RAHASIA DALAM CINTA

RAHASIA DALAM CINTA
Episode 14 - Ibu, Apa aku bisa?


__ADS_3

Amara terbangun. Dilihatnya jam di nakas menunjukkan pukul setengah lima pagi. Amara melihat Raka masih tertidur di sofa. Amara teringat kembali kejadian semalam.


" Aarrgghh.. Bodoh bodoh bodoh.. kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku..." jerit amara dalam hatinya.


Amara mendekati Raka. Mencoba membangunkan Raka yang masih terlelap.


Diam-diam ia memperhatikan wajah Raka. Karena selama ini ia tidak berani menatapnya.


" Tampan... Rasanya seperti mimpi menjadi istri lelaki ini..." gumam Amara.


" Kenapa kamu begitu baik padaku? Padahal dengan semua yang kamu punya saat ini kamu bisa saja menolak menikahiku dan mendapat istri yang sempurna. Bukan wanita gila sepertiku...."


Raka bergerak. Ia menyadari ada seseorang yang sedang menatapnya. Saat tersadar ternyata Amara dihadapannya, Raka langsung bangun dan terduduk sambil mengusap wajahnya.


" mm.. Maaf Mas..."


Amara langsung berlari keluar kamar dan menghampiri ibunya. Raka tersenyum. Ia mendengar semua perkataan Amara.


" Tuhan kirimkan kamu sebagai malaikat untukku.


Dan kamu berpikir, kenapa aku tidak mencari perempuan lain.


Kenapa?


karena aku tidak akan pernah menyia-nyiakan sebuah berlian hanya demi kerikil-kerikil tajam..."


-----------------------------


Sudah hampir satu minggu pernikahan Raka dan Amara, namun keduanya hampir tidak pernah ada kontak fisik. Raka memaklumi keadaan istrinya.


Pagi ini, Amara mengantar Raka yang akan berangkat ke kantor. Raka hanya cuti beberapa hari, karena banyak pekerjaan di kantor yang membutuhkan kehadirannya.


" Mas, Besok aku boleh bekerja di kantor lagi kan?" Tanyanya ragu.

__ADS_1


Raka hanya tersenyum. Ia tahu pasti, Istrinya rindu dengan kawan-kawannya di kantor.


" Tentu saja.." jawab Raka singkat sambil berjalan menuju mobil.


Amara tersenyum lalu..


" Mas..."


Raka menoleh, Amara mendekat menarik punggung tangan Raka untuk menyalaminya.


Waktu serasa berhenti seketika. Mata mereka berpandangan.


'Seandainya aku di izinkan mengecup keningnya...' gumam Raka dalam hati.


" Hmm, Tuan.. " Irgi membukakan pintu mobil.


" Aku pergi dulu.."


Amara mengangguk.


" Bagaimana tanggapan anda Tuan?" Tanya salah satu karyawan, menyadarkan Raka dari lamunannya.


Raka benar- benar tak bisa berkonsentrasi pada apa yang di sampaikan saat rapat tadi . Raka hanya mengangguk, kemudian menyudahi rapatnya. Ingin rasanya ia segera kembali ke rumah.


Setelah semua karyawan keluar ruangan, Irgi kembali menjelaskan perihal rapat tadi. Irgi tahu konsentrasi bosnya ini sedang terganggu.


" Apa jadwalku setelah ini?"


" Anda bebas Tuan..."


" Bagus, Aku bisa kembali ke rumah lebih awal."


Irgi sedikit heran dengan bosnya yang biasanya tidak suka pulang sore karena Raka selalu merasa kesepian saat di rumah. Waktunya lebih banyak di habiskan di kantor.

__ADS_1


Namun kali ini, Raka sudah memiliki keluarga. Itu sebabnya ia merasa senang pulang lebih awal. Baginya seperti mimpi saat ada seseorang yang menunggunya kembali ke rumah.


Raka tiba di rumahnya. Setelah membersihkan diri, ia makan bersama istri dan ibu mertuanya. Kakek dan nenek Amara sudah kembali ke kediamannya.


Dering telepon berbunyi nyaring memecah kesunyian di meja makan.


Panggilan dari Keluarga Ratmadja yang mengabarkan bahwa Tuan Ratmadja jatuh di kamar mandi dan mengalami gejala stroke.


Nyonya Ratmadja meminta bantuan Bu Rima untuk membantunya merawat Tuan Ratmadja. Bu Rima bimbang disatu sisi ia ingin menunjukkan rasa peduli dan prihatin pada mertuanya, di sisi lain ia merasa tidak bisa jauh dari putri semata wayangnya.


" Ibu bantu Nenek merawat kakek saja, aku tidak apa. Ada Mas Raka yang temani aku disini." Amara meyakinkan ibunya.


" Ibu jangan khawatir. Sekarang Amara adalah tanggung jawabku. Kami juga akan sering berkunjung kesana setelah proyek ini selesai." Ujar Raka.


" Baiklah, terima kasih Nak Raka.. Ibu sudah berikan Putri Ibu padamu. Tolong Jaga dia.."


Raka menggangguk setuju.


Amara membantu ibunya berkemas.


" Kamu harus sering-sering telpon ibu ya... Kalau suamimu sempat, ajak ia liburan ke rumah Kakek dan nenek ya.. "


" Pasti bu.. Amara akan sangat merindukan ibu..." peluk Amara pada ibunya.


" Kamu sudah menikah masih manja ya... mulai besok kamu manjanya ke suami mu ya.. "


" Ibu..... Apa aku bisa?"


" Kamu pasti sembuh Nak.. Kamu harus terus ikuti terapi ya.. Kamu pasti akan sembuh dengan cepat. Ibu yakin... "


" Terima kasih ibu...."


Bu Rima berangkat ke kediaman keluarga Ratmadja diantar oleh Irgi.

__ADS_1


Amara kini hanya tinggal dengan suaminya dan beberapa asisten rumah tangga.


Bagaimana Amara dan Raka menajalani Rumah tangganya????


__ADS_2