RAHASIA DALAM CINTA

RAHASIA DALAM CINTA
Episode 30 - Rahasia keluarga Ratmadja


__ADS_3

Amara dan Raka meninggalkan danau dan pergi ke kantor.


Saat Raka memparkirkan motornya, Amara ingin pergi lebih dahulu.


" Mas aku duluan ya..."


Raka menahan tangan Amara dan menggenggamnya.


" ini jam sibuk, mereka tidak akan memperhatikan kita."


Sampai di kantor sudah ada Andin dan Calon suaminya. Amara melepas tangannya dari genggaman Raka. Namun Raka meraihnya dan menggenggamnya kembali.


Mereka berempat duduk di sofa.


" Amara, perkenalkan Aku Andin dan ini calon suamiku Herlambang panggil saja Herlan." Mengulurkan tangannya.


" Amara..." jawab Amara menjabat tangan Andin dan Herlan.


" Dia istriku. Kami sudah menikah beberapa bulan yang lalu. "


" Apa?" Jawab Andin dan Herlan bersamaan yang terkejut dengan pengakuan Raka.


Bruggghh!!!


Herlambang memukul wajah Raka.


" Bodoh. Kau anggap kami apa?!! Kenapa hal sepenting ini kau sembunyikan dari kami?"


" Maaf, Aku tak memberi tahu kalian. Setelah bertemu dengannya, aku seperti kehilangan akal sehatku. Yang aku tahu hanya bagaimana caranya agar aku bisa memilikinya. Sekali lagi Maaf!!!"


" Apa dia gadis yang selama ini kamu cari?" Tanya Andin.


Raka mengangguk.


" Ya, dia gadis itu."


Amara tertegun atas pengakuan Raka. Tapi ia tak mengerti karena Raka belum menceritakannya.


Herlambang memeluk Raka.


" Selamat. Akhirnya kamu menemukannya. Tapi aku masih marah soal ini. Teman macam apa menikah tidak memberitahukan kami? Hah!!!"


" Aku yang salah."


Andin tersenyum.


" Penantianmu tidak sia-sia Ka. Kita ikut berbahagia mendengarnya."


" Terima kasih. "


" Sebuah keberuntungan yang besar bisa bersatu dengan orang yang kita cinta. Aku juga pernah berjuang untuk meyakinkan Herlan. Saat berhasil mendapatkannya aku tak ingin apa-apa selain tetap disisinya. Selamat Amara. Kamu beruntung, Raka selalu menjaga hatinya untukmu."


" Maksud Bu Andin?" Tanya Amara tak mengerti.


" Hei.. Pak Raka.. Apa kau tidak memberi tahukan hal ini pada istrimu?"


Raka menggeleng.


" Akan ku beritahu hal ini nanti jika waktunya sudah pas. Dan kau berhentilah memanggilku Pak.. "


" Mas, Aku kemejaku ya sekarang... Bu Andin, Pak Herlambang saya permisi..."


Andin dan Herlambang tersenyum dan mengangguk bersamaan.

__ADS_1


Raka menunjukkan beberapa pesan dari ponsel Amara pada Herlambang.


Herlambang dibuat terkejut karenanya. Andin ikut terkejut setelah membacanya.


" What??!!! Bahkan aku belum memiliki nomor ponsel +62... bagaimana mungkin? " jelas Andin.


" Aku sudah memerintahkan Arga untuk memeriksanya. Kita akan segera tahu siapa orangnya."


" Keterlaluan. Aku yakin pelakunya orang yang sama yang telah menjebakmu dulu..." Herlambang meyakinkan Andin.


" Jika bertemu orang itu kau harusnya berterima kasih..." ujar Raka.


" Kau benar. Kalau bukan karenanya, Aku tidak akan pergi dan Andin mungkin belum menyadari perasaannya padaku."


" Ayolah.. jangan bahas soal itu sekarang..." pinta Andin yang tampak malu jika mengingat kesalahpahaman yang terjadi beberapa tahun yang lalu.


Tak lama, Arga datang dan menginfokan data pemilik nomor ponsel tersebut.


" Tuan, Nomor itu terdaftar atas nama Budiman. Saat melacaknya, pertama kali ada di sekitar kantor ini. Setelah tadi saya lacak lagi, Nomor itu berada tepat di rumah besar keluarga Ratmadja."


" Rumah besar Ratmadja?" Raka berpikir sebentar.


" Tolong kirimkan CV seluruh karyawan Divisi Keuangan sekarang. "


" Apa kau terlibat masalah dengan perusahaan Ratmadja? Kau tahu perusahaan itu sangat pandai menjatuhkan lawan bisnisnya.. "Tanya Herlan.


" Tidak aku tidak terlibat masalah dengan siapapun. Lagi pula istriku putri dari anak sulung Tuan Ratmadja. Mereka mungkin mengirim mata-mata kesini."


"Ah Amara seorang Ratmadja? Tapi tetap saja kau harus jelaskan ini semua pada Istrimu. jangan sampai ia salah paham dan pergi meninggalkanmu." timpal Andin.


" Tenang saja. Dia bukan perempuan bodoh yang mudah lari dari kenyataan... Aku yakin ia akan hadapi ini semua bersamaku... "


****


" Pak Rahmat, Ada apa Pak?" Tanya Amara.


