RAHASIA DALAM CINTA

RAHASIA DALAM CINTA
Episode 31 - Menggoda


__ADS_3

Setelah Pak Wijaya selesai, Raka memanggil Amara dan mengajaknya pulang lebih awal.


" Kenapa pulang sekarang Mas?"


" Semua masalah dikantor sudah beres. Kita liburan beberapa hari ke rumah Kakek sekarang. Jadi Malam ini kita bermalam disana . Dan kembali kesini sehari sebelum pernikahan Herlan. Bagaimana, Apa kamu tidak merindukan ibumu?"


Amara tersenyum ia sangat gembira dan langsung memeluk Raka.


" Mas serius?"


Raka mengangguk.


"Terima kasih..." Amara terlihat senang sekali.


Cup


Amara mencium pipi Raka dan langsung berlari keluar ruangan Raka untuk mengambil tas di mejanya. Sementara Raka mematung mendapat kecupan mendadak dari istrinya.


***


Seperti sebelumnya, Raka membawa Pak Rahmat karena kampung halaman Pak Rahmat berada di kota yang sama. Setelah menempuh beberapa jam perjalanan akhirnya mereka tiba. Pak Rahmat pamit.


" Saya permisi Den, Non.."


"Iya Pak hati-hati... "


Amara langsung masuk ke dalam rumah Kakeknya dan menghambur kepelukan ibunya yang hendak pergi ke kamarnya.


" Putriku, Kenapa tidak bilang kalau mau kesini. Dimana suamimu?"


" Raka disini bu... " Raka mencium tangan ibu mertuanya.


" Cucu-cucuku datang.." Suara Nenek membuat Amara beralih dari pelukan ibunya ke pelukan Neneknya.


" Dimana Kakek? Apa sudah tidur?" Tanya Raka.


" Kakek kurang sehat, Sekarang sedang istirahat di kamarnya. Temui Kakekmu sana!! " jawab Bu Rima.


Raka dan Amara menghampiri Tuan Ratmadja di kamarnya.


Tuan Ratmadja terkejut melihat kedatangan cucu dan cucu menantunya. Ia tersenyum.


' Ternyata cucu menantuku mengerti dengan kekhawatiranku saat ini. Dia memang orang yang tepat.'


" Kakek kenapa? Kata ibu Kakek sakit lagi?" Tanya Amara.


"Yah begini lah, Kakek sekarang sudah tua. Capek sedikit langsung tumbang."


"Amara, kesini sebentar Nak, Nenek memanggilmu." panggil Bu Rima.


" Kakek sama Mas Raka dulu ya, Aku harus menghadap ibu suri..."


" Hahaha, Benar, Ibu suri akan marah jika menunggu lama..." Canda Tuan Ratmadja seraya mengusap lembut kepala cucunya.


Raka mendekat menghampiri Kakek dari istrinya itu. Tuan Ratmadja mengambil sesuatu di laci dan memberikannya pada Raka.


" Kamu pasti sudah mengerti tujuan Kakek mengganggu perusahaanmu kemarin."


" Iya, Pak Wijaya sudah menjelaskannya pada saya..."

__ADS_1


" Wijaya? Oh.. Kawan lama Putraku. Tolong simpan dan rahasiakan ini baik-baik.. "


" Kenapa Kakek melibatkan saya?"


" Aku tahu semua tentangmu dan kisah hidupmu. Aku juga tahu siapa kamu sebenarnya. Tujuanku memintamu kesini, untuk meluruskan kesalahapahaman."


" Kalau Anda tahu siapa saya, Anda pasti juga tahu siapa musuh saya? Tapi ini tidak ada hubungan dengan alasan mengapa saya menikahi Amara."


" Ya, Tapi kau salah, Akan ku beritahu siapa yang sebenarnya jadi musuhmu. Dan orang itu bukan aku. "


" Apa ini yang di sebut lempar batu sembunyi tangan?" Tanya Raka sinis.


" Aku berani bersumpah, aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Orang itu selain membunuh orang tuamu dia juga yang membunuh Hardi putraku. "


" Jadi, Anda ingin saya membalaskan dendam? Maaf, Tapi saya tidak ingin hidup dalam bayangan masa lalu."


" Kakek tahu. Tapi kali ini nyawa cucuku dalam bahaya. Anggap ini sebuah penebusan dosaku pada cucuku satu-satunya yang pernah aku sia-siakan. Aku Memang terlambat mengetahui kebenarannya. Jadi Tolong, Selamatkan keluarga Ratmadja. Jangan biarkan Orang serakah itu menghancurkan keluarga kami tanpa sisa." Terlihat bulir air dipelupuk mata Tuan Ratmadja. Ia memohon pada Raka.


" Jika benar demikian, tunjukkan buktinya. Saya janji akan menyelamatkan istri saya dan keluarga Ratmadja dengan cara saya sendiri. "


" Kau tahu akan berhadapan dengan siapa?"


