RAHASIA DALAM CINTA

RAHASIA DALAM CINTA
Episode 39 - Kabar buruk


__ADS_3

" Ra.. Ra.. Lo udah lihat foto Pak Raka?" Tanya Zain.


" Itu gak benar kan Ra? Gue tahu Pak Raka itu su.. suami lo..." Zain sedikit berbisik.


Amara hanya terdiam. Rasa sakit, Amarah dan kecewa memenuhi rongga dadanya. Ia masih menahan air matanya.


"Zain..."


" Lo tenang dulu. Ikut gue..."


Zain melihat sekeliling lalu membawa Amara ke rooftoop.


" Disini gak ada siapa-siapa. Lo bisa nangis sepuasnya. Gue tahu lo gak bisa menceritakan masalah lo. Tapi lo bisa tumpahkan semua yang ada di hati lo lewat air mata disini. "


Seketika tangisan itu pecah.


Ia tumpahkan kekecewaan dan rasa sakit itu disana. Cukup lama. Zain masih menunggunya sampai Amara tenang.


Zain sangat mengerti watak Amara yang sangat tertutup. Mereka berteman sejak sama-sama bekerja di perusahaan Pak Wijaya. Tapi karena pembawaan Zain, membuat Amara mudah bergaul dengannya. Sehingga sekalipun tanpa kontak fisik, mereka sangat akrab dalam hal apapun.


Setelah dirasa Amara cukup tenang, Zain membuka percakapan.


" Foto itu asli. Tapi gue yakin Pak Raka punya penjelasan khusus soal ini. Lo jangan percaya gitu ajah. Kalau lo lemah, situasi ini pasti dimanfaatkan orang-orang yang ingin merusak hubungan lo dan Pak Raka. "


Amara mengangguk lalu menarik nafas panjang dan menghempaskannya perlahan. Ia lelah dengan perdebatan batinnya.


" Apa salah, Kalau kali ini Aku merasa di permainkan? Dia gak pernah terbuka soal kehidupannya."


" Lo butuh bukti apa lagi sih Ra? Dipermainkan bagaimana? Kalau laki lo gak serius, dari awal juga dia pasti udah ngelepasin..."


" Apa lo gak mikir berapa banyak waktu yang dia habiskan buat nunggu lo sembuh? Gue yakin dia mati-matian nahan hasrat lelakinya cuma demi menjaga perasaan lo. " Sambung Zain.


" Sekarang Aku harus gimana Zain? Apa harus pura-pura gak tahu kalau suami sendiri menikah lagi? Begitu?


Terakhir dia menghubungiku saat kita makan siang ada suara lain yang memanggilnya sedang ditunggu mertuanya. Mertua yang mana lagi Zain? Ibuku gak ada disana.."


" Lo jangan percaya berita tersebut sampai Pak Raka sendiri yang mengatakan kebenarannya..."


" Kebenaran apa? Kebenaran bahwa dia punya istri selain aku?"


"Jangan menghakimi Pak Raka dengan tuduhan-tuduhan lo.. sampai ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Lo beri dia waktu... Jangan sampai lo nyesel hanya karena sebuah kesalah pahaman. "


Amara terdiam mendengar kata-kata Zain.


Lama...


Amara masih terpaku.


' Ah Zain memang benar... Salah paham bisa menghancurkan segalanya...


Aku harus memberi kesempatan pada Mas Raka untuk menjelaskan ini semua. Aku harus mempercayai kata-katanya. ' Amara memantapkan hatinya.


" Terima kasih Zain. Perasaanku sedikit lega... Aku akan tunggu Mas Raka menjelaskan semuanya."


" Nah.. begitu dong. Tidak akan ada kesalahpahaman dalam hubungan kalau kalian saling menunggu dan memberi waktu untuk menjelaskan semuanya. " Ujar Zain.


Amara mengusap air matanya. Ucapan Zain yang pada akhirnya mampu menguatkan hatinya menunggu Raka memberikan kejelasan masalah ini.


" Kamu tahu dari mana Pak Raka itu...."

__ADS_1


" Suami lo? Ya tahu lah... Kan yang nikahin lo berdua bokap gue...."


" Maksudnya? Pak Wijaya?"


Zain mengangguk. Sementara Amara masih berusaha mencernanya.


" Nama lengkap gue Zain Aditama Wijaya. Putra satu-satunya Pak Wijaya... "


" Hah? Serius Zain?" Tanya Amara tak percaya.


Zain menggangguk.


" Jadi Putra kurang Ajar yang diceritakan Pak wijaya itu kamu..."


" Ya kali 'kurang ajar'nya jangan dibawa-bawa laah... Hubungan gue dan bokap gak baik semenjak nyokap gue meninggal. Gue selalu nyalahin beliau menjadi faktor utama penyebab meninggalnya nyokap. Karena Sebelum meninggal ada kesalah pahaman diantara mereka. Nyokap punya asumsi buruk soal hubungan bokap dan temennya. Pada akhirnya itu yang memicu hipertensi sampai pembuluh darah nyokap pecah dan gak tertolong. "


" Apa sampai sekarang kamu masih nyalahin Pak Wijaya?"


" Gak.. hampir sebelas tahun bokap gue ditinggal istri. Dia gak pernah ada niatan buat nikah laki. Itu sudah cukup bukti bahwa Bokap cinta mati ke nyokap. Hanya ada salah paham diantara keduanya. Dan sayangnya, Bokap gak punya waktu untuk menjelaskan semuanya. "


" Gak nyangka... Pemikiranmu sedewasa ini Zain.. Beda banget kalau lagi bergurau.. "


" Yeh.. jangan sangka.. biar umur gue setahun dibawah lo tapi pengalaman hidup gue udah banyak..."


