
Raka berjalan beriringan dengan Tuan Ratmadja menuju perkebunan.
" Sesuai janji Kakek semalam, Kakek akan memberitahukan sesuatu padamu."
" Tentang Apa?"
" Ini Lihatlah, Kamu kenal orang di foto ini?" Tuan Ratmadja menunjukkan selembar foto yang sudah usang.
" Ini... " Raka tercengang. Di foto tampak dua orang pria yang terlihat sangat akrab. Orang yang di tunjuk tuan Ratmadja sangat mirip dengan Raka.
" Dia Dipta Ayahmu. Raka apa kau tahu siapa laki-laki disebelah ayahmu itu?"
Raka menggeleng. Tapi sekilas ia teringat seseorang yang pernah ditemuinya.
" Aku kenal Ayah dan ibu hanya sebentar. Jadi aku tidak tahu siapa saja yang berteman baik dengan ayah. Setelah kepergiannya mereka melemparkanku ke panti yang seperti neraka bagiku."
" Kau masih menyimpan dendam rupanya.. "
" Dendam? Aku tidak tahu dendam ini untuk siapa. Hanya saja, Semua kejadian buruk dipanti asuhan tidak pernah enyah dari pikiranku."
" Kakek mengerti perasaanmu.
ketahuilah, Lelaki disebelah ayahmu adalah ayah mertuamu. Dia Hardi putraku satu-satunya. "
" Benarkah? persahabatan yang malang, Mereka jadi besan setelah meninggal dunia. "
" Mereka masih hidup Nak..."
" Apa?"
"Aku baru mengetahuinya beberapa minggu yang lalu. Saat aku mencoba mengusik perusahaanmu."
" Bagaimana bisa? Aku bahkan masih ingat saat kedua jenazah ayah dan ibuku di makamkan."
" Apa jasadnya utuh?"
" Hanya jasad ibu yang utuh. Jasad Ayah tak berbentuk lagi." Raka terdengar lirih ia masih ingat terakhir kalinya melihat jasad kedua orangtuanya.
" Begitu juga dengan Hardi putraku. Setahuku ia meninggal karena serangan jantung. Meskipun aku tidak turut hadir ke pemakamannya. Tapi saat aku bertanya dimana makam Hardi, Rima bilang aku mengambil alih jasad putraku untuk mengurus pemakamannya sendiri. Sedikitpun aku tidak mengetahui soal ini."
" Sulit di percaya. "
Tuan Ratmadja menunjukkan sebuah foto lagi. " Kau kenal siapa mereka?"
Tampak empat orang pria berdiri saling merangkul.
" Selain Hardi dan Dipta, Wijaya dan Adyaksa juga berteman baik saat itu."
" Pak Wijaya? Tuan Adyaksa? Mereka tidak pernah mengatakan mereka kenal ayahku."
" Karena Adyaksa punya maksud tersembunyi. Itu sebabnya, Kakek butuh keterlibatan kamu. Karena kamu dekat dengan Adyaksa. Sedangkan Wijaya adalah kunci rahasia yang selama ini di sembunyikan Adyaksa."
" Maksud anda?"
" Ayahmu dan Hardi di sembunyikan Adyaksa di sebuah pulau terpencil. Dia juga merupakan penyebab kecelakaan yang di alami ibumu."
__ADS_1
Raka semakin terlihat gusar.
" Tuan Adyaksa sangat baik terhadapku. Mana mungkin dia..."
"Kakek, Tunggu aku!!" Panggil Amara.
Seketika Tuan Ratmadja dan Raka merubah mimik wajahnya dan mengalihkan obrolan dengan hal lain.
" Amara.. Kemari Nak.."
Amara bergelayut manja pada Kakeknya. Raka hanya tersenyum melihatnya.
" Tumben Manja.. "
" Kangen Ayah.. dari belakang Kakek mirip sekali dengan Ayah."
" Terang saja Ayahmu itu mewarisi ketampanan dan kegagahanku. Makanya cucuku jadi secantik ini. " ujar Tuan Ratmadja membanggakan dirinya.
" Kakek narsis.. "
" Disini ada suamimu. Bermanjalah padanya. Untung saja kamu menyusul. Tadinya Kakek akan memperkenalkan suamimu ini kepada gadis desa yang bekerja di perkebunan ini."
Amara mengerucutkan bibirnya.
" Benar kata Nenek... Kakek tega..."
" Kakek bercanda, Kakek kembali ke rumah dulu. Kakek sudah tidak kuat lama-lama berjalan."
" Aku bawa Kakek ke rumah."
Raka dan Amara berjalan menyusuri perkebunan.
Keduanya memilih duduk di sebuah pondok yang berada ditengah-tengah perkebunan.
"Mas, Boleh aku minta sesuatu? "
" Katakan..."
" Ceritakan semua tentang Masa lalu Mas.. Aku baru mendengar sebagian dari Pak Irgi. Aku ingin mendengar langsung darimu." Pinta Amara.
