RAHASIA DALAM CINTA

RAHASIA DALAM CINTA
Episode 37 - Mencintai? Apa benar?


__ADS_3

Bu Rima menghampiri Tuan Ratmadja.


" Pak... Amara datang bersama Adik angkat Raka... Sepertinya ada masalah."


Kakek tersenyum.


" Cucuku pasti mengkhawatirkan suaminya. Biarkan ia beristirahat dulu."


Beberapa jam kemudian Amara menghampiri Kakeknya dan langsung meminta bantuan untuk mencari tahu keadaan suaminya.


" Berapa lama waktu yang ia minta untuk menunggunya kembali?" Tanya Tuan Ratmadja.


" Dua minggu Kek...Tapi setidaknya beri kabar bahwa Mas Raka sudah sampai dan baik-baik saja...Aku hanya...."


" Iya.. Kakek tahu... Kamu sangat mencintainya... kamu sangat mengkhawatirkannya. Sepertinya kamu sulit jauh dari suami mu."


'Mencintai? Apa benar?'


Hatinya dipenuhi tanda tanya karena belum menyadari perasaannya.


" Suamimu baik-baik saja Nak..."


" Apa dia terluka?"


Tuan Ratmadja menatap cucunya heran.


" Kenapa bertanya seperti itu?"


" Ada satu set baju anti peluru yang dibawa Mas Raka.. Aku takut Mas Raka dalam bahaya..."Amara melirih.


" Kakek sudah mengerahkan anak buah Kakek untuk melindungi suamimu tanpa sepengetahuannya. Tenanglah, Akan kupastikan suamimu kembali dengan selamat." Tuan Ratmadja mengusap lembut rambut Amara.


" Terima kasih Kakek."


Amara memeluk Kakeknya.


Tuan Ratmadja menunjukkan beberapa pesan yang dikirim dari anak buahnya tentang keberadaan dan keadaan suami dari cucunya itu melalui alat yang Amara tidak mengertinya sama sekali.


" Kakek bekerja sama dengan orang-orang militer. Mereka yang memberi kabar tentang Nak Raka.


Sekarang, kau bisa percaya, suamimu baik-baik saja. Disana pulau terpencil dan tidak ada jaringan itulah kenapa ia tidak bisa menghubungimu.. "


Amara hanya terdiam.


" Jadi Mas Raka berada di sebuah pulau terpencil, Kenapa ia bilang ke tempat Pak Irgi?"


" Soal itu Kakek tidak tahu. Seingatku, Nak Raka pernah mengatakan akan membuka lapangan kerja untuk orang-orang yang berada di perbatasan. Kamu tahu kan, suamimu itu juga punya perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi?"


" Emmm.. Iya..." Jawab Amara singkat.


' Tidak Kakek. Aku tidak tahu apapun tentang Mas Raka. Aku tidak tahu lelaki itu seperti apa. Selama ini ternyata aku hanya disibukkan dengan duniaku sendiri. Lelaki itu berhasil membuatku bergantung dengan kehadirannya.'


" Ada lagi yang kau cemaskan? Apa perlu kita menyusulnya?"

__ADS_1


" Tidak Kakek, Ini semua sudah cukup membuatku sedikit lebih tenang. Besok pagi aku akan kembali Ke Jakarta. Lusa aku sudah harus bekerja. "


***


Pukul 20.00 seusai makan malam.. Amara, Olivia dan yang lainnya berkumpul diruang tengah.


Olivia anak yang menyenangkan. Ia mudah berbaur dengan orang di sekitarnya.


Tingkah lakunya yang sedikit konyol dan kekanakkan. membuat ruangan tersebut ramai dengan gelak tawa.


" Liv... Besok pagi Kakakmu harus kembali ke Jakarta... Kalau kamu masih kerasan disini, kamu disini saja dulu ya... " Ujar bu Rima.


" Iya Bu.. Oliv kerasan disini. Oliv serasa punya keluarga lagi. "


"Nenek juga senang kamu disini.. Karena selama ini Amara cucu nenek satu-satunya jauh dari Nenek."


" Kamu bisa tinggal disini semau kamu. Kalau perlu kamu kuliah disini saja. "Timpal Tuan Ratmadja.


" Benarkah? " Tanya Oliv antusias.


" Tentu saja."


" Nanti kalau abangmu kembali, Kakakmu yang akan membicarakan hal ini dengannya."


***


Paginya, Pak Rahmat menjemput Amara dan membawanya kembali ke Jakarta. Amara tiba di rumahnya pukul 19.00. Ia langsung beristirahat karena kelelahan.


