
Raka menghubungi seseorang.
" Kembali kesini sekarang. Aku butuh bantuanmu!"
" Baik Tuan, Saya segera kembali sekarang."
-----------------------
Hari-hari berlalu, Raka dan Amara telah kembali ke Jakarta sesuai rencana sehari sebelum hari pernikahan Andin dan Herlambang.
Saat hari H tiba, Amara mendapat telpon dari Raka ia akan datang terlambat ke gedung pernikahan Andin karena ada urusan penting.
Amara pergi bersama Mbak Putri dan beberapa teman lain. Mereka janji bertemu di kantor dan bersama-sama ke gedung pernikahan Andin.
Kali ini Amara dibuat pusing pakaian yang akan ia kenakan. Raka sudah menyiapkan banyak gaun di lemari. Tapi Amara enggan memakainya. Amara mencoba memakai satu gaun.
Saat tiba di kantor, Amara merasa malu karena tidak biasa memakai gaun, lalu memutuskan mengganti pakaiannya memakai pakaian kerja yang ada di lokernya.
" Ra, Kamu yakin ke pesta dengan pakaian seperti ini?" Tanya mbak Putri melihat penampilan Amara.
" Aku gak suka pakai gaun mbak.. Tadi sudah ku pakai... tapi aku gak nyaman..."
Mbak Putri melirik paperbag yang dibawa Amara.
" Apa ini?" Tanya Mbak Putri.
" ...Gaun..."
Mbak Putri langsung menarik Amara ke toilet.
"Kamu ganti pakaian kamu sekarang!"
" Tapi mbak... "
" Kamu harus terlihat menarik. Memangnya kamu mau melihat Pak Raka di goda perempuan lain di tempat pesta?"
" Ya gak mau... " Amara refleks menjawab. Lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan.
' Uhh, kenapa jadi keceplosan sih...'
Mbak Putri berhasil membujuk Amara untuk memakai gaun.
" Ini kan gaun mahal Ra.. Kamu hobi koleksi barang branded yah?"
Amara menggeleng.
' Barang branded? Aku bahkan tidak mengerti fashion sama sekali'
" Nih aku cek harganya diatas 300 juta lho. Kamu benar-benar anak orang kaya ya Ra? "
" Gak mbak.. Gaun ini pemberian seseorang. Yuk berangkat mbak.. yang lain udah nunggu."
" sebentar masih ada yang kurang."
Mba Putri mengeluarkan pouch make up dari tasnya. Ia merias wajah Amara.
" Wah, Kamu di sentuh make up sedikit saja sudah bikin pangling."
__ADS_1
" Mbak.. Aku gak biasa seperti ini."
" Harus biasa. Apalagi kalau nanti kamu sudah menikah dengan Pak Raka. Dia itu orang hebat Ra, ia tampan dan mempesona. Saingan kamu pasti banyak. Walaupun tanpa make up kamu sudah cantik sih tapi gak ada salahnya kamu tampil istimewa didepan Pak Raka."
' Mbak putri benar. Selama ini aku tidak pernah memikirkan hal itu.'
" Mbak Putri.. Terima kasih ya.."
****
Andin dan Herlambang terlihat sangat bahagia. Amara dan kawan-kawan menghampiri dan memberi selamat.
" Bu Andin dan Pak Herlan akhirnya dipersatukan juga .. Selamat ya bu.."
" Terima kasih Mbak Putri..."
" Bu Andin.. Selamat ya.. semoga Samawa rumah tangganya..."
" Terima Kasih Amara... Kamu cantik banget sih.. Oh ya suamimu mana?"
" Suami? "Tanya mbak Putri
"Maksudku Pak Raka... Amara dan Pak Raka kan sudah seperti suami Istri kemana-mana berdua.. jadi gak salah kan kalau aku panggil Pak Raka suami Amara.." Andin berusaha menutupi.
" Oh Pak Raka ada urusan. Ia akan datang sedikit terlambat. "
Tak lama kemudian Raka datang bersama asistennya.
" Maaf, Aku terlambat. Selamat buat kalian. Hadiah untuk kalian sudah aku siapkan.. semoga suka... "
" Terima kasih Bro.. "
" Ah benarkah... "
" Raka... Bagaimana kabarmu?" Tanya Tuan Adyaksa.