" Hmm.. Hmm.. Udah selesai curhatnya?"


Tanya seseorang yang muncul tiba-tiba.


" Mbak Putri??!!!" Seru Amara dan Zain bersamaan.


Awalnya Mbak Putri ingin menemui Amara untuk mengajaknya sarapan. Tapi melihat berita itu, ia merasa khawatir pada Amara. Melihat kedekatannya dengan Pak Raka.


" Kenapa? Ada yang mau kalian jelaskan ? Aku sudah mendengar semuanya lho.."


" Habis nguping bukannya minta maaf malah nanya begitu... " Ketus Zain.


" He.. Maaf... Aku akan jaga rahasia kok... Jadi semua yang di obrolin tadi benar? Kamu sama Pak Raka?"


" Iya Mbak..."


" Pantas saja kalian kayak perangko.. nempel terus... Aku kok baru sadar ya... Dan kamu Zain.. Gak nyangka banget aku.. dengan penampilan begini... ternyata kamu anak orang kaya..."


" Loh memangnya aku gak ada tampang anak orang kayak gitu?"


Mbak Putri ikut memberi nasehat pada Amara. Setelahnya mereka kembali keruang kerjanya masing-masing.


****


Amara kembali ke mejanya. Sudah ada Irgi yang menunggu disana.


" Nona? Dari mana saja? Soal ini.."


" Biar saja... Saya akan beri waktu Mas Raka untuk menjelaskan semuanya. "


" Hufttt..." Irgi bernapas lega. Ia tidak menyangka Istri bosnya akan setenang ini.


" Langsung ke ruang rapat Pak Irgi?"


" Rapat di undur satu jam Nona... tadi saya tunda karena panik nyari Nona... Ditambah lagi banyak wartawan di luar yang ingin tahu kejelasan berita secara langsung."

__ADS_1


" Oh Maaf.. Tadi saya pergi untuk menenangkan diri. Lalu bagaimana dengan wartawan-wartawan itu? "


" Saya sudah bereskan Nona."


" Kalau begitu saya siapkan berkas-berkas dulu. Sebagian berkas untuk rapat ada di saya... "


" Iya Nona.. Saya permisi..."


Setelah Irgi pergi, Amara mulai merapikan berkas yang akan di bawa untuk rapat.


Bianca dan Ririn memberikan dokumen dari bagian keuangan kepada Irgi.


Saat hendak kembali, mereka


melihat Amara sedang merapikan berkas di mejanya. Keduanya ingin mengganggu Amara.


" Hmm.. patah hati nih Bi.. kita ditinggal nikah sama si Bos.. " Sindir Ririn.


" Gak masalah Rin.. Kita gak rugi.. Yang rugi itu dia.. Udah dibawa-bawa ke hotel.. ehhh di tinggalin gitu ajah.."


Amara melirik Bianca dan Ririn.


" Apa lihat-lihat? Lo gak suka ucapan kita? Makanya jadi cewek gak usah kegatelan... Mimpi lo terlalu tinggi bisa bersanding dengan pria seperti Pak Raka." Sarkas Ririn.


" Lalu wanita seperti apa yang pantas bersanding dengan Pak Raka? Kalian?" Sahut Amara santai.


" Ya jelas lah.. Dibandingkan kamu yang bukan apa-apa kami lebih terhormat. Keluargaku orang Kaya dan terpandang. Sedangkan kamu? Keluargamu pun bukan dari kalangan terhormat. Kamu hanya mengincar harta Pak Raka saja kan? Kamu ingin hidup mewah setelah lama hidup menderita di rumah kontrakan..."


" Siapa Aku dimata kalian tidaklah penting. Tapi perlu ingat satu hal. Orang kaya dan terhormat yang sebenarnya tidak pernah mengatakan 'Aku kaya, Aku terhormat' karena mereka sadar. Kata-kata itu hanya diucapkan oleh seorang yang SOMBONG!!!!"


Amara berlalu meninggalkan Bianca dan Ririn yang dibuat kesal dengan jawaban menusuk dari Amara.


***


Amara langsung memasuki ruang rapat. Ia lebih memilih menunggu diruang tersebut dari pada harus mendengar ocehan dari Ririn dan Byanca.


Setengah jam kemudian semuanya sudah berkumpul. Irgi dan Tuan Alfha memulai Rapat tersebut.


Baru beberapa saat Rapat dimulai, Zain kembali berlari tergesa-gesa menghampiri Amara diruang rapat.


Brakkk!!


Pintu ruangan terbuka.


"Maaf mengganggu."


" Ra.. Ra.. Lo harus lihat berita di TV sekarang... Mobil Pak Raka mengalami kecelakaan tertimpa longsor saat kembali kesini beberapa jam yang lalu..."


" Apa?!!!!!"


Kebetualan di ruang tersebut ada TV. Irgi langsung menyalakannya dan menyaksikan siaran langsung tanah longsor yang menimpa beberapa mobil dan salah satunya mobil pemilik Pradipta Corp.


Semua tercengang saat di layar menampilkan kondisi sebuah mobil yang berhasil di evakuasi. Mobil tersebut ringsek dibagian atasnya. Kemungkinan besar orang yang ada di dalamnya tidak akan selamat.


" Itu memang mobil Tuan Raka." Cetus Irgi.


" Gak.. Ini gak boleh terjadi.. Irgi.. bawa aku menemui Mas Raka... Bawa aku ke tempat itu sekarang... Aku yakin Mas Raka masih hidup.. Kumohon....!!" Amara menangis histeris.


Ia tidak peduli anggapan orang-orang di kantor. Ia hanya ingin bertemu suaminya. Dan memastikannya selamat.

__ADS_1


__ADS_2