Pagi tiba. Suara ketukan pintu mengakhiri lamunan Amara yang sedang berdiri menatap keluar jendela.


" Masuk..."


" Non.. Non Amara... Sarapannya sudah ta' siapkan. " Panggil Mbok Darmi salah satu asisten tertua di rumah Suaminya.


" Sebentar Mbok..."


" Nona sepertinya kurang sehat? Si Mbok ambilkan obat ya?" Tanya Mbok Darmi dengan aksen jawanya yang kental.


" Tidak mbok.. saya hanya kelelahan."


" Non kepikiran Den Raka?"


Amara tersenyum.


" Iya.. Mbok.. Ini pertama kalinya kami berjauhan. Walaupun ia janji akan segera kembali.. Tapi... Aku benar-benar merindukannya.. Biasanya Mas Raka selalu ada..."


" Sing sabar ya Non.. Den Raka pasti pulang sebentar lagi. Dia pasti akan menepati janjinya. Si Mbok juga pernah tersiksa rindu seperti itu. Bahkan suami si Mbok nda mungkin kembali lagi... Saya bawakan sarapannya kesini ya Non?"


" Tidak usah Mbok.. Nanti tolong di kemas saja. Biar saya bawa untuk sarapan dikantor bareng teman-teman saya. Ngomong-ngomong Mbok Darmi sudah lama bekerja disini ya?"


" Iya Non.. Si Mbok ikut Den Raka dari dulu. Sebelum pindah ke jakarta. "


" Mbok.. Boleh saya minta tolong?"

__ADS_1


" Minta tolong apa Non?"


" Tolong ceritakan semua tentang Mas Raka yang Si Mbok ketahui. "


" Tapi Non bukannya harus ke kantor?"


" Ya.. ini masih terlalu pagi.. "


Mbok Darmi mulai menceritakan tentang Raka. Amara menanggapinya dengan antusias. Banyak hal yang tidak diketahui Amara.


" Itu saja Non yang Si Mbok tahu.. "


" Terima kasih banyak ya Mbok... Saya harus ke kantor. Kalau nanti ada lagi yang di ingat, Tolong ceritakan lagi.. Aku sangat ingin tahu semua tentang Mas Raka."


" Iya Non.. nanti disambung lagi..."


---------------------------


Setibanya di kantor, Amara mengambil nafas. Ia ragu untuk masuk. Teringat beberapa hari yang lalu ia meninggalkan kantor begitu saja setelah bertengkar dengan Tuan Davit.


" Selamat Pagi Nona... "


" Pak Arga.. Bukannya kamu ikut bersama Mas Raka?"


" Saya Irgi... Nona Apa kabar?"


" Oh.. Maaf Pak Irgi.. Saya tidak bisa membedakan wajah kalian.."


" Tidak apa Non.. Tolong panggil saya Irgi saja... Mari masuk.."


Amara masuk bersama Irgi. Awalnya beberapa karyawan sudah bersiap mencaci maki Amara karena telah menampar Tuan Davit selaku atasan di perusahaan itu dan pergi dari kantor sebelum jam kerja berakhir.


Melihatnya bersama Irgi, mereka mengurungkan niatnya.


" Selamat Pagi Pak Irgi.." Sapa beberapa karyawan.


" Kenapa semua karyawan tahu kamu itu Irgi? Apa yang membedakan kalian?"


" Saya tidak memiliki tahi lalat di hidung. Sedangkan Arga ada. Dan.. Saya jarang tersenyum.. jelas berbeda dengan Arga yang bisa ramah pada siapa saja. "


Amara mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Benar... Kamu jarang senyum. Kamu sangat dingin hampir seperti sifat Mas Raka jika di depan karyawan."


" Iya.. mungkin karena saya terlalu sering bersama Tuan Raka tadinya. Tuan Raka bersikap ramah dan hangat hanya kepada orang terdekatnya saja."


"Oh ya.. Emm .. terakhir sebelum berangkat Mas Raka bilang ia akan menyusul ke tempatmu... Katakan Dimana?"


"I.. itu.. Tuan masih... Tuan masih sibuk disana Nona..." Jawab Irgi terbata.


" Benarkah? Sekarang jawab pertanyaan saya. Dimana Mas Raka?" Bentak Amara.


" Amara..." Panggil Zayn.

__ADS_1


" Lihat chat grup karyawan!!" Sambung Zain yang sedikit terengah karena berlari menghampiri sahabatnya.


__ADS_2