membawa dua gelas kopi.
" Pak Rahmat, Ini kopi untuk bapak. Biar segar lagi... "
" Terima kasih non.. Kenapa repot-repot? Saya bisa cari sendiri non..."
" Gak apa pak... Bapak pasti kelelahan..."
Lalu memberikan segelas lagi pada Raka. Tanpa kata-kata.
Raka mendorong kembali gelas kopi yang di berikan Amara.
Amara mengerutkan dahinya.
" Pak, kopi pak Rahmat sepertinya lebih enak.. Saya minum kopi bapak saja. " ucap Raka sambil mengambil gelas kopi yang baru saja hendak di minum Pak Rahmat, lalu meneguknya perlahan.
Pak Rahmat tersenyum melihat tingkah konyol majikannya.
" Saya permisi dulu den... Jangan cemburu dengan supir tua seperti saya den... "
" Uhukkkk" Raka tersedak karena perkataan Pak Rahmat.
Amara baru menyadari kekonyolan suaminya.
Setelah beristirahat sebentar, mereka melanjutkan perjalanan. Pukul 8 malam mereka baru tiba ditujuan.
Bu Rima menyambut mereka di depan rumah.
" Ibu...." Amara memeluk ibunya.
" Bagaimana keadaan kakek dan nenek?"
Tuan Ratmadja keluar menggunakan tongkat bersama istrinya.
" Kami baik-baik saja nduk.. Kesini, bawa suamimu masuk kedalam."
"Ayo Mas.."
Amara yang kelelahan langsung minta diantar ke kamar untuk beristirahat.
sementara Raka masih ingin ngobrol dengen Tuan Ratmadja.
Raka memperhatikan Amara yang nampak asing dengan rumah kakeknya sendiri.
__ADS_1
" Ada apa Nak?" Tanya Tuan Ratmadja.
" Apa Amara tidak pernah ke rumah ini? Nampaknya ia sangat asing dengan tempat ini?"
" Amara kesini sekali saat usiannya baru beberapa bulan. Tapi karena kebodahanku, Kakek mengusirnya. Sejak saat itu Kakek tidak pernah tahu keadaan mereka lagi. Sampai saat Hardi dikabarkan sakit keras. Kakek baru melihat Amara dan itu pun hanya dari kejauhan. "
" Maaf kalau pertanyaanku mengingatkan Kakek pada hal buruk di masa lalu.."
" Tidak apa Nak, Menginaplah disini beberapa hari, Banyak yang ingin kakek beritahukan padamu."
---------------------------------
" Pak Rahmat, Saya dan istri saya akan menginap disini beberapa hari. Bapak bisa bawa mobil saya untuk pulang ke kampung halaman bapak."
" Terima kasih Den.. kebetulan sekali kampung saya dekat sekali dari sini."
" Nanti saya hubungi bapak saat pulang . " kata Raka.
" ini ada bingkisan Pak, untuk keluarga bapak. " Amara menyerahkan bingkisan pada pak Rahmat.
" Sekali lagi terima kasih, Saya permisi ."
Raka tertarik melihat-lihat beberapa ukiran rumah dan koleksi kayu pahatan milik Opa Amara. Ia berpikir untuk memperluas usahanya dalam bidang properti juga.
" Sudah malam, Mas istirahatlah... "
Raka mengangguk dan mengikuti Amara kelantai atas.
" Disini Mas kamarnya..."
Amara melangkah hendak keluar kamar. Tangannya ditahan Raka.
" Mau kemana?"
" Ke Ibu..."
Raka memandang Amara.
'Beberapa orang, ada yang mudah jatuh cinta dengan cepat. Beberapa lagi ada yang sulit. Aku tidak tahu kamu yang seperti apa. akan tetapi, aku tak kan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membuatmu semakin dekat denganku.'
Ujarnya dalam hati.
Raka menarik Amara dan menutup pintu kamar. Raka duduk di atas ranjang dan membuka laptopnya.
" Disini Luas. Kenapa harus ke kamar Ibu?"
__ADS_1
Amara mulai mengerti maksud Raka.
" kenapa diam disitu? "
" Kamu tenang saja, Aku tidak akan mengambil hak ku sekarang."
Kakinya perlahan maju mendekati ranjang. Amara tidur disebelah Raka yang masih sibuk dengan laptopnya.
Raka menepati ucapannya. Ia tidak menyentuh Amara. Raka menunggu sampai Amara benar-benar siap dan menerima Raka sebagai suami.
------------------------------
Pagi harinya, Amara mambantu Neneknya di dapur membuat makanan ringan. Raka duduk di ruang tengah memakai jaketnya.
Bu Rima membawa teh untuk menantunya.
" Minum tehnya dulu Nak Raka... bagaimana, Kamu suka suasana disini?"
" Iya bu,Terima kasih. Disini sangat sejuk saya suka.. "
" Kalau begitu, menginaplah beberapa hari lagi disini Nak Raka.."
Raka mengangguk " Iya bu, Saya sudah atur jadwal sampai beberapa hari kedepan."
" Siang nanti, Kakek mengundang semua kerabat untuk memperkenalkan kamu sebagai keluarganya." Jelas Bu Rima.
" Bu" Panggil Amara.
" Kata Mbok Atih di belakang rumah ini ada Perkebunan teh ya?"
" Iya Nak, Perkebunan milik kakekmu."
" Aku akan kesana, Mas mau temani aku?"
" Tentu saja." Jawab Raka bersemangat.
Perkebunan teh yang hijau, membentang sepanjang mata memandang. Amara menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Tangannya merentang membelai pucuk dedaunan yang masih basah karena embun.
" Aku suka tempat ini.. "
Diam-diam Raka memotret Amara dengan ponselnya.
Amara terbawa suasana. Ia berlari ketengah-tengah rimbunan daun teh. Raka tersenyum mengikutinya. Amara kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Raka menangkapnya dengan sigap. tubuhnya jatuh kepelukan Raka.
Amara mendorong perlahan dada Raka dengan ke dua telapak tangannya. Raka melepaskan pelukannya.
__ADS_1