RAHASIA DALAM CINTA

RAHASIA DALAM CINTA
Episode 36 - Tersiksa Rindu


__ADS_3

" Apa kau akan merindukanku?"


Amara mengangguk.


Raka mengecup bibir Amara.


Jari jemarinya mengusap lembut pipi dan menjalar ke leher istrinya.


Amara menggeliat dengan perlakuan Raka.


" Tunggu Mas kembali... Akan ku ambil apa yang menjadi hakku pada hari itu. Berjanjilah untuk selalu percaya padaku. Apapun yang nanti akan kamu dengar ataupun kamu lihat."


" Apa yang terjadi Mas? Kenapa Mas berkata seperti itu?"


" Tidak ada apa-apa. Mas hanya takut saat Mas pergi kamu berpikiran macam-macam tentang Mas... Kamu ingat saat perjalanan bisnis terakhir ada gosip seperti apa..."


" Aku mengerti. Aku janji akan terus mempercayai Mas... "


Raka tersenyum dan memeluk istrinya.


****


Pagi hari, Raka sudah bersiap. Arga menjemputnya dan membawa koper Raka.


" Oliv.. Abang pamit.. Kamu sama Kakak Iparmu dulu ya.. jangan buat dia susah.."


" Hu hu hu.. iya Bang, Aku janji akan nurut dengan kakak . Jangan lupa bawa oleh-oleh ya."


Raka mengusap puncak kepala Olivia. Dan beralih ke Amara.


Raka tidak tega menatap matanya.


" Mas pergi dulu Sayang... Ingat apa yang Mas katakan semalam..." Seraya mengecup kening Amara.


" Iya.. Mas hati-hati... "


" Kamu mau dibawain apa?"


" Aku cuma mau kamu ..." Amara tak melanjutkan air matanya menetes begitu saja.


" Maaf Mas.. pergilah..."


Dalam hati Amara merasa sedikit khawatir melepas kepergian Raka.


Ia merasa Raka menyembunyikan sesuatu yang penting.


Ditambah lagi, Amara yang tidak sengaja melihat ada setelan pakaian anti peluru saat mengemasi barang-barang yang akan suaminya masukkan ke koper.


" Aku harap kamu akan baik-baik saja Mas..."


*******


Satu minggu berlalu. Sejak kepergian Raka yang mendadak, Amara belum mendapat kabar apapun dari Raka.


Dikantor, Amara mendapat perlakuan yang buruk dari orang-orang yang tidak menyukai kedekatannya dengan Raka. Karena tak ada yang mengetahui Amara adalah istri dari CEO perusahaan mereka.


Untungnya ada Zain dan kawan-kawannya yang selalu membantu Amara.


Mbak Putri mengajak Amara makan siang bersama di kantin kantor.


Setibanya di kantin Bianca dan Ririn tersenyum menyeringai seperti singa hendak menerkam mangsanya.


" Hmm.. Pada akhirnya Pak Raka sadar juga. Sekretarisnya ini gak berguna. Dibawa perjalanan bisnis malah kehilangan kontrak"

__ADS_1


" Kalau gak tahu apa-apa gak usah banyak omong lo ya..." Zain.


" Udah Zain biarin ajah.. " Amara.


Bianca dan Ririn yang merasa tidak di gubris Amara, terlihat kesal dan pada akhirnya memilih pergi.


" Udah seminggu Pak Raka pergi ya... Sebenarnya Pak Raka kemana sih Ra?" Tanya Zain.


" Ke tempatnya Pak Irgi. Disana lagi ada masalah darurat katanya."


" Oh.. Kira-kira berapa lama Pak Raka pergi?"


" Sekitar 2 mingguan. "


" Aduh masih seminggu lagi... Kasian teman kita nih... Disiksa rindu.."


Zain berusaha menghibur Amara. Ia tahu akhir-akhir ini Amara terlihat tak bersemangat.


Bahkan Amara tak menyangkal Zain kali ini. Dihatinya memang sangat tersiksa merindukan Raka.


" Ra.. Kok diam ajah sih? Segitu kangennya ya kamu sama Pak Raka?" Tanya Mbak Putri.


Amara terdiam.


" Aku permisi duluan ya..."


" Ra.. Makanan lo belum abis.." Cegah Zain.


Amara tak menggubris ucapan Zain dan langsung berlari menuju ke ruangan Raka.


Air matanya sudah tak terbendung.


Saat Ia masuk ke ruang CEO, ia melihat ada Raka yang tengah terduduk dikursinya sibuk dengan laptop dan beberapa berkas.


Amara mendekat...


Raka menoleh ke arahnya dan tersenyum. Namun lama kelamaan sosok itu memudar...


