
Hari Pernikahan tiba. Acara akad nikah digelar dikediaman Raka. Pernikahan ini hanya di hadiri keluarga, kerabat dan teman-teman terdekat Raka dan Amara. Bahkan, karyawan perusahaan pun tak ada yang tahu.
Tidak ada maksud untuk menyembunyikan pernikahan, tapi Raka sudah mengatakan akan menggelar resepsi pernikahannya nanti setelah Amara benar-benar siap dengan hubungannya.
Saat ini, Raka ingin memberikan waktu pada Amara untuk lebih mengenal Raka. Dan tentunya sambil menjalani proses penyembuhan Amara dari Androphobia.
Ijab kabul Dimulai. Tuan Ratmadja sebagai Wali dari Amara.
" Saya terima nikah dan kawinnya Amara Mahreen binti Rahardian Ratmadja dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai..."
Raka mengucapkannya dengan satu tarikan nafas.
" SAH" jawab Pak Wijaya dan para hadirin sebagai saksi.
Momen sakral tersebut berjalan dengan lancar. selesai ijab kabul, Amara dibawa menemui Raka yang kini menjadi suaminya.
Raka terpana dengan penampilan Amara.
'Dia sempurna... ' gumam Raka dalam hatinya.
Seperti menikahi seorang putri negeri dongeng.
Bu Rima menenangkan Amara dan menguatkan Amara agar yakin semua akan baik-baik saja. walau tampak gemetar dan panik, Amara ragu-ragu mencium tangan Raka. Raka lalu mengusap kepala dan mencium kening Amara.
Momen tersebut di abadikan Irgi sebagai fotografer dadakan.
__ADS_1
Semua yang hadir memberi selamat untuk Amara dan Raka. Semua tampak sangat bahagia. Bu Rima memandang haru putrinya.
Selama ini Bu Rima menganggap dirinya gagal menjadi ibu sekaligus ayah untuk Amara. Ia tidak bisa memberikan Amara kebahagiaan yang ia janjikan saat ayahnya meninggal.
' Semoga dengan pernikahan ini, Raka akan mewakiliku memberi kebahagiaan padamu nak...'batin bu Rima.
Kedua pengantin itu mendekati ibunya. Amara memeluk ibunya.
Amara tidak bisa berkata-kata. Matanya tampak berkaca-kaca melihat kebahagiaan di mata ibunya. Tenggoroknya tercekat. Ia tak bisa mengungkapkan perasaannya.
" Berbahagialah Nak, kamu pantas bahagia.. kamu berhak untuk bahagia.. jadilah istri yang baik..."
Amara hanya mengangguk dan mendekap ibunya erat.
Ganti Raka yang memeluk bu Rima.
" Tentu bu, Aku akan berusaha dan tidak akan menyerah untuk Amara. Kalau nanti aku yang membuat Amara kecewa, ibu juga harus menghukumku... tapi jangan pernah pisahkan kami..."
Tangis bahagia bu Rima di pelukan anak dan menantunya.
Kali ini Kakek dan Neneknya yang memberikan doa restu untuk kedua mempelai.
Lalu acara di lanjut dengan tasyakuran dan berkumpul sekaligus makan bersama kerabat yang hadir. Semua menikmati momen bahagia ini sampai malam.
Setelah acara pernikahan selesai, Amara dan Raka beristirahat.
__ADS_1
Ibunya membantu Amara membersihkan diri dan juga riasannya. Lalu memanggil Raka untuk istirahat di kamarnya.
Raka masuk ke kamar. Terlihat Amara yang sudah berganti pakaian. Dia terduduk di tepian ranjang.
Amara yang terkejut dengan kedatangan Raka langsung bangkit dan berjalan ke arah sofa.
" Mmm.. mas.. silahkan istirahat di kasur. A..aku biar tidur disofa.." ujar Amara terbata.
Wajah Amara tampak pucat.
" Amara, kamu baik-baik saja? " Raka mendekat.
" Ya.. ya.. ta.. tapi.." Amara berjalan mundur, tubuhnya gemetar, nafasnya cepat .
" Tenang Amara. Aku tidak akan menyentuhmu... Tenang.. kumohon tenanglah.."
Amara sedikit tenang. Nafasnya mulai normal.
" Kalau begitu, biar aku tidur di kamar lain saja... kamu beristirahatlah.. "
" Jangan.. Maafkan aku.. " Amara tertunduk dan menangis.
" Baiklah, Aku tidak keluar. Kamu tidurlah di ranjang. Biar aku yang di sofa."
Amara berjalan keranjang dan mulai merebahkan dirinya. Sementara itu Raka meletakkan bantal dan tidur di sofa.
__ADS_1
Malam pertama pernikahan, mereka harus tidur terpisah. Tapi Raka sudah tahu dari awal hal seperti ini pasti akan terjadi. mengingat kondisi psikis Amara yang memang masih sedikit terganggu.