" Tadi Pak Arga meminta saya menyerahkan ini pada Nona untuk diberikan pada Den Raka." Ujar pak Rahmat seraya memberikan berkas.


" Lho, Memang Pak Arganya kemana?"


" Pak Arga tadi buru-buru. Ada hal mendesak katanya."


" Oh, Baik saya akan serahkan sekarang."


" Terima kasih Non..."


" Sama-sama Pak.."


Amara segera membawa berkas keruangan Raka. Pintu dibuka, tapi Amara tidak mendapati Raka disana.


" Pak Raka ... " Panggil Amara.


Tiba-tiba Raka muncul dari balik pintu dan langsung menutupnya.


" Pak Raka ini..."


" Aku tahu."


" Kalau begitu saya permi..."


Amara belum menyelesaikan ucapannya, Raka merebut berkasnya dan melemparnya lalu mengunci Amara dengan kedua tangannya di dinding.


" Pak Raka mau apa?"

__ADS_1


" Kita sedang berdua.. Jangan panggil Pak.. Apa aku terlihat seperti Bapak-bapak? Kau ingat?Aku bahkan masih perjaka dan belum memiliki anak..."


" Perjaka? Anak?" Amara tercengang dengan kata-kata itu.


Raka membuka Jasnya kemudian menggulung lengan kemejanya sampai siku.


'Jangan-jangan Mas Bos mau meminta haknya sekarang... Kenapa harus di kantor sih??' Amara bergumam dalam hati.


"Tapi... Kalau nanti ada karyawan yang lihat bagaimana?" Amara mencoba mencari-cari alasan untuk menolak.


" Sudah biasa, akan selalu ada skandal antara bos dan sekretarisnya." Jawab Raka santai.


" Mereka akan memanggilku wanita jalang yang menggoda bosnya. "


" Pada kenyataannya aku yang menggodamu mengejarmu dan mengemis cintamu."


" Mas, Jang... Mmmpphh"


Raka membungkam mulut amara dengan ciumannya.


terdengar suara pintu di ketuk.


Tok tok tok


Amara segera mendorong Raka dan mengambil berkas yang berserakan karena di lempar Raka tadi.


Sementara Raka terlihat sedikit kesal, ia memakai kembali jasnya. Ia berjalan ke kursinya. Dan bersiap-siap untuk memberi omelan pada orang yang mengganggunya. Namun saat melihat siapa yang datang, Raka mengurungkan niatnya.


" Pak Wijaya... Silahkan Masuk Pak.."


" Terima kasih Nak..."


Raka dan Pak Wijaya lanjut membahas masalah pekerjaan.


" Amara, tolong berikan ini pada direktur keuangan. Dan hubungi kepada semua dewan direksi untuk memajukan rapat tahunan minggu ini. "


" Baik Pak, Saya permisi... Mari Pak Wijaya..." Pamit Amara.


Pak wijaya tersenyum dan mengangguk.


" Profesional sekali kalian ini... Bisa membedakan antara di kantor dan di rumah..."


Raka tersenyum. Dalam hatinya sedikit malu. Karena akhir-akhir ini Raka tidak bisa mengendalikan dirinya saat berdua dengan Amara. Raka semakin masa bodo dengan Profesionalitas.


" Pak, Sepertinya perusahaan Keluarga Ratmadja sedang menekan perusahaan saya. Bahkan mereka mengambil beberapa klient yang sudah bekerja sama dengan saya."


" Tuan Ratmadja memang tidak pernah berubah. Bahkan pada Hardi putranya sendiri pun dia tega melakukan hal yang lebih dari ini. Sepertinya beliau sudah mengetahui kebenarannya. Tapi begitulah cara Tuan Ratmadja menyampaikan maksud tersembunyi. Apalagi istrimu itu merupakan pewaris tunggal kekayaan Tuan Ratmadja."


" Pewaris tunggal? Lalu apa hubungannya dengan menjatuhkan saya?"


" Yang pasti saya yakin tujuan Tuan Ratmadja melakukan ini karena sedang menguji kehebatan Nak Raka memimpin perusahaan besar dan sepertinya ada hal penting yang ingin ia sampaikan padamu. Temuilah dia, kamu akan tahu."


'Nak Raka, Selama kamu disisi Amara kelak dirimulah yang akan meneruskan pengelolaan kekayaan keluarga Ratmadja dan kamu akan tahu siapa yang sebenarnya menjadi musuhmu. ' gumam Pak Wijaya dalam hati.


" kenapa dengan cara seperti ini? Untung saja saya masih bisa mengatasi masalah seperti ini." Tanya Raka penasaran.


" Nanti Nak Raka akan tahu sendiri. Tuan Ratmadja dia bukan orang yang bertele-tele. Dia akan memberitahukan seluruhnya padamu. "


" Perhatikan istrimu Nak Raka, Sebagai pewaris tunggal sebuah perusahaan besar tentu saja banyak yang mengincar nyawanya. "


" Tentu saja Pak, Saya akan berhati-hati."


Pak Wijaya tersenyum bangga. Dalam hatinya merasa bersyukur pada akhirnya lewat Raka ia bisa menunaikan janjinya pada Hardi sahabatnya untuk menjaga dan melindungi Amara.

__ADS_1


__ADS_2