" Aku baik Tuan. "
Terdengar panggilan untuk Tuan Adyaksa.
" Lain kali kita ngobrol lagi, saya masih harus menyambut tamu. Silahkan nikmati pestanya."
" Iya, Terima kasih."
Setelah Tuan Adyaksa pergi, Raka mendekat ke tempat Amara yang duduk bersama mbak Putri dan kawan-kawan. Zayn terus menggoda Amara karena penampilannya yang jauh berbeda dari biasanya.
" Mbak Put.. Kenalin sama cewek cantik yang disebelahmu dong.. "
" Zayn..."
" Maaf.. Dia sudah bersuami..." Jawab mbak Putri.
" Oh benarkah..."
Amara menggangguk.
" Sayang sekali... Jika begitu ku tunggu Jandamu..."
__ADS_1
" Oh jadi kamu nyumpahin saya mati ya Zayn?" Tanya Raka yang baru datang.
" Weittzzz.. Ada Lakinya.." Zayn menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mereka larut dalam candaan di pesta pernikahan Andin dan Herlan.
" wah ada pesta dansanya juga.. Ikut yuk Ra.. " Ajak Zayn..
Amara menggeleng.
" Kamu sama mbak Putri ajah.. Bara sudah turuan duluan tuh sama Lili."
" Yuk Zayn, Mbak udah lama nih gak ngedance.." Ajak Mbak Putri.
" Serius nih Mbak Put sama aku.. Suami Mbak ntar marah-marah lagi kalau tahu istrinya dance sama bintang film..."
" Kamu binatang film bukan bintang film Zayn.." Ujar Raka meledek Zayn.
Zayn menampilkan ekspresi sedih dan menggoyang-goyangkan lengan Amara seolah seperti anak yang sedang merengek pada ibunya.
"Huhuhu.. Daddy Raka jahat.. Zayn dibulli.. Aku bilangin Mommy aku lho.. "
Semua tertawa melihat kekonyolan Zayn.
" Mom.. Mas bosnya jahat... jangan dikasih jatah ya Mom... Malam ini suruh tidur di luar ajah..."
Amara dan Raka yang sedang mencicipi hidangan pesta tersedak bersamaan mendengar perkataan Zayn.
" Tuh kan.. Keselek ajah kompak.. yakin banget Saya kalian ini pasutri. Ngaku ajah deh.. " Desak Zayn.
" Udah yuk ah.. Kepo banget kamu sama pasangan ini..." Mbak Putri menarik Zayn.
" Ehh bentar Mbak..
Mas Bos.. Teman saya yang cantik ini jagain ya.. Kalau nakal kurung ajah di kamar jangan dikasih keluar."
" Zayn!!! Aku bukan kucing peliharaan yah... "
Zayn tertawa sambil berlalu meninggalkan keduanya.
Raka terus memandangi Amara. Ia begitu terpana dengan penampilan istrinya. Matanya seolah tak bosan menatap lekat tubuh dan wajah perempuan yang kini menjadi istrinya itu.
Andin dan Herlan mengabadikan momen bahagia mereka dengan berfoto bersama keluarga. Amara terpaku melihat kemanjaan Andin dengan ayahnya.
'Seandainya ayah masih ada..'
Terlihat buliran air yang tertahan di sudut mata Amara.
Raka menyadari tatapan sendu Amara. Jemari Raka bergerak mengusap air mata Amara yang sudah tak dapat dibendungnya lagi.
" Melihat mereka, aku jadi merindukan ayahku... " Amara melirih dalam isakannya.
" Tenanglah, Mas pastikan kamu akan mendapatkan kebahagiaan lebih dari pada Andin. Sebulan lagi resepsi pernikahan kita akan digelar." Raka memegang tangan Amara dan mengecupnya.
Amara yang tertegun mendengar penuturan Raka terdiam sesaat.
" Aku bukan iri pada resepsinya Mas.. tapi aku iri melihat kemanjaan bu Andin dengan ayahnya yang aku tak pernah bisa dapatkan lagi."
__ADS_1
' Kamu bisa sayang.. Mas akan berusaha menyelamatkan Ayah... Ya Ayahmu dan juga lelaki itu yang dulu ku panggil Ayah.. '