Raka menarik nafas panjang. Ia benci jika harus menceritakan masa lalunya. Ditambah lagi perkataan Tuan Ratmadja soal ayahnya yang masih hidup.Tapi kali ini yang meminta adalah istrinya.
" Baiklah... Awalnya kehidupanku seperti anak-anak biasa dari keluarga yang biasa. "Raka memulai ceritanya.
Ibunda Raka bernama Arini seorang guru TK dan Ayahnya bernama Pradipta Ramadhan manager keuangan di salah satu perusahaan pertambangan migas.
Saat itu Raka berusia 8 tahun, ia mendapati Ibu dan Ayahnya bertengkar hebat malam itu.
Raka mendekati ibunya yang sedang menangis.
" Ibu, kenapa menangis? Apa ayah jahat pada ibu?"
" Kenapa kamu berfikir begitu Nak?"
" Aku lihat ayah menodongkan senjata pada ibu. Ibu bilang yang punya senjata api itu jika bukan seorang polisi maka ia seorang penjahat. Ayah kan bukan polisi. Berarti ayah penjahat ya bu?" Pertanyaan polos keluar dari mulut Raka.
__ADS_1
Bu Arini bingung harus menjelaskan apa pada putranya. Rasanya tidak mungkin jika mengatakan pada putranya bahwa ayahnya seorang mafia.
" Apa ayahmu terlihat seperti penjahat?" Tanya Bu Arini.
" Tidak. Ayah orang baik bu. Ayah sayang padaku. Ayah sayang pada ibu. Ayah tidak pernah memukul aku juga tidak pernah memukul Ibu. "
Bu Arini memeluk putranya.
" Berjanjilah pada Ibu Nak.. Kelak saat kamu dewasa jangan pernah terlibat dengan dunia Mafia apapun itu. Karena itu semua akan mengancam keselamatan orang-orang terdekatmu. "
" Meski kau tidak mengerti ini, tapi ibu mohon ingat terus perkataan ibu ya Nak.. berjanjilah Nak.."
Raka mengangguk mengiyakan permintaan ibunya meski ia tidak paham apa yang ibunya katakan.
Sejak pertengakaran ayah dan ibunya hari itu, hampir setahun ayahnya tidak pernah kembali ke rumah. Ibunya selalu mengatakan ayah pergi perjalanan bisnis.
Saat ulang tahun Raka ia berharap bisa berkumpul bersama ayahnya lagi dan benar saja. Ayahnya kembali.
Raka sempat mendengar sedikit percakapan ayah dan ibunya yang mengatakan agar ia dan ibunya segera pergi dari rumah ini karena ada bahaya yang mengancam mereka.
Bu Arini mengemas pakaian Raka. Ketiganya meninggalkan rumah itu dan pergi menggunakan mobil ke suatu tempat. Raka dititipkan di sebuah Panti Asuhan.
" Anakku, Kamu tinggallah disini dulu untuk sementara waktu. Ibu dan ayah harus pergi." Pinta Ayahnya pada Raka.
"Kenapa aku tidak boleh ikut kalian?"
" Tidak Nak.. Ayah dan Ibu ada urusan yang harus diselesaikan. Lagi pula ini tidak akan lama. Kalau kamu berjanji jadi anak yang baik dan tidak pernah nakal, Ayah dan Ibu akan jemput kamu lagi."
" Aku janji.."
Hampir dua bulan Raka dititipkan dipanti. Pada akhirnya ia mendapat telepon dari ayah dan ibunya yang mengatakan akan menjemputnya hari itu.
Namun diperjalanan, mobil yang ditumpangi kedua orangtuanya mengalami kecelakaan.
Saat jenazah ayah dan ibunya tiba Raka histeris. Iya masih mengenali wajah ibunya meski sebagian penuh luka. Sedangkan jenazah Ayahnya sulit ia kenali karena sudah tidak utuh lagi.
sejak usia 9 tahun Ia mulai hidup di panti. Raka juga mulai di Perlakukan dengan buruk oleh sebagian teman-teman pantinya.
Perlakuan buruk itu yang pada akhirnya membekas dalam ingatan Raka. Sampai sekarang rasa traumanya belum bisa hilang.
***
" Aku melarikan diri dari panti berkat bantuan dari Dion. Beberapa tahun aku hidup di jalan. Bekerja apa saja untuk bertahan hidup. Pada akhirnya aku lebih banyak makan dari hasil belas kasihan orang lain... "
Raka menarik nafas. Mengingat kebodohannya saat itu.
" Aku memilih menjadi seorang pengemis. Padahal saat itu ada yang mengajakku untuk menjual barang haram. Aku menolaknya, Aku teringat janjiku pada Ibuku. Aku tetap mengemis. Bodoh memang, Tapi aku tidak menyesali kebodohanku saat itu. Karena pada akhirnya aku di pertemukan denganmu. Kau ingat pengemis di depan sekolah SMAmu dulu?"
Amara mencoba mengingat
" Ah.. Yang uangnya aku ambil untuk beli air mineral?"
Raka mengangguk.
" Itu aku... "
__ADS_1