Amara menarik nafasnya.


Ia melihat ponselnya dan menghubungi Raka. Lagi-lagi ponsel Raka tidak dapat di hubungi.


" Apa yang terjadi Mas? Apa sesulit itu mengatakan kamu baik-baik saja..."


" Aku harus minta bantuan Kakek."


Amara kembali ke mejanya. Ia melihat memo dan mempersiapkan berkas untuk Rapat dewan direksi.


Pak Alfha selaku wakil presdir disana yang akan memimpin rapat menggantikan Raka.


Namun, saat rapat dewan direksi di mulai, Wakil presdir menghubungi Amara dan meminta untuk menunda rapat sampai beberapa hari kedepan. Pak Alfha berhalangan hadir karena istrinya hendak melahirkan. Hal ini membuat Amara kena damprat dari salah satu atasan.


Mereka menyalahkan Amara karena dianggap memberikan informasi palsu.


" Keterlaluan!! Kamu anggap rapat ini main-main? Waktu para atasan jadi terbuang percuma gara-gara kamu." Ujar Pak Davit memaki Amara.


" Maafkan saya Pak.. Wakil Presdir baru memberi tahu. Beliau terpaksa membatalkan rapat karena ada urusan mendadak.."


" Pak Alfha itu disiplin waktu. Ia tidak mungkin membatalkan rapat seenaknya. Kecuali kalau rapat itu ternyata bukan ia sendiri yang menjadwalkan waktunya."


" Tapi Pak..."


"Ternyata benar informasi yang beredar digrup. Kamu kerja gini ajah gak becus. Kamu berhasil mendapat posisi sekretaris CEO karena modal naik ranjang..."

__ADS_1


Plakkk


Amara tak mampu menahan Amarahnya lagi.


" Saya ingatkan Pak Davit. Saya bukan perempuan seperti itu. Lagi pula saya sudah menikah. Dan saya tidak pernah menggunakan tubuh saya untuk mencari posisi di perusahaan ini. Alasan Pak Raka memilih saya, karena Saya dianggap berpengalaman menjadi sekretaris saat mendampingi Pak Wijaya sebelumnya."


Amara menghubungi Pak Rahmat dan meminta untuk di antar pulang. Samar-samar terdengar rutukkan dari Davit juga beberapa karyawan lain yang menyaksikan kejadian itu.


Diperjalanan Amara menghubungi Olivia.


📱Liv.. Kamu mau ikut Kakak?


📲 kemana kak?


📱Ke rumah keluarga Kakak di Yogyakarta. Kakak khawatir dengan keadaan Mas Raka... Kakak mau minta bantuan Kakek untuk melacak keberadaannya.


📲 Oliv ikut Kak.. Oliv juga gak tenang..


📱 Kamu kemasi pakaianmu. Kakak dalam perjalanan pulang sekarang.


Amara mengakhiri panggilan.


" Pak Rahmat, Kita ke Yogyakarta hari ini ya... Pak Rahmat siap-siap. Bawa seorang lagi untuk berjaga takut Pak Rahmat kelelahan dijalan... "


" Iya Non... Saya bawa kemenakan saya..."


****


Dirumah Amara berkemas dan langsung berangkat. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, ± 13 Jam. akhirnya mereka berempat sampai.


" Pak Rahmat seperti biasa bapak langsung ke kampung halaman bapak saja. Nanti kalau saya ada perlu akan saya hubungi Pak Rahmat segera. "


" Baik Non... Saya permisi.. "


" Iya Pak.. Hati-hati..."


Amara membawa Olivia masuk ke rumah Kakek.


" Ini rumah Kakak? Megah banget kak?"


" ini Rumah Kakek, Yuk masuk.. biasanya sebelum subuh Nenek dan Ibu sudah bangun.."


Amara mengetuk pintu. Tak lama pintu terbuka. Amara menghambur dalam pelukan ibunya.


Bu Rima heran.. Amara menangis dipelukan ibunya.


" Kamu kenapa sayang?" Tanya Bu Rima.


" Aku.. "


Bu Rima mengerti. Putrinya ini tidak akan kuat berbicara saat sedang sedih.


" Kamu kesini dengan siapa?"


Amara membawa Olivia masuk.


" Assalammu'alaikum Tante.. Saya Olivia.. Adik angkatnya Bang Raka."


" Panggil Ibu saja... Ayo masuk.. kalian pasti lelah. Berangkat kesini jam berapa Nak?"


" Jam 3 sore bu.. "


" Ya sudah.. kalian istirahat saja.. Mari ibu antar ke kamar kamu..." Ajak bu Rima pada Olivia.

__ADS_1


" Aku mau bicara dengan Kakek."


****


__ADS_2