" Siapapun itu saya tidak peduli."


" Lakukanlah sebisamu. Kakek sudah siapkan orang-orang khusus yang siap membantumu jika diperlukan. "


" Baik, Saya terima bantuan Kakek jika mendesak."


" Terima kasih Nak.."


****


Di kamar, Amara sedang merapikan pakaian yang dibawanya.


" Mas ngobrolin apa sama Kakek sampai selarut ini?"


" Ngobrolin soal penerus keluarga kita."


" Maksudnya?" Amara mendekati Raka di tempat tidur.


" Kakek minta di buatin cicit..." bisik Raka.


Amara malu mendengar penuturan suaminya.


" Sudah malam... Mas tidur duluan saja. Aku mau ke kamar ibu dulu."


Raka menarik Amara dan memeluknya dari belakang.


" Kamu jangan buat Mas menunggu lagi. Boleh Mas lanjutkan yang tadi tertunda di kantor?"


Amara menggelengkan kepalanya lalu melepas dekapan Raka.


" Kenapa? Kamu bilang kan sudah siap..."


" Iya.. tunggu seminggu lagi yah... Tamu bulanannya udah datang.."


" Hah?Jadi Mas harus puasa lagi? Kamu tega sayang.." Ucap Raka kecewa.


" Mas kok jadi manja banget sih.. biasanya gak gini.."

__ADS_1


" Mas lelaki normal sayang.. bayangin ajah sejak menikah sampai sekarang Mas masih harus menahan diri. Kalau kamunya biasa ajah gak masalah. Tapi kamunya cantik begini, bentuk tubuhmu menggoda iman. Apalagi kalau tersenyum. demi kamu Mas tahan... sekarang setelah kamunya siap, Malah...."


Amara mengulum bibirnya menahan tawa. Sesekali ia memainkan dan menggigit bibirnya untuk menggoda Raka. Raka yang melihatnya semakin dibuat tegang.


" Jangan menggodaku seperti ini dengan permainan bibirmu itu."


Melihat reaksi Raka. Amara semakin menggodanya.


"Jadi Mas nyesel? Gak mau nunggu aku seminggu lagi?" Goda Amara seraya menyentuh dan mengusap lembut dada bidang Raka.


" Kamu kenapa malah makin menggoda sih?"


' Gantian, kali ini aku yang akan menggodamu.' Ancam Raka dalam hati.


Raka yang sudah tidak dapat mengendalikan nafsunya. Menarik Amara ke kamar mandi.


" Eh.. Mas mau apa? Aku nya sedang datang bulan...." Amara panik.


"Sudah berani bangunin macan tidur. Harus berani tanggung jawab. sekarang kamu harus bantu aku!!"


Raka berpura-pura hendak membuka resleting celananya.


" Aarrkkhhhh" Teriak Amara yang langsung berlari keluar kamar mandi.


Raka tertawa gelak melihat tingkah istrinya.


 


Pukul 6 pagi Amara sudah di dapur membantu ibunya menyiapkan sarapan.


" Sayang, Mas ikut Kakek ke perkebunan sebentar. Nanti kamu nyusul ya.."


" Iya Mas.."


" Nenek senang sekali melihat kamu bahagia. Andai ayahmu juga melihatnya. Nenek benar-benar menyesal. Seandainya dulu Nenek bisa lebih tegas melawan keegoisan Kakekmu"


" Bu, Mas Hardi selalu melihat putrinya dimanapun. Jangan mengungkit masalalu lagi.. "


" Iya Nenek. Ayah pasti ikut bahagia kalau Nenek juga bahagia. Lebih baik Nenek minum teh herbal dulu. Hari ini sangat dingin. Aku gak mau Ibu suri di kerjaan ini jatuh sakit."


" hahaha, Kau ini seperti kakekmu memanggilku ibu suri.."


"Bagaimana kalau kita ganti topik soal cicit saja bu. Aku sudah ingin sekali menjadi seorang Nenek "


" Uhuk..uhuk.." Amara yang sedang mencicipi tehnya pun tersedak mendengar perkataan ibunya.


" Iya kamu benar Nak.. Aku juga ingin sekali mendengar tangisan bayi di rumah ini..." Timpal Nyonya Ratmadja.


" Ibu .. Nenek... "


" Lho kenapa? Kamu kan sudah menikah, wajar lah Ibu nanyain cucu."


"Jangan-jangan kamu masih gadis yah? Aduh kasian Nak Raka. Dibuat puasa selama ini.." Tanya Nyonya Ratmadja.


" Sana susul Suamimu. Jangan sampai Kakekmu itu memperkenalkan wanita diperkebunan untuk Raka." Goda Nenek.


" Nenek, Masa Kakek setega itu sama cucunya sendiri. "


Bu Rima dan Nyonya Ratmadja tertawa melihat Amara kesal karena terus digoda.

__ADS_1


